Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 116 Tamat


__ADS_3

Hujan lebat yang terjadi di kota jakarta, tak membuat dua sejoli yang sedang memadu kasih dinginan. Yang ada malah peluh uang sangat besar-besar, karena kegiatan olahraga malam mereka.


Siapa lagi jika bukan Dira dan Arya. Mereka sedang bercinta, menikmati surga dunia. Namun akhir-akhir ini, Dira selalu protes dengan gaya berhubungan yang di lakukan Arya karena terkesan pelan.


"Kakak cepetan dong kalau main, jangan pelan-pelan gitu gak asik ah!" protes Dira saat Arya menggauli nya dengan sangat pelan.


"Sayang aku gak mau keras-keras kayak kemarin. Apa kamu lupa, kamu sempat pendarahan karena kita mainnya terlalu keras. Dan satu lagi yang buat aku takut untuk berhubungan, aku takut perut kamu meletus," balas Arya sambil mengelus perut Dira yang sangat besar.


Kandungan Dira kini sudah memasuki bulan terakhir. Mereka hanya menunggu hari saja untuk melihat buah hati mereka, dan tak sabar ingin melihat wajah bayi mereka.


Sebulan yang lalu Arya dan Dira terlalu kencang melakukan hubungan hingga membuat Dira pendarahan, sejak saat itu Arya takut untuk menyentuh Dira. Tapi Dira selalu meminta terus dan jika tak di turutin akan berakhir ngambek, dan gak mau makan.


"Gak apa-apa Kak! Ya ampun ini sudah di ujung loh kak, mau keluar aku! Pokoknya Dira mau yang keras, kalau gak keras Dira mau cari suami baru!" itulah ancaman Dira saat Arya gak mau menurutinya.


"Jangan gitu dong, Sayang. Oke aku kerasin main nya, tapi gak apa-apa kan?" tanya Arya lagi.


"Tunggu dulu, Kak!" ucap Dira yang merasakan aneh di perutnya. Terasa mulas ingin buang air besar, tapi dari pagi dia gak bisa mengeluarkan BAB.


"Aku mau ke toilet dulu. Sepertinya aku ingin buang air besar, Kakak tunggu dulu," ucap Dira. Dira pun berjalan ke arah toilet, saat masuk ke toilet dia tak bisa mengeluarkan hajatnya.Bingung, Dira sangat kebingungan. Apalagi mulas yang dia rasakan, ilang timbul.


"Aduh ini mulas banget, tapi kenapa gak bisa keluar ya?" gerutu Dira di dalam toilet. Namun tak selang beberapa menit perutnya terasa mulas lagi, dan Dira kembali ke arah toilet.


"Hiks.. Hiks.. Ini kenapa sih, kok sakit banget," ucap Dira sambil menangis. Karena dia baru kali ini merasakan mulas tapi tak ingin BAB.


"Kakak perut Dira sakit, Hiks.. Hiks," ucap Dira sambil keluar kamar toilet.


"Kamu kenapa?"


"Perut Dira sakit, tapi gak bisa BAB. Tapi sakitnya hilang timbul gitu, Kak," balas Dira dengan derai air mata.


"Kamu habis makan apa tadi?" tanya Arya sambil mengelus perut buncit Dira.


"Gak makan apa-apa," jawab Dira dengan sesegukan. Arya pun berjongkok di hadapan perut buncit Dira, dan membisikkan sesuatu.


"Sayang, kalian gak boleh nakal ya. Kasihan mommy kalau kalian nakal, jadi baik-baik ya di dalam," ucap Arya sambil mengecup lembut perut Dira. Biasanya Arya akan mendapatkan tendangan, tapi ini dia tak merasakan pergerakan dari anaknya.


"Aku mau kedokter sekarang, ini sangat sakit. Sepertinya ini salah makan, pokoknya Dira mau ke rumah sakit," rengek Dira sambil menghentak-hentak kakinya.


"Baiklah kita ke rumah sakit. Tapi kakak pakai baju dulu, kamu duduk saja di sini." Dira pun menurut tapi saat perutnya mulai sakit Dira kembali berdiri dan berjalan memutari sofa.


"Masih sakit?" tanya Arya.


"Sudah tau aku muter-muter, berarti masih sakit!" Dira menjawab dengan ketus.


"Sudah jangan marah-marah terus, ayo kita berangkat," balas Arya sangat lembut. Mereka pun akhirnya berangkat ke rumah sakit terdekat, karena Dira sudah mengeluh sedaritadi dan tak bisa menahan.


Setelah sampai rumah sakit, Dira dinyatakan akan melahirkan dan sudah pembukaan dua. Arya sangat gugup tapi dia menyembunyikan perasaannya itu, dan berusaha menenangkan Dira yang masih mengeluh sakit.


"Sayang, lebih baik kamu lakuin Operasi Caesar saja, aku gak bisa lihat kamu mondar-mandir kaya gini," bujuk Arya sambil mengikuti Dira yang jalan kesana-kemari untuk menghilangkan rasa sakitnya.


"Gak mau! Kalau bisa normal kenapa harus Operasi? Lagian kalau aku milih Caisar, pasti efeknya bertahun-tahun Kak. Beda dengan lahiran normal, kalau normal kita sakit di awal tapi nantinya tidak," jawab Dira dengan berkeliling kamar bersalin.


"Tapi aku gak tega Sayang, mau ya?" bujuk Arya lagi.


"Aduh jangan banyak omong deh, Kak!Sekarang ini aku ingin makan asinan. Cepat belikan, kalau bisa yang pedas." Omel Dira yang tak tahan dengan ocehan Arya.


"Nanti kamu gimana kalau kakak keluar, kan kamu di sini sendirian dan Mama, Papa juga belum datang?" tanya Arya sangat bawel.

__ADS_1


"Aduh Kak! Yang jualan asinan memang di mana sih, palingan juga di bawah kan? Gak akan aku brojol saat kamu gak ada, cepetan belikan atau aku ngambek." Oceh Dira lagi. Ya begitulah jika rasa sakitnya hilang, Dira akan banyak ngomel dan jika rasa sakitnya datang Dira akan nangis.


"Baiklah kamu tunggu sebentar, aku akan belikan asinan untuk kamu. Tapi jika ada sesuatu kamu langsung nelpon aku ya?" ucap Arya. Sebelum pergi Arya berjongkok dan menghadap ke arah perut Dira, di situ Arya mengelus perut Dira dan bermonolog sendiri.


"Anak Daddy jangan keluar dulu ya, tunggu Daddy datang bawa asinan baru kamu boleh keluar. Karena Daddy ingin melihat proses kamu keluar bagaimana, jadi ingat kata Daddy jangan keluar dulu." Setelah itu Arya langsung mencium perut buncit Dira.


Setelah selesai Arya langsung berdiri dan meninggalkan Dira untuk mencari asinan. Sedangkan Dira kembali naik ke ranjangnya dan menungging sambil merasakan kontraksi yang sangat hebat, sesekali Dira menggigit pinggiran bantal agar rasa sakitnya teralihkan.


"Mama, sakit," ucap Dira sambil menangis. Dewi tak bisa menjenguk Dira karena mereka sekeluarga lagi pergi ke rumah orang tua Fani untuk meminta restu, dan sekaligus mencari wali Fani. Jadi sekarang, Dira hanya sendiri bersama Arya.


Sedangkan Dinda masih ada di perjalanan, karena dia juga baru di kasih tau barusan. Jika dari awal mereka memberi tau Dinda, mungkin mereka akan datang lebih cepat.


"Huuf.. Huuf.. Sakit, aduhhh." Dira pun turun dari ranjang dan merangkak kemana-mana agar perutnya terasa enakan. Dua puluh menit Dira merangkak kemana-mana hingga dia capek dan berhenti di bawah ranjang pesakitannya, hingga membuat Arya yang baru datang kebingungan mencari Dira.


"Sayang, ini asinannya. Maaf lama karena harus mencari di luar rumah sakit," ucap Arya yang baru masuk. Namun Arya menjadi panik saat Dira tak ada di dalam kamar, Arya berlari ke arah kamar mandi juga tak ada.


"Dira kamu dimana, Sayang." Teriak Arya.


"Aku disini," jawab Dira lirih.


"Kamu dimana?"Arya semakin bingung mencari Dira, karena ada suara tapi tak ada orangnya.


"Di bawah ranjang. Dibawah enak Arya, dingin dan aku bisa merasa rileks di bawah sini," balas Dira sambil menongolkan kepala.


"Astaghfirullah, Dira. Nanti kalau kamu masuk angin gimana, apa kamu mau sakit?" tanya Arya yang jengkel.


"Jangan banyak cincong deh, Kak. Aku dari tadi sudah sakit tau, aku ada dibawah sini enak. Sekarang mana asinannya, cepetan aku lapar." ucap Dira sangat ketus ketus. Bisa di bilang lambe cabe.


"Makan disini atau di sofa?" tanya Arya.


"Disini saja." Arya langsung mengambil asinan tadi dan menyiapkan di depan Dira. Karena saat mau makan Dira merasa kesakitan lagi, akhirnya Arya yang Menyuapi Dira dengan telaten. Saat asinan yang Dira makan habis, rasa mulas kembali datang bahkan ketuban Dira juga sudah pecah.


Tuss...!


"Bunyi apa tadi?" tanya Arya.


"Kakak panggil dokter, ketubanku pecah tau. Cepetan ini sakit sekalian, cepat panggil dokternya," teriak Dira sambil memegangi perutnya yang tiba-tiba kram.


"Aduhh...!"


"Tunggu kakak panggil dokter dulu." Arya pun berlari mencari dokter, dan setelah itu Dokter masuk kedalam ruangan Dira dan memeriksa keadaan Dira.


"Pembukaan sudah lengkap, kita mulai saja persalinannya." Dokter dan suster pun menyiapkan semuanya untuk persalinan. Sedangkan Arya menjadi tegang, saat melihat dokter membuka paha Dira.


"Bapak bisa duduk di belakang bu Dira, nanti bapak pegangin kaki bu Dira seperti ini ya," ucap dokter yang memberikan contoh.


"Tunggu! Apa harus begini, masalahnya ini barang istri saya akan di lihat dokter Fatih. Tidak boleh, lebih baik operasi saja." Protes Arya saat tau istrinya akan membuka selang*kangan di depan dokter ganteng itu.


"Gak bisa Bapak, karena istri anda sudah pembukaan 10 dan sudah saatnya melahirkan," balas dokter Fatih.


"Kamu jangan aneh-aneh Arya, ini sakit tau! Jadi cepat lakukan biar semuanya beres. Aduhh...." teriak Dira saat mendengar permintaan konyol suaminya. Bahkan Dira tak menyebutnya kakak lagi, karena sudah kesal dan sakit bersamaan.


"Baiklah, tapi awas jika Dokter sampai lihat milik istri saya. Saya bunuh langsung," putus Arya dengan nada mengancam. Dokter Fatih hanya terkekeh dan tak menggubris ucapan Arya, dengan telaten dokter Fatih memberi arahan pada Dira.


Sesekali Dira menjambak rambut Arya yang berada di belakangnya, bahkan sampai menjerit saat dia mengejan.


"Ayo Buk dikit lagi, Kepalanya sudah kelihatan," ucap dokter Fatih. Sedangkan Arya langsung melirik sekilas, tapi dia langsung terkejut melihat aset berharganya berubah ukuran.

__ADS_1


"Dokter itu milik istri saya sampek begitu, apa bisa balik lagi? Ya Allah itu sampek lebar begitu," rancau Arya saat melihat jalan lahir Dira.


Dokter Fatih tak membalas ucapan Arya, karena dia sedang fokus dengan bayi Arya. Namun, ada satu yang tak bisa menahan tawa. Yaitu Suster cantik yang berada di sebelah dokter Fatih.


Jangan tanya kok dokternya cowok, kan udah di jelaskan. Rumah sakit terdekat, jadi bukan rumah sakit yang biasa dia buat priksa yang satu kali jawab 4jt 🤤


"Memang gini prosesnya, Pak. Bapak terus dorong perut bu Dira, dan beri semangat terus," balas Suster Anita. Tanpa tunggu lama, Arya ikut mendorong perut istrinya hingga terdengar suara tangisan seorang bayi perempuan.


"Aaaaahhhhhkkkk....!"


Oeekk... Oeekkk..


Suara tangisan bayi pun menggelegar diruangan bersalin itu, bayi pertama Dira lahir dengan selamat dan sangat gemuk.


"Bayi pertama, perempuan," ucap dokter Fatih. Dokter pun menaruh bayi mungil itu di dada Dira, Dira sangat terharu dan bahagia melihat putri kecilnya itu.


"Itu anak kita, Dira?" tanya Arya yang tak percaya.


"Iya Kak, dia princess kita," jawab Dira. Namun tak lama kemudian, perut Dira kembali mulas dan terpaksa bayi tadi di ambil suster.


"Aduh.. Sakit Kak. Ini lebih sakit dari tadi," ucap Dira sambil meremas tangan Arya.


"Kamu sabar sayang. Karena aku sudah tau sekarang susahnya melahirkan, cukup sekali saja kamu hamil. Pokoknya aku gak mau kamu hamil lagi, ini sudah cukup bagi aku," ucap Arya sambil menangis. Dokter menginstruksikan lagi agar Dira mengatur nafasnya, dan kembali melahirkan bayi tampan dan sehat.


"Bayi kedua laki-laki," ucap dokter Fatih.


"Jagoan, Ku," ucap Arya lirih.


Setelah itu suster membersihkan Dira dan memakaikan baju yang baru untuk Dira. Setelah selesai Dira tertidur karena lelah, Arya tidak pernah meninggalkan Dira sedetikpun. Arya akan menunggu Dira sampai bangun.


***


Satu jam pun berlalu. Dira sudah bangun dari tidurnya, saat Dira bangun sudah ada Dinda dan Ryant yang menggendong cucu mereka.


"Hai, Sayang. Apa kamu haus, atau ingin sesuatu?" tanya Arya sangat lembut. sedangkan Dira langsung tersenyum manis.


"Aku haus, kak." Arya pun langsung mengambilkan minum untuk Dira, dan gak lupa memberikan kecupan manis di pipi Dira.


"Terima kasih sudah memberikan aku dua malaikat kecil yang sangat tampan dan cantik. Terima kasih kamu sudah mau berjuang untuk mereka," ucap Arya sambil menangis.


"Itu sudah tanggung jawabku, Kak. Aku sudah memberikan keturunan untuk kakak, sekarang kakak harus menepati janji, untuk mencintaiku sampai maut memisahkan," balas Dira sambil mencium tangan Arya.


"tanpa kamu minta aku akan memberikannya, Sayang. Aku janji gak akan ada wanita lain selain dirimu, sampai kapanpun kamu yang aku cintai," ucap Arya sambil mencium bibir Dira.


"Kalian lupa ini rumah sakit?" protes Dinda saat melihat kedua sejoli itu berciuman.


"maaf, Ma. Kita sedang bahagia,sedikit saja," balas Arya sambil memonyongkan bibirnya.


"Sudah lupakan. Mama mau tau nama anak kalian, apa kalian sudah memberikan nama untuk mereka?" tanya Dinda penasaran.


"Sudah, Ma."


"Siapa namanya?" Tanya Dinda dan Ryant bersama.


"Kami menggabungkan nama kami berdua, hingga menjadi. Ardi Achel Wiguna dan Raya Alexia Bramastya."


...Season 1 Tamat...

__ADS_1


...By. Nunuk Pujiati...


__ADS_2