
Setelah memastikan Arya tidur, Dira langsung turun dari atas ranjang pesakitan. Dira terpaksa melepaskan pelukan Arya, karena Baby-twins meminta minun.
Dengan sangat perlahan Dira berjalan agar Arya tak mendengarkan suara kakinya, dan setelah itu Dira langsung keluar untuk menyusui Baby-twins di luar. Kenapa Dira lebih memilih di luar, itu semua agar Arya tak terusik dengan suara Baby-twins.
Setelah Dira keluar dan Baby-twins melihat sang Mommy, mereka berdua langsung merentangkan tangan ingin di gendong secara barengan. Dengan gemas Dira mengambil Raya, dan memosisikan dia di payu*dara kiri. Setelah itu, mengambil Adri dan memosisikan dia di payu*dara kanan.
Mereka begitu lahap meminum ASI yang di berikan Dira, bahkan mereka sempat saling cakar-mencakar lagi karena tangan Raya yang tak bisa diam. Dira terus menyusui Baby-twins sambil duduk, dan tak lama setelah itu Arman datang dari arah barat dengan wajah di tekuk-tekuk.
"Arman," panggil Dira sangat keras. sedangkan Dewi langsung membantu Dira, menutupi payu*dara Dira dengan gendongan, agar tak terlihat oleh Arman.
"Dira!" seru Arman.
"Iya ini aku, kamu belum pulang? Oh ya, bagaimana Diah?" tanya Dira sangat bahagia.
"Diah ...," ucap Arman sedikit menggantung.
"Sinilah, Nak. Duduk bicara yang tenang, Tante lihat kamu ada banyak masalah. Cerita sama Tia dan Tante, barang kali bisa lega," ucap Dewi. Namun bukannya segera duduk Arman malah penasaran dengan Dewi, karena Arman ingat betul Dewi bukanlah Dinda.
"Kok bengong, duduk sini. Benar kata Mama, kamu pasti banyak masalah. Sini coba cerita, aku akan mendengarkan," ucap Dira sedikit membuat Arman terjingkat.
"Oh ya, tapi sebelumnya aku mau tanya. Tante ini siapa, kenapa panggil kamu Tia?" tanya Arman sangat penasaran.
"Ini Mama aku, Arman. Oh ya, kamu belum tau kalau aku sudah menemukan Mama kandungku Arman. Dia Mama Dewi, yang aku cari. Kamu masih ingat kan, dulu aku pernah bilang ingin mencari orang tua aku?" tanya Dira. Sedangkan Arman langsung mengingat-ingat kembali apa yang Dira katakan dulu.
"Ya, aku sudah ingat. Wah, selamat Dira. Maaf Tante, saya gak tau. Oh ya, ini anak-anak kamu?" tanya Arman.
__ADS_1
"Iya ini anak aku, mereka kembar sepasang. Gimana Diah, apakah Diah sudah melahirkan?" tanya Dira sangat penasaran. Arman pun langsung menghela napas kasar, dan langsung duduk di sebelah Dira.
"Diah koma, Dira. Diah jatuh dari kamar mandi, dan sekarang koma setelah operasi selesai. Anak kami juga masih di Inkubator, karena lahir prematur. Aku bingung bingung dengan semua ini, Dira," ucap Arman.
"Kamu yang sabar, aku yakin Diah pasti akan sadar. Kamu gak sendirian Arman, suamiku juga sakit di dalam. Bahkan dia lagi berjuang, agar bisa sembuh," balas Dira sambil menangis. Sedangkan Dewi langsung memiliki untuk mengambil Raya, karena dia daritadi hanya memainkan puti*ng Dira saja dan menganggu kakaknya yang sedang asik minum ASI.
Sifat Raya memang jahil, dia sangat suka mengoda Ardi. Tapi jika Ardi sudah mulai bertindak, bisa di bilang mencakar, barulah Raya menangis. Bahkan hampir setiap hari kerja mereka berantem, tiada henti hingga membuat Dira kualahan terkadang.
"Aku sampai lupa, Vano sakit apa? Apakah serius, atau bagaimana?" tanya Arman yang masih belum tau jika Vano sudah meninggal.
"Emm ... aku belum bilang sama kamu, sebenarnya Vano sudah meninggal hampir 2 tahun lalu. Vano sakit, dan meninggal saat kami baru menikah. Setelah itu aku menikah dengan kak Arya, sekarang dia sedang sakit di dalam," ucap Dira sedikit menunduk.
"Ya Allah, Dira. Aku gak tau jika Vano meninggal, waktu itu aku juga gak bisa mampir ke pernikahan kamu karena ada halangan waktu itu. Sabar ya Dira, kita sama-sama sedang di uji sekarang. Tapi maaf banget ya, aku harus pergi. Aku harus melihat anakku, tadi Suster menyuruh aku ke ruang bayi. Kamu gak apa-apa kan, aku tinggal?" Dira pun langsung tersenyum lembut dan menganggukkan kepala.
"Iya, maaf sudah membuat kamu terlambat melihat anakmu. Semoga Diah sehat selalu, dan cepat sadar. Nanti kalau kak Arya mendingan, aku tengok Diah," ucap Dira sambil tersenyum ramah.
"Kamu nakal, ya? Adek kamu gak di kasih susu, malah di mainin semua. Kelakuan kamu seperti Daddy dulu, gak mau diam satu aset. Maunya 22nya, di minum," ucap Dira sangat gemas.
Setelah itu Dira kembali menyusui Ardi di dalam, dia merasa takut di luar apalagi gak ada orang berlalu lalang. Setelah Dira masuk, Raya kembali rewel saat melihat Dira.
Karena gak mau repot, akhirnya Dira mengunci pintu agar gak ada orang masuk. Dira ingin melepaskan bajunya, agar Baby-twins lebih luasa menyusu.
"Dia selalu begini, Tia?" tanya Dewi. Dewi tak menyangka cucu-cucunya akan bertingkah seperti ini, gak bisa diam dan selalu saja gerak sana-sini.
"Iya, Ma. Apalagi di rumah, mereka sampai berebut naik di atas perut Dira. Kalau gak, mereka menyusu sambil nungging. Pokoknya ada-ada saja tingkah mereka di rumah. Kadang Elin ngeluh sama mereka, yang terus berantem gak ada hentinya," jawab Dira sambil mengelus punggung Baby-twins.
__ADS_1
"Dulu kamu waktu bayi gak terlalu aktif seperti mereka. Jadi aku mikir, mereka ini nurun siapa?" tanya Dewi penasaran.
Dewi yang melihat cucu-cucunya begitu aktif langsung menggelengkan kepala, bahkan Dewi gak akan sanggup seperti Dira. Dira termaksuk orang yang sangat kuat, karena memilih menjaga mereka berdua sendiri.
"Mirip Daddy-Nya. Kata Mama Dinda, Baby-twins mirip banget seperti masa kecil kak Arya. Gak pernah mau diam, dan selalu saja membuat masalah," balas Dira sambil terkekeh. Setelah itu Dira langsung terpekik, saat Raya mengigit puti*ngnya.
"Aaauuhh ...."
"Kamu kenapa, Tia?" tanya Dewi panik.
"Biasa di gigit. Giginya mulai sedikit tumbuh, jadi Raya selalu menggigit sekarang ini. Ini masih Raya, belum Ardi. Terkadang pengen nangis, karena Raya sering mengigit saat gusinya mulai gatal," jawab Dira.
Tak lama setelah itu, Raya tersenyum tanpa dosa dan kembali mengigit aset berharga Arya. Bahkan Raya terang-terangan mengigit puti*ng Dira, sampai molor.
Dewi dan Dira pun tertawa melihat kelucuan Baby-twins, tanpa melihat seseorang sedang kesal karena melihat Dira berbincang-bincang dengan orang asing. Tadi Arya sempat terbangun, dan mencari Dira.
Namun saat Arya mencari Dira. Arya tak sengaja mengintip dari pintu, jika Dira berbicara dengan laki-laki. Bahkan sampai duduk di sebelah Dira, dan membuat hati Arya panas.
"Siapa, laki-laki tadi?"
...My Spoiled Family...
...By. Nunuk Pujiati...
__ADS_1
...Liat foto ini, aku jadi ingat Raya yang selalu jahil. Tangannya gak bisa diam, suka napol Kakaknya. 😌...