
Dua minggu telah berlalu. Ryant sudah mendapatkan perawatan terbaik, yang di miliki rumah sakit Sintal. Bahkan Sintal sendiri yang merawat Ryant, dan Sintal juga rela bolak-balik Badung Jakarta demi merawat Ryant. Kesehatan Ryant juga mulai membaik, bahkan terlihat sangat sehat.
Sedangkan di lain tempat, tepat hari ini adalah pernikahan Alisya dan Mahen. Ardi yang mengetahui semua, hanya bisa mengurung diri di kamar. Ardi juga gak mau bertemu dengan siapapun, jika Arya memanggilnya pasti saja ada alasan untuk menolak.
Hari ini, Keluarga besar Lisma menyiapkan segalanya untuk pernikahan. Alisya juga sudah siap untuk ke tempat ijab qobul, dan merubah statusnya menjadi seorang istri.
Walaupun hatinya sangat menolak pernikahan ini, tapi dia harus menikah dengan Mahen. Bukan dia gak cinta lagi dengan Ardi, tapi Orang yang sangat dia cintai, malah gak ada itikad baik untuk melamarnya atau membatalkan pernikahan ini.
"Sayang, kamu sudah siap Nak?" tanya Lisma saat melihat anaknya melamun.
"Sudah, Ma." Lisma pun tersenyum lembut pada Alisya. Di cium dengan lembut puncak kepala Alisya, dan memberikan anaknya itu semangat.
"Ma, kenapa Ardi gak mau pertahankan cinta kita? Kenapa Ardi gak ada niatan untuk membatalkan ini semua, dan lebih memilih dia? Pernah Ardi meminta kita kawin lari, tapi Alisya nolak. Bukan Alisya gak mau, tapi Alisya ingin Ardi jujur dengan semua orang. Apakah Alisya salah, jika Alisya ingin Ardi jujur sama Mama?" tanya Alisya dengan mata berkaca-kaca.
Mengingat Ardi, membuat air matanya ingin jatuh begitu saja. Alisya ingin sekali menikah dengan Ardi, tapi sayangnya Ardi gak mau berjuang berusaha mendapatkan restu orang-tua Alisya.
"Kamu yang sabar, Sayang. Jika kalian jodoh, sampai kapanpun kalian akan tetap bersama. Yakin deh sama, Mama." Lisam berusaha memberikan semangat untuk Alisya. Alisya pun tersenyum lembut, dan berusaha percaya dengan ucapan Lisma.
"Ayo kita turun, semua tamu sudah menunggu. Jadi kamu harus terlihat cantik, jaga senyuman mu ya." Alisya mengangguk pasti. Setelah itu mereka langsung turun, dan di sambut banyak orang.
Tapi, sekian lama Alisya turun. Ternyata Mahen belum juga datang, apalagi keluarga Mahen. Padahal satu minggu lalu, mereka sudah sepakat pernikahan akan di langsungkan hari ini.
"Apakah pengantin pria sudah datang? Masalahnya saya harus datang ke tempat lain, bukan hanya di sini saja," ucap sang penghulu.
Di sini, Alisya bukannya sendih malah sangat bahagia. Bahkan berharap, jika Mahen gak akan pernah datang.
"Mungkin terjebak macet, Pak. Tunggulah sebentar saja, karena mungkin saja mereka terjebak macet," ucap paman Alisya.
"Baiklah, saya akan menunggu tapi gak lama. Karena ini konsekuensi jika telat." Semua orang pun mengangguk, dan kembali menunggu Mahen.
__ADS_1
Lama sudah mereka menunggu hingga, penghulu mulai bosan. Karena tak kunjung ada konfirmasi, akhirnya penghulu memutuskan untuk pamit. Tapi baru saja dua langkah, Mahen datang dengan menggandeng seseorang.
Semua mata tertuju pada Mahen, dan wanita yang dia bawa. Mereka sangat bingung, kenapa Mahen datang dengan wanita itu.
"Mahen, kenapa kamu lama sekali Nak? Penghulu juga sudah menunggu kamu, tapi kamunya malah telat datang," ucap Lisma saat Mahen masuk kedalam.
"Maafkan saya, Tante. Tapi saya harus sampaikan ini semua, dan menjelaskan segalanya agar gak ada yang salah paham," balas Mahen.
"Sebenarnya ada apa?" Lisma semakin di buat bingung. Ingin rasanya Orang tua Mahen bicara, tapi kedatangan Arya juga Dira membuat orang tua Mahen gak jadi bicara.
"Pernikahan ini gak bisa, di langsungkan."
****
Flashback
Mahen tak bisa membatalkan segalanya, karena mereka sudah sepakat. Tapi, dengan cepat Raya memohon lagi.
"Ayolah Mahen, aku mohon. Jangan pisahkan mereka, karena mereka adalah jodoh sehidup semati. Apapun akan aku lakukan, agar kamu membatalkan ini," ucap Raya memohon. Mahen pun berpikir keras tentang permintaan Raya, sebenarnya hatinya sangat senang akhirnya bisa bertemu dengan Raya setelah sekian lama.
"Apa kamu serius mau melakukan apapun, agar aku membatalkan segalanya?" tanya Mahen pada Raya. Tanpa tunggu lama, Raya langsung mengangguk pasti.
"Maka menikahlah denganku, baru aku mau melepaskan Alisya. Jika kamu jadi istriku, otomatis jika istri pertama melarang, maka kau gak akan pernah menikah dengan dia, tapi jika kamu gak mau, maka kamu gak ada hak," ucap Mahen yang membuat Raya terkejut.
Terkesan sangat keterlaluan memang. Tapi, demi cinta Mahen rela melakukan apapun, agar mendapatkan Raya. Mumpung ada kesempatan, dan sebenarnya bisa saja dia membatalkan pernikahan ini karena ini memang niatnya. Tapi, karena Raya menawarkan diri, maka Mahen gak mau melepaskan kesempatan bagus ini.
"Apa kamu gila? Aku masih kuliah, dan belum memikirkan ini semua!" seru Raya sangat kesal.
"Kamu bisa kuliah sambil nikah, banyak yang seperti ini. Jadi jangan takut, kalau kamu gak bisa kuliah," jawab Mahen.
__ADS_1
"Gak, aku gak mau menikah tanpa cinta!" tolaknya lagi.
"Maka, kamu gak bisa melarangku untuk menikah dengan Alisya." Tanpa menunggu lama, Mahen langsung pergi begitu saja. Tapi, dengan cepat Raya menahan tangan Mahen.
"Tunggu, jangan seperti ini. Aku mohon, please." Mohon Raya. Tapi, Mahen gak mau mendengarkan Raya. Dia tetap pada pendiriannya, dan jika mau Raya harus ikut aturannya.
"Iya, iya, aku mau. Tapi dengan dua syarat, dan kamu harus menerima ini." Mahen tersenyum puas, karena akhirnya Raya luluh juga.
"Apa syarat nya?"
"Emm ... emm ... syarat ke satu kita hanya menikah di atas kertas, tanpa ada hubungan. Syarat ke dua, kita rahasiakan hubungan ini, bagaimana?"
Raya pun berkata dengan malu-malu. Jantungnya berdetak sangat kencang, karena dia harus memutuskan nasibnya dengan sangat singkat.
"Baiklah, aku setuju. Aku yakin selama kita nikah, kamu pasti akan jatuh cinta padaku. Sekarang kita bertemu dengan mama papa mu, dan kita bicarakan semua. Bisa gak bisa kita harus menikah malam ini juga, karena besok aku menikah dengan Alisya."
Raya hanya mengangguk saja. Mereka memutuskan menemui Arya juga Dira, dan meminta restu. Mereka sangat terkejut, bahkan menolak. Tapi setelah Raya menjelaskan segalanya Akhirnya mereka menerima, demi Ardi.
Pernikahan terjadi, tapi hanya lewat agama saja. Mereka akan melakukan pernikahan secara hukum, satu minggu lagi, saat semua surat-surat terkumpul.
Mereka pun akhirnya menjadi suami-istri yang sah, di mata agama. Status mereka juga sudah berubah, bukan gadis dan perjaka. Mereka akan membina rumah tangga, yang entah akan jadi seperti apa nantinya.
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1