
Pagi harinya Dira pergi kerumah sakit tetap membawa Baby-twins. Bukan Dira tak sayang anak-anaknya, tapi saat Dira akan menitipkan Baby-twins pada mbok Ria mereka langsung menangis dan tak mau dengan mbok Ria.
Dira merasa bingung, akhirnya mau tak mau Baby-twins ikut lagi ke rumah sakit. Sedangkan Angga hanya bisa geleng-geleng kepala saja, melihat kelakuan cucu-cucunya itu.
"Tia, apa kamu yakin dengan keputusanmu ini? Arya sangat melarang kamu melakukan ini semua, apa kamu mau menentang suamimu?" tanya Angga pada anaknya itu.
"Tia yakin, Pa. Hanya ini jalan satu-satunya agar kak Arya sembuh, hingga bisa pulih sepenuhnya tanpa cuci darah," jawab Dira. setelah itu Dira langsung masuk kedalam kamar inap Arya, dan betapa terkejutnya Dira saat melihat Arya muntah-muntah sampai dia duduk meringkuk di atas ranjang.
Dengan sangat khwatir, Dira berlari dan menhampiri Arya yang sedang di bantu Dewi. semalaman Dewi menunggu Arya, hingga Arya melakukan cuci darah hingga berakhir muntah-muntah seperti ini.
"Kak Arya kenapa, Ma?" tanya Dira sangat khwatir.
"Arya baru saja menjalani cuci darah, dan setelah selesai Arya langsung muntah-muntah. Mama bingung, tapi kata dokter ini wajar," jelas Dewi.
Sungguh hancur hari Dira saat ini melihat suaminya terkapar tak berdaya, hingga wajahnya sangat pucat pasih.
"Kak ...," panggil Dira sangat lirih.
"Jangan mendekat, aku gak mau kamu di sini. Cepat keluar, aku gak mau kamu melihat aku seperti ini. Aku sehat-sehat saja, gak sakit," usir Arya secara halus. Arya gak mau terlihat lemah di hadapan Dira, karena Arya tau pasti Dira sangat terpukul saat ini.
"Gak, aku gak mau pergi. Kakak sakit, aku akan tetap di sisi Kakak. Aku mohon jangan seperti ini, karena aku merasa tak di butuhkan lagi Kak," ucap Dira sambil mendekati Arya.
Namun tak lama setelah itu, Arya langsung memuntahkan seluruh isi perutnya.
Hoeek ... hoeek ... hoekk ....
__ADS_1
Dengan cekatan Dira memompang tubuh Arya, dan membantu Arya memegangi baskom khusus Arya muntah. Bahkan Dira sempat terkena muntah Arya, tapi Dira sama sekali tak merasakan jijik.
Dira malah mengepel sendiri bekas muntahan itu, dengan tangannya dengan sehelai demi sehelai tisu. Arya yang melihat Dira begitu sabar menghadapi dirinya langsung menangis, bahkan tangisan Arya sangat keras hingga membuat Dira menangis juga.
Setelah selesai Dira langsung mencuci tangan, dan berganti pakaian. Saat merasa sudah selesai, Dira menarik napasnya dengan sangat berat dan langsung keluar dari kamar mandi.
Arya masih saja terus menangis, badannya terasa sangat sakit, bahkan mual yang sangat hebat. Ingin sekali Arya menghilang saja dari hadapan Dira, daripada harus terlihat seperti ini.
"Kak," panggil Dira dengan suara serak. Dewi yang tak tahan melihat ini memutuskan untuk keluarga, meninggalkan mereka berdua.
Hati ibu mana yang gak akan sedih, jika anaknya selalu di uji dari pasangannya. Bahkan sudah dua kali ini Dira di uji seperti ini. Dewi berharap menantunya kali ini kuat, dan tak akan pernah meninggalkan anaknya.
"Pergilah Dira, harus aku bilang berapa kali lagi? Aku gak mau kamu melihat aku seperti ini, aku gak mau," ucap Arya sambil menangis histeris.
"Aku gak mau pergi, aku mohon jangan usir aku. Aku ingin selalu di dekat kamu, Kak. Izinkan aku merawatmu sampai sembuh, aku mohon jangan siksa aku seperti ini. Penolakan yang Kakak berikan, membuat aku sakit, aku mohon biarkan aku di sini ... hiks ... hiks," ucap Dira sambil terisak. Arya pun tak kuasa lagi menahan diri, Arya langsung membalas pelukan Dira dan mencium seluruh wajah Dira.
"Maaf, bukannya aku mengusir kamu. Tapi aku gak mau kamu sedih, melihat keadaan ku seperti ini. Aku gak mau kamu terpuruk lagi, karena kondisi ku. Maafkan aku," ucap Arga di sela-sela ciumannya itu.
Dira pun merasa sangat bahagia, akhirnya Arya tak mengusirnya lagi. Dengan lembut Dira membelai lembut pipi tirus suaminya, bahkan pipi gembul Arya sudah hilang karena sakit ini.
"Aku akan selalu di samping mu, Kak. Sampai kapanpun aku tetap istrimu, dan sudah menjadi tugasku untuk merawat kamu sampai sembuh. Yakinlah kamu sembuh, karena Baby-twins membutuhkan Daddy-Nya. Mereka juga membutuhkan kasih sayang dari kamu, Kak. Jadi kamu harus tetap semangat, bertahanlah demi kami bertiga," ucap Dira sangat pilu.
Air mata terus membasahi wajah cantik Dira, di usap lembut air mata itu. Arya sangat tak suka melihat istrinya menangis lagi, karena Arya sudah bersumpah tak akan pernah membuat Dira menangis lagi.
"Jangan menangis, aku gak suka melihat itu. Nanti cantiknya hilang, aku gak mau punya istri jelek," celetuk Arya yang membuat Dira terbelalak. Bahkan Dira langsung menjauhkan tubuhnya, dan menghapus kasar air matanya yang masih mengalir.
__ADS_1
"Kakak! Jangan merusak suasana napa, aku sudah menangis sedih, tapi kakak membuat aku langsung kesal dengan ucapmu itu. Jadi kalau aku jelek, kamu gak mau lagi sama aku gitu?" tanya Dira sesegukan. Walaupun kesal, tapi air matanya tetap mengalir deras melihat kondisi Arya.
Sedangkan Arya langsung tertawa sambil menangis, di sisi lain Arya senang bisa menjahili Dira lagi. Namun di sisi lain, Arya sedih apakah dia bisa melihat senyum, atau wajah ngambek Dira lagi nanti.
"Jangan ngambek, sini peluk aku. Aku ingin tidur di peluk kamu malam ini, aku ingin merasakan kehangatan kamu malam ini. Boleh kan?" tanya Arya yang terus meneteskan air mata.
Dira pun menyambut hangat pelukan itu, di peluk lah suaminya dengan sangat erat. Di cium puncak kepalanya, dan setelah itu Dira menidurkan suaminya di atas ranjang pesakitan.
Setelah memastikan ranjangnya pas, Dira langsung naik di atas ranjang dan menaruh kepala Arya dalam pelukannya. Di elus lembut kepala Arya, hingga Arya bisa memejamkan matanya menuju alam mimpi.
Tidurlah kak, aku selalu ada di sini. Aku akan selalu memelukmu sampai kamu merasa bosan, dan tak ingin pelukanku lagi. Jika kita memang jodoh, aku yakin Allah selalu menyatukan kita walaupun rintangan selalu menghadang. Aku istrimu Dira Larasati, akan selalu menjadi garda terdepan untukmu. gumam Dira sambil mengelus lembut punggung Arya.
Tak lama setelah itu, Dira mendengar dengkuran halus dari Arya. Bahkan wajah Arya terlihat sangat kalem, jika tertidur seperti tak ada dosa sama sekali. Wajahnya lebih bersinar, walaupun dia pucat.
"Selamat tidur, Sayang."
...***...
Aku yakin Tuhan sekarang menguji ketulusan cintaku. Tuhan juga ingin melihat seberapa aku bersyukur dengan cobaan ini, hingga aku bisa sadar, hanya Tuhan yang bisa membalikkan semuanya, dan tak ada yang bisa menolak kehendaknya. ~ Dira Larasati
...My Spoiled Family...
...By. Nunuk Pujiati...
Huee aku nangis, tanggung jawab ðŸ˜
__ADS_1