
Kini Dira berada di sebelah ranjang pesakitan Arya, sambil menyusui Raya. Setelah berbicara dengan dokter, Arya langsung mendapatkan Ruangan untuk menginap beberapa hari kedepan.
Dira juga sudah menghubungi Sintal, untuk mengantar Dewi ke Bandung. Agar Baby-twins tetap di rumah, dan gak ikut kerumah sakit. Mungkin nanti Dira akan memompa ASI-Nya untuk Baby-twins, karena beberapa hari dia akan sibuk mengurus Arya.
Sedangkan Dinda sengaja gak di kasih tau dulu. Dira takut Asma Dinda kambuh lagi, karena mendengar keadaan Arya. Namun Dira tetap memberikan kabar, pada Ryant.
"Ughh ...."
Dira pun langsung menatap Arya saat dia mendengar lenguhan dari mulut suaminya itu.
"Kak, kamu sudah sadar?" tanya Dira sambil menggenggam tangan Arya.
"Jangan menyusui seperti itu, aset berhargaku nanti di lihat orang!" Arya pun langsung meraih tisu yang ada di atas Nakas, dan di buat menutupi payu*dara Dira. Sedangkan Raya yang merasakan risih, langsung membuang tisu itu.
"Sayang, milik Mommy kelihatan Nak. Di tutupi gini, biar gak ada mata keranjang melihat," celetuk Arya.
Sedangkan Dira hanya bisa terbengong melihat kelakuan Arya. Pasalnya dia baru saja siuman, tapi yang di pikirkan hanya Aset berharganya.
"Daddy, Raya risih! Lagian siapa yang akan melihat aset berharga Daddy?" tanya Dira sambil berpura-pura menjadi Raya. Dira sangat kesal dengan kelakuan Arya, sudah sakit masih saja memikirkan hak miliknya.
"Tetap saja, Sayang. Pokoknya harus di tutup, Daddy gak suka liat itu." Dira pun langsung mengdengus. Tanpa tunggu lama, dia langsung mengambil selimut di kereta dorong Ardi dan menutup dadanya agar Dira bisa menyusui dengan tenang.
"Puas!" rajuk Dira.
Arya pun terkekeh melihat Dira yang merajuk. Setelah itu Arya melihat sekelilingnya, dan lanjut bertanya kembali. Arya juga ingin tau, dia sakit apa sampai sebenarnya.
__ADS_1
"Oh ya, kenapa aku di rawat? Ini juga kenapa ada slang-slang gak jelas, aku gak mau seperti ini. Kita pulang saja, di sini gak enak," ucap Arya sambil menggenggam erat tangan Dira.
"Kakak harus tetap di sini, Kakak juga membutuhkan perawatan yang sangat banyak. Sekarang aku tanya sama Kakak, tapi aku mohon jawab dengan jujur. Aku gak mau ada kebohongan lagi, di antara kita. Ingat kita sudah ada Baby-twins, apa Kakak masih mau berbohong?" tanya Dira sambil menatap sendu suaminya.
"Jujur apa? Perasaan aku gak pernah berbohong, ataupun sampai selingkuh. Kok pertanyaanmu seperti itu, bikin takut saja," jawab Arya sedikit kebingungan.
"Bukan masalah kesetiaan, Kak. Kalau kesetiaan, aku selalu acungkan jempol. Malah 8 jempol untukmu, kata kak Nur Raffa Pratama. Tapi ini masalah lain Kak, masalah kesehatanmu," balas Dira sambil menunjuk dada Arya.
"Kesehatan?"
"Iya, Kesehatan. Kakak tega bohong sama aku, ingat waktu kita baru menikah? Aku sempat tanya apa, tentang bekas luka di perut Kakak? Tapi jawaban yang aku dapat? Kakak malah bilang, ini bukan apa-apa. Tapi nyatanya, ini adalah bekas Luka Operasi Ginjal. Kakak mendonorkan ginjal untuk siapa, sampai berkorban seperti ini?" tanya Dira dengan mata berkaca-kaca.
Jika mengingat perkataan dokter tadi, hati Dira menjadi teriris. Dira jadi semakin takut kehilangan Arya, seperti dia kehilangan Vano dulu.
"Kamu tau darimana, kalau aku pernah mendonorkan Ginjalku?" tanya Arya sangat gugup.
"Dari dokter lah! Jika dari awal Kakak bilang, mungkin aku akan selalu mengingatkan untuk menjaga pola makan, tidur, dan lain-lain nya. Tapi sekarang terlambat, karena Ginjal Kakak bermasalah. Dokter mengatakan jika Kakak mengalami gagal Ginjal, dan harus melakukan cuci darah setiap berapa kali ya tadi aku lupa," ucap Dira panjang lebar. Bahkan tangis Dira langsung pecah, saat membayangkan sesuatu yang buruk nantinya.
Sedangkan Arya merasa seperti di sambar petir di pagi hari. Ucapan Dira barusan membuat dia shock, dan seketika langsung lemas.
Gagal ginjal? Berati sebentar lagi aku akan pergi? Terus anak-anakku, dan Dira bagaimana? Ini semua salahku, yang selalu abaikan kesehatan. Dokter juga sudah melarang aku minum kopi, tapi pekerjaan yang aku pikul membuat aku harus berteman dengan kopi. Apalagi jika di luar negeri, pasti aku langsung pesan makanan karena Dira gak ada. Aku harus apa sekarang? gumam Arya dalam hati.
"Dira, apakah kamu menyesal menikah dengan aku?" tanya Arya tiba-tiba.
"Maksudnya?" Dira balik bertanya. Dira sangat bingung dengan ucapan Arya, yang tanya apakah dia menyesal telah menikah dengan dirinya.
__ADS_1
"Apakah kamu menyesal menikah dengan aku, yang awalnya kamu kira bisa membahagiakanmu, tapi malah merepotkamu sekarang. Apakah kamu menyesal?" tanya Arya sangat takut. Pasalnya Dira sekarang langsung menatap Arya marah, seperti ada kobaran api di dalamnya.
"Emm, gak usah di lanjut...."
"Jika aku menyesal, kamu sudah aku biarkan mati di rumah! Bahkan aku gak perlu repot-repot lari-larian, menggendong Baby-twins sambil menyetir mobil, dan mengurus administrasi saat kamu kesakitan tadi bodoh! Pertanyaan macam apa itu! Jika kamu bosan aku, bilang saja bosan, kenapa harus tanya seperti ini!" Dira menjawab sambil memukul-mukul lengan Arya.
Bahkan air mata Dira tak bisa di bendung lagi, dia langsung menangis mendengar pertanyaan suaminya. Padahal jauh dalam lubuk hati Dira, dia akan merawat Arya sampai sembuh. Kalau bisa pun dia akan memberikan satu ginjalnya untuk Arya, tapi mendengar pertanyaan Arya barusan. Membuat Dira sakit hati, yang sangat mendalam.
Sedangkan Arya langsung merasa bersalah karena mengajukan pertanyaan itu, dengan cepat Arya duduk dan langsung meraih tubuh anaknya. Bahkan Raya juga ikut menangis, saat dia terusik dengan suara keras dari Dira.
"Maafkan aku, sungguh aku gak bermaksud seperti itu. Aku hanya takut kamu menyesal menikah dengan aku," ucap Arya menenangkan Dira.
"Aku gak pernah menyesal dengan keputusanku, Kak! Aku sangat mencintai kamu, aku gak pernah memandang apapun. Aku tulus mencintai kamu apa adanya, jadi seperti apapun nanti kamu. Kamu tetap suamiku, suami Dira Larasati. Daddy-Nya Baby-twins!" jawab Dira sangat lantang.
Arya pun menyesal telah membuat orang yang sangat dia cintai menangis, padahal dia paling benci melihat Dira menangis. Setelah itu Dira melepaskan pelukan Arya karena Raya menangis, mungkin dia terkejut atau merasakan apa yang sedang terjadi dengan orang tua mereka.
Kamu harus kuat, Kak. Jangan patah semangat, masih ada aku yang selalu mensupport dan memberi dukungan kamu sampai sembuh. Jangan pernah meragukan cintaku, karena cinta yang aku miliki tulus dari dalam hati. ~ Dira Larasati
...My Spoiled Family...
...By. Nunuk Pujiati...
.......
.......
__ADS_1
.......