
"Aku sangat benci dengan orang ini, Kak. Dia yang membuat Mama di lupakan, jika dia gak masuk ke rumah ini, Mama gak akan terasingkan di rumah ini. Alena sangat benci dengan wanita murahan ini!"
"Alena!"
Seketika suasana menjadi membeku. Suara berat, dan penuh amarah itu sangat menakutkan bagi ketiga wanita yang sedang terdiam itu.
Entah bagaimana bisa, Seto ada di rumah. Padahal jelas-jelas, Lisma sudah mengantarkan Seto kedepan. Bahkan sudah memastikan Seto keluar, dan menaiki mobilnya.
"Mas, Alena gak sengaja. Ayo kita ke bawah, ada sesuatu yang mau ku tunjukkan." Lisma berusaha membawa Seto pergi. Lisma gak mau Seto melakukan tindakan di luar kendali, yang akan menyakiti Alena.
"Tunggu!"
Tangan Seto pun menyingkirkan Lisma dari hadapannya. Seto langsung menghampiri anaknya dengan tatapan gak bersahabat, hingga membuat Alena menciut.
"Kamu bilang apa tadi, Alena? Papa gak dengar, coba ulangi lagi." Seto kembali bertanya dengan tatapan yang sangat membunuh.
"Mas—"
"Diam! Aku bilang kalian diam, bisa gak kalian diam dulu. Aku mau bicara dengan anakku!" Seketika semua orang yang ada di sana langsung diam.
Sedangkan Alena langsung gemetar saat mendengar suara Seto yang sangat menggelegar itu. "Coba ulangi lagi, Sayang. Kamu tadi bilang, apa?"
"Ma—maaf."
Alena pun tak bisa membendung air matanya lagi. Alena benar-benar takut dengan Seto, karena baru kali ini Alena melihat Seto yang sangat marah.
"Bukan kata maaf yang Papa mau, Alena!"
__ADS_1
Brakk!
Seketika Alena langsung terpejam saat Seto memukul pintu kamar Alena. Terdengar sangat keras, bahkan tangan Seto sampai luka dan berdarah. Lisma, dan Nadia gak berani berbicara atau membela Alena. Karena kemarahan Seto saat ini sangat tinggi, hingga membuat mereka takut.
"Cepat katakan apa yang kamu ucapkan tadi, Alena! Cepat katakan!"
Brakkk!
"Dia wanita mur—murahan!"
Akhirnya kata-kata itu lolos dari mulut Alena. Alena sangat takut, hingga dia menurut dengan perintah Seto.
Seto yang mendengar ucapan Alena langsung tersenyum kecut, bahkan terlihat sangat kecewa dengan perilaku anaknya itu.
"Kamu tau, Lena. Orang yang kamu sebut wanita murahan ini, adalah orang yang merawat kamu dari bayi. Bahkan status wanita ini istri orang, tapi demi menuruti ucapan Mamamu, wanita ini rela merawatmu dengan penuh kasih sayang!" Seto menjelaskan semuanya agar Alena gak pernah salah paham lagi dengan Lisma.
"Papa setiap hari kerja, Lena. Kamu sendirian di rumah dengan Nadia, tapi dengan kebesaran hati wanita yang kamu sebut murahan ini. Dia mengambil mu, dan merawat kalian secara bersamaan. Jadi sekarang salahnya di mana Alena, kenapa kamu menyebut malaikat ini dengan sebutan wanita murahan?" Seto pun langsung terduduk lemas.
Seto menangis sejadi-jadinya, karena merasa gagal mendidik anaknya. Seto sangat malu dengan Lisma, karena dia yang memberikan ketulusan, tapi sama sekali gak di hargai.
"Mas ... bangunlah, jangan seperti ini. Jangan masukan omongan Alena ke hati, mungkin dia lagi ada masalah. Ingat kamu punya darah tinggi, aku gak mau penyakitmu sampai kambuh." Lisma berusaha membujuk Seto.
"Aku gagal, Lis. Aku gagal mendidik anakku, bahkan aku mungkin gak pantas di sebut Papa," ucap Seto yang masih terus menangis.
Nadia yang melihat papanya seperti ini, juga ikut menangis. Dengan sangat marah, Nadia langsung menarik tangan Alena dan membawanya keluar rumah.
"Puas kamu, Alena!"
__ADS_1
***
"Lessy, maafkan aku ya. Mungkin karena aku kamu jadi di teror orang, intinya di sini aku mau minta maaf sebesar-besarnya. Nanti aku akan cari tau, siapakah orang yang berani meneror kamu," ucap Vano saat dirinya sudah boleh menjenguk Lessy.
"Gak usah, Vano. Mungkin itu hanya orang iseng, tapi sepertinya lebih baik aku menjauh saja darimu. Aku takut, kalau dia benar-benar nekat. Aku gak mau membuat orang tuaku sedih lagi," balas Lessy sambil menangis.
Kali ini Lessy merasa dirinya kembali merepotkan orang tuanya. Padahal sekuat tenaga Lessy menahan agar gak kambuh, tapi nyatanya teror yang dia dapat membuatnya anfal kembali.
"Maafkan aku, kalau memang itu maumu. Maka mulai sekarang kita menjaga jarak, kamu jangan khawatir. Rumah sakit sudah aku bayar, jadi kalian gak perlu bingung cari biaya."
Lessy langsung melotot saat Vano berkata seperti itu. Lessy makin merasa bersalah, dan semakin merepotkan orang. Dulu orang tuanya, sekarang Vano.
"Van, kok gitu. Rumah sakit ini pasti mahal, dan aku gak mau sampai kamu minta uang orang tuamu." jelas Lessy sangat menyesal.
"Gak lah, aku punya tabungan sendiri dari uang saku. Sudah intinya aku mintak maaf, kata kejadian ini." Lessy gak bisa berkata-kata lagi, dia hanya bisa mengangguk sambil tersenyum saja.
Setelah mereka selesai bicara. Vano memilih untuk balik ke acara latihan, sebelumnya Vano sudah menghubungi teman-temannya dan mereka bilang akan menunggu sampai Vano datang.
"Aku pamit, jaga diri baik-baik jangan sampai kambuh lagi. Semoga penyakit mu cepat di sembuhkan oleh Allah."
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1