Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
S2 - Beast Brother's : Mahen Sialan


__ADS_3

Raya sangat bersungut-sungut saat Ardi lari begitu saja, tanpa memperdulikan dirinya. Bahkan Raya sampai mengumpat berkali-kali, dengan Ardi saudara kembarnya.


"Dasar, bucin sialan! Awal kamu Kak, sampai rumah aku aduin Daddy!" gerutunya terus-menerus.


"Moy, lo mau apa sih? Jika mau gue ada uang, mau gak gue traktir?" Mehen menawarkan diri. Padahal dalam benaknya, Mahen sangat gembira karena Ardi memberikan kesempatan untuk ia.


"Napa sih lo, itu? Gue sudah bilang, jangan sok kepo ataupun ikut campur. Bikin badmood saja, lo!" seru Raya bergegas pergi. Namun dengan cekatan, Mahen mencegah kepergian Raya karena Mahen gak mau sampai kehilangan jejak seperti tadi.


Raya pun langsung memejamkan matanya. Raya sangat kesal saat ini, dan ingin sekali nonjok orang asing di depannya ini. Namun Raya ingat ucapan Arya, jika perempuan gak boleh terlalu keras atau main tangan.


"Minggir, gak!"


"Gak!"


"Minggir!"


"Gak mau, Pimoy!"


Bug ...


Satu tinjuan mendarat mulus, tepat di hidung Mahen. Bahkan darah langsung keluar dari sana, dan semua itu kelakuan Raya. Raya terlanjur kesal dengan Mahen, yang notabene pemaksa.


"Lo nonjok, gue?"


"Iya, kenapa? Gak terima lo, apa mau protes?" tanya Raya dengan tatapan sinis, penuh kebencian.


"Gak protes sih, cuma lumayan juga sampai bikin bocor hidung gue," balas Mahen sambil menghapus darah yang keluar dari hidungnya.


Kuat juga wanita ini. Aku semakin tertarik melihat dia, apalagi dia gak gampang goyah. Dari pandangan pertama saja aku sudah yakin, dia adalah wanita hebat. gumam Mahen.


"Itu balasan, bagi cowok seperti lo. Sekarang minggir gih, gue mau pergi cari kakak gue!" Raya pun mendorong tubuh Mahen.

__ADS_1


Dengan langkah cepat Raya meninggalkan tempat itu, dan mencari kakaknya. Raya sudah mengambil ancang-ancang akan mencekik kakaknya itu, dan membuangnya ke jurang.


"Awas kamu, Kak! Gara-gara kamu, aku jadi bermasalah dengan Mahen sialan itu!" gerutunya sambil terus berjalan. Hingga dia sampai di gedung perkuliahan, dan di sana Raya bertemu dengan dosen gilanya itu.


"Raya!"


"Shittt! Sepertinya hari ini sial banget sih, belum selesai masalah kak Ardi, sekarang Dosen pembimbing pakek manggil segala," gumam Raya.


"Iya, Bu," jawab Raya.


"Mana tugas yang saya suruh kumpulkan? Semua anak-anak sudah selesai loh, masa kamu belum juga mengumpulkan tugas?" tanya Lusi sambil menatap tajam Raya.


"Emm ... anu, Bu. Ini masih saya kerjaan, tunggu satu jam ya Bu. Saya mohon beri waktu saya lagi, karena saya belum selesai mengerjakan tugas itu," pinta Raya sangat memelas. Sebenarnya Raya ogah memohon seperti ini, tapi demi nilai dia akan lakukan apapun.


"Kamu selalu gini Raya! Bagaimana bisa lulus nanti, jika kamu selalu seperti ini. Sekarang cepat kerjakan, dan ibu tunggu 30 menit. Jika dalam waktu 30 menit, kamu belum mengumpulkan tugas. Maka saya akan hukum kamu," ucap Lusi dan setelah itu langsung meninggalkan Raya sendiri.


"Agggrrghh! Kakak sialan kamu!"


Sedangkan di rumah, Arya dan Dira kembali sendiri. Setelah berbincang-bincang, Sintal memutuskan untuk kembali ke rumah Angga. Namun, Arleta ingin ikut Sintal lagi untuk bertemu dengan kakek-neneknya.


Arya sangat sedih, karena Arleta selalu membangga-banggakan, Sintal juga Fani. Sedangkan dia, yang notabene orang tua kandungnya gak di gubris.


"Sayang, sepertinya kita harus ambil Arleta deh. Masa rumah ini cuma jadi bahan ampiran saja, kan aku mau dekat dengan putriku," oceh Arya yang merasa sendiri.


"Nanti kita ke rumah, Mama. Kita jemput Arleta, aku juga sangat merindukan Arleta. Tapi kamu tau kan, jika Arleta lebih suka dengan kak Sintal." Jelas Dira yang masih bersandar di dada bidang suaminya.


"Padahal yang bikin kita, yang ciptakan princess secantik itu juga kita. Tapi kenapa Arleta suka sama si ikan buntal sih," protes Arya sekali lagi.


"Kak, dia kakakku loh! Enak saja panggil buntal, emang kamu yang kasih nama?" tanya Dira dengan bersungut-sungut.


"Bu ...."

__ADS_1


Belum selesai Arya berbicara. Dering ponsel, membuat mereka terkejut. Dengan cepat Arya melihat siapa yang menghubungi dirinya, dan ternyata itu Raya.


"Siapa, Kak?"


"Raya, aku angkat dulu."


Arya pun mengangkat panggilan dari Raya. Arya juga penasaran kenapa anaknya itu menghubungi dirinya, saat ada kelas.


"Daddy!" teriak Raya sangat keras. Bahkan Arya sampai menjauhkan ponselnya, karena teriakan Raya sangat kencang.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Arya sangat lembut.


"Daddy, kak Adri jahat banget tau gak. Masa Raya minta uang gak di kasih, pokoknya Raya protes ingin minta uang jajan sendiri tanpa di bagi dengan kak Ardi!" seru Raya dengan nada kesal.


"Loh kok bisa? Daddy sudah kirim uang 10 juta untuk sepuluh hari kedepan, masa Ardi gak kasih?" tanya Arya penuh keheranan.


"Gak percaya tanya sendiri sama, kakak. Dia malah asik pacaran dengan Alisya, dan kabur saat aku minta uang. Asal Daddy tau, sekarang Raya kena omel karena gak kerjain tugas. Mau kerjain gimana, uang saja gak di kasih!" Raya pun menangis.


"Kak, kamu susul Raya. Memang keterlaluan itu Ardi, nanti aku akan hukum dia. Sehari gak jahili adiknya kok gak bisa," celetuk Dira.


Arya hanya mengangguk saja, dan segera mematikan panggilan itu. Arya bergegas pergi ke kampus PERMATA, dan akan menghukum Ardi.


.


.


.


Happy Reading


maaf lagi gak mood nulis, mataku kunang-kunang 🤣

__ADS_1


__ADS_2