Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 58 Milana Putri


__ADS_3

Sedangkan di lain tempat. Arya sangat bingung mau mencari Dira kemana?Dira sosok wanita yang sangat tertutup dan tak punya banyak teman di Jakarta, jadi Arya tak tau mencarinya kemana. Hingga Arya memilih menghentikan mobilnya di taman kota, untuk merilekskan otaknya sejenak.


"Dira,angkat teleponku," gerutu Arya saat melihat panggilannya tak kunjung di angkat. Sebenarnya bisa saja Arya melacak melalui GPS. Tapi kendalanya hanya satu, ya itu Dira mematikan GPS di ponselnya.


"Ini semua salahku! Andai saja aku tak kekanak-kanakan, Dira gak akan ngambek seperti ini. Dira Maafkan kakak," ucap Arya penuh penyesalan.


"Putus cinta, pak?" Arya pun langsung menoleh ke arah seseorang di sampingnya, dengan tatap tak suka.


"Bukan urusanmu!" jawab Arya sangat ketus.


"Wihh... Galak ternyata. Jangan galak-galak nanti suka sama aku, tapi saya juga gak akan mau sama cowok pemarah seperti kamu," balas Mila tak kalah ketus.


"Pede banget sih kamu? Siapa juga yang akan suka sama cewek jadi-jadian, seperti kami ini! Baju kayak laki-laki tapi dalemnya perempuan!" ejek Arya yang membuat Mila sangat kesal.


"Wah penghinaan! Lihat saja ya, kalau aku lepas semuanya dan berdandan ala perempuan cantik, jangan sampai terpanah." Arya pun tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Mila, yang sedikit konyol bagi Arya.


"Aku gak percaya, sama sekali!" jawab arya dengan tertawa


"Ya sudah kalau gak percaya. Tapi sayangnya aku kuga ogah nunjukin Kemolekan tubuhku di hadapan orang sombong sepertimu, kalau gitu mending pergi saja bay. Jika nanti kita bertemu lagi berarti kita jodoh, dan di situ kamu akan tepersona dengan penampilanku," canda Mila. Setelah itu Mila langsung pergi meninggalkan Arya, yang masih.


"Cewek sinting!" teriak Arya sangat kencang. Sedangkan Mila hanya senyum mengejek, dan langsung melesat pergi.


"Amit-amit punya pacar seperti dia, bisa-bisa mati kering hidup bersama dia," ucap Arya lirih.


Setelah sedikit menjauh dari Arya, Mila mulai memikirkan masalahnya dengan Mayang. Mila gak mau di jodohkan, tapi juga tak bisa menolak. Dengan langkah sempoyongan, karena pikiran kalut tanpa sengaja Mila menabrak seseorang hingga terjatuh.


Bruuk...


"Aduh!" pekik lelaki itu. Sedangkan Mila langsung melihat keadaan orang yang dia tabrak.


"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Mila sangat khawatir. Sedangkan lelaki itu hanya menggeleng dengan menundukkan kepala, sambil membersihkan pasir pasir yang menempel.


"Kalau ditanya itu lihat orangnya, bukan hanya menunduk seperti cewek!" celetuk Mila yang sangat kesal. Seketika lelaki itu langsung menoleh ke arah Mila, bahkan mereka saling bertatap mata sampai lama.


Astaghfirullahalazim... Kenapa dengan jantungku, kenapa berdetak dengan kencang saat melihat lelaki ini? Mila pun langsung memegang dadanya


"Maafkan saya. Saya benar-benar gak melihat tadi, karena saya sedang mencari tuan saya," ucap lelaki itu. Namun Mila tak menjawab, malah memandang lelaki itu dengan mata yang berbinar. Sungguh lelaki itu sangat bingung dengan sikap Mila, hingga membuat bertanya.

__ADS_1


"Mbak kenapa, kok malah bengong?" tanya lelaki itu. Namun jawaban Mila sungguh di luar skenario, bahkan membuat lelaki itu terkejut.


"MAU GAK KAMU JADI PACAR AKU?"


****


Di tempat lain Sintal yang baru saha datang langsung masuk kedalam kamar inap Fani, dengan membawa beberapa buah dan juga bubur ayam yang dia beli di jalan.


"Kamu sudah makan, Fan?" tanya Sintal sambil menaruh beberapa bingkisan di atas meja.


"belum," jawab Fani sangat lemas. Sungguh Sintal merasa sangat bersalah, karena tak cepat datang ke rumah sakit.


"Kamu harus makan, kasihan anak kamu. Untung tadi aku beli bubur ayam tadi di jalan, sekarang kamu makan dan aku suapin," ucap Sintal sambil membuka bubur yang dia Beli tadi. Namun niat baik Sintal rupanya tak di sambut baik, oleh Fani.


"Aku mual, saat mencium bau bubur itu! Cepat tutup lagi, aku ingin muntah," teriak Fani sambil menutup mulutnya. Sedangkan Sintal malah menatap bingung, karena Fani bersikap seperti ini.


"Bukannya bubur ini, baunya enak? Kenapa kamu malah mual?" tanya Sintal sambil memperlihatkan isi isian di dalam kotak makan itu.


"Sial! Hoekk... Hoekk..." Fani pun langsung memuntahkan isi perutnya, tepat di depan Sintal. Terkejut? Jelas Sintal terkejut, karena dia tak tau jika Fani akan munta beneran.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Sintal sangat khawatir. Bahkan Sintal tak merasa jijik saat melihat, muntahan Fani.


"Kalau gitu aku tutup saja bubur ayamnya. Gini saja kamu ingin makan apa biar aku carikan, soalnya perutmu harus terisi," tanya Sintal sangat perhatian.


"Apa aku boleh meminta sesuatu, sama kamu?" tanya Fani sangat senang. Karena daritadi di kepalanya terngiang-ngiang suatu makanan, khas Jawa Timur.


"Tentu boleh, Fani." Fani pun langsung tersenyum dan mulai mengungkapkan apa yang dia inginkan.


"Aku ingin makan nasi jagung, yang ada ikan asin, ada urap-urapnya, ada sambalnya, ada oseng-oseng terong dan juga jangan lupa peyeknya," ucap Fani sangat berharap. Sedangkan Sintal langsung terbelalak dengan permintaan Fani.


"Mana ada makan itu di sini? Lagian kamu kenal makanan itu dari mana coba?" jawab Sintal dengan nada sedikit meninggi. Entah karena hormon atau apa, Fani merasa sakit hati saat di Sintal berucap sedikit kasar.


"Maaf aku merepotkan, ya?" Fani pun langsung menidurkan tubuhnya dan menarik selimut. Tubuhnya bergetar karena menahan tangisan, karena bentakan Sintal.


"Fani bukan begitu tapi..."


"Pergilah Dok. Terima kasih sudah memperdulikan saya, saya mau istirahat jadi saya minta tolong keluarlah." Fani pun memotong ucapan Sintal. Sedangkan Sintal merasa sangat bersalah karena berbicara agak keras tadi, dengan muka di tekuk Sintal keluar dari kamar Fani. Namun tanpa di duga, Sintal melihat Dewi dan Dira di depan pintu rawat inap.

__ADS_1


"Loh kak, kenapa muka di tekuk gitu?" tanya Dira yang heran-heran.


"Benar kata Dira, kenapa muka kamu di tekuk begitu? Apa kamu kalah lotre?" tanya Dewi sedikit bercanda.


"Sintal salah bicara dan sekarang Fani ngambek sama Sintal, tapi salah Sintal juga sih ma," jawab Sintal dengan lemas. Sedangkan Dira tertawa terbahak-bahak, melihat Sintal yang menuju proses budak cinta.


"Kenapa ketawa?" tanya Sintal dengan memicing kan matanya.


"Katanya gak akan tertarik dengan wanita, tapi kok sekarang galau karena wanita. Kamu kalah Kak, dan kamu harus memenuhi permintaanku," ucap Dira dengan tawa yang menggelegar. Sedangkan Sintal langsung terbelalak, saat mendengar ucapan sang adik.


"Huss... Ini rumah sakit, bukan rumah!" ucap Sintal sambil membekap mulut Dira. Sedangkan Dira yang tak bisa bernapas langsung menepis tangan Sintal.


"Ih... Kakak mau bunuh Dira, hampir saja aku gagal napas," ucap Dira sangat kesal.


"Memang kamu salah bicara gimana Sintal? Kamu bisa cerita awalnya gimana?" tanya Dewi sangat penasaran.


"Jadi gini. Fani meminta nasi jagung lengkap dengan isinya, tapi Mama tau kan di sini mana ada yang jual begituan. Tapi sinta6l malah menjelaskan dengan nada tinggi dan Fani ngambek," ucap Sintal dengan prustasi.


"Lagian kamu gak bisa bedain orang ngidamya? Perasaan ibu hamil itu labil, dia akan merasa sangat terluka walau dengan nada halus dan akan lebih sensitif lagi jika hormonnya naik," Dewi pun menasehati Sintal.


"Terus Sintal harus gimana?" Sintal pun merasa putus asa.


"Dira bisa membuat nasi jagung, kan Dira pernah tinggal di malang. Jadi tau cara-cara membuatnya, malahan Dira sempat jualan di sana." Sintal pun langsung berbinar saat mendengar Dira bisa membuat nasi jagung.


"Kalau gitu kamu ikut kakak!" Sintal pun langsung menarik Dira hingga pegangannya terlepas dari tangan Dewi. Sedangkan Dewi langsung terkejut, dengan tingkah Sintal.


"Terus Mama masuk sama siapa?" teriak Dewi saat melihat anaknya pergi.


"Masuk sendiri saja, Ma!" Dewi pun mendengus kesal karena tingkah anak lelakinya itu. Dengan sangat berat hati Dewi masuk kedalam kamar Fani sendiri dan berusaha pendekatan tanpa Dira.


"Huft..."


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2