
Sedangkan di sisi lain. Arya sedang berjalan mengendap-endap, saat melihat Sintal dan Dira asik makan Ice cream yang. Arya sangat jengkel melihat pemandangan itu, Arya tak suka jika istrinya lebih dekat dengan orang lain. Apalagi orang lain itu, lelaki.
"Kena kamu! Mau kemana lagi, sekarang? Bisa-bisa bawa kabur istri orang, kamu juga apa gak kasian liat suamimu ini lari-larian?" ucap Arya dengan nafas yang masih tersenggal-senggal.
"Emm ... Aku hanya ingin ikut Kakak, apa gak boleh? Lagian aku jarang bertemu kak Sintal, masa kak Arya melarang aku bertemu dengan kak Sintal? Lagian Kak, kak Sintal itu masih Kakak kandungku, bukan orang lain," balas Dira dengan ketus. Ada rasa sedikit kesal di hati Dira, karena dia lagi asik makan ice cream di kedai depan kantor polisi, Arya tiba-tiba datang dan menghacurkan moodnya. Sedangkan Sintal hanya tertawa puas, saat Dira membela dirinya.
"Bukan gitu, Dira." Arya pun mulai kelabakan. Arya tau jika istrinya dalam moden marah, dan sangat sulit di bujuk jika sudah berada di moden marah.
"Terus bagaimana? Asal Kakak tau ya, gak ada yang namanya mantan Kakak atau mantan Mama, mantan Papa, mantan anak juga gak ada! Yang ada hanya mantan suami! Jadi kalau Kakak gak mau jadi mantan suami, jangan pernah larang Dira bertemu atau berkumpul dengan keluarga Dira!" Jelas Dira dengan nada yang menekan.
Sedangkan Arya langsung diam tak berani bicara saat Dira berkata seperti itu, arya tak mau di jadikan mantan suami. Jika pun itu terjadi, Arya akan merasa sangat frustasi.
"Tuh dengar! Sama kakak Ipar kok pelit amat, asal kamu tau ya, Tia itu bukan milik kamu saja Arya. Tia juga punya keluarga yang juga ingin bersama dengan Tia, dan berkumpul bersama. Kamu sebagai suami harusnya memberi bimbingan yang bagus, bukan malah suruh menjauh dari keluarganya," ucap Sintal penuh kemenangan. Sintal sangat bahagia membuat Arya diam tak berkutik.
Dasar bucin tua, di gertak begitu saja udah ciut itu nyali. Kemana tadi sikap sok jagoan, baru di gertak jadi mantan Suami aja sudah loyo kek pisang di bakar. Kekeh Sintal dalam hati.
"Sudah jangan berdiri terus nanti pegal. Duduk sini, sebelah Dira. Dira ngomong gini biar kakak tau jika Dira gak hidup sendiri, Dira masih punya keluarga yang juga ingin merasakan ngobrol berenag Dira," celetuk Dira sambil menarik tangan Arya agar duduk. Arya yang merasa perkataan Dira benar pun hanya bisa terdiam, dan memikirkan cara meminta maaf dengan Sintal.
Ada benarnya juga ucapan, Dira. Tapi ... Aku gengsi untuk meminta maaf pada, Sintal. Pasti dia akan besar kepala, karena aku mengaku salah. Awas saja kamu, ikan buntal. Aku akan balas dendam, tapi entah kapan itu aku gak tau. gumam Arya dalam hati.
"Maafkan aku, Dira" ucap Arya sangat menyesal.
"Jangan minta maaf sama aku, Kak. Minta maaflah sama kak Sintal, bagaimana pun juga kak Sintal adalah kakak iparmu. Jadi aku harapan Kakak bisa sopan dengannya, kalian bukan sepasang dokter pribadi dan tuannya. Kalian sekarang saudara, ingat S-A-U-D-A-R-A!" Jelas Dira sejelas-jelasnya.
Dengan lesu Arya menatap Sintal, dan mengulurkan tangan. Sebenarnya dia tak mau, tapi ini dengan Dira dan demi terus menjadi Suami bukan mantan Suami.
"Maafkan aku, kakak Ipar," ucap Arya pura-pura tulus. (Dasar gak ada akhlak lu Arya)
Sedangkan Sintal tak bisa lagi menahan tawa, apalagi saat melihat mimik muka Arya yang sangat ketakutan. Ternyata benar, Arya tipe suami takut istri. Tapi gak apa-apa, aku malah bahagia melihat Arya seperti ini. Aku jadi yakin, jika Dira mendapatkan orang yang tepat. gumam Sintal.
"Sudah cepat duduk sini. Aku mau di suapin Kakak, daritadi berdiri terus. Apa gak mau nyuapin Dira?" tanya Dira sambil tersenyum. Walaupun dia sempat marah, tapi Dira tak tega melihat muka melasnya Arya.
Sedangkan Arya langsung tersenyum saat Dira kembali lembut kembali. Dengan cepat Arya duduk di sebelah Dira, dan mengambil alih mangkuk ice cream itu. Dengan telaten Arya menyiapkan sesendok ice cream itu, ke mulut Dira.
Tentu suapan itu di sambut riang oleh Dira, bahkan Dira melahap ice cream itu dengan lahap dan penuh semangat 45. Entah kenapa hari ini Dira ingin makan yang manis-manis, apalagi cup Cake.
"Seneng banget tuh, sudah di maafin. Bocah ketemu emak-emak, seperti tikus takut dengan kucing." Ledek Sintal sambil tertawa. Sedangkan Arya sama sekali tak menanggapi ledekan Sintal, karena dia takut kena omel lagi.
Dengan sangat puas Sintal menertawakan mantan pasiennya itu, hingga Sintal terbatuk-batuk karena tersedak ludahnya sendiri.
__ADS_1
"Diem bisa gak sih, Kak!" bentak Dira yang membuat Sintal langsung terdiam kaku. Sedangkan Arya hanya tersenyum tipis, dan menggerutu dalam hatinya
Mam*pus lo! Itu lah namanya karma, kena omel emak-emak garang kan? Rasain, sekarang tau kan kena omelan Dira itu seperti apa? gerutu Arya dalam hati.
"Iya Dek, maaf," Jawab Sintal dengan takut.
Ingin sekali Arya tertawa, tapi dia ingat di depannya ada emak-emak yang emosian. Daripada nanti dia gak dapat jatah, dan malah menjadi mantan suami. Lebih baik Arya diam, itu lebih baik.
"Cepat di makan ice creamnya, nanti leleh. Sayang kalau sudah di beli tapi gak kemakan, buang-buang uang saja," Omel Dira dengan wajah ketusnya.
Dengan sangat cepat Sintal melahap ice cream itu, walaupun dia yang membayar. Tapi jika sudah mendapatkan ancaman dari Dira, Sintal akan menciut.
"Iya, dek" ucap Sintal sambil sesekali memandang Arya dengan sinis.
Sintal begitu memperhatikan bagaimana Arya begitu telaten menyuapi Dira tanpa ada kata protes, bahkan sesekali Dira jail dan marah-marah gak jelas tapi Arya selalu sabar menanggapinya.
"Omong-omong kapan kalian memberikan aku ponakan, ini sudah hampir sebulan seharusnya sikecil sudah tumbuh, jika bibit kecebong mu unggul?" tanya Sintal tiba-tiba. Sedangkan Dira langsung memandang Sintal dengan tersenyum.
"Aku belum tau, Kak," balas Dira lembut.
"Aku yakin bibitku sudah tumbuh pesat di dalam sana, dan aku juga yakin Dira akan hamil dalam bulan ini. Karena pak Hendra sudah mengatakan seperti itu," Jawab Arya yang masih asik menyuapi Dira. Arya sangat yakin Dira sedang mengandung, saat ini.
"Dia adalah salah satu napi, di dalam. Pak Hendra juga korban fitnah, rencananya aku mau bantu pak Hendra keluar dari penjara dan nanti kita akan ke rumah istrinya. Kasihan dia punya anak umur dua tahun," jawab Arya dengan tatapan senduh.
"Tunggu! Apakah yang kamu maksud, Hendra Handoko?" tanya Sintal sedikit terkejut. Sedangkan Arya langsung menatap curiga, kepada Sintal.
"Kamu kok,tau?" tanya Arya yang heran. Sedangkan Sintal langsung mendengus sebal menatap Arya.
"Apa kamu gak pernah nonton TV?Padahal itu sangat trending di berita, Hendra Handoko membunuh istri adiknya karena warisan," balas Sintal. Arya yang mendengar ucapan Sintal langsung kesal, karena Arya tau yang sesungguhnya.
"Dia tak pernah membunuh siapapun, Dia di fitnah Kak! Pembunuh sebenarnya adalah Heru. Saat itu pak Hendra hanya ingin membantu adik iparnya mengeluarkan pisau dari perutnya, tapi tiba-tiba Heru datang membawa polisi." Arya pun berusaha menjelaskan semuanya pada Sintal.
"Ya sudah Kak, nanti kita ke sana. Kita liat keadaan istri pak Hendra, kalau dia butuh sesuatu kita bantu langsung," ucap Dira sedikit menenangkan Arya agar tak emosi.
"Terus rencana kamu, apa?" tanya Sintal yang mulai merasa iba dengan pah Hendra.
"Aku akan membuat Heru, menjual perusahaan itu padaku dengan harga murah. Aku ingin membuat Heru bangkrut se bangkrutnya!" Arya pun tersenyum sinis saat membayangkan semuanya. Namun tak lama kemudian ponsel Dira berbunyi, dengan cepat Dira mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubungi dirinya.
"Bentar, aku mau angkat telepon dulu," ucap Dira.
__ADS_1
"Hallo," Ucap Dira dengan lembut.
"Nyonya, saya sudah di jakarta. Bukti-bukti juga sudah di tangan saya, ada beberapa vidio yang sangat vulgar tapi sudah saya hapus," jawab Seto. Sedangkan Dira langsung merasa malu mendengar perkataan Seto.
"Jangan bilang kamu liat aku telanjang, Seto!" ucap Dira dengan nada kesal. Sedangkan Arya langsung mengerutkan kening, saat mendengar perkataan Dira. Begitu pun juga Sintal, dia juga merasa bingung.
"Tidak nyonya, hanya ... Maaf saya melihat anda sedang menyusui seorang bayi, dan masalah rekaman CCTV hanya sampai ruang tamu bukan sampai kamar. Tapi sepertinya Tuan suka melakukan itu di ruang tamu," balas Seto tanpa tau malu. Sungguh Dira merasa mukanya merah padam, Dira sangat malu, juga syok.
"SETOO! KAMU GILA, SUDAH TAU GITU KENAPA KAMU LIHAT!" teriak Dira yang membuat kedua orang di depannya terkejut.
"Sekarang gini Nyonya. Kami kan melakukan penyelidikan, dan melihat di jam berapa saja Tuan dan Nyonya berada di hotel. Jadi bukan salah saya dong, 🤨" jawab Seto yang tak mau di salahkan.
Arya dan Sintal pun semakin bingung, hingga Arya tak sabar lagi untuk menanyakan semuanya.
"Dari siap, Dira?" tanya Arya. Namun Dira langsung menatap tajam Arya, dan Arya merasakan aura gelam pun kembali diam.
"Jadi gimana? Saya harus kemana, ini saya di rumah Nyonya. Apa perlu saya ke kantor polisi?" tanya Seto yang sangat bawel.
"Gak perlu! Aku sudah tak membutuhkan itu lagi, kalau perlu kamu buang atau bakar rekaman itu!" Dira benar-benar murka, hingga dia merasakan panas di sekujur tubuhnya.
"Loh! Gimana dengan tuan Arya?"
"Orangnya sudah bebas!" Jawab singkat Dira. Sedangkan di sana terdengar suara Seto yang sangat kesal, bahkan mengumpat kesal.
"Sial, jadi sia-sia saya pergi ke Bali!" umpat Seto.
"Kamu gak sia-sia, Seto. Karena kamu dapat tontonan gratis, puas kamu!" Dira pun langsung mematikan ponsel dan langsung bergegas pergi meninggalkan kedua lelaki yang sedang kebingungan itu.
"Kenapa, dia?" tanya Sintal.
"Gak tau, lebih baik kita ikutin dia." Sintal pun menganggukkan kepala, dan mereka langsung mengikuti Dira dari belakang.
*
*
*
Happy Reading...
__ADS_1
......By. Nunuk Pujiati......