Sang Penguasa

Sang Penguasa
100. Di Istana Kota Danau Emas.


__ADS_3

" Swhuss...." Qing Ruo muncul di dalam kamarnya, disambut tatapan Huo Zhaodau dan Huo Mingzhi, yang sedang berjaga di tempat itu.


" Penguasa, seseorang mendekati kamar," ucap Huo Mingzhi melapor.


Qing Ruo menganggukkan kepalanya.


" Terima kasih," ucapnya sambil meminta kedua Qilin Api itu kembali ke dalam dunia jiwa.


" Baik Penguasa."


" Swhus.. swhus..." Kedua sosok hewan langit itu lenyap dari dalam ruangan.


Tidak lama berselang. Dua aura yang bergerak mendekati ruangannya semakin mendekat, hingga tiba di depan pintu.


" Tuan muda, maaf mengganggu. Putri Liu Ye ingin menemui Anda," ucap seorang pelayan memanggil Qing Ruo dengan hormat.


" Baik," jawab Qing Ruo sambil membuka pintu kamarnya, menemui pelayanan dan Liu Ye yang sedang menunggu di depan pintu kamar.


" Tuan muda," ucap Liu Ye, menyapa Qing Ruo dengan hormat.


" Nona, putri, silakan," ucap Qing Ruo mempersilakan kedua sosok itu memasuki ruangan, namun dengan segera di tolaknya.


" Tuan muda Qing Ruo, Ayahanda ingin bertemu dengan Anda," ucap Liu Ye, yang langsung menyampaikan tujuan kedatangannya.


" Baik putri," jawab Qing Ruo dengan hormat, lalu keluar dari dalam ruangannya, dan menutup pintu kamar tersebut.


" Mari tuan," ucap Liu Ye, memandu Qing Ruo meninggalkan tempat itu menuju istana Kota.


****


Di tempat lain.


Istana Kota. Di kursi utama,  duduk sosok Pria paruh baya yang merupakan pemimpin kota tersebut, dengan aura Semi abadi tingkat lima, menatap semua orang yang ada di dalam ruangan dengan itu bangga. Apalagi saat dirinya mendengar kisah dari para Jenderal yang menceritakan pertemanan Liu Ye sang putri dengan Qing Ruo yang berhasil menyelesaikan masalah mereka dengan klan Nan.


" Itu artinya, kota Danau Emas sudah aman," ucapnya dengan gembira, dan  sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Qing Ruo.

__ADS_1


" Yang Mulia, sosok Qing Ruo ini sangat muda, tetapi sudah berada di puncak kultivasi. Bahkan sambaran kecil petirnya, mengubah sosok pendekar semi Abadi tingkat dasar menjadi kabut darah. 


" Benarkah! Sangat luar biasa," ucap sosok itu terus memuji, dan merasa menyesal karena  tidak terlibat langsung dalam peristiwa yang menegangkan tersebut. 


Satu persatu para Jenderal memasuki ruangan, dan memberi hormat pada Sang raja.


" Selamat pada Yang Mulia Liu Whang."  Berlutut dengan hormat sambil menangkupkan tangannya.


" Yang Mulia, selamat," ucap Liu Heng, memberi hormat.


" Heng, terima kasih," ucap Liu Whang dengan gembira.


Tidak lama kemudian, pada saat mereka sedang berbincang-bincang, Liu Ye dan Qing Ruo memasuki ruangan, yang langsung disambut  oleh semua orang dengan tatapan hormat.


" Qing Ruo memberi hormat." Menangkupkan tangannya dengan hormat, menyapa semua orang yang ada di dalam ruangan itu dengan ramah.


" Tuan muda Qing Ruo, Selamat datang di istana kecil kami ini," ucap Liu Whang merendah, mempersilakan Qing Ruo duduk pada kursi kehormatan.


" Tuan Qing Ruo, mari," ucap Liu Ye, mengarahkan.


Setelah Qing Ruo duduk pada kursinya, Liu Whang lalu membuka pembicaraan itu itu.


" Tuan Muda Qing Ruo, aku Liu Whang, dan  seluruh penduduk kota Danau Emas, mengucapkan terima kasih."  berdiri dari takhtanya, sambil menangkupkan tangannya dengan hormat, dan di ikuti oleh semua orang, membuat Qing Ruo merasa tidak nyaman.


Qing Ruo yang mendapat penghormatan seperti itu, berdiri dari kursinya, lalu membalas penghormatan tersebut.


" Yang Mulia Kaisar, dapat membantu Kota Ini adalah kehormatan bagiku." Sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.


" Tuan muda Qing Ruo, kehadiran Anda di kota Danau Emas telah membuat kota ini menjadi lebih baik. Terutama gangguan dari klan Nan yang selalu ini begitu merepotkan kami. Terima kasih," ucap Liu Whang, sekali lagi.


" Yang mulia, dapat membantu sesama adalah kesenangan bagiku. Jadi tidak perlu sungkan akan hal itu..."


" Tuan muda Qing Ruo,  menilai dari  kemampuan yang anda miliki, kami hanyalah kelompok orang lemah-"


" Yang Mulia," ucap Qing Ruo langsung mengelengkan kepala, membuat Liu Whang langsung menghentikan kalimatnya.

__ADS_1


" Mohon maaf jika aku memotong kata-kata Anda, dan aku mohon pengampunan akan hal itu, tetapi Aku Qing Ruo, benar-benar  tidak ingin mendengarkan kata-kata itu. Kita pada dasarnya sama, dan di dalam ruangan ini,  tidak ada satupun yang lemah. Jangan pernah meremehkan dan merendahkan diri sendiri, karena kekuatan itu adalah sesuatu yang dapat dibangun," ucap Qing Ruo dengan serius, membuat ruangan itu menjadi hening.


" Tuan muda Qing Ruo, mohon maaf jika kata-kataku menyinggung perasaan anda," ucap Liu Whang.


" Yang Mulia, aku tidak tersinggung dengan hal seperti itu. Aku hanya tidak menyukainya. Yang mulia, keberhasilan seseorang dalam membangun kekuatan itu berbeda-beda, tergantung dari usaha dan kerja keras, dukungan  lingkungan, dan keberuntungan. Tetapi pada dasarnya, semua orang memiliki potensi dan kesempatan yang sama untuk mengembangkan dirinya," ucap Qing Ruo dengan ramah.


" Tuan Muda Qing Ruo, benar." ucap Liu Whang, menatap Qing Ruo dengan hormat. Tidak hanya Liu Whang, tetapi semua orang yang ada di dalam ruangan itu juga begitu menghormati Qing Ruo.


Untuk mencairkan suasana, Liu Ye lalu  menjelaskan tujuan utama mereka.


" Penguasa muda, jujur kami tidak memiliki sesuatu yang sangat berharga, yang dapat kami berikan sebagai ucapan terima kasih kami, namun kami mohon Anda tidak menolak niat kami," ucapnya, sambil menyerahkan lencana emas pada Qing Ruo.


" Yang mulia kaisar, putri Liu Ye, ini..?" tanya Qing Ruo yang terlihat bingung dengan pemberian itu.


" Tuan muda, ini adalah lencana emas klan Liu,  yang merupakan kunci untuk memasuki danau emas suci. Tempat rahasia kota kami." Liu Hwang menjelaskan.


Qing Ruo menggelengkan kepalanya.


" Yang mulia, bagaimana mungkin Anda membiarkan orang lain memasuki tempat suci kalian dengan begitu mudahnya," ucap Qing Ruo yang merasa tidak ingin terikat dan berhutang  pada kota Danau Emas dan klan Liu.


" Tuan muda Qing Ruo, kami tahu. Tetapi ini adalah kesepakatan kami bersama. Selain itu, kami tidak memiliki benda berharga yang dapat kami berikan, setidaknya danau suci ini dapat mewakili rasa terima kasih kami. Tuan muda, kami rasa Anda adalah orang yang pantas memasuki tempat itu. Tanpa kontribusi Anda, kami yakin. Kami tidak akan mampu melindungi kota ini dan gangguan Klan Nan  yang selalu ingin menguasai kota ini." Liu Hwang menjelaskan, yang di ikuti anggukan semua orang.


" Tuan muda, tidak ada maksud lain, apalagi ingin membuat anda berhutang pada kami. Justru kami merasa senang jika anda menerima ucapan terima kasih kami yang tidak seberapa ini. Bukankah tujuan anda yang ingin beristirahat di kota ini, maka izinkan kami mengganti waktu Anda yang terbuang untuk beristirahat di Danau Emas." Liu Ye menambahkan.


Qing Ruo yang tidak ingin ingin lagi menyinggung perasaan Liu Whang dan semua orang yang ada di dalam ruangan itu, menganggukan kepalanya.


" Yang mulia, putri, para jenderal, terima kasih."  menangkupkan tangannya dengan hormat.


" Tuan Muda Qing Ruo," ucap Liu Ye sekali lagi, sambil memberikan cincin penyimpanan pada Qing Ruo.


" Putri, ini apalagi? Bukankah lencana emas ini sudah cukup," ucap Qing Ruo menolak pemberian itu dengan ramah.


" Tuan muda, lencana emas itu dari kami. Dan cincin penyimpanan  ini adalah kompensasi dari Klan Nan. Mohon diterima," ucap Liu Ye menjelaskan.


Qing Ruo yang tidak ingin berdebat dengan hal ini, menganggukan kepalanya.

__ADS_1


" Baik," jawabnya sambil menerima cincin Penyimpanan itu, lalu menyerahkannya kembali, membuat Liu Whang dan semua orang terdiam.


__ADS_2