Sang Penguasa

Sang Penguasa
271. Dilema Yuan Shui 1.


__ADS_3

Setelah Yuan Liu beserta para Jenderal pekerjaannya pergi, Yuan Shui masih terdiam di tempatnya, mencoba memahami rentetan peristiwa yang baru saja berlalu.


" Seorang gadis yang naif, dan seorang pemuda yang pemarah," ucapnya pelan sambil menggelengkan kepala, lalu menatap para patriark  klan serta pemimpin organisasi rahasia yang ada di dalam ruangan itu dengan wajah masam.


" Yang mulia, izin berbicara," ucap seorang pria paruh baya yang merupakan seorang patriark klan.


" Patriark Bei Xing, bicaralah," ucap Yuan Liu dengan tenang.


" Ini mengenai tuan muda Qing Ruo. Menurutku apa yang disampaikan oleh Jenderal Lu Dan memang benar.  Kita terlalu memandang sebuah prinsip, tapi lupa pada kenyataan bahwa seharusnya kita sudah dapat  melanggar aturan itu, karena kondisi kita bukan untuk berdamai melainkan untuk berperang. Yang mulia, menurutku ini adalah kesempatan yang baik untuk kita membahas rencana kedepan mengenai kesiapan kita menghadapi klan Yin yang hari semakin meningkatkan tekanannya."


" Apakah itu  berarti patriark  setuju jika kita bekerja sama dengan Qing Ruo yang mengaku sebagai tuan muda hutan gelap itu?" tanya Yuan Shui.


" Dari awal aku memang setuju, bahkan aku juga tidak meragukannya," jawab Bei Xing. 


" Mengapa bisa demikian?"


" Diantara kita, siapa  yang tidak pernah  mendengar nama Qing dengan sepak terjangnya, dan seorang Jin Kong?" tanya Bei Xing dengan wajah serius.


" Patriark Bei Xing benar, hanya orang bodoh yang berani menggunakan nama Qing di kawasan gerbang es hitam bahkan berani mengaku sebagai tuan muda hutan gelap. Selain dia sudah tahu resikonya, dia juga tidak akan bermain-main dengan nyawanya. Selain itu,  Jin Kong yang sudah berada di tingkat abadi,  tidak akan pernah bersikap lunak pada orang lain, tetapi tidak pada sosok Qing Ruo ini."seorang patriark menanggapi.


" Patriark Nan Cheng benar. Dari tutur dan sikapnya, tampak Jin Kong sangat   menghormati sosok Qing Ruo ini," ucap Bei Xing dengan serius, membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu terdiam.


" Itu berarti patriark yakin  dia adalah tuan muda hutan gelap dan Patriark klan Jin itu?" Tanya Yuan Shui sekali lagi dengan wajah serius.


" Aku sangat Yakin," jawab Bei Xing dengan serius.


" Lalu bagaimana pendapat patriark  yang lain?' tanya Yuan Shui.


" Yang mulia, aku memang tidak memiliki alasan untuk dapat mempercayai sosok itu, apalagi dengan bantuannya. Yang pasti saat ini, kita sudah  tidak memiliki waktu, apalagi untuk mempersiapkan pasukan dan lain sebagainya. Klan Yin semakin kacau, dan kita merasakan imbasnya. Jika kita tidak mulai dari sekarang kapan lagi, mumpung kita masih memiliki sedikit kekuatan untuk melakukan perlawanan," ucap patriark yang lain menanggapi.


Yuan Shui terdiam. Menatap semua orang yang ada di dalam ruangan itu dengan serius.


" Apakah itu berarti kita sudah siap dengan resikonya?"


" Yang Mulia, pada akhirnya kita akan tetap melakukan perlawanan," ucap Bei Xing.


" Lalu apakah kita akan bekerjasama dengan bocah itu?" tanya Yuan Shui.


" Aku rasa itu tidak buruk," jawab Bei Xing, membuat ruangan itu kembali hening.


" Tapi aku tidak menyukai sikapnya," ucap patriark lain berbicara.

__ADS_1


" Aku justru menyukainya. Tindakannya  mengajarkan kita bagaimana cata melihat hal-hal yang lebih inti dari sebuah permasalahan yang ada. Selain itu, kehadirannya juga mengajarkan kita agar  dapat  menilai dan mengambil kesimpulan setelah kita mempelajari masalah itu dengan jelas, " ucap Bei Xing dengan hormat.


" Yang Mulia, kita benar-benar memerlukan bantuannya," ucap Nan Cheng dengan serius.


" Mengapa demikian?"


" Karena aku yakin, dia tidak membual,"  jawabnya dengan serius, membuat ruangan itu kembali hening.


" Jika demikian, beri aku satu alasan mengapa aku harus memanggilnya kembali dan bekerjasama dengan mereka..." ucap Yuan Shui dengan serius, membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu  merasa heran, karena Yuan Shui begitu keras menolak keberadaan Qing Ruo tersebut. 


" Yang mulia, kehadiran Jin Kong sebagai sosok yang abadi, adalah dukungan terkuat kita," ucap  Bei Xing.


" Itu hal yang sangat aku takutkan. Aku tidak ingin  setelah keluar dari mulut buaya, kita memasuki mulut singa,"  ucapnya dengan serius, membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu terdiam.


Tiba-tiba Bei Xing menggelengkan kepalanya.


" Yang mulia, saat ini kita berbicara tentang kesempatan dan peluang. Bukankah selama ini kita memang berharap singa  tersebut dapat menghancurkan buaya yang selama ini menindas kita? Lagipula jika Jin Kong  benar-benar ingin berbuat jahat, bukankah dari awal dia sudah dapat melakukannya?"


" Patriark Bei Xing benar," ucap seorang patriark menanggapi, sambil membicarakan masalah terus dengan serius.


*****


Di tempat lain.


" Tuan muda,  seperti mereka benar-benar tidak akan memanggil kita..." ucap Jin Kong.


Qing Ruo tersenyum santai.


" Patriark, dengan situasi yang mereka hadapi saat ini, sulit bagi mereka untuk bekerja sama dengan orang lain. Apalagi kehadiran anda sebagai musuh klan Yin. Aku rasa  mungkin saat ini mereka sedang melakukan perdebatan panas mengenai kehadiran Anda," ucap Qing Ruo sambil terus melangkahkan kakinya dengan santai.


" Mungkin saja," ucap Jin Kong sambil berbincang-bincang santai.


Pada saat terus bergerak meninggalkan kawasan istana itu, tiba-tiba Qing Ruo dan rombonganya merasakan kehadiran beberapa aura bergerak mendekati mereka.


" Penguasa," ucap Mayi Xian dan Mayi Cao.


" Tenanglah," ucap Qing Ruo meminta mereka untuk tetap bersikap santai.


Tidak lama kemudian, Yuan Liu, bersama para jenderal kepercayaannya, tiba di tempat itu.


" Tuan muda, Patriark..." ucap Yuan Liu dengan hormat.

__ADS_1


" Tuan putri, ada apa?" tanya Qing Ruo.


" Tuan muda, patriark, aku mohon pengampunan Anda atas sikap  para pemimpin klan serta ayahanda," ucapnya hendak berlutut namun dengan segera dihentikan oleh Qing Ruo.


" Putri, kami berdua secara pribadi memahami hal itu, karena tidak mudah bagi mereka untuk percaya pada orang lain begitu saja,  jadi tenanglah," ucap Qing Ruo dengan ramah, membuat Yuan Liu dan rombongannya merasa tenang.


" Terima kasih, tuan muda." Menangkupkan tangannya dengan hormat, sambil menanyakan rencana Qing Ruo dan Jin Kong.


" Tuan putri, kami akan melanjutkan perjalanan dan meninggalkan kota ini," jawab Qing Ruo.


" Baik tuan muda, namun sebelum itu, sebaiknya tuan berdua beristirahat terlebih dahulu," ucapnya menawarkan markas rahasia mereka yang ada di luar kawasan istana.


" Aku rasa itu ide yang baik," jawab Qing Ruo.


" Baik, mari tuan..." ucap Yuan Liu, lalu membawa Qing Ruo  dan rombongannya bergerak meninggalkan tempat itu.


Pada saat mereka akan melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu, tiba-tiba beberapa aura bergerak mendekati mereka dengan cepat.


" Swhuss... swhus...." Lima murid klan Yin yang berada di dalam kawasan istana tersebut muncul di depan mereka.


" Jin Kong, ternyata nyalimu besar juga," ucap  sosok itu dengan tatapan dingin dengan sikap mendominasi.


" Hanya pendekar semi abadi tingkat tujuh. Kalian benar-benar pemberani," ucap Qing Ruo sambil melepaskan segel mantra formasi cakram langit Ling yang  langsung menyegel kawasan itu.


" Kamu!" ucap kelima sosok itu tanpa sadar bergerak mundur, menatap  Qing Ruo dengan tajam.


" Mayi Xian, Mayi Cao," ucap Qing Ruo dengan tenang meminta kedua pelayannya itu menghajar kelima sosok tersebut.


" Baik penguasa," jawab Mayi Xian dan Mayi Cao yang langsung bergerak seperti kilatan cahaya menyerang  kelima pemuda tersebut.


" Dhuar....dhuar...." Ledakan keras bergema mengetarkan kawasan itu dengan sosok kelima murid klan Yin  yang terlempar ke berbagai arah.


" Semi abadi tingkat sembilan tahap puncak," ucap Lu Dan berbicara pada Yuan Liu dan rombongannya melalui telepati.


" Benar, sebelumnya aku memang  sudah menduga, karena tidak mungkin penguasa hutan gelap membiarkan tuan muda mereka pergi tanpa pengawalan," ucap Yuan Liu menanggapi.


Dalam waktu singkat, kelima murid klan Yin itu terkapar di atas tanah dengan kehilangan kultivasi.


" Akh...." rintihnya dengan tubuh bersimbah darah.


" Swhus... swhus...." Mayi Xian dan Mayi Cao bergerak menghampiri Qing Ruo lalu menyerahkan cincin penyimpanan murid klan Yin  yang telah mereka ambil.

__ADS_1


" Penguasa," ucapnya.


" Terima kasih," ucap Qing Ruo sambil meraih cincin penyimpanan tetsebut.


__ADS_2