Sang Penguasa

Sang Penguasa
267. Bersama Qing Yong Jun dan Qing Ling.


__ADS_3

Di tempat lain.


" Swhuss....swhus..." sosok Qing Ruo terus bergerak, menyelinap  dari tempat ke tempat, sambil memeriksa kawasan istana terlarang kediaman Yuan Liu tersebut dengan seksama, hhingga akhirnya tiba di gerbang benteng istana.


" Swhuss...." Sosoknya menembus perisai perlindungan yang menutup  kawasan tersebut, lalu muncul di luar kawasan istana.


" Sepertinya tempat ini benar-benar aman," batinnya lalu bergerak menuju kawasan kota.


Dengan santai, Qing Ruo lalu melangkahkan kakinya menikmati suasana kota tersebut dengan tenang.


Sambil menikmati suasana pagi kota itu, Qing Ruo juga mengabari Jin Kong untuk menemuinya di kota itu.


****


Di tempat lain.


Di sebuah istana megah yang berada di atas awan, duduk sosok berwajah muda  dengan rambut putih tergerai, menikmati suasana pagi itu sambil menikmati minumannya dengan santai.


" Minuman ini benar-benar nikmat. Tapi sayang aku tidak memiliki lebih," batinnya tersenyum kecut.


Tiba-tiba cincin penyimpanannya  bergetar.


" Tuan muda Qing Ruo. ini kebetulan sekali," ucapnya kegirangan, lalu memanggil pelayan pribadinya.


" Nalan Tu, aku ada sedikit urusan. Jika  ada yang ingin menemuiku, katakan aku sedang tidak ingin diganggu."


" Baik patriark," ucap Nalan Tu dengan hormat.


Setelah berkata-kata, Jin Kong lalu meninggalkan kawasan itu.


" Swhuss... swhus....." Sosoknya bergerak menembus awan  seperti kilatan cahaya.


" Apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa  patriark terlihat begitu gembira...." ucap Nalan Tu dengan heran, lalu berjaga di tempat itu.


****


Kota Gu Lu.


Qing Ruo terus bergerak memeriksa kawasan pusat kota. Setelah bergerak sepanjang waktu, menjelang sore Qing Ruo lalu berhenti di sebuah restoran mewah yang di jaga oleh para pendekar semi abadi tingkat lima.


" Benar-benar kota yang sangat kuat, bahkan sosok semi abadi di tingkat tiga  hingga tingkat lima tak terhitung jumlahnya.  Wilayah kuno terlarang benar-benar luar biasa," bantinya sambil memasuki restoran tersebut.


" Selamat datang di restoran kota Gu Lu, tuan," ucap pelayan menyambut kedatangannya dengan hormat.


" Nona, aku ingin ruangan khusus dengan makanan dan minuman terbaik," ucap Qing Ruo dengan ramah.


" Baik, tapi lakukan pembayaran terlebih dahulu, tuan, " jawab pelayan tersebut dengan ragu saat melihat tampilan Qing Ruo yang begitu sederhana, namun memesan tempat yang menurut mereka di luar jangkauannya. Tidak hanya pelayan tersebut, namun beberapa pengunjung yang juga berada di tempat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


" Benar-benar mempermalukan diri sendiri," ucapnya pelan, menatap Qing Ruo dengan kasihan.


" Aku bahkan belum menikmatinya," ucap Qing Ruo dengan ragu.


" Ta-tapi, tuan...."


" Aku mengerti," ucap Qing Ruo sambil menanyakan jumlah yang harus dibayar.


" Lima juta lima ratus ribu, tuan...."


Qing Ruo mengganggukan kepalanya dengan santai, lalu memberikan cincin penyimpanan tingkat raja  yang berisi  sejumlah biaya yang disebutkan. 


" Mohon diperiksa," ucapnya dengan santai.


" Cukup, tuan," ucap pelayan tersebut dengan hormat, lalu membawa Qing Ruo menuju ruangannya.


Dari jauh beberapa pasang mata mengawasi Qing Ruo dengan seksama.


" Ternyata dia benar-benar pemuda kaya..."


" Benar, penampilannya telah menipu kita."


" Aku dapat menarik kesimpulan, dia pasti bukan dari kawasan gerbang es hitam."


" Aku rasa juga demikian, karena di kawasan ini, seseorang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan  selalu menonjolkan dirinya terutama dengan pakaian yang digunakan. Mengenai hal ini, apakah saudara punya ide?" Dengan senyum yang aneh.


Di meja lain.


Beberapa pemuda yang sebelumnya menatap Qing Ruo dengan kasian hanya bisa tersenyum kecut.


" Ternyata dia lebih kaya dari kita..." ucapnya pelan, menatap sosok Qing Ruo yang menghilang dari ruangan itu.


****


Di tempat lain.


Qing Ruo terus bergerak mengikuti pelayan yang mengarahkannya menuju ruangan yang dia pesan dengan tenang.


Di depannya, gadis pelayan tersebut terus melangkahkan kakinya dengan perasaan tidak nyaman, terutama tindakannya yang hampir mempermalukan Qing Ruo


Setelah terus bergerak, mereka akhirnya mereka tiba di lantai tiga, di sebuah ruangan tertutup yang cukup luas.


" Silakan tuan, makanan dan minumannya akan menyusul," ucap pelayan tersebut dengan hormat.


" Baik," jawab Qing Ruo sambil memasuki ruangan tersebut dengan santai.


Di dalam ruangan, Qing Ruo lalu menempati kursi yang  tersedia, sambil menikmati suasana sore kota itu dengan santai.

__ADS_1


" Swhus...." sosok Qing Ling dan Qing Yong Jun muncul di tempat itu.


" Ayah, sekarang kita berada di mana?" tanya Qing Yong Jun dengan heran, sambil mengarahkan padangannya melihat suasana sore kota tersebut dengan takjub.


" Saat ini kita ada di kota Gu Lu. Tempat yang paling dekat dengan gunung Langit Yin. Jun er, apa yang kamu pahami dari kota ini?"


Qing Yong Jun tediam sesaat, mengamati suasana sore kota Gu Lu dengan seksama.


" Ayah, ini adalah kota yang luar biasa. Tempatnya begitu nyaman dengan aura  yang menenangkan. Selain itu para pendekar semi abadi tingkat dasar hingga tingkat tiga seperti para pendekar tingkat rendah. Dan yang lebih mengagumkan dari kota ini adalah, tempatnya tidak seperti kawasan gerbang es  hitam yang biasanya gelap dan dingin...."


Qing Ruo tersenyum bangga, sambil mengusap rambut Qing Yong Jun dengan lembut.


" Jun er, kota ini memiliki sumber daya yang luar biasa. Sama seperti gunung langit Ping Xie, dan kota-kota yang ada d kawasan gerbang es hitam lainnya. Kota-kota yang ada di kawasan gerbang es hitam  bukanlah kota dingin dan gelap, namun kota hidup  yang terang dan nyaman. Jika demikian apa yang kamu pahami mengenai hal ini?" Sambil menatap Qing Ling yang duduk di sisinya dengan lembut.


" Ini seperti pembicaraan kita sebelumnya, ayah..."


" Oh, apa itu?" tanya Qing Ruo.


" Sumber daya," jawabnya pelan.


" Benar, dengan sumber daya yang berlimpah, kita tidak hanya dapat membangun kekuatan, namun kita juga dapat membangun kota yang indah, nyaman dan megah," ucap Qing Ruo menjelaskan.


" Ternyata tempat yang terlihat buruk ini menyimpan rahasia yang begitu luar biasa," ucapnya pelan, dan menyadari alasan mengapa para dewa kuno  tidak ingin meninggalkan kawasan itu.


" Benar, jadi jangan memberikan penilaian buruk pada sesuatu yang belum kita ketahui, " ucap Qing Ruo dengan lembut.


" Baik ayah, Jun er mengerti."


Pada saat mereka sedang berbincang bincang santai tiba-tiba pintu ruangan diketuk.


" Masuk," ucap Qing Ruo sambil melepaskan perisai ilusi yang melindungi  sosok Qing Ling dan Qing Yong Jun.


Tidak lama kemudian beberapa pelayan memasuki ruangan sambil membawakan makanan dan minuman yang telah dipesannya.


Setelah menata makanan dan minuman tersebut, para pelayan itu lalu meninggalkan ruangan.


Dengan seketika aroma makanan itu memenuhi ruangan.


" Jun er, apakah kamu tidak lapar," tanya  Qing Ruo menatap Qing Yong Jun yang terdiam.


" Ayah, sebenarnya aku sudah tidak sabar" ucapnya  tersenyum kecut,  membuat Qing Ruo dan Qing Ling terkekeh kecil.


" Mari kita nikmati..." ucap Qing Ruo.


" Baik, ayah..." Dengan penuh semangat.


" Jun er," ucap Qing Ling sambil memberikan makan dan melayani Qing Ruo dan Qing Ling dengan penuh kehangatan.

__ADS_1


__ADS_2