
" Swhus.... Swhus...." sosok Ying Yin terus bergerak dengan kecepatan puncaknya. Dua hari kemudian, menjelang sore, mereka akhirnya tiba di kawasan dengan kabut hitam yang lebih pekat.
" Tuan, sepertinya ada yang mengikuti kita," ucap Ying Yin mempercepat gerakanmya.
" Cari tempat untuk singgah," ucap Qing Ruo.
" Baik tuan." Sambil terus bergerak menuju puncak gunung batu mengambang yang tertutup oleh es.
" Swhuss...." sosoknya berhenti di tempat itu.
Tidak lama kemudian, sepuluh sosok bermata gelap dengan tombak es ditangannya tiba di tempat itu, dan langsung mengepung Qing Ruo dan Ying Yin.
" Elang perak kamu telah membawa darah emas memasuki tempat ini. Apakah kamu tahu akibatnya!" Sang pemimpin kelompok berbicara dengan suaranya yang serak, mengancam Ying Yin.
" Orang-orang dari klan Klan Bing Yi, kalian-"
" Jangan banyak alasan. Seharusnya kamu tahu diri. Ini adalah kawasan kami. Bahkan kamu dengan lancang membawa darah emas ini, " Jawab pemimpin kelompok memotong penjelasan Ying Yin dengan kesal.
" Dia adalah tuanku," jawab Ying Yin dengan santai.
" Tuan! Sejak kapan klan Elang perak menjadi hamba dari darah emas. Apakah kamu tidak bercanda?" menatap Qing Ruo dengan lekat.
" Apakah kata-kataku terdengar seperti sedang bercanda," jawab Ying Yin dengan tatapan tajam.
" Tuan kami hanya ingin lewat," ucap Qing Ruo pada sosok semi abadi tingkat tujuh tahap puncak itu dengan santai.
" Lewat? Biar aku perjelas. Kami menolak. Pilihannya, pergi atau mati," ucap pemimpin kelompok sambil melepaskan aura penindasannya, membuat es hitam yang menyelimuti Gunung tersebut bergetar dan longsor.
" Jika demikian, aku juga memberikan pilihan pada kalian. Pergi atau mati," ucap Qing Ruo membuat kelompok tersebut tertawa terbahak-bahak.
" Aku akan menghitung. Jika dalam hitungan ketiga kalian tidak pergi, maka aku akan mengakhiri hidup kalian di tempat ini. Satu...." ucap Qing Ruo mulai menghitung.
" Dua ..." ucap pemimpin kelompok tersebut mengejek Qing Ruo.
" Tiga ...." ucap Qing Ruo mengakhiri hitungannya, membuat para murid klan Bing Yi itu tertawa dengan dibuat-buat. Namun tiba-tiba udara di tempat itu bergetar dengan munculnya sosok Hu Yan Lan, Mao Bing dan Mayi Gui.
" Para penghuni hutan gelap, kebetulan sekali kalian datang. Darah emas ini begitu sombong, bahkan ingin melenyapkan kami di tempat ini..." ucap pemimpin kelompok tersebut dengan gembira, menatap Qing Ruo dan Ying Yin dengan seringai dingin.
" Penguasa," ucap Hu Yan Lan dan rombongannya mengubah panggilannya pada Qing Ruo dengan hormat, membuat pemimpin kelompok dari klan Bung Yi itu terdiam.
" Penguasa? Apakah maksud kalian darah emas ini....?" tanya pemimpin kelompok itu dengan heran, namu tidak ditanggapi oleh Hu Yan Lan dan rombongannya.
" Hu Yan Lan, mereka ingin mati di tempat ini," ucap Qing Ruo dengan tenang.
" Baik penguasa," ucap Hu Yan Lan dan rombongannya, membuat segel tangan dan menguci kawasan itu.
__ADS_1
" Tu-tuan, kalian tidak bercanda kan?"
" Yang bercanda itu kalian, bukan kami," ucap Mao Bing yang langsung menampar salah satu prajurit dari klan Bing Yi dan membunuhnya.
" Membunuh kami di wilayah kami sendiri. Kalian benar-benar mencari mati!" ucap pemimpin kelompok tersebut bergerak sambil melakukan perlawanan.
" Yang duluan mati itu, kamu," ucap Hu Yan Lan, bergerak menyerang sosok tersebut dan membunuhnya.
" Dhuar.... dhuar....." Ledakkan keras bergema, mengguncang puncak gunung batu mengambang tersebut.
Dalam waktu singkat, sepuluh prajurit dari klan Bing Yi yang berada di tingkat tujuh hingga tingkat delapan itu akhirnya terbunuh.
" Penguasa," ucap Hu Yan Lan, menghmpiri Qing Ruo sambil menyerahkan mutiara jiwa kesepuluh sosok yang telah terbunuh itu.
" Terima kasih," ucap Qing Ruo sambil meminta mereka kembali ke dalam dunia jiwa.
" Baik penguasa...." Dengan sikap hormat.
" Swhuss... swhus...." Sosok mereka lenyap dari tempat itu.
" Ying Yin," ucap Qing Ruo, meminta elang Perak itu melanjutkan perjalanan.
" Baik tuan," lalu bergerak meninggalkan tempat itu.
" Swhus.... swhus...." Sosoknya bergerak meninggalkan tempat itu dengan cepat.
" Tuan..." ucap Ying Yin dengan ragu.
" Ying Yin, aku tidak ingin terus berurusan dengan orang-orang yang tidak bersahabat di kawasan ini. Walaupun kita dapat menangani mereka dengan kehadiran Hu Yan Lan dan yang lainnya, tapi itu akan menghambat perjalanan kita," ucap Qing Ruo menjelaskan.
" Baik tuan hamba mengerti...." sambil terus bergerak.
Sepanjang malam mereka terus bergerak. Menjelang pagi, mereka akhirnya tiba di wilayah terluar kota Ping.
" Tuan, kita telah tiba," ucap Ying Yin.
" Baik," ucap Qing Ruo sambil meminta Ying Yin beristirathat di dalam dunia jiwa.
" Tapi tuan," ucapnya dengan ragu.
" Beristirahatlah, ada Hu Yan Lan yang akan menemaniku," ucap Qing Ruo.
" Baik tuan." Lalu masuk ke dalam dunia jiwa.
Tidak lama kemudian, setelah Ying Yin masuk ke dalam dunia jiwa. Hu Yan Lan muncul di sisi Qing Ruo.
__ADS_1
" Penguasa," ucapnya dengan hormat.
" Hu Yan Lan, kita akan beristirahat di kota Ping."
" Baik penguasa." Lalu bergerak memimpin Qing Ruo menuju kota tersebut.
Tiga kilometer dari kota Ping, tiba-tiba Qing Ruo dan Hu Yan Lan dihadang oleh puluhan prajurit dari klan Bing Yi.
" Tuan-tuan, maaf mengganggu perjalanan," ucapan pemimpin kelompok tersebut dengan hormat.
" Apakah ada yang bisa saya bantu, tuan?" Tanya Hu Yan Lan dengan hormat.
" Tuan, kami sedang mencari elang perak yang membawa seorang Dewa memasuki kawasan ini. Apakah tuan berdua melihat mereka?"
Qing Ruo dan Hu Yan Lan menggelengkan kepalanya.
" Maaf tuan, kami tidak melihat sosok yang kalian maksud," jawab Hu Yan Lan dengan ramah.
Di depan Qing Ruo dan Hu Yan Lan.
" Saudara, sepertinya mereka berdua tidak jujur, karena tidak mungkin mereka tidak mengetahui kedua sosok itu?" seorang murid berbicara pada pemimpin kelompok tersebut melalui telepati.
" Aku rasa demikian, tapi kita juga tidak bisa memaksa mereka untuk berbicara."
" Lalu Saudara, apa yang harus kita lakukan pada mereka?"
" Biarkan mereka lewat," jawab sang pemimpin kelompok, lalu mempersilakan Qing Ruo dan Hu Yan Lan melanjutkan perjalanannya.
" Terima kasih, tuan," ucap Qing Ruo dan Hu Yan Lan, lalu bergerak meninggalkan tempat itu.
" Kalian berdua, awasi mereka," ucap sang pemimpin, pada dua murid klan untuk mengawasi Qing Ruo dan Hu Yan Lan.
"Tapi Saudara," ucap murid klan dengan ragu.
" Aku takut elang perak dan dewa itu ada hubungannya dengan mereka berdua."
" Baik saudara," ucap kedua murid kan tersebut bergegas meninggalkan tempat itu.
****
Di tempat lain.
Qing Ruo dan Hu Yan Lan, akhirnya tiba di gerbang kota Ping. Di tempat itu, mereka berdua langsung mendapat pemeriksaan dari prajurit yang berjaga. Setelah memastikan bahwa Qing Ruo berasal dari Yin dan Hu Yan Lan dari klan Hu, prajurit kota lalu mempersilakan mereka berdua memasuki kota itu dengan hormat.
" Silakan, tuan..." ucapnya dengan hormat.
__ADS_1
" Prajurit, terima kasih," ucap Qing Ruo dan Hu Yan Lan dengan hormat, lalu memasuki kota itu dengan tenang.
Dua menit setelah Qing Ruo dan Hu Yan Lan memasuki kota itu, dua murid dari klan Bing Yi memasuki kota tersebut dan menyusul mereka.