Sang Penguasa

Sang Penguasa
128. Rumput Emas Penguat Jiwa.


__ADS_3

Pusat pertempuran.


Qing Ruo yang terbebas dari aturan ruang dan waktu gunung Bei Tian  bergerak bebas melancarkan serangannya. Sedangkan hewan buas itu hanya bisa bertahan di kawasan mulut gua.


" Trark...." gelombang petir muncul dari langit, membentuk tombak petir, melesat menyerang mulut gua.


Pada saat hewan buas tersebut bergerak menghindar serangan tersebut, dan sibuk menghalau menghalau pedang Xue Luo yang terus  bergerak mengikutinya, Qing Ruo melesat, mendekati mulut gua sambil melepaskan cakram keemasan.


" Dhuar..." Ledakan dahsyat mengguncang tempat itu. Bersamaan dengan sosok Qing Ruo yang langsung bergerak memasuki lorong gua.


" Swhus...." Tombak petir yang  menghantam mulut gua, lalu menyelimuti tempat itu menjadi perisai petir.


" Swhuss... Swhus..."  Pedang Xue Luo bergerak mengitari mulut gua, dan menjaga tempat itu, membuat harimau putih cakar emas dan hewan penjaga lainnya panik.


" Saudara, apa yang harus kita lakukan?" tanya serigala taring emas, sambil menatap mulut gua yang tertutup perisai petir dan pedang Xue Luo.


" Terus Serang!" sambil melepaskan serangan tapak, lalu di ikuti oleh yang lain.


" Dhuar... dhuar..." ledakan keras sambaran petir muncul menghadang serangan tersebut. Sedangkan pedang Xue Luo begerak menyerang siapa pun yang mendekati mulut gua.


" Roargh ...." harimau putih cakar emas meraung murka, dan kesal.


" Saudara, sebaiknya kita memulihkan diri, lalu menyerang perisai tersebut bersama-sama." ucap Serigala Taring emas, sambil menghentikan serangannya.


" Tapi bagaimana dengan yang di dalam...." ucap Harimau putih cakar emas dengan khawatir.


" Tenanglah, aku rasa dia tidak akan berbuat jahat. Jika dia memang bermaksud jahat, mungkin dari awal dia sudah membunuh kita." Serigala Taring Emas, berbicara menenangkan rombongannya.


" Jika demikian, mari kita pulihkan diri terlebih dahulu, setelah itu mari kita serang perisai ini dengan kekuatan penuh secara bersama..."


" Tapi bagaimana jika kita justru menghancurkan gua ini..." Kucing Dahan menjeda kata-katanya, menatap hewan buas lainnya yang kini telah berkumpul kembali.


" Jadi apalagi yang bisa kita lakukan? Selain menyerang perisai petir ini. Tapi sebelum itu sebaiknya kita memulihkan diri," ucap Harimau Putih Cakar Emas.


" Baik..." lalu mulai memulihkan diri


***


Di dalam lorong gua. 


Qing Ruo yang telah menghancurkan perisai segel yang buat oleh hewan pelindung itu, lalu mengganti segel tersebut dengan mantra formasi pertahanan tingkat tinggi.


Setelah memastikan bahwa mulut gua itu  benar-benar tersegel, Qing Ruo dengan perlahan lalu memasuki lorong gua dengan perlahan, mengikuti tombak emas teratai biru yang bergerak mengambang  lima meter di depannya, yang terus melepas api teratai biru dan api putih menerangi lorong  gua yang gelap tersebut.


" Tidak heran jika Thou Thou hanya bisa merasa aura yang sangat lemah, gua ini selain telah tersegel, juga cukup panjang." Qing Ruo membatin,  sambil bergerak dan memulihkan dirinya.


Dua ratus meter kemudian, Qing Ruo mulai dapat merasakan aura yang sangat kuat, namun dalam kondisi yang sangat lemah, membuatnya semakin penasaran.


Dengan perlahan dan berhati-hati, Qing Ruo terus memasuki lorong gua tersebut, hingga akhirnya tampak sosok Harimau putih cakar emas terbaring lemah di dalam gua.

__ADS_1


" Roargh...." Harimau itu meraung, menatap Qing Ruo yang terus mendekatinya dengan tajam.


" Semi Abadi tingkat tujuh tahap akhir..." Qing Ruo membatin, menatap sosok harimau setinggi dua  meter,  dengan panjang tubuh hingga lima meter tersebut dengan waspada.


Dari jarak dua puluh meter, Qing Ruo masih berdiri di tempatnya mengamati sosok Harimau yang bahkan tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya itu.


Qing Ruo bengitu terkejut saat merasakan beberapa aura dari balik tubuh besar tersebut yang sedang bergerak.


" Tidak heran jika dia begitu lemah, karena baru saja melahirkan." Qing Ruo membatin sambil melangkahkan kaki, mendekati harimau tersebut.


" Qing Ruo, memberi hormat pada penguasa gunung Bei Tian," ucapnya sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.


" Swhus..." Tembakan angin tiba-tiba keluar dari mulut harimau putih tersebut, bergerak kearah Qing Ruo dengan cepat.


Dengan sigap, Qing Ruo yang telah mempersiapkan diri langsung bergerak zig-zag  menghindari  tembakan angin tersebut.


" Anak muda, aku tidak butuh hormat darimu. Dengan memasuki tempat ini,  itu sama saja kamu tidak menghormati keberadaanku!" ucapnya dengan tajam.


Qing Ruo yang tidak menyangka reaksi sang penguasa gunug yang tiba-tiba menyerangnya itu, hanya bisa  menggelengkan kepala.


" Yang mulia, anda salah paham. Dari awal kedatanganku di tempat ini bukanlah untuk membuat kekacauan.  Bahkan aku ingin menawarkan bantuan pada kalian untuk melindungi tempat ini."  Dengan wajah serius.


" Melindungi tempat ini? Anak muda, siapa yang ingin kamu tipu? Mengingat sikapmu yang masih sopan, maka aku menghargaimu, Pergilah!"  Ucapnya dengan keras.


Qing Ruo yang tidak ingin pergi begitu saja, terdiam di tempatnya, menatap Harimau putih itu dengan penuh selidik, sambil berusaha mengukur kekuatan penuhnya.


" Yang mulia, aku akan pergi tetapi setelah aku mendapatkan rumput emas penguat jiwa," ucap Qing Ruo dengan serius.


" Yang Mulia, jangan memaksakan diri. Aku tahu saat ini anda sedang terluka. Lagipula, apakah anda yakin ingin melakukannya?"


" Sungguh sombong. Hanya semi abadi tingkat tiga, tetapi berani mengancam. Apakah kamu bercanda...."


" Semi abadi tingkat tiga tetapi mampu melewati beberapa semi abadi  tingkat lima." ucap Qing Ruo dengan tenang, membuat Harimau Putih itu terdiam.


" Yang mulia, aku tidak pernah bercanda, apalagi  jika itu menyangkut masalah nyawa. Perlu yang mulia ketahui, saat aku memasuki tempat ini,  satu pun di antara kalian tidak ada yang terbunuh di tanganku. Tetapi jika anda memintanya, maka aku akan melakukannya."


Harimau putih itu masih terdiam, menatap Qing Ruo yang berdiri dihadapannya dengan penuh selidik.


" Apakah dia menyembunyikan kekuatan sejatinya? Dengan tingkat kultivasinya, bagaimana bisa dia mengalahkan para penjaga..." Membatin, menatap tombak emas Teratai Biru yang melepaskan api biru dan api putih yang  kini mulai berdengung di hadapan Qing Ruo.


" Yang mulia, jujur aku memang menginginkan rumput emas penguat jiwa, tetapi aku tidak mengambilnya dengan cuma-cuma. Lagi pula jika Anda bersikukuh untuk bertarung, maka bukan hanya anda saja yang akan terluka, tapi juga mereka ada di balik tubuh anda itu ..." ucap Qing Ruo sekali lagi, membuat Harimau Putih itu semakin bimbang.


" Anak muda, jangan menggertak. Apakah kamu ingin mencobainya!"


" Yang Mulia, cukup basa-basinya. Jika ingin bertarung, mari. Lagipula di luar sana masih banyak pendekar lainnya yang sedang menunggu waktu tiba di tempat ini." dengan tatapan tajam.


" Swhus...." harimau putih itu mengedarkan kekuatannya.


" Jiak dari awal aku tahu Anda adalah sosok yang tidak menghargai kejujuran dan kebaikan orang lain, mungkin aku sudah membakar tempat ini!" ucap Qing Ruo sambil meraih tombak emas teratai biru, membuat api putih dan api biru yang menyelimuti mata tombak itu mulai membesar.

__ADS_1


" Mari kita mati bersama-sama lalu biarkan para penyusup itu memetik hasilnya," ucap Qing Ruo dengan keras.


Kata-kata Qing Ruo membuat harimau putih itu dengan perlahan menarik aura pertempuran dari tubuhnya, membuat Qing Ruo sedikit lega.


Cukup lama mereka berdua terdiam, hingga Qing Ruo membuka pembicaraan.


" Yang mulia, aku hanya perlu satu anakan kecilnya saja, tidak lebih. Sebagai gantinya aku akan memberi  sumberdaya yang dapat memulihkan kekuatan anda, serta membantu melindungi tempat ini...." Dengan wajah serius, sambil menunjukkan lima butir pil pemyembuh Fuyuan, serta puluhan butir pil peledak energi.  Selain itu dia juga menunjukkan masing-masing satu, buah Bodhi, Apel Emas dan buah persik abadi yang telah berevolusi.


Harimau putih cakar emas itu terdiam. Dari tatapan matanya, Qing Ruo dapat melihat penguasa gunung Bei Tian  itu  begitu terkejut, dan menginginkan sumberdaya yang ada di tangannya, tetapi dirinya cukup segan.


" Lalu bagaimana cara kamu melindungi tempat ini?" dengan sikap yang mulai melunak.


Dengan tenang, Qing Ruo lalu menunjukan cakram emas dari telapak tangannya, membuat harimau putih itu begitu terkejut.


" Anak muda, jika aku tidak lupa, bukankah namamu Qing Ruo?"


" Benar..."


" Lalu bagaimana bisa kamu menguasai cakram emas Shen Guoshi Ling?"


" Ibuku  berasal dari klan kuno itu," jawab Qing Ruo dengan tenang.


Harimau putih itu kembali lagi terdiam. Menatap Qing Ruo dengan penuh selidik. 


" Dua darah Dewa kuno." Batinnya.


" Yang mulia, waktuku di tempat ini terbatas. Jika anda menyetujui pertukaran ini, mari kita lakukan," ucap Qing Ruo.


Harimau putih terdiam, dan tampak bimbang. Namun belum sempat dirinya berbicara, tiba-tiba dari mulut gua terdengar suara ledakan keras.


" Sepertinya prajurit Anda Sudah tidak sabaran..." Ucap Qing Ruo tersenyum santai, sambil meredam kecemasan. Jika harimau yang ada di hadapannya itu benar-benar menyerang, besar kemungkinannya dirinya tidak akan selamat di dalam gua tersebut.


" Baikklah," ucanya pelan, sambil mempersilakan Qing Ruo mengambil satu anakan kecil dari tujuh rumput emas yang  tumbuh di dinding gua.


" Baik Yang mulia, terima kasih."


Sambil bergerak mengambil anakan  rumput emas penguat jiwa,  Qing Ruo  juga menyerahkan sumberdaya yang dijanjikan sebelumnya.


" Swhung..." Anakan rumput emas itu tercabut dari dinding gua,  bergetar dengan lembut, lalu lenyap ke dalam dunia jiwa.


" Yang mulia, sekali lagi terima kasih. Semoga Yang mulia cepat pulih," ucap Qing Ruo dengan hormat.


" Tuan Qing Ruo, aku juga mengucapkan terima kasih. Pil dewa ini akan memulihkan secepatnya."


" Baik, aku telah menunaikan kewajiban pertamaku. Sekarang kewajiban kedua," ucap Qing Ruo sambil membuat segel tangan.


" Swhus... Swhus...." Susunan kunci Mantra formasi perlindungan dan pembunuhan muncul di tengah ruangan. Sambil terus bekerja, Qing Ruo juga menjelaskan cara menggunakannya.


Pada saat Qing Ruo sedang bekerja, tiba-tiba kesembilan hewan penjaga memasuki ruangan, menatap Qing Ruo yang berdiri dengan tenang dan santai di hadapan sang ratu, dengan heran.

__ADS_1


" Jangan membuat keributan," ucap sang ratu memberikan perintah, membuat para hewan penjaga itu mematung di tempatnya.



__ADS_2