Sang Penguasa

Sang Penguasa
173. Menjebak Para Tetua.


__ADS_3

Di dalam dunia jiwa.


Qing Ruo duduk dengan tenang, memulihkan pondasi kultivasinya sambil menyerap kristal kristal jiwa abadi yang ada di sekitar tempat duduknya.


" Ling er, Putri kita," ucap Qing Ruo.


" Gege tenanglah, aku sudah meminta Huli Bai menemaninya. Lagipula An er juga sedang tenang." Sambil matanya terus memeriksa gelang giok biru yang ada di tangannya, yang dapat memberikan informasi langsung mengenai keadaan Qing Lian An yang berada di istana emas.


Pada saat mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba Qing Ruo membuka matanya.


" Gege, ada apa?"


" Ada yang datang," jawabnya pelan sambil berdiri dari tempatnya.


" Ling er, aku pergi dulu." Sambil mengecup ubun kepalanya Qing Ling.


" Gege, berhati-hatilah," ucap Qing Ling dengan tatapan hangatnya.


" Tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja," ucap pelan, lalu keluar dari dunia jiwa.


" Swhus..." Sosoknya muncul di dalam kamar penginapan.


" Penguasa,  aku merasakan beberapa sosok terus bergerak mendekati tempat ini dan sepertinya mereka bukan pihak keamanan penginapan." Long Fu menjelaskan.


Qing Ruo menganggukan kepalanya.


" Aku yakin mereka adalah para tetua yang menghadang kami sebelumnya," ucap Qing Ruo.


" Lalu mengapa tidak penguasa hajar saja?" tanya Long Qe dengan heran.


" Long Qe, kota Xi ini berada dibawah perlindungan tiga klan dewa kuno, dan aku tidak ingin berurusan dengan mereka serta merusak citra  Shen Guoshi Qing."


" Lalu apakah penguasa punya rencana?" tanya Long Fu.


Qing Ruo menganggukan kepalanya.


" Kebetulan sekali mereka mendatangi kita. Aku akan menempatkan gerbang dimensi dunia jiwa di dinding ruangan dan menyamarkan seperti gerbang teleportasi. Dan kalian berdua  menyamar menjadi diriku dan Long Chen," ucap Qing Ruo menjelaskan rencananya dengan rinci.


" Baik penguasa, kami mengerti."


Setelah Long Fu mengubah tampilannya menjadi dirinya dan Long Qe menjadi Long Chen, Qing Ruo lalu melepaskan mantra formasi ilusi dan bersembunyi di sudut ruangan. Sedangkan Long Fu dan Long Qe yang sedang menyamar menggunakan tampilannya dan Long Chen itu, berbincang-bincang santai.


Satu menit kemudian.


Seorang tiba-tiba mengetuk pintu.

__ADS_1


" Tuan, apakah Anda ada di dalam?" Suara dari depan pintu itu berbicara dengan sopan.


" Ya dengan siapa?" tanya  Long Fu yang menyamar menjadi Qing Ruo pura-pura bertanya.


" kami dari pihak keamanan tuan. Ada yang ingin kami bicarakan."


Tidak lama kemudian, Long Qe yang menyamar menjadi Long Chen membuka pintu.


" Tu-tuan, kalian," ucapnya pura-pura terkejut, sambil berjalan mundur, menatap lima sosok pria paruh baya,  yang tiba-tiba mengarahkan  pedang perak padanya.


" Akhirnya, kita berjumpa lagi," ucap salah satu tetua menyeringai, sambil memasuki ruangan.


" Saudara, apa yang ingin kalian lakukan..." ucap Long Qe dengan terbata.


" Tentu saja mengambil semua sumber daya yang kalian miliki. Selain itu, aku juga akan menyiksa kalian."


Di dalam ruangan, Long Fu yang menyamar menjadi Qing Ruo tampak panik, sambil membuat segel tangan.


" Swhuss...." Dinding ruangan bergetar.


" Apakah kalian ingin pergi?  Naif!" ucap salah satu tetua dengan sombongnya.


" Tetua, pergi!" ucap Long Fu  sambil menarik tangan Long Qe, bergerak memasuki pusaran angin hitam keemasan yang  muncul di dinding kamar.


" Mereka benar-benar telah mempersiapkan diri. Tapi kalian naif, karena menganggap bisa lepas dari kami." berbicara sambil menatap pusaran angin hitam keemasan yang masih muncul di dinding ruangan.


" Swhuss...." tubuh mereka lenyap di dalam pusaran angin hitam tersebut.


Tidak lama kemudian, lima sosok lainnya muncul di dalam ruangan itu.


" Saudara, segera susul saudara yang lain. Aku akan menjaga tempat ini," ucap dua sosok sambil mengirimkan kekuatan pada dua pilar mantra formasi yang berdengung di dinding ruangan.


Tanpa banyak bicara, kelima sosok yang baru datang itu langsung memasuki pusaran angin hitam keemasan tersebut.


Tiga menit kemudian, lima sosok yang bertugas mengalihkan perhatian pihak keamanan penginapan, tiba di tempat itu.


" Saudara, dimana yang lain?" tanya pemimpin kelompok yang baru datang itu dengan heran.


" Lihatlah," ucap salah satu sosok yang berjaga menunjuk gerbang dimensi dunia jiwa yang tampak seperti gerbang teleportasi, membuat mereka yang baru datang itu tertawa.


" Sungguh bodoh. Baiklah mari kita pergi," ucap pemimpin yang baru datang itu lalu membawa rombonganya   memasuki gerbang dimensi dunia jiwa.


Pada saat kelima tetua  itu memasuki pusaran angin hitam keemasan, tiba-tiba dua tetua yang berjaga menyadari keanehan.


" Oh tidak. Ini bukan gerbang teleportasi..." ucap salah satu dari sosok itu sambil bergerak menjauh, bersamaan dengan lenyapnya pusaran angin hitam keemasan itu.

__ADS_1


" Swhus...." sosok Qing Ruo muncul di sudut ruangan, lalu mengunci pintu ruangan.


" Ka-kamu!" Menjaga jarak dengan sikap siaga. Menatap Qing Ruo yang tiba-tiba duduk pada kursi dan menuangkan minumannya dengan santai.


" Kebetulan sekali aku memerlukan pelayan untuk bekerja di kebun buah-buahanku," ucap Qing Ruo sambil menyesap minumannya, menatap kedua sosok  yang merupakan pendekar semi abadi tingkat empat dan tingkat lima itu dengan santai.


" Saudara, bukankah yang kita lihat sebelumnya adalah dia?"


" Benar. Tapi saudara, lihatlah. Dia bahkan tidak takut sedikitpun pada kita." Sambil mengeluarkan pedang dari dalam cincin penyimpanamnya.


" Apakah kalian ingin bertarung?" Tanya Qing Ruo dengan tatapan tajam.


" Siapa kamu sebenarnya!" Sambil mengedarkan kekuatannya.


" Kalian ini sungguh lucu. Justru akulah  yang harus  menanyakan hal itu pada kalian. Mengikutiku hingga ke tempat ini, bukankan  itu adalah tindakan yang benar-benar nekat? Apakah kalian siap dengan konsekuensinya?" Dengan tatapan dingin.


Kedua tetua itu saling berpandangan sambil  diam-diam meminta bantuan pada rombongannya. 


" Bukannya menjawab, kalian malah meminta bantuan," ucap Qing Ruo sambil berdiri dari kursinya, membuat kedua tetua itu  terkejut.


" Panggil saja mereka. Aku akan membuat mereka sama seperti kalian.  Berlutut!" ucap Qing Ruo dengan dingin. 


" Nak, sikap diam  kami membuat kamu semakin congkak," ucap salah satu tetua lalu bergerak menyerang Qing Ruo.


" Kalianlah yang tidak tahu diri!" ucap Qing Ruo sambil bergerak menyambutnya serangan itu sambil melepaskan aura Semi abadi tingkat delapan milik Yin Gan.


" Dhuar..." tamparan keras menghantam wajah tetua tersebut dan melemparnya hinggap terkapar dengan wajah lebam.


" Tu-tuan..." ucapnya merintih kesakitan, sambil berlutut di hadapan Qing Ruo. Sedangkan satu tetua lainnya yang merupakan pendekar semi abadi tingkat lima, mematung.


" Tu-tuan," ucapnya terbata, sambil menjatuhkan pedang perak yang ada di tangannya. Menatap Qing Ruo yang menatapnya dengan tajam.


" Berlutut!" ucap Qing Ruo dengan dingin. Lalu meminta  sosok yang terkena tamparan sebelumnya menampar tetua tersebut.


" Ta-tapi tuan...." Menatap saudaranya dengan ragu.


" Trark..." Petir hitam keemasan muncul dari ujung jari Qing Ruo, lalu membentuk bola kecil sebesar buah anggur.


" Sekali lagi kamu membantah. Maka kamu akan merasakan benda ini menghapus seluruh kekuatanmu!" ucap Qing Ruo dengan dingin.


Kemunculan kekuatan petir yang sangat mendominasi itu, membuat kedua tetua tersebut bahkan kini mulai membasahi dirinya. Mereka benar-benar tidak menyangka  jika sosok lemah yang mereka incar adalah orang yang sangat mengerikan.


" Saudara, lakukan saja, atau kita akan mendapatkan hal yang lebih buruk lagi." Berbicara melalui telepati.


" Baik saudara...." Lalu berdiri dan menampar wajahnya saudaranya tersebut.

__ADS_1


" Plak..... Plak."  tamparan keras bergema, mengisi ruangan yang sepi tersebut.


" Terus lakukan sampai aku mengatakan untuk berhenti." ucap Qing Ruo dengan dingin, mengejutkan  kedua tetua tersebut, bahkan membuat tetua yang menerima tamparan itu mulai menangis.


__ADS_2