Sang Penguasa

Sang Penguasa
301. Penjelasan Yin Lao Weida.


__ADS_3

Dengan baju yang telah robek dan dibasahi darah segar. Qing Ruo mencoba bangun, sambil memindahkan segel mantra terlarang penghancur jiwa pada lehernya, menatap kedua sosok yang begitu murka padanya tersebut dengan berpura-pura  ketakutan.


Di halaman kediamanan itu. Yin Shangtao yang berada di tangga istana itu begitu terkejut saat merasakan getaran hebat dari dalam ruangan.


" Sepertinya telah terjadi pertarungan..." Batinnya dengan rasa penasaran yang begitu luar biasa.


***


Di dalam ruangan.


Yin Lao Weida lalu menempati kursi yang tersisa dengan wajah kesal.


" Saudara Jue, aku telah memeriksanya," ucapnya dengan wajah serius, menatap Qing Ruo yang berlutut di hadapan Yin Jue dengan tajam.


" Siapa kamu sebenarnya?" tanya Yin Jue pada Qing Ruo dengan tatapan tajam.


" Maksud tetua..." ucap Qing Ruo dengan wajah bingung.


" Jangan berpura-pura. Kami sudah tahu jika kamu bukan Yin Hen Fen," ucap Yin Jue meninggikan suaranya. 


" Tetua, apa yang terjadi? Aku bahkan tidak mengerti maksud tetua berdua," ucap Qing Ruo dengan heran.


" Kamu!" ucap Yin Jue dengan kesal, lalu mencengkram leher Qing Ruo memeriksa segel terlarang penghancur jiwa pada lehernya.


" Saudara Lao Weida..." ucapnya menatap sosok tetua agung klan Yin itu dengan wajah heran.


" Saudara Jue ada apa?" tanya Yin Lao Weida dengan wajah serius.


" Dia ini memang Hen Fen." Berbicara melalui telepati, membuat Yin Lao Weida segera menghampirinya lalu memeriksa segel terlarang yang ada di leher Qing Ruo.


"  Ini aneh, karena sebelumnya aku  tidak merasakan keberadaannya." Lalu melepaskan cengkramannya,  menatap Qing Ruo dengan heran.


" Tetua, apa yang terjadi?" tanya Qing Ruo dengan heran.


Tiba-tiba ruangan itu menjadi hening, dengan sosok Yin Jue dan Yin Lao Weida yang saling berpandangan.


" Duduklah dan pulihkan dirimu," ucap Yin Lao Weida, sambil menarik kekuataannya.


" Baik tetua agung, tapi..." ucap Qing Ruo dengan ragu.


" Hen Fen, pulihkan dulu dirimu," ucap Yin Jue dengan tegas.


" Ba-baik tetua," ucap Qing Ruo dengan hormat, lalu menjauh dari kedua sosok tersebut dan memulihkan dirinya.


Setelah Qing Ruo menjauh dari tempat itu, Yin Jue dan Yin Lao Weida saling berpandangan dengan heran.


" Saudara kita salah orang, dan kita hampir membunuh orang kita sendiri," ucap Yin Jue dengan serius.


Yin Lao Weida menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


" Siapa penyusup ini, sepertinya dia dengan sengaja mempermainkan kita.  Jika demikian saudara kembali saja ke Puncak Dong Yin untuk melakukan penyelidikan ulang," ucapnya dengan serius.


" Baik,  jika demikian Hen Fen aku serahkan pada saudara," ucap Yin Jue dengan serius.


" Saudara tenang saja. Aku akan menjelaskan hal ini padanya," ucap Yin Lao Weida dengan tenang.


Setelah berkata-kata, Yin Jue lalu bergerak meninggalkan tempat itu.


Setelah Yin Jue pergi, ruangan itu kembali menjadi hening dengan sosok Yin Lao Weida yang terdiam menatap langit-langit istana kediamanannya dengan wajah kebingungan.


Tidak jauh dari tempatnya. Qing Ruo sedang  memulihkan diri tersenyum dengan tenang.


" Kebetulan sekali," ucapnya dengan tenang sambil menyegel ruangan itu dengan diam-diam.


****


Halaman kediamanan Yin Lao Weida.


" Tetua..." ucap Yin Shangtao dengan hormat, menghampiri Yin Jue yang meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa.


" Shangtao, kita salah orang," ucapnya datar.


" Lalu tetua, apa yang harus aku lakukan?"


" Tetap berada di kawasan ini, dan lakukan pengawasan terutama mereka yang datang dari puncak Dong Yin."


" Baik tetua."


Setelah Yin Jue pergi, Yin Shangtao juga bergerak meninggalkan tempat itu.


****


Di dalam aula istana kediaman tetua agung.


Qing Ruo yang telah selesai memulihkan diri, menghampiri Yin Lao Weida dengan tenang.


" Hen Fen, duduklah," ucapnya dengan ramah.


" Terima kasih, tetua." Sambi menempati kursi yang tersedia.


" Hen Fen, maaf atas kesalahpahaman sebelumnya." Sambil tersenyum kecut. 


Qing Ruo menganggukan kepalanya pelan." Tetapi tetua, apa yang terjadi?"


" Puncak Dong Yin telah disusupi," jawabnya pelan.  


" Tapi bagaimana bisa?" tanya Qing Ruo yang sedang  berpura-pura itu dengan heran.


" Berawal kematian Xie, yang  ternyata bersamaan dengan hancurnya  lencana giok jiwa Di Lu. Saudara Jue yang  merasakan keanehan atas kematian Xie karena tamparan sepele itu segera melaporkan hal ini padaku dan kami langsung  melakukan penyelidikan secara mendalam."

__ADS_1


" Lalu bagaimana tetua melakukannya?" tanya Qing Ruo dengan semakin  penasaran.


" Kami berdua menyusuri jejak keanehan  itu di mulai dengan kehadiran Yin Gan dengan tindakannya yang meresahkan para tetua tingkat tinggi, lalu kami menemui Rongyou yang merupakan sosok yang pertama kali berinteraksi dengannya, namun di kediamannya kami mendapati Rongyou sedang menggila, aku lalu meminta prajurit untuk menyadarkannya dengan menampar wajah gadis itu, tapi tamparan keras tersebut langsung menewaskannya, dan kasus kematian Rongyou itu memiliki kesamaan dengan kematian Xie. Pada saat kami menyusuri lencana giok jiwanya, ternyata lencana giok jiwa yang hancur bersamaan dengan kematian Rongyou adalah milik Weng Can yang sebelumnya juga hilang bersama Di Lu," jawab Yin Lao Weida.


Qing Ruo menganggukkan kepalanya.


" Semuanya ternyata saling berhubungan," ucapnya pelan.


"  Benar, terakhir kami  melakukan penyelidikan pada Yin Gan di dalam penjara,  dan kamu menemukan kejanggalan karena kekuatan jiwa dan pikirannya tersegel oleh kekuatan emas, dan kami yakin jika sosok itu bukan Yin Gan, tetapi orang lain yang telah disamarka, dan orang yang terakhir berhubungan dengan sosok itu dan Xie dan Rongyou adalah kamu. Itulah alasannya kami melakukan tindakan kami sebelumnya," ucap Yin Lao Weida mengakhiri penjelasannya.


Qing Ruo menganggukan kepalanya.


" Lalu bagaimana tetua  bisa yakin bahwa aku ini adalah Hen Fen?"


" Segel yang ada pada leher mu..." jawabnya pelan. 


Qing Ruo menganggukkan kepalanya,  lalu berdiri dari kursi.


" Plak..." Tamparan keras Qing Ruo yang tiba-tiba itu mengenai wajahnya, hingga  membuat Yin Lao Weida terjatuh dari kursinya.


" Kamu!" ucapnya terkejut dengan suara meninggi, menatap Qing Ruo dengan kemarahan menyala.


" Yin Lao Weida, apakah kamu terkecoh karena  segel ini?"  sambil melepaskan segel hitam penghancur jiwa dari lehernya, lalu  memindahkannya pada jari kelingking kirinya.


" Ka-kamu ternyata penyusup itu..." Menatap Qing Ruo dengan tajam.


" Swhus...." Qing Ruo tiba begerak, melepaskan tinjuan tapak emas naga ilahi, yang langsung disambut oleh Yin Lao Weida dengan pukulan tapak hitamnya.


" Dhuar...." Ledakan keras bergema, mendorong tubuh mereka hingga belas meter.


" Sangat kuat...." Yin Lao Weida membatin, merasakan tangan kanannya  yang terasa kebas dan hampir remuk.


" Bad***n siapa kamu sebenarnya?" Menatap Qing Ruo dengan kesal.


Tanpa menjawab pertanyaan tersebut, " Swhus...." sosok Qing Ruo tiba-tiba memburam, lalu muncul di hadapannya, sambil melepaskan pukulan tapak emas naga Ilahi.


" Dhuar..." ledakan keras kembali bergema saat Pukulan Qing Ruo beradu dengan tinjuan tangan kirinya.


" Akh..." Teriaknya kesakitan, terdorong hingga mengantam pilar emas  dengan tangan kirinya yang telah remuk.


" Swhus..." Qing Ruo kembali bergerak dengan melepaskan tinjuan kearah wajah Yin Lao Weida, namun di tahan dengan tangan kanannya, membuat sosoknya terlempar hingga menghantam dinding ruangan.


" Swhung..." dinding ruangan itu bergetar, melepaskan kekuatan emas yang bertolak belakang dengan kekuatan yang dilepaskan tubuhnya.


" Bad***n! Sejak kapan dia menyegel  ruangan ini..." batinnya, menatap Qing Ruo yang tersenyum santai padanya dengan sangat kesal sambil memulihkan tangannya.


" Janga harap kamu bisa melakukannya," ucap Qing Ruo sambil bergerak melepaskan tinjuan tapak emas naga ilahi, tapi kini dengan kekuatan petir abadi.


" Trark... trark...." Suara petir yang  berderak-derak yang disertai kilatan cahaya, melingkari kedua tangannya.

__ADS_1


" Klan petir kepar**t!" teriaknya murka, sambil melepaskan kekuatan puncaknya bergerak menyerang Qing Ruo.


" Dhuar.... dhuar...." Ledakan keras bergema, mengguncang ruangan itu dengan hebat, bersamaan dengan sosok mereka yang terus bergerak seperti kilatan, memburam dan beradu dengan suara ledakan yang terus bergema.


__ADS_2