Sang Penguasa

Sang Penguasa
84. Pembicaraan di Dalam Restoran.


__ADS_3

Qing Ruo yang sudah  menduga  reaksi mereka akan seperti itu,  tersenyum santai.


" Apa pendapat kalian  mengenai hal ini?" tanya Qing Ruo.


" Penguasa muda, hamba tidak setuju," jawab Murong Jianyu dengan cepat.


" Aku juga," ucap Heian Bai dengan serius.


" Jika kalian tidak setuju, lalu bagaimana dengan Hua Zhen?"


" Penguasa muda, itu adalah pengecualian, dan wajar jika kita membangun persaudaraan dengan semua orang, tetapi ingin membangun kekuatan Shen Guoshi Hua, bukankah itu terlalu  berlebihan,  mengingat bagaimana tindakan mereka saat itu yang terus-menerus pergi ke wilayah Selatan membunuh  orang-orang Shen Luo, hamba tidak setuju dengan hal itu," jawab Murong Jianyu dengan tegas.


" Jika aku menginginkannya bagaimana?"


Murong Jianyu terdiam, mendesah lalu  menundukkan kepalanya.


" Hamba akan mengikuti perintah penguasa muda," ucapnya dengan tidak rela.


Dalu Rong dan Heian Bai bahkan hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Namun pada saat Qing Ruo akan melanjutkan perkataannya,  tiba-tiba pelayan mengetuk pintu ruangan.


" Silakan,"  ucap Qing Ruo, mempersilakan dengan ramah.


Tidak lama kemudian beberapa pelayan memasuki ruangan,  membawa makanandan minuman, lalu menatanya di atas meja.


" Silakan tuan, selamat menikmati." Lalu meninggalkan ruangan itu.


" Terima kasih nona," ucap Qing Ruo dengan ramah.


Setelah para pelayan itu pergi, ruangan itu menjadi hening.


" Penguasa," ucap Murong Jianyu membuyarkan lamunan Qing Ruo.


"  Dari awal aku sudah tahu kalian pasti akan menolak rencanaku ini, tapi apa apakah kalian yakin aku dapat  membangun kembali kekuatan Shen Luo dengan menggunakan kekuatan klan pelayan yang saat ini sudah tercerai berai?" membuat Murong Jianyu yang bersikukuh menolak keinginan Qing Ruo terdiam.


Tiba-tiba Dalu Rong yang sebelumnya terus terdiam, mengangkat tangannya untuk berbicara.


" Saudara Ruo, tadi aku berusaha untuk memahami maksud dan tujuan saudara, dan aku akhirnya mengerti. Aku mendukung keinginan suadara," ucapnya dengan penuh semangat, membuat Heian Bai dan Murong Jianyu begitu penasaran.


" Saudara Rong, maksud Saudara?" tanya Heian Bai dengan heran.


" Saudara Ruo, yang akan menjelaskan,"  jawab Dalu Rong sambil mengarahkan pandangannya pada Qing Ruo, yang tersenyum hangat padanya.


Qing Ruo menganggukan kepalanya.


" Untuk membangun kekuatan Shen Luo, aku memerlukan kekuatan baru, tapi bukan berarti aku tidak memerlukan kekuatan klan pelayanan. Jianyu, saudara Bai, menggunakan kekuatan pelayanan secara langsung itu terlalu berisiko,  karena aku yakin, Luo Liang pasti sudah menempatkan pengawasan pada mereka."


" Suadara Ruo benar. menurutku, menggunakan kekuatan lain yang berada di luar Klan pelayanan, merupakan cara yang efektif,"  ucap Dalu Rong, yang akhirnya membuka pikiran Murong Jianyu dan Heian Bai.


" Penguasa muda, hamba mengerti. Aku yakin Luo Liang  tidak akan menyangka hal itu, apalagi selama ini mereka menganggap bahwa Shen Guoshi Hua adalah musuh Shen Luo trah pertama,"  ucap Murong Jianyu dengan penuh semangat.

__ADS_1


" Benar," ucap Qing Ruo dengan senyumnya yang hangat.


" Tapi penguasa, bagaimana jika Shen Guoshi Hua menolak?"


" Untuk itulah aku membahas rencana  ini." Menatap Heian Bai dan Dalu Rong yang masih terdiam.


" Saudara Ruo, aku masih belum mengerti alasan saudara  membicarakan masalah yang sangat penting itu pada kami. Bukankah itu masalah..." Heian Bai menjeda kata-katanya, menatap Qing Ruo dengan heran.


" Kalian adalah saudaraku.  Dan kalian harus tahu." ucap Qing Ruo dengan tulus,  membuat Heian Bai dan Dalu Rong terdiam dalam haru.


" Saudara Ruo..." ucap Heian Bai dengan wajah sumringah, menganggukan kepalanya.


" Saudara Bai, saudara Rong, persaudaraan itu tidak selalu berhubungan dengan ikatan darah. kita telah lewati pertempuran hidup dan mati, kita saling menolong satu sama lain. Saling mempercayai dan saling memberi, saling menghormati dan menghargai, dan itu bukanlah sekedar hubungan antar teman. Teman bisa saja berakhir menjadi lawan, tetapi ikatan saudara? tidak ada yang ingin mencelakai dan melawan suadaranya sendiri, kecuali Luo Liang," ucap Qing Ruo sambil tertawa, membuat Heian Bai, Dalu Rong dan Murong Jianyu yang begitu serius ikut tertawa.


" Penguasa muda benar. dan Luo Liang bersiaplah..." ucap Murong Jianyu sambil meninju tangannya.


" Saudara Ruo, aku mengerti. Lalu apa yang harus kami lakukan?" tanya Heian Bai dengan penuh semangat.


" Pertama, tetaplah berada di sisi Luo Xing. Kedua aku perlu dukungan kalian dalam menghadapi para tetua Shen Guoshi Hua."


" Apakah itu saja?" tanya Dalu Rong.


" Benar. Bantu aku meyakinkan mereka. Jika kalian ingin ikut berperang disisiku, aku juga tidak menolak."  jawab Qing Ruo sambil tertawa.


" Sebagai saudara, tentu saja kami akan terlibat," ucap Dalu Rong dengan serius.


" Saudara terima kasih," ucap Qing Ruo mengeluarkan arak rumput kristal, dan mulai menikmati hidangan yang telah tersedia di atas meja.


" Benar ini adalah sebuah kerjasama, yang harus saling menguntungkan," jawab Qing Ruo.


" Tapi bagaimana cara penguasa melakukannya?"


" Tenanglah, serahkan saja hal itu padaku." Jawab Qing Ruo santai, sambil menjelaskan tindakan yang akan mereka lakukan.


****


Di tempat lain.


Hua Zhen, Hua Zun dan Hua Thong tampak mulai khawatir, karena Qing Ruo dan rombongannya masih juga belum tiba.


" Tetua, apakah kita harus kembali dan memeriksanya. Aku khawatir  akan terjadi kesalahpahaman antara kita dan para pelayannya," ucap Hua Zhen, menatap Hu Shan, Yu Jieru dan Liong Hei yang tampak mondar-mandir di halaman istana kediamannya.


" Kita tidak bisa melakukan penyelidikan, karena hal itu justru akan menarik perhatian para pelayannya. Sebaiknya kita tunggu satu jam lagi," ucap Hua Zun menenangkan.


" Baik,"jawab Hua Zhen.


****


Restoran Bunga Manis.


Qing Ruo dan rombongannya yang baru saja selesai menikmati makanan dan minuman di tempat itu, masih berbincang bincang santai.

__ADS_1


" Saudara Ruo, apakah saudara sudah mengabari Hua Zhen?" tanya Heian Bai mengingatkan.


Qing Ruo menggelengkan kepala,  menyadari kesalahannya, lalu mengabari Hu Shan, bahwa  dirinya sedang menuju kediaman Hua Zhen.


" Saudara Bai, saudara Rong, karena aku tidak memiliki lencana giok jiwa Hua Zhen, sepertinya kita harus mengakhiri kebersamaan di tempat ini."


" Benar, Aku juga merasa tidak enak, karena telah membuat saudara Hua Zhen menunggu," ucap Heian Bai.


" Baik, " ucap Qing Ruo lalu membawa mereka meninggalkan ruangan itu.


Setelah selesai melakukan pembayaran , Qing Ruo lalu membawa rombongannya meninggalkan tempat itu,  melanjutkan perjalanan mereka  menuju kediaman Hua Zhen.


Baru beberapa langkah Qing Ruo meninggalkan halaman restoran. Kembali   mereka merasakan beberapa pasang mata mengawasi pergerakan mereka.


" Penguasa, para pendekar tingkat rendah ini sangat menyebalkan," ucap Murong Jianyu merasa risih pada sosok yang mengintai pergerakan mereka tersebut.


" Mengapa bisa demikian?" tanya Qing Ruo.


" Mungkin mereka tidak berbahaya bagi kita, tetapi itu akan berbahaya bagi  para pendekar tingkat rendah yang tidak beruntung."


" Aku mengerti. Apakah kamu ingin memberi mereka pelajaran?"tanya Qing Ruo.


" Penguasa, apakah boleh?"


" Tentu saja, lagi pula kita sudah berada di luar restoran, tapi lakukan dengan baik." jawab Qing Ruo, membuat Murong Jianyu bersemangat.


" Baik penguasa." Lalu memisahkan diri.


Setelah Murong Jianyu pergi, Qing Ruo lalu melanjutkan perjalanannya.


" Saudara Ruo, apakah tidak berbahaya membiarkan saudara Jianyu membuat masalah di kota ini?" tanya Heian Bai.


" Itu bukan masalah. Saudara Bai tenanglah, aku ingin melihat bagaimana dia melakukannya," jawab Qing Ruo santai.


" Baik," jawab Heian Bai.


Tidak lama kemudian. Qing Ruo dan rombongannya tiba di kediaman Hua Zhen, menatap sosok tuan muda itu sedang mondar mandir.


" Saudara Zhen, maaf membuat Anda menunggu," ucap Qing Ruo dengan ramah.


" Saudara Ruo, di mana saudara Jianyu?" tanya Hua Zhen menyambut kedatangan Qing Ruo dengan heran, sambil membawa  mereka masuk ke dalam kediamannya.


" Jianyu sedang ada sedikit urusan," jawab Qing Ruo dengan tenang.


" Apakah dia baik-baik saja?"


" Tentu saja. Apakah kami terlihat sedang ada masalah?" tanya Qing Ruo, dengan senyumnya yang ramah.


" Syukurlah. Aku takut terjadi sesuatu dengan saudara," ucapnya sambil memanggil pelayan untuk  membawa Qing Ruo dan rombongannya untuk beristirahat, namun Qing Ruo menolak.


" Saudara Zhen, ada hal penting yang ingin segera aku bicarakan," ucap Qing Ruo.

__ADS_1


" Oh, Baik," jawab Hua Zhen lalu membawa Qing Ruo dan rombongannya menuju  aula utama kediamannya.


__ADS_2