Sang Penguasa

Sang Penguasa
65. Menuju Gurun Perbatasan Utara.


__ADS_3

Qing Yong Jun yang melihat Luo Feng dan Qing Ruo tertawa menjadi bingung.


" Ayah, kakek, apakah ada yang lucu?"


" Tentu saja, apakah kamu tidak menyadari kata-katamu sebelumnya?"


Qing Yong Jun yang masih belum mengerti hanya bisa menggelengkan kepalanya.


" Jun er, mungkin selama ini kamu mengira kakek agung tahu segalanya," ucap Qing Ruo, membuat Qing Yong Jun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Jun er, ada begitu banyak rahasia di daratan ilahi yang  bahkan tidak terungkap oleh para penguasa sekalipun, sehingga  kamu harus selalu berhati-hati." ucap Luo Feng sambil mengusap kepala Qing Yong Jun dengan lembut.


" Baik kakek." Jawabnya Qing Yong Jun menganggukkan kepalanya.


" Jun er, penguasa agung itu tidak ubahnya seperti kaisar atau raja. Seperti Kakek Xin Moshu yang ada di benua teratai biru, dimana pengetahuannya juga terbatas, demikian juga dengan Kakek agung," ucap Qing Ruo menjelaskan.


" Baik ayah, aku mengerti. Jujur saja, sebelumnya aku memang mengira kakek agung tahu segalanya, sehingga aku begitu heran saat kakek agung mengatakan dirinya juga tidak tahu keberadaan organisasi Tanda Dewa tersebut."


" Jun er, pengetahuan di bangun, dari segala sesuatu yang pernah kamu pelajari, sehingga semakin banyak kamu belajar, maka semakin luas pengetahuanmu," ucap Luo Feng lembut.


" Baik Kakek," ucapnya ragu.


" Bicaralah," ucap Luo Feng dengan lembut.


" Rahasia," ucapnya pelan.


Luo Feng yang sebelumnya pernah berjanji untuk menceritakan sebuah rahasia padanya, menganggukkan kepalanya.


" Baik," jawab Luo Feng.


Namun pada saat Luo Feng akan bercerita, tiba-tiba Qing Ruo merasakan beberapa sosok mendekati ruangannya.


" Jun er, ayah, aku akan segera pergi," ucap Qing Ruo.


" Maksud Ayah?"


" Ada urusan yang harus segera ayah selesaikan.  Setelah urusan selesai,  Ayah akan segera kembali," ucap Qing Ruo.


" Baik ayah," jawab Qing Yong Jun.


Setelah berpamitan pada Luo Feng dan Qing Yong Jun, Qing Ruo keluar dari dunia jiwa,  untuk menemui Hua Zhen yang kini semakin mendekati ruangannya.


" Saudara Ruo," ucap Hua Zhen memanggil Qing Ruo dari depan pintu ruangan dengan sopan.


" Baik saudara," jawab  Qing Ruo sambil keluar dari ruangannya.


" Saudara Ruo, ini tetua Thong dan tetua Zun, yang akan menemani kita mencari sumber daya yang dimaksud".


" Baik, hormat pada tetua Hua Thong dan tetua Hua Zun," ucap Qing Ruo dengan ramah, membuat kedua pria dengan rambut yang telah memutih itu juga menangkupkan tangannya dengan hormat.


" Hormat pada Penguasa muda Qing Ruo..." ucapnya dengan ramah.


" Baik, mari kita pergi," ucap Hua Zhen membawa rombongan itu keluar dari kediamannya menuju benteng kota.

__ADS_1


Di sepanjang jalan. Qing Ruo dapat merasakan beberapa pasang mata mengawasi pergerakan mereka. Terlebih lagi saat dirinya tiba di benteng kota. Beberapa prajurit yang sebelumnya menerima kedatangannya di kota itu tampak begitu terkejut.


" Bukankah pemuda ini dari klan Shen Luo?" Membantin heran.


" Tuan muda," ucapnya  menyambut kedatangan Hua Zhen dan rombongannya dengan hormat.


Hua Zhen menganggukkan kepalanya, tersenyum ramah sambil meminta prajurit itu membuka gerbang kota.


" Terima kasih prajurit," ucapnya, membawa Qing Ruo dan rombongannya meninggalkan gerbang kota.


Satu kilometer kemudian.


" Saudara," ucap Hua Zhen meminta  Qing Ruo memimpin rombongan.


" Baik," jawab Qing Ruo, lalu bergerak memimpin rombongan tersebut.


***


Di tempat lain.


Huo Mingzhi, Huo Zhoudau, Thou Thou dan rombongannya terus bergerak di kawasan perbatasan hutan es hitam. Sepanjang hari mereka memeriksa kawasan tersebut hingga keluar dari wilayah itu, dan terus bergerak hingga memeriksa wilayah gurun pasir perbatasan utara.


***


Di tempat lain.


Sepuluh ribu pasukan Jubah emas yang di pimpin  dua jenderal utama, dan sepuluh jenderal tingkat rendah tiba di benteng pertahanan Utara. Di antara pasukan itu, turut serta Heian Bai, Jianyu, dan Dalu Rong yang langsung memisahkan diri dari rombongan itu.


" Saudara Jianyu, satu jam lagi kita akan bergerak menuju kawasan hutan es utara," ucap Heian Bai sambil bergerak meninggalkan tempat itu untuk beristirahat.


****


Hulu sungai es Utara.


Qing Ruo dan rombongannya terus bergerak meninggalkan kota Hua, memasuki hutan teratai raksasa.


" Saudara Qing Ruo, kemana tujuan kita sekarang?"


" Gurun pasir Utara," jawab Qing Ruo.


" Mengapa bisa demikian? Apakah kita tidak menyirlsir wilayah hutan es hitam dan wilayah lainnya?" tanya Hua Zhen.


" Saudara Hua Zhen,  sumber daya tingkat tinggi selalu memiliki tanda yang dapat menarik perhatian banyak orang. Sangat aneh jika klan yang ada di kawasan hutan es Utara ini  tidak menyadari hal itu."


"Saudara Ruo benar. Selama ini kawasan gurun pasir perbatasan utara adalah tempat yang tidak tersentuh. Selain tempat itu terlihat biasa saja, tempat itu juga berada di bawah pengawasan pasukan jubah emas," ucap Hua Zhen sambil terus bergerak.


Lima jam kemudian, mereka keluar dari hutan teratai raksasa, dan tiba di kawasan hutan es utara, namun tiba-tiba mereka merasakan pergerakan besar ada di depan mereka.


" Saudara Qing Ruo," ucap Hua Zhen.


" Pasukan jubah emas," ucap Qing Ruo sambil membawa rombongannya menghindar.


" Saudara Qing Ruo, apa yang mereka lakukan di tempat ini?"

__ADS_1


" Saudara, aku juga tidak tahu," jawab Qing Ruo. Namun pada saat mereka hendak bersembunyi, tiba-tiba Qing Ruo dan rombongannya melihat tiga sosok bertopeng emas bergerak mendahului kekuatan besar  besar itu mendekati mereka.


" Saudara Ruo, mereka melihat kita," ucap Hua Zhen terkejut, menatap ketiga sosok bertopeng emas itu dengan heran.


" Tuan muda, mereka adalah  prajurit mata langit," ucap tetua Hua Thong menjelaskan.


Qing Ruo yang juga tidak tahu jika sosok yang ada di hadapannya adalah prajurit mata langit, hanya menganggukkan kepala.


" Tetap tenang," ucap Qing Ruo.


" Swhus... swhus..." Ketiga sosok itu muncul di hadapan Qing Ruo dan rombongannya.


" Saudara, mohon tunjukkan identitasnya..." ucap salah satu dari mereka dengan ramah, sambil menunjukan lencana emas kekaisaran.


" Saudara, aku Hua Zun, Dia adalah tuan muda kami, Hua Zhen, dan sahabatnya," Memperkenalkan Qing Ruo pada ketiga sosok tersebut.


" Tetua Hua Zun, terima kasih. Namun kami perlu bukti," ucap salah satu dari mereka berbicara dengan ramah, memaksa Hua Zhen dan rombongannya menunjukkan lencana Klan mereka.


" Baik," jawab Qing Ruo lalu menunjukkan lencana Klan Luo, sedangkan Hua Zhen, tetua Hua Zun dan Hua Thong menunjukkan lencana klan Hua.


" Terima kasih tetua, tuan muda. Saat ini kami sedang memburu Klan Yin. Jika tetua dan tuan muda  melihat pergerakan aneh,  segera kabari kami atau pasukan jubah emas."  Menangkupkan tangannya dengan hormat.


" Baik tuan,"  ucap Hua Thong.


" Tetua, tuan muda. Maaf telah mengganggu perjalanan kalian semua." Menangkupkan tangannya dengan hormat, lalu bergerak meninggalkan tempat itu.


" Pasukan mata langit ternyata sangat kuat. Bahkan prajuritnya saja adalah semi abadi tingkat dua."  Qing Ruo membatin, sambil menatap kepergian ketiga sosok bertopeng emas tersebut.


Setelah ketiga sosok bertopeng emas itu pergi, lima  menit kemudian, sepuluh ribu prajurit pasukan jubah emas yang dipimpin oleh dua jenderal utama bergerak melewati tempat itu menuju kawasan sungai Utara


Di tempat persembunyian mereka. Hua Zhen tampak begitu heran.


" Saudara Qing Ruo, apakah itu berarti anggota klan Yin berada di kawasan hutan es utara ini?" Tanya Hua Zhen penasaran.


" Saudara, terakhir kali aku bertempur melawan mereka pada saat berada di lembah gunung serigala es," jawab Qing Ruo.


" Apakah mereka bergerak menggunakan gerbang teleportasi jarak pendek? Karena jarak lembah gunung Serigala es hingga ke tempat  ini kurang lebih tiga ribu lima ratus lima puluh kilometer."


" Saudara Zhen, Kita tidak bisa menyimpulkan hal seperti itu,  karena satu-satunya rute   yang dapat mereka lewati adalah kawasan hutan es utara. Sedangkan untuk menyeberangi sungai es, mungkin mereka memerlukan waktu dan tempat untuk membuat persiapan, sehingga tidak heran pasukan jubah emas memeriksa kawasan ini."


" Penguasa Muda, benar," ucap Hua Zun menimpali.


" Yang perlu kita lakukan saat ini adalah, sedapat mungkin menghindari pertemuan dengan Klan Yin," ucap Qing Ruo sambil membawa mereka bergerak meninggalkan tempat itu.


" Maksud saudara Ruo?"


" Saat ini mereka dalam situasi sulit, dan memerlukan banyak kekuatan. Dengan jumlah kita buang sedikit ini, aku  yakin mereka akan menangkap dan mengubah kita menjadi pasukan gelapnya," jawab Qing Ruo menjelaskan.


" Tuan Qing Ruo benar," ucap Hua Thong, lalu bergerak meninggalkan tempat itu.


Sepanjang hari mereka terus bergerak meninggalkan kawasan hutan es menuju kawasan gurun pasir utara, pada saat mendekati wilayah perbatasan, tiba-tiba mereka mendengar suara pertempuran.


" Saudara Qing Ruo, telah terjadi sesuatu di depan kita. Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Hua Zhen.

__ADS_1


" Sebaiknya kita memastikan pihak mana yang sedang bertempur tersebut." Sambil bergerak mendekati tempat pertempuran.


Setelah terus bergerak dengan berhati-hati, mereka akhirnya dapat melihat kelompok yang sedang bertempur tersebut.


__ADS_2