
Setelah Ji Dao dan Xian Ba pergi. Tempat itu kembali menjadi hening. Di hadapan Qing Ruo, tiga pemuda yang sedang meraung di dalam hatinya itu bahkan tidak berani bersuara sedikitpun.
Nan Ma yang masih belum mengerti dengan jelas mengenai masalah itu mencoba memberanikan diri.
" Tuan mengapa anda melakukan hal ini pada kami?"
" Saudara , jangan banyak bicara atau dia akan menguliti kita. Dia adalah sosok yang berada di kamar nomor sembilan itu," ucap Ji Jiu berbicara, membuat Nan Ma terdiam.
Nan Ma yang akhirnya mengerti masalah yang dihadapi hanya bisa menyesali diri.
" Tu-tuan, ampuni kami tuan."
" Dengan kondisi kalian seperti ini, apalagi yang ingin aku lakukan? Membunuh kalian adalah hal yang sia-sia, namun aku juga tidak akan melepaskan kalian," ucap Qing Ruo dengan dingin, membuat Nan Ma, Ji Jiu dan Xian Guo bergidik.
Cukup lama tempat itu menjadi hening, hinga sepuluh menit kemudian, Qing Ruo merasakan enam aura bergerak mendekati kamar itu.
" Brak...." Pintu kamar itu tiba-tiba diterjang, mengejutkan Nan Ma, Ji Jiu dan Xian Guo yang kini benar-benar telah melemah.
" Jiu er, Guo er," ucap dua sosok yang memasuki ruangan, bergerak menghampiri kedua pemuda yang sekarat itu.
" Tetua, tolong aku," ucap Nan Ma pada keempat sosok yang mengikuti kedua sosok yang menghampiri Ji Jiu dan Xian Guo.
" Tuan muda Nan Ma. Apa yang terjadi?" Salah satu tetua bergerak menghampiri Nan Ma, sambil mencoba menghentikan pendarahan dari tubuhnya.
" Tetua, sebaiknya kita pergi dulu," ucap Nan Ma lirih.
Tiba-tiba tiga tetua lainnya menyadari keberadaan Qing Ruo yang duduk di sudut ruangan sedang menikmati minumannya, menatap mereka dengan santai.
" Kamu," ucapnya dengan kesal.
" Apakah ada yang salah?" Tanya Qing Ruo.
" Bagaimana bisa kamu duduk santai, membiarkan mereka yang terluka begitu saja."
Qing Ruo terkekeh, membuat para tetua itu semakin kesal.
" Untuk apa aku menolong mereka sedangkan yang membuat mereka seperti itu adalah aku," ucap Qing Ruo santai.
" Apa! Bagaimana bisa?" Para tetua itu terkejut, bahkan kedua Patriark dan tetua yang sedang memberikan pertolongan pada Ji Jiu dan rombongannya yang terluka juga ikut terkejut.
" Tetua, jangan," ucap Ji Jiu dengan lirih.
" Tetua jangan usik dia, karena kamilah yang salah," ucap Xian Guo pada para tetua tersebut yang merupakan para pendekar semi abadi tingkat lima tahap akhir.
" Diam! Bagaimana kalian membiarkan orang yang telah menyiksa kalian seperti ini bebas begitu saja," ucap patriark klan Ji.
" Ayah, ini murni kesalahan kami. Tetua jangan menyerang tuan muda itu atau kalian juga akan menjadi seperti kami," ucap Ji Jiu sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, yang langsung membuatnya pingsan.
__ADS_1
" Jiu er, Jiu er," ucap patriark itu panik dengan kemarahan yang semakin menyala.
" Patriark Ji Huan, jangan gegabah. Jika dia lemah, mengapa dia tidak pergi," Xian Guo mengingatkan, membuat mereka yang baru tiba itu meningkatkan kewaspadaannya.
Tiba-tiba Qing Ruo berdiri.
" Baiklah karena kalian sudah datang, aku rasa urusan ini juga sudah selesai tapi dengan satu syarat, tinggalkan dua tetua ini dan kalian boleh pergi," ucapnya dengan santai.
" Kamu!" ucap patriark Ji Huan kesal, menahan kemarahannya.
" Jika demikian, serahkan juga cincin penyimpanan kalian!" ucap Qing Ruo dengan tatapan dingin.
" Ayah, jangan membantah atau pun menawar. Turuti saja atau kita benar-benar tidak bisa pergi dari tempat ini," ucap Xian Guo berbicara pada ayahnya, yang ternyata fisiknya bebih kuat dari Ji Jiu itu.
Kata-kata Xian Guo membuat tempat yang begitu tegang itu menjadi senyap.
" Aku masih memberikan kesempatan. Lakukan sekarang juga atau kalian benar-benar tidak bisa pergi dari tempat ini!" ucap Qing Ruo sekali lagi.
" Tetua turuti saja. Pemuda itu adalah-"
" Nan Ma," ucap Qing Ruo menghentikan tindakan Na Ma yang ingin menjelaskan sosoknya pada rombongan itu.
Ji Huan dan rombongannya terdiam, menatap Qing Ruo dengan tajam.
" Patriark, pemuda ini benar-benar sulit ditangani."
" Tetua benar. Jika saja kita dapat mencari informasi dari Guo er, mungkin kita tidak akan kelabakan seperti ini," ucap patriark klan Xian.
" Untuk sementara, turuti saja perintahnya. Kalian pergi dan bawa mereka yang terluka. Sisanya serahkan pada kami," ucap salah satu tetua.
" Baik," ucap Ji Huan, sambil melepaskan cincin penyimpanannya, dan diikuti oleh yang lain.
Setelah cincin penyimpanan itu terkumpul, salah satu tetua lalu menyerahkan cincin penyimpanan pada Qing Ruo.
" Tuan...." sambil memberikan cincin penyimpanan tersebut.
Dengan santai Qing Ruo, lalu meraih cincin tersebut dan menyimpannya.
" Kalian silakan pergi. Tapi ingat, jika kalian berani bermain-main denganku, maka aku akan mendatangi klan kalian dan menlenyapkan kalian semua." Dengan tatapan tajam.
Dengan perasaan dongkol, Ji Huan lalu membawa Ji Jiu dan rombongannya pergi dari tempat itu, meninggalkan dua tetua lainnya.
Setelah Ji Huan dan rombongannya pergi. Qing Ruo lalu menghampiri dua tetua yang ada di hadapannya.
" Apakah ada yang ingin kalian katakan?" Tanya Qing Ruo dengan santai.
" Tuan, siapa Anda? Lalu apa yang telah tuan muda kami lakukan sebelumnya?"
__ADS_1
" Siapa aku? Itu tidak penting. Yang perlu kalian pahami, kalian telah gagal mendidik mereka," jawab Qing Ruo dingin membuat kedua tetua itu terdiam.
" Maksud tuan?"
" Mereka bertiga telah bekerjasama ingin merampokku. Membiarkan mereka tetap hidup dan tidak mendatangi klan kalian itu adalah pengampunanku. Apakah ada lagi?"
" Tuan muda, lalu di mana para tetua yang lain?" Tanya salah satu dari mereka.
" Tetua?"
" Sebelumnya tuan muda kami telah pergi dengan para tetua tingkat rendah yang ditugaskan untuk melayani dan melindungi mereka." Tetua tersebut menjelaskan.
" Kalian juga akan menjadi seperti mereka. Sekarang menghancurkan kultivasi kalian hingga menjadi pendekar dewa tingkat rendah!"
" Tuan, anda telah menindas saudara dan tuan muda kami. Apakah itu belum cukup?" Dengan berani.
" Jiak aku tidak kuat, apakah kalian akan mengampuniku. Lagipula pihak kalianlah yang memulai."
" Tuan-"
" Jangan pernah bermain-main denganku. Lakukan sekarang juga atau kalian akan merasakan siksaanku.
Baru saja Qing Ruo selesai berkata-kata, Ji Huan dan rombongannya, bersama sepuluh penjaga keamanan penginapan memasuk ruangan.
Dua penjaga yang pernah memeriksa tempat itu sebelumnya begitu tercengang, dan tidak menyangka jika ruangan itu begitu kacau.
Qing Ruo yang tidak mengira Ji Huan akan kembali bersama pasukan keamanan penginapan hanya menggelengkan kepalanya.
" Tu-tuan, Anda...." ucap penjaga penginapan yang pernah menemui Qing Ruo sebelumnya ragu.
" Tua penjaga, apa yang ingin kalian lakukan? Ikut campur masalah ini atau menangkap mereka," ucap Qing Ruo yang kini mulai kesal.
Pertanyaan Qing Ruo membuat para penjaga keamanan itu kebingungan.
" Saudara, dia pasti sosok yang sangat kuat. Karena sangat aneh Jiak dia baik-baik saja setelah di datangi banyak tetua tingkat tinggi sebelumnya."
Pada saat mereka sedang berdiskusi melalui telepati.
" Swhus...." sosok pria paruh baya muncul di dalam ruangan.
" Apa yang telah terjadi. Mengapa kalian tidak melapor padaku?" tanya sosok itu menatap para penjaga dengan kesal.
" Tuan manajer, kami juga tidak tahu jika ada hal seperti ini. Bahkan kami baru tahu saat patriark Ji Huan dan patriark Xian Tang melapor." Sang penjaga keamanan menjelaskan..
Di hadapan mereka, Qing Ruo tiba-tiba berdiri, menantap Ji Huan, Xian Tang dan rombongannya itu dengan kesal.
" Kalian berani bermain-main denganku. Baik. Tidak ada jalan kembali!. Tuan manager, apa yang ingin tuan lakukan? Ikut campur masalah ini atau menangkap mereka." Mengulangi pertanyaannya , dengan tatapan dingin.
__ADS_1
Tindakan Qing Ruo yang begitu berani membuat sosok yang merupakan manager penginapan itu terlihat kebingungan.