
Di dalam ruangan utama Gua.
Qing Ruo, Murong Jianyu dan Hua Zhen dengan tenang menyerap kristal jiwa abadi, memperbaiki fondasi kultivasi mereka masing-masing, tanpa menghiraukan getaran ledakan yang datang dari lorong gua.
Tiga puluh menit kemudian, Qing Ruo membuka matanya, namun getaran dan suara ledakan dari lorong gua semakin kentara.
" Swhus...." aura semi abadi tingkat tiga lenyap dari tubuhnya, berganti dengan aura kaisar dewa tingkat dasar.
" Penguasa muda," ucap Murong Jianyu dan Hua Zhenmenyapa Qing Ruo yang ternyata lebih awal sudah selesai memulihkan fondasi kultivasinya.
Qing Ruo menganggukan kepala, menatap kedua sosok yang ternyata sedang mengawasinya.
" Teknik yang digunakan oleh penguasa muda Qing Ruo sangat luar biasa, bahkan menyamarkan tingkat kultivasinya tanpa cela." Hua Zhen membatin, menatap Qing Ruo dengan hormat.
" Swhus...." Dalu Rong memasuki ruangan.
" Saudara Rong, ada apa?" tanya Murong Jianyu.
" Beberapa semi abadi tingkat tiga hingga tingkat empat ingin memasuki ruangan." Menatap Qing Ruo dengan serius.
" Baik," jawab Qing Ruo bergerak meninggalkan ruangan gua, mengikuti Dalu Rong yang mendahului mereka menuju lorong gua.
" Swhus...swhus..." Qing Ruo dan rombongannya tiba di depan perisai segel air transparan.
" Saudara Ruo, lihat!" Heian Bai menunjuk tiga sosok semi abadi tingkat tiga dan dua semi abadi tingkat empat yang berada di balik dinding perisai transparan yang sedang bertempur melawan serangan formasi pedang yang menyerangnya.
Qing Ruo menganggukan kepalanya, lalu menempelkan telapak tangannya pada dinding perisai transparan tersebut.
" Trark...." Dinding transparan itu bergetar, kemudian mengubah formasi serangan pedang menjadi lebih cepat dan ekstrem, membuat kelima sosok yang merasa hampir mampu menaklukkan pedang tingkat tinggi itu menjadi panik.
" Dhuar... dhuar..." Serangan pedang menewaskan salah satu dari mereka, dan mengubahnya menjadi kabut darah.
" Argh... Mundur!" Teriak salah satu dari mereka bergerak mundur, namun tiga bilah pedang mendahului mereka dan menutup jalur pelarian mereka.
" Argh.... Sudah kehilangan banyak pasukan, bahkan harus terbunuh di tempat ini. Saudara, bawa sosok yang ada di dalam gua mati bersama kita!" teriak salah satu dari mereka, sambil mengedarkan kekuatannya untuk meledakan diri.
" Saudara," ucap Heian Bai, menatap Qing Ruo yang bahkan tidak mengendurkan serangan formasi pedang.
" Biarkan saja. Mereka menganggap lorong gua ini serapuh tanah pasir. Mari kita lihat," ucap Qing Ruo santai.
" Saudara Ruo benar, bukankah pertempuran kita sebelumnya lebih mengerikan," ucap Dalu Rong.
" Benar, tetapi teknik kehancuran diri itu memaksimalkan kekuatan langit dan bumi hingga lima kali lipat secara bersamaan. Dengan tingkat kultivasi mereka sekarang, ledakan yang akan terjadi, sama saja dengan serangan semi abadi tingkat delapan." Murong Jianyu khawatir.
" Sebenarnya mereka hanya mengancam. Lihatlah..." ucap Qing Ruo sambil menunjuk ke empat sosok yang sedang bertarung dengan frustrasi."
" Suadara Ruo benar," ucap Hua Zhen merasa heran.
" Saudara Bai, sangat tidak mungkin mereka akan mengorbankan dirinya, terlebih lagi menjadi Semi abadi bukanlah hal yang mudah. Jika saudara berada di posisi mereka, apakah saudara akan menyerah begitu saja?" tanya Qing Ruo.
__ADS_1
Heian Bai menggelengkan kepalanya.
" Aku akan menyelamatkan diriku, dengan berbagai cara," jawab sambil memperhatikan pertempuran ke empat sosok yang sedang melawan serangan formasi pedang.
" Coba lihat yang sedang mereka lakukan. Ancaman yang di lontarkan sebelumnya, itu karena mereka yakin bahwa keberadaannya telah di awasi." Qing Ruo menjelaskan.
" Dhaur... Dhuar...." tebasan pedang kembali menewaskan salah satu dari mereka, membuat ketiga pendekar yang tersisa semakin frustrasi.
Dengan tubuh yang telah terluka dan kelelahan, ketiga sosok itu kini merasa tidak memiliki pilihan, lalu membuat perisai pertahanan.
" Tuan, kami menyerah..." Teriaknya memohon, sambil menahan gempuran pedang yang terus merusak segel pertahanan yang mereka buat.
" Suadara Ruo, mereka menyerah..." ucap Dalu Rong.
Qing melepaskan tangannya pada Perisai transparan, membuat serangan formasi pedang itu sedikit melemah.
" Tetua Zun, tetua Thong, apa pendapat kalian?" Tanya Qing Ruo, membuat kedua tetua itu saling berpandangan.
" Keputusannya kami serahkan sepenuhnya Penguasa muda," ucap Hua Zun.
" Saudara Bai, Saudara Rong?" tanya Qing Ruo sambil mengitari pandangannya.
" Karena mereka juga tidak merugikan kita, menurutku sebaiknya kita lepaskan saja," ucap Dalu Rong berpendapat.
" Saudara Bai?" Tanya Qing Ruo, menatap Heian Bai yang terlihat sedang berpikir.
" Keputusannya aku serahkan sepenuhnya pada saudara Ruo," ucap Heian Bai, di ikuti anggukan Hua Zhen dan Murong Jianyu.
" Trark... " Ledakan petir muncul, membentuk tombak lalu melesat menyerang perisai pertahanan ketiga pendekar.
" Dhuar...." tombak petir itu menghancurkan perisai pertahanan ketiga pendekar tersebut, membuat pedang formasi yang siap mencabut nyawa itu melesat bebas tanpa hambatan.
" Tusk... tusk..." bilah-bilah pedang itu menembus tubuh ketiga sosok yang ada di dalam perisai pertahanan itu.
" Bhuk... bhuk..." tubuh ketiga sosok itu roboh.
" Saudara," ucap Dalu Rong merasa sedikit kecewa, membuat Heian Bai dan rombongannya terkejut heran.
" Saudara Rong, apakah ada yang salah?" tanya Qing Ruo.
" Saudara, bukankah mereka sudah menyerah. Lagipula mereka juga tidak merugikan kita," jawab Dalu Rong berpendapat.
Qing Ruo tersenyum santai.
" Saudara Rong, aku tahu mereka memang tidak merugikan kita, itu karena mereka tida dapat melewati segel perisai ini, tetapi jika mereka dapat melewati segel ini, maka akan lain ceritanya. Selain itu, aku tidak ingin membiarkan para pengecut seperti mereka untuk tetap hidup."
" Maksud Saudara Ruo?" Tanya Dalu Rong yang menginginkan penjelasan lebih.
" Saudara Rong, mereka bahkan telah mengorbankan orang-orangnya yang sudah jelas tidak memiliki kemampuan untuk menerobos dan merusak segel mantra formasi ini. Bukankah ini sangat kejam? Dan aku sangat tidak menyukai orang seperti itu. Selai itu, jika mereka memang memiliki niat yang baik dan meminta pengampunan dari awal, maka aku akan melepaskanya, tetapi mereka melakukannya di saat sudah tidak berdaya, tetapi masih berani melontarkan ancaman, dan aku adalah orang yang sangat membenci sikap seperti itu, karena itu adalah sikap pengkianat dan pengecut," ucap Qing Ruo dengan tatapan serius membuat mereka yang ada di tempat itu bergidik.
__ADS_1
Dalu Rong yang memahami penjelasan Qing Ruo, akhirnya menganggukan kepalanya.
" Sepertinya aku harus lebih banyak belajar lagi. Aku bahkan tidak dapat menyimpulkan masalah dengan baik. Bagaimana bisa mereka tetap hidup sedangkan mereka sendiri telah mengorbankan orang-orangnya sendiri," ucapnya Dalu Rong menatap Qing Ruo dengan hormat, membuat Hua Zun dan rombongannya terdiam.
" Sungguh prinsip yang luar biasa. Alasan yang diucapkan oleh penguasa muda Qing Ruo bahkan tidak terpikirkan olehku," ucap Hua Zun berbicara pada Hua Thong melalui telepati.
" Saudara Zun benar," ucap Hua Thong, menatap Qing Ruo dengan hormat.
" Tetua Zun, apakah Anda mengenal kelompok sebelumnya?"
" Berdasarkan pakaian dan teknik bertarung, besar kemungkinannya mereka berasal dari klan Gongjian," jawab Hua Zun.
" Penguasa muda tenang saja, klan Shen Gongjian adalah klan kecil, jadi jangan terlalu dipikirkan," ucap Hua Thong.
" Tetua, bukan masalah besar atau kecil, tetapi berbahaya atau tidak," ucap Qing Ruo pelan, membuat Hua Zun dan Hua Thong terdiam.
" Penguasa benar. Walaupun Shen Gongjian adalah klan kecil, tetapi mereka juga memiliki latar belakang yang kuat," ucap Hua Thong.
" Baik, sepertinya kita harus segera pergi," ucap Qing Ruo sambil membuka segel perisai mantra formasi, mengambil senjata penyusun mantra, dan mutiara jiwa dewa kelima sosok pendekar Semi abadi tingkat tiga dan tingkat empat yang telah terbunuh, dan membagikan pada Hua Thong, Hua Zun, Heian Bai, Dalu Rong, dan Hua Zhen, tetapi Hua Zhen menolak, Qing Ruo memberikan pada Murong Jianyu, tetapi dia juga menolak.
" Baik, mutiara jiwa dewa ini aku ambil, tetapi jangan menolak senjata ini," ucap Qing Ruo Sambil memberikan pedang penyusun mantra formasi pada mereka.
" Baik," jawab Heian Bai sambil meraih pedang tersebut dan membagikannya.
" Lalu bagaimana dengan ini," ucap Qing Ruo sambil menunjukkan cincin penyimpanan para pendekar tersebut.
Hua Zun dan rombongannya menggelengkan kepalanya.
" Aku rasa yang kami dapatkankan sebelumnya sudah lebih dari ukup," ucap Hua Zhen, di ikuti anggukan Heian Bai dan yang lainnya.
" Baiklah," ucap Qing Ruo lalu menyimpan kelima cincin penyimpanan tersebut.
Setelah Heian Bai selesai membagikan pedang penyusun mantra formasi yang ada di tangannya, Hua Zun lalu memimpin rombongan tersebut, bergerak meninggalkan lorong gua.
" Swhus... swhus..." mereka bergerak meninggalkan tempat itu.
" Penguasa muda," ucap Hua Zun saat mereka tiba di depan mulut gua.
Qing Ruo yang mengerti maksud Hua Zun, lalu menyegel mulut gua serta puncak gunung Bunga Es.
" Tetua, apakah ada lagi?" tanya Qing Ruo.
" Terima kasih penguasa muda. Aku rasa cukup," ucap Hua Zun, sambil menangkupkan tangannya dengan hormat, lalu memimpin rombongan itu bergerak menuju kawasan hutan salju perbatasan utara.
***
🙏🙏🙏
Masih satu bab ya kak. Selain ada kegiatan, jujur author masih belum vit dari beberapa hari ini.
__ADS_1
terima kasih. 🙏🙏🙏