
Suara ledakan yang terus bergema di pusat kota Gu Lu, membuat para pengunjung yang ada di kota itu berhamburan keluar menyelamatkan diri, termasuk Mayi Xian dan Mayi Cao yang bergerak menuju gerbang kota.
" Swhus... swhus..." Puluhan para pemuda terus berhamburan keluar melewati gerbang kota yang ternyata sudah tidak dijaga tersebut.
" Terus bergerak, kita akan menunggu di luar kota," ucap Mayi Xian.
" Baik, saudara," ucap Mayi Cao sambil bergerak.
Setelah terus bergerak, mereka lalu berhenti di hutan wilayah barat yang berjarak 5 kilometer dari Kota itu, lalu berhenti bersama puluhan pemuda lainnya.
" Sial, aku bahkan belum sempat menikmati makananku," ucap seorang pemuda menggerutu kesal.
" Setidaknya saudara sudah menyelamatkan diri," ucap pemuda yang lain menimpali.
" Ini sangat aneh, mengapa klan Yin menyerang kota ini?"
" Saudara, aku juga tidak tahu. Seharusnya kawasan ini adalah yang paling aman dari kota lainnya," jawab pemuda tersebut dengan heran.
" Apakah selama ini klan Yin sengaja membiarkan musuh memancing di air yang keruh?"
" Itu bisa saja," jawab pemuda yang lain menimpali.
Tidak jauh dari para pemuda tersebut, Mayi Xian dan Mayi Cao langsung mengabari peristiwa yang baru saja terjadi tersebut pada Qing Ruo.
" Saudara, mengenai hal ini perasaanku kurang nyaman," ucap Mayi Xian.
" Maksud saudara?" Tanya Mayi Cao dengan heran.
" Aku khawatir penguasa tidak memeriksa cincin penyimpananya,, karena berdasarkan perhitungan kita, seharusnya penguasa sudah tiba di kawasan ini," jawabnya pelan.
" Semoga saja tidak demikian," ucap Mayi Cao.
****
Di tempat lain.
Qing Ruo yang ternyata sudah berada di utara kota Gu Lu, begitu terkejut saat melihat orang-orang berhamburan pergi menyelamatkan diri.
" Ternyata kekacauan sudah di mulai," ucapnya sambil berjalan santai, lalu memasuki kedai sederhana yang tidak jauh dari tempatnya.
" Nona, aku ingin minuman terbaik," santai sambil menempati kursi yang tersedia.
" Baik tuan," jawab pemilik kedai tersebut dengan tenang.
Sambil menunggu pesanannya datang, Qing Ruo memeriksa cincin penyimpanannya.
" Ternyata Mayi Xian dan Mayi Cao sudah berada di luar kota," ucapnya pelan lalu meminta mereka agar tidak mendekati kota tersebut.
" Silakan, tuan," ucap pemilik kedai itu dengan hormat, lalu menempati kursi yang berada di depan Qing Ruo.
" Terima kasih, nona...." Menyesap minumanya dengan tenang.
" Tuan muda, apakah Anda tidak pergi?" tanya pemilik kedai itu dengan hormat, memulai pembicaraan santai mereka.
__ADS_1
Qing Ruo menggelengkan kepalanya pelan.
" Lalu nona sendiri, mengapa tidak pergi?""
Wajahnya yang cantik tampak terlihat kebingungan, lalu mata menatap langit-langit ruangan itu dengan tatapan menerawang.
" Aku yakin gerbang kota pasti sudah di tutup, tuan," ucapnya pelan, sambil sesekali mendengar suara ledakan dari pusat kota yang terus-menerus bergema.
Qing Ruo menanggukkan kepala.
" Aku juga berpikiran seperti itu. Di gerbang kota, kita akan mendapat pemeriksaan, besar kemungkinan kita akan ditahan," ucapnya dengan tenang.
" Lalu apa rencana tuan selanjutnya?" tanya gadis tersebut dengan penasaran.
" Bersembunyi di tempat ini," jawab Qing Ruo dengan tenang.
" Bersembunyi di tempat ini?" menatap Qing Ruo dengan heran.
" Benar, apakah ada yang salah?"
" Apakah tuan muda tidak bercanda?"
" Nona, menurut anda tempat yang aman itu yang seperti apa?" tanya Qing Ruo dengan santai, sambil menyesap minumannya.
" Lorong bawah tanah, ruang rahasia, dan tempat yang mendapat perlindungan khusus," jawab gadis itu dengan serius.
" Benar. Jika nona menjadi prajurit kota, apakah nona akan memeriksa kedai yang tidak memiliki perlindungan sama sekali seperti ini?"
Pertanyaan Qing Ruo membuat Gadis itu terdiam.
Qing Ruo menganggukan kepalanya.
" Untungnya pihak yang menyerang pusat kota, tidak membuat kerusakan di berbagai tempat. Jadi kita pasti aman." Sambil menikmati minumannya dengan tenang.
****
5 kilometer barat kota Gu Lu.
Mayi Xian dan Mayi Cao yang sedang menunggu di tempat itu, Tiba-tiba menerima pesan jiwa dari Qing Ruo.
" Saudara, penguasa meminta kita untuk tidak mendekati kota," ucap Mayi Xian.
" Baik, itu berarti Penguasa aman." Mayi Cao menanggapi.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba suara ledakan yang terus bergema di pusat kota itu berhenti.
" Apakah sudah usai?" tanya para pemuda itu saling berpandangan.
" Seperti demikian, namun kita tidak boleh mendekat, hingga kota itu benar-benar tenang..." ucap Mayi Xian.
****
Di dalam kedai.
__ADS_1
Qing Ruo duduk dengan tenang, ditemani gadis pemilik kedai, berbincang-buncang santai.
" Tuan muda, sepertinya pertempuran telah usai..."
" Sepertinya demikian, tapi kita juga belum bisa bergerak bebas, karena pihak yang memenangkan pertempuran akan melakukan pemeriksaan di setiap tempat, untuk memastikan keadaan."
" Tuan muda, benar," ucapnya pelan, menatap Qing Ruo dengan kagum.
" Sangat tenang, sangat cerdas. Siapa tuan muda ini sebenarnya..." Membatin sambil menikmati minumannya.
" Tapi, apakah nona tidak kembali ke istana?" tanya Qing Ruo tiba-tiba, mengejutkan gadis tersebut.
" Maksud tuan?" tanya gadis pemilik kedai itu dengan heran.
" Orang lain mungkin tertipu, tetapi tidak dengan diriku. Apakah aku harus memanggil Anda putri?" tanya Qing Ruo sekali lagi, membuat gadis tersebut semakin terkejut.
" Tuan muda, jangan bercanda," ucapnya dengan serius.
Qing Ruo terdiam sesaat, lalu menatap gadis tersebut dengan lekat.
" Gadis pemilik kedai dengan kekuatan semi abadi tingkat dua yang sangat tenang. Aku tidak tahu untuk berapa tahun nona mampu mengumpulkan pendapatan hingga dapat membayar empat pendekar semi abadi tingkat delapan tahap menengah yang bersembunyi di empat arah mata angin yang berbeda," ucapnya tersenyum santai.
" Kamu!" Bergerak mundur, menjaga jarak dengan Qing Ruo.
Qing Ruo hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum santai.
" Putri, reaksi Anda sangat lucu, bukankah sepanjang waktu kita bersama, lalu mengapa reaksi anda seperti itu?"
" Tuan, siapa anda sebenarnya?" Dengan tatapan tajam.
" Putri, aku hanya pengembara yang kebetulan melewati kota Gu Lu. Duduklah, lagipula jika aku memang berniat jahat, bukankah dari awal aku sudah bisa melakukannya?"
Gadis pemilik kedai itu akhirnya menempati kursi yang berada cukup jauh dari Qing Ruo, namun kini sikapnya penuh dengan kewaspadaan.
" Putri, Aku Qing Ruo...." Memperkenalkan diri sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.
" Shen Guoshi Qing..." ucap gadis itu menatap Qing Ruo dengan lekat.
" Orang-orang menyebut kami demikian," ucap Qing Ruo dengan ramah.
" Tuan muda Qing Ruo, jauh-jauh dari selatan datang ke utara. Apa tujuan tuan sebenarnya?" dengan sikap waspada.
" Putri, sudah aku katakan sebelumnya. Aku sedang mengembara," jawab Qing Ruo dengan tenang.
" Tuan muda, segera tinggalkan kota ini. Anda tidak dapat di terima oleh penduk kota Gu Lu, bahkan Klan besar sekalipun," ucap gadis itu dengan serius.
Qing Ruo terdiam.
" Tetua Yanshi Gong benar. Orang-orang gerbang es hitam sangat tidak senang dengan orang asing. Jika tidak karena takut atau segan, mungkin gadis ini sudah membuat ulah," batinnya.
" Putri, aku memang akan pergi, tetapi situasinya sedang tidak memungkinkan," ucap Qing Ruo sambil menggelengkan kepalanya.
" Tapi itu bukan urusanku, jika mereka tahu aku melindungi seorang Qing, maka aku akan benar-benar mengalami kesulitan," ucapnya dengan serius.
__ADS_1
Belum sempat Qing Ruo berbicara, tiba-tiba, keempat sosok semi abadi tingkat delapan yang melindungi gadis tersebut, muncul di dalam ruangan itu.
" Putri," ucap mereka menyapa gadis itu dengan hormat, menatap Qing Ruo dengan tajam.