Sang Penguasa

Sang Penguasa
121. Memasuki Gunung Bei Tian.


__ADS_3

Setelah bergerak sepanjang waktu, Qing Ruo akhirnya tiba di gerbang Utara kota.  Di tempat itu, Qing Ruo mendapat pemeriksaan langsung dari Komandan pasukan dan lima  prajurit jaga.


Dengan  tenang, Qing Ruo lalu menjelaskan tujuannya yang akan bergerak menuju utara, serta menanyakan rute yang aman untuk melewati rantai pengunungan Tian Bei tersebut.


" Tuan,  lima kilo  meter dari gerbang kota ini adalah Padang rumput yang luas. Tuan muda langsung saja bergerak lurus menuju kaki gunung. Di sana, tuan dapat menemui klan Yindao yang berada kawasan itu  yang akan  memandu tuan melewati gunung Tian Bei dengan melewati rute yang aman."


" Apakah harus menggunakan pemandu?"


" Benar tuan,  karena ada jalur-jalur tertentu yang tidak boleh di lewati oleh sembarang orang, terutama pendekar..." Komandan pasukan itu menjeda kata-katanya, menatap Qing Ruo dengan penuh arti.


" Baik komandan. Terimakasih penjelasannya. Tapi apakah ada jalur lain, yang dapat digunakan selain melewati Gunung Tian Bei?"


" Ada tuan, kota Wei. tapi Anda harus pergi ke arah timur, delapan hari perjalan dari kota ini..." ucap sang komandan.


Qing Ruo terus kecut.


" Jika demikian, aku akan melewati gunung Tian Bei saja," ucap Qing Ruo dengan ramah.


" Baik tuan muda. Semoga perjalanan anda menyenangkan," ucapnya, sambil  meminta prajurit untuk membuka gerbang kota.


" Terima kasih Komandan," ucap Qing Ruo dengan ramah, sambil memberikan cincin Penyimpanan yang berisi tujuh butir anggur bumi abadi,  lalu melewati gerbang kota.


Setelah Qing Ruo benar-benar pergi dan meninggalkan gerbang utara, sang komandan lalu memeriksa cincin penyimpanan yang diberikan oleh Qing Ruo padanya.


" Terima kasih tuan." Sang komandan membatin, lalu membagikan masing-masing satu butir pada prajurit, sedang dirinya mendapat dua butir. Mendapat sumberdaya langka membuat kelima prajurit itu begitu heboh, membuat beberapa pemuda yang terus mengikuti Qing Ruo semakin bersemangat.


" Dia benar-benar kaya. Lihat saja. Dia bahkan memberikan sumberdaya langka pada komandan dan prajurit jaga itu."


" Bagaimanapun caranya, kita harus mendapatkan semua harta yang dimilikinya..."


" Benar, tunggu apalagi. Aku tidak ingin kita kehilangan jejaknya." Bergerak mendekati gerbang kota.


****


Di luar gerbang kota.


Qing Ruo, bergerak meninggalkan tempat itu dengan tenang. Dia yakin tindakannya yang memberikan buah anggur bumi abadi pada komandan pasukan, pasti semakin menarik perhatian kelompok tersebut.


Sepanjang jalan menuju klan Yindao, Qing Ruo terus melangkahkan kakinya tanpa menoleh sekali pun, membuat kelima pemuda yang mengikutinya tersebut semakin yakin jika Qing Ruo benar-benar tidak menyadari kehadirannya.


Suasana  sore membuat pemandangan di padang rumput itu begitu indah,  membuat Qing Ruo tiba-tiba menghentikan kakinya, sehingga tindakannya itu mengejutkan para pendekar yang sedang mengikutinya.


" Saudara," ucap pemimpin kelompok langsung merebahkan diri, bersembuyi diantara rumput tinggi yang diikuti oleh rombongannya, membuat Qing Ruo yang dari awal telah menyadari keberadaannya menahan tawa.


Sambil menahan tawa, Qing Ruo Kembali melangkahkan kakinya menuju pemukim klan Yindao  yang berada di kaki gunung.

__ADS_1


Tiga kilometer kemudian, Qing Ruo mulai melihat pemukiman klan Yindao yang  begitu terbuka di kawasan Padang rumput hijau, yang terlihat seperti pasar terbuka.  


Tidak lama kemudian, Qing Ruo akhirnya tiba.  Di tempat itu,  Qing Ruo dapat merasakan beberapa sosok pendekar Semi abadi tingkat dasar hingga tingkat tiga, membaur bersama para penduduk klan yang berlalu lalang.


Lima menit kemudian, dari arah belakang, Qing Ruo kembali merasakan aura para pemuda tersebut bergerak mendekatinya.


Sebenarnya Qing Ruo bisa saja menakuti mereka dengan melepaskan aura pendekar tingkat tinggi, namun Qing Ruo tidak ingin melakukannya, apalagi melepaskan kelompok culas itu begitu saja. Selain itu, alasan lainnya karena para pemuda itu berasal dari klan Dewa, sehingga dirinya dapat memanfaatkan kelompok tersebut untuk melewati gunung Tian Bei.


Di jalanan terbuka tersebut. Beberapa pemuda, yang merupakan para pendekar tingkat raja dewa hingga tingkat kaisar, menghampiri Qing Ruo menawarkan jasa menjadi pemandu untuk melewati gunung Tian Bei, serta tempat penginapan, di kawasan klan, namun di tolak Qing Ruo dengan halus.


" Saudara-saudara, aku sudah biasa melewati tempat itu," ucapnya memberi alasan, sehingga membuat para pemandu itu menjauh.


" Oh baiklah," ucap mereka dengan wajah kecewa.


" Saudara, sekali lagi maaf," ucap Qing Ruo saat melihat kekecewaan dari wajah mereka. 


Di tempat itu, Qing Ruo dapat  melihat anak-anak, hingga para remaja,  berlalu lalang, bermain gembira dengan tingkat kultivasi yang beragam, mulai dari pendekar tingkat bumi, tingkat langit, tingkat raja, hingga tingkat spiritual, bahkan pendekar dewa tingkat rendah, mengingatkan Qing Ruo pada masa kecilnya yang bahkan tidak sempat bermain seperti anak-anak yang ada di jalanan tersebut.


" Hais, pikiran bodoh apalagi ini..." membatin sambil menggelengkan kepalanya.


Setelah terus berjalan, dan melewati  pemukiman Klan Yindao yang sangat luas  tersebut, Qing Ruo  akhirnya tiba di kaki gunung Tian Bei.


" Tuan muda, hari telah sore dan sebentar lagi malam.  Apakah tidak menginap dan menunggu besok pagi saja," ucap pria paruh baya yang sedang  duduk beristirahat di bawah pohon raksasa, menyapa Qing Ruo dengan ramah.


" Tetua, aku sedang terburu-buru," ucap Qing Ruo dengan hormat dan ramah.


" Baik tetua. Terima kasih," ucap Qing Ruo menangkupkan tangannya dengan hormat, lalu mulai menapakan kakinya memasuki kawasan gunung tersebut.


" Sebenarnya rahasia apa yang dimiliki oleh gunung ini,  sehingga begitu banyak aturan untuk melewatinya," Qing Ruo membatin sambil terus melangkahkan kakinya.


Tiga puluh menit kemudian, mata hari mulai memasuki peraduannya, membuat hutan gunung  Tian Bei  yang di  tumbuhi pohon-pohon raksasa itu menjadi gelap.


Penasaran dengan keanehan tempat itu. Qing Ruo mencoba bergerak dengan mengedarkan kekuatannya,  sambil bergerak  terbang rendah di antara pohon-pohon raksasa. Namun tiba-tiba dirinya merasakan ratusan mata menatap ke arahnya. yang memaksanya untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.


Setelah bergerak selama tiga kemudian, Qing Ruo lalu berhenti di bawah pohon raksasa, beristirahat di tempat itu sambil mengamati keadaan sekitar.


" Kekuatan yang sangat misterius. Ini baru kawasan luar, bagaimana dengan bagian dalam." Qing Ruo membatin, membuatnya berpikir ulang untuk menggunakan tenaga para pemuda yang terus mengikutinya tersebut.


Lima menit kemudian, Qing Ruo mulai merasakan kehadiran lima pendekar tingkat kaisar dewa, yang terus bergerak mengikutinya.


" Mereka benar-benar nekat." Qing Ruo membatin, lalu dengan sengaja menunjukan jejak auranya. Setelah memastikan kelompok tersebut dapat merasakan keberadaannya, Qing Ruo lalu bergerak melanjutkan perjalanannya.


Dari jauh Qing Ruo mulai dapat mendengar percakapan mereka yang seperti berlari.


" Saudara, dia ada di depan."

__ADS_1


" Benar. Ini adalah kesempatan kita..." Sambil bergegas mengejar Qing Ruo.


Tidak lama kemudian, mereka melihat sosok Qing Ruo yang berjalan di dalam kegelapan dengan santai.


" Sepertinya dia masih belum menyadari kehadiran kita."


" Benar." sambil terus bergerak, hingga mereka berada dalam jarak lima meter.


" Siapa Kalian. Apa yang ingin kalian lakukan?" Berpura-pura ketakutan.


Melihat reaksi Qing Ruo yang begitu ketakutan membuat para pemuda tertawa terbahak-bahak.


" Nak, kamu tersesat. Sebelum dimakan oleh hewan buas, biarkan kami mengamankan sumberdaya yang kamu miliki." Menatap Qing Ruo dengan seringai dingin.


" Kalian ingin merampokku?"


" Nak, itu terlalu kasar, karena kami meminta. Jika kami menyerang dan mengambil dengan paksa, itu namanya merampok..." sambil terus bergerak mendekati Qing Ruo.


" Tapi bagaimana jika aku tidak mau..."


" Maka kami akan mengambil dengan paksa." Mengepung Qing Ruo, sambil tertawa terbahak-bahak.


" Baiklah, bagaimana jika aku yang meminta sumberdaya yang kalian miliki," ucap Qing Ruo dengan santai, membuat kelima pendekar muda itu tertawa terbahak-bahak. Namun mereka tiba-tiba merasakan lingkaran kekuatan yang begitu lauar biasa keluar  dari tubuh Qing Ruo,  membuat mereka langsung berkeringat dingin.


" Semi abadi tingkat tinggi," ucap pemimpin kelompok tersungkur, dan berlutut.


" Tu-tuan, kami...."


" Aku bukan tuan kalian. Jadi serahkan semua yang kalian miliki!" ucap Qing Ruo dengan dingin.


"  Ta-tapi tuan."


" Hancurkan kultivasimu sekarang. Jika aku yang melakukannya, maka aku akan melepaskan kulit dari tubuhmu secara perlahan."


" Oh tidak. Tuan apakah ini tidak biasa dibicarakan lagi. Aku mohon tu-"


" Sebelum kamu begitu banyak bicara. Kamu,  hancurkan kultivasinya, lalu patahan kedua tangan dan kakinya. Jika tidak aku akan mengulitimu," ucap Qing Ruo dengan dingin, sambil menunjuk salah satu dari mereka.


Ancaman yang dilontarkannya oleh Qing Ruo langsung di tanggapi oleh  pemuda tersebut, yang tanpa pikir panjang, lalu berdiri menghampiri pimpinan kelompok tersebut, dan menyerang Dantiannya. 


" Saudara, maaf," ucapnya sekali lagi, lalu mematahkan kedua tangan dan kakinya, membuat pemimpin kelompok itu meraung kesakitan.


" Akh...." teriaknya berguling-guling kesakitan.


Dengan tubuh tanpa kekuatan, disiksa seperti itu membuat pemimpin kelompok itu benar-benar membasahi dirinya.

__ADS_1


" Teruslah bersuara, memanggil hewan buas kemari," ucap Qing Ruo santai, membuat sosok itu terdiam.


__ADS_2