Sang Penguasa

Sang Penguasa
92. Kesepakatan bersama Hua Zuigao.


__ADS_3

Cukup lama Qing Ruo terdiam, menatap kedua sosok yang mematung dan salah tingkah di hadapannya tersebut.


" Patriark, tetua Agung, kerjasama seperti apa yang Anda berdua inginkan?" tanya Qing Ruo dengan wajah serius, membuat Hua Zuigao dan Hua Zhanglao merasa tidak nyaman.


" Pengusaha muda apakah hal ini tidak dapat dibicarakan di tempat lain. Atau kita mencari tempat yang lebih nyaman," ucap Hua Zhanglao.


" Tetua agung, tempat tidak mempengaruhi kualitas percakapan, tetapi inti yang ingin disampaikan dalam percakapan itu sendiri yang  mempengaruhi kualitas percakapan tersebut. Lagipula, sesuatu yang penting, seharusnya disampaikan dengan jelas. Semakin banyak Anda berbasa-basi, maka semakin rendah kualitasnya percakapan itu..."


" Penguasa muda, kami memerlukan bantuan anda untuk membangun kembali kekuatan Shen Guoshi Hua. Namun mengingat  bagaimana tindakan kami sebelumnya, kami merasa malu, terlebih lagi kami tidak memiliki alasan yang kuat untuk dapat meyakinkan anda melakukan hal itu kepada kami," ucap Hua Zhanglao dengan jujur.


" Lalu kerjasama yang ada maksud sebelumnya?" Tanya Qing Ruo.


" Kami siap membantu anda untuk melawan Luo Liang," ucap Hua Zuigao dengan serius.


Melihat Qing Ruo masih terdiam membuat Hua Zhanglao kembali berbicara. 


" Penguasa muda, saat ini kami tidak dapat memberikan jaminan apapun, namun kami berjanji bahwa kami..." Hua Zhanglao menghentikan kata-katanya saat melihat Qing Ruo mengeluarkan lencana giok jiwa.


" Aku percaya dengan kesungguhan kalian," ucapnya sambil memberikan cincin penyimpanan serta lencana giok jiwa tersebut.


" Penguasa muda,  maksud Anda ini?" tanya Hua Zuigao menatap Qing Ruo dengan bingung.


" Aku menerima usulan kalian," ucap Qing Ruo, membuat wajah Hua Zuigao dan Hua Zhanglao menjadi begitu cerah.


" Penguasa muda, Terima kasihku. Kami berdua berjanji tidak akan mengecewakan Anda," ucap Hua Zuigao.


" Maka terimalah," ucap Qing Ruo memberikan cincin penyimpanan dan lencana giok jiwa yang  masih berada ditangannya.


" Baik penguasa muda," ucap Hua Zuigao menerima kedua benda tersebut dengan penuh semangat


" Terima kasih penguasa muda..." Ucap Hua Zhanglao yang  terlihat begitu bahagia.


" Baik karena urusan kita telah selesai, maka aku mohon undur diri. Harapanku, patriark dan tetua dapat membangun kembali kekuatan Shen Guoshi Hua," ucap Qing Ruo sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.


Hua Zuigao dan Hua Zhanglao yang merasa sudah tidak dapat memaksa Qing Ruo untuk tetap tinggal, hanya bisa menganggukkan kepala.


" Penguasa muda, sekali lagi terima kasih. Mulai hari ini, aku Hua Zuigao akan mengingat kebaikan anda, dan berjanji melakukan yang terbaik untuk membantu Anda." Sambil memberikan lencana emas Klan  Hua.


" Patriark, tetua agung, terima kasih," ucap Qing Ruo, sambil  menerima lencana emas klan Hua tersebut dan menyimpannya.


" Penguasa muda, sebelum Anda benar-benar pergi, apakah ada sesuatu yang ingin anda sampaikan?"


Qing Ruo menggelengkan kepalanya.


" Aku rasa semuanya sudah jelas. Patriark, tetua agung, aku pergi," ucapnya sambil menangkupkan tangannya dengan hormat, lalu  meninggalkan tempat itu.


" Penguasa Muda, sampai jumpa. Senang bekerja sama dengan Anda," ucap Hua Zuigao, sambil menangkupkan tangannya, menatap kepergian Qing Ruo yang meninggalkan mereka dengan hormat.

__ADS_1


***


Di tempat lain.


Aula istana kota Hua.


Ratusan tetua tingkat tinggi hingga tingkat rendah yang berada di dalam ruangan itu tampak gelisah, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Kecemasan mereka semakin memuncak saat Hua Liung dan Hua Huan kembali, tetapi tidak bersama Hua Zuigao dan Hua Zhanglao.


" Saudara Liung, bagaimana?" tanya salah seorang tetua dengan penasaran.


" Biar Patriark dan tetua agung yang mejelaskan," ucapnya dengan wajah kecewa, sambil mengarahkan pandangannya pada  Hua Zhen dan rombongannya.


" Hua Zhen, sampai kapan kalian akan menunggu," ucap Hua Huan dengan wajah kesal.


" Huan, jaga sikapmu. Bukankah kita semua diperintahkan untuk tidak meninggalkan tempat ini," ucap Hua Kai dengan berani, membuat Hua Huan terdiam.


" Cukup, jangan saling menyalahkan," ucap Hua Thong, membuat ketegangan itu mereda dan tenang kembali.


" Kakak, apakah  penguasa muda Qing Ruo akan kembali?" tanya Hua Diu, yang berada di sisi Hua Zhen, yang kini sudah duduk di kursi emas.


" Diu er, aku juga belum tahu. Melihat karakternya, kemungkinan besar dia tidak akan kembali," Jawab Hua Zhen dengan jujur, sambil mengarahkan pandangannya pada Hua Zun dan Hua Thong.


" Tuan muda benar,  semoga saja Patriark dan tetua agung dapat mengubah pikirannya," ucap Hua Zun.


Lima belas  menit kemudian. Hua Zuigao dan Hua Zhanglao akhirnya kembali. Kedatangan mereka berdua tanpa Qing Ruo membuat ruangan itu benar-benar menjadi hening.


" Duduklah," ucap Hua Zuigao menganggukan kepalanya,  mempersilakan mereka duduk pada kursinya masing-masing.


" Tetua agung," ucap Hua Zuigao, mengarahkan pandangannya pada Hua Zhanglao.


" Baik," ucap Hua Zhanglao lalu berdiri dari kursinya, mengarahkan pandangannya pada semua orang.


" Swhuss..." Lencana giok hijau dan cincin penyimpanan tingkat dewa muncul, mengambang di hadapannya, mengejutkan semua orang.


" Mulai malam ini, hingga selanjutnya, Penguasa muda Qing Ruo resmi menjadi  tuan kita. Itu artinya kita harus siap dan  mendengarkan perintahnya. Sebagai Klan Dewa Kuno, kita tidak perlu malu akan hal itu, karena  itulah kenyataannya. Ini adalah lencana giok khusus, serta sumberdaya yang diberikan olehnya," ucap Hua Zhanglao dengan penuh semangat, mengejutkan semua orang.


Tampak Hua Zhen dan rombongannya begitu bersemangat, namun beberapa tetua masih ragu dengan keputusan tersebut.


" Patriark, tetua Agung, apakah ini sepadan?" Tanya seorang tetua memberanikan diri.


" Tentu saja. Bantuan yang diberikan oleh penguasa Muda Qing Ruo bahkan mampu membuat pasukan khusus kita menjadi lebih kuat, bahkan  hingga empat sampai lima kali lipat," Jawa Hua Zhanglao.


" Swhus...swhus..." muncul lima puluh   peti, yang berisi dua ratus  buah-buahan abadi, dan sepuluh peti lain yang berisi senjata, dan obat-obatan tingkat tinggi, membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu ternganga.


" Sumberdaya ini bahkan bisa membangun klan baru," ucap Hua Kai takjub.


" Ini lebih dari sepadan," ucap Hua Zun dan rombongannya.

__ADS_1


" Tetua agung, para tetua. Aku serahkan urusan ini pada kalian. Ingat, mulai sekarang untuk membangun kekuatan kita," ucap Hua Zuigao yang tiba-tiba berdiri dari duduknya, meninggalkankan ruangan itu.


" Baik patriark," jawab Hua Zhanglao dengan hormat.


Setelah Hua Zuigao meninggalkankan ruangan itu, Hua Zhanglao mulai mengarahkan  para tetua, dan membagikan sumber daya yang ada di hadapannya sesuai dengan kebutuhan kediaman mereka.


***


Di tempat lain.


Qing Ruo terus melangkahkan kakinya menuju gerbang timur, untuk menemui Hu Shan dan rombongannya yang sudah menunggu di luar benteng kota.


Setelah cukup lama berjalan, Qing Ruo akhirnya tiba di gerbang benteng tersebut.


" Komandan," ucapnya sambil melaporkan tujuannya.


" Baik tuan," ucap komandan tersebut sambil membuka gerbang benteng. Silakan..."


" Terima kasih," ucap Qing Ruo sambil menangkupkan tangannya dengan hormat, lalu melewati  gerbang enteng kota tersebut dengan tersenyum santai.


" Hua Zuigao," ucap Qing Ruo santai sambil merasakan keradaan lencana giok  jiwa yang dia berikan sebelumnya, muncul di sekitar tempat itu.


Setelah bergerak sejauh seratus meter.


" Swhus...." Qing Ruo melesat, meninggalkan benteng tersebut dengan kecepatan puncaknya.


Dari jauh, sepanjang mata yang mengawasi pergerakan Qing Ruo, lalu menghampiri komandan pasukan.


" Patriark," ucap sang komandan sambil berlutut  dengan hormat.


" Bangunlah. Jika kalian bertemu lagi dengan sosok sebelumnya, segera berlutut dan memberi hormat penuh padnya," Hua Zhanglao menjelaskan.


" Maksud patriark?" tanya sang komandan pasukan dengan heran.


" Apakah kalian mengabaikan dan meragukannya karena tingkat kultivasinya yang rendah?" tanya Hua Zuigao.


" Benar, tapi patriark siapa dia sebenarnya?" tanya sang komandan.


" Kekuatannya lebih tinggi dariku, bahkan kedudukannya hampir sama denganku. Selain itu, di baru saja memberikan bantuan yang bahkan tidak mampu klan Hua  lakukan,"  ucap Hua Zuigao menjelaskan, membuat beberapa komandan pasukannyan yang ada di tempat itu terkejut. Mereka tidak menyangka jika sosok Qing Ruo yang menggunakan aura kultivasi pendekar tingkat  kaisar dewa itu ternyata adalah sosok yang lebih kuat dari pemimpin kota mereka.


" Baik patriark," jawab sang komandan dengan hormat.


Setelah menyampaikan beberapa hal penting pada sang komandan, Hua Zuigao lalu kembali ke istana kota.


.🙏🙏🙏


maaf hanya bisa satu chapter.

__ADS_1


terima kasih. 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2