
Kata-kata Qing Ruo tersebut langsung menarik perhatian semua orang, membuat mereka berhenti dan mulai mengerumuni tempat itu.
" Pemuda ini benar-benar berani. Apakah dia ingin melanggar aturan kota ini." Beribisik dengan sesama pejalan yang ada di tempat itu.
Di hadapan mereka. Kedua pemuda yang tampak kelabakan tersebut berusaha mendramatisir suasana.
" Saudara jangan bercanda. Apakah suadara ingin membuat keributan di tempat ini?"
" Aku sudah memperingatkan kalian dari awal. Jangan menggangguku. Tapi kalian menganggap peringatanku sebagai angin lalu."
" Saudara, kami-"
" Sejaka kapan aku menjadi saudara kalian?" ucap Qing Ruo dengan tatapan dingin.
" Gege," ucap Qing Ling sambil meraih tangan Qing Ruo, dan menggenggamnya dengan erat.
" Tuan-tuan, apakah kalian mengenal suamiku?" Tanya Qing Ling, menatap kedua pemuda tersebut dengan tajam.
Pertanyaan itu membuat kedua sosok itu saling berpandangan, dan terlihat kelabakan.
" Nyonya, tentu saja. Suami Anda adalah teman perjalanan kami yang baik. Jadi kami ingin mengundangnya dan Anda untuk makan bersama di restoran penginapan Hua Bing," ucap pemuda tersebut mencoba menutup kegugupannya.
" Jika demikian apakah tuan- tuan tahu namanya?" Dengan tatapan tajam. Bahkan membuat beberapa pejalan yang mulai berkumpul di tempat itu semakin penasaran.
" Nyonya, tentu saja kami tidak tahu, karena-"
" Tidak tahu, itu berarti tuan-tuan memang ingin mengganggu kami. Jadi apakah tindakan seperti ini bisa dilaporkan pada pihak keamanan kota?" tanya Qing Ling pada orang-orang yang singgah di tempat itu.
Kata-kata Qing Ling membuat kedua pemuda itu begitu ketakutan.
" Benar nyonya, tindakan mereka bisa dilaporkan pada pihak keamanan kota," jawab beberapa pemuda.
" Oh tidak," ucap kedua pemuda itu panik, karena mereka memang tidak dapat memberi alasan lagi.
Tidak lama kemudian, satu prajurit keamanan kota yang terdiri dari dua puluh orang, tiba di tempat itu.
" Tuan-tuan, ada apa?"
" Prajurit, kedua pemuda ini terus mengikuti kami dan ingin menindas kami," ucap Qing Ling, yang di benarkan oleh beberapa pemuda yang ada di tempat itu.
Kedatangan prajurit tesebut membuat kedua pemuda itu semakin kelabakan.
" Saudara, apa yang harus kita lakukan?"
" Tetap bersikap tenang. Jika kita kabur, itu akan membenarkan tindakan kita."
" Tapi bagaimana...."
" Saudara, tenanglah." sambil berusaha bersikap santai.
Kemunculan prajurit itu membuat Qing Ling yang berusaha menenangkan Qing Ruo yang siap mengamuk itu akhirnya sedikit lega.
__ADS_1
" Prajurit, amankan mereka. Jangan sampai suamiku mengamuk di kota kalian," ucap Qing Ling berbicara melalui telepati pada prajurit tersebut dengan serius.
" Baik Nyonya." Saat menatap Qing Ruo yang tampak tenang namun dengan tatapan dingin tersebut.
Sang prajurit yang langsung menanggapi permintaan Qing Ling lalu menghampiri kedua pemuda tersebut.
" Tuan-tuan, ikut kami," ucapnya dengan tegas.
" Tuan, Nyonya, untuk memberikan keterangan pada kami, kalian juga ikut," ucap prajurit itu dengan ramah.
" Baik," jawab Qing Ling.
Tanpa melakukan perlawanan, kedua pemuda itu lalu pergi bersama beberapa prajurit tersebut.
" Tuan-tuan, maaf membuat keributan di tempat ini," ucap Qing Ling meminta maaf, lalu membawa Qing Ruo meninggalkan tempat itu, mengikuti prajurit yang telah menunggu mereka.
Di sisi Qing Ling, Qing Ruo yang memang sedang mengendalikan emosinya, terus melangkahkan kakinya.
" Ling er, terima kasih," ucapnya pelan berbicara pada Qing Ling melalui telepati.
Qing Ling menganggukkan kepalanya, sambil mengeratkan genggaman tangannya.
" Gege, tenangkan dirimu. Ini adalah kota penguasa agung utara. kita akan benar-benar mendapatkan masalah jika kita membuka keributan di tempat ini, lagi pula masalah ini juga sudah ditangani," ucapnya lembut.
" Ini adalah alasan mengapa aku tidak ingin menoleransi gangguan sekecil apapun, karena jika bersikap lunak, masalahnya akan berbuntut seperti ini."
" Aku tahu. Tapi ini bukanlah kota kecil di mana kita bisa bertindak dengan sembarangan," jawab Qing Ling terus menasehatinya.
" Terima kasih gege sudah memikirkan hal itu," ucapnya dengan lembut.
" Tapi rencana kita hari ini harus terganggu karena masalah kecil ini."
" Tenanglah, setelah masalah ini selesai, kita juga masih bisa melanjutkannya."
Di hadapannya Qing Ruo dan Qing Ling
Ke dua pemuda itu terus melangkahkan kakinya mengikuti prajurit, tanpa berani menoleh pada Qing Ruo dan Qing Ling yang berada di belakangnya.
Tidak lama kemudian, mereka akhirnya tiba di aula kehakiman kota Heian.
" Tuan-tuan, silakan," ucap prajurit mempersilakan Qing Ruo dan Qing Ling, serta kedua pemuda itu memasuki aula tersebut.
" Baik, tuan," jawab Qing Ruo dan Qing Ling bersamaan.
****
Di dalam Aula.
Di kursi utama, duduk seorang pria paruh baya, yang merupakan pendekar semi abadi tingkat lima, menatap kedatangan Qing Ruo dan rombongannya dengan tajam.
Tidak lama kemudian. Prajurit yang membawa Qing Ruo dan rombongannya lalu melaporkan situasi yang terjadi di jalanan kota sebelumnya dengan rinci.
__ADS_1
" Baik," ucapnya sambil meminta prajurit itu pergi, lalu mengarahkan pandangannya pada Qing Ruo dan rombongannya.
" Membuat pelanggaran di dalam kota. Apakah kalian tidak mendapatkan buku petunjuk dasar dari prajurit penjaga gerbang kota?" tanya sang hakim dengan tatapan tajam.
" Kami dapat yang mulia." Jawab Qing Ruo.
" Lalu kalian?" tanya sang hakim pada kedua pemuda tersebut.
" Dapat yang mulia," jawab mereka gugup.
" Itu berarti kalian sudah tahu hukumannya. Menggangu ketenangan dan kenyamanan bersama, hukumannya adalah membayar denda lima puluh juta kristal jiwa abadi dan mendapat hukuman kurungan satu bulan dengan bekerja di dalam tambang perak penguasa agung," ucapnya dengan tegas.
" Baik, aku ingin mendengar laporan dari kalian. Kamu," ucapnya memberikan kesempatan pertama pada Qing Ruo.
" Baik yang mulia, terima kasih. Aku tidak tahu apa tujuan mereka yang terus-menerus mengikutiku. Hal itu dimulai dari kota Bao, hingga aku tiba di kota ini,' ucap Qing Ruo menjelaskan masalah tersebut dengan rinci.
Sang hakim menganggukan kepalanya, lalu menatap kedua pemuda tersebut.
" Apa sanggahan kalian mengenai hal ini?"
" Yang mulia, kami tidak bermaksud demikian. Tujuan awal kami adalah ingin menjalin pertemaman dengan saudara ini, karena di adalah teman dari tuan muda Bao Teng," jawab salah satu pemuda menjelaskan.
Sang hakim terdiam. Menatap Qing Ruo dengan lekat.
" Tuan muda, sanggahannya."
" Yang mulia, mereka bahkan mengancamku. Dan bertindak seolah-olah aku ini adalah tawanan mereka. Apakah ada pertemanan yang seperti itu? Selain itu, masih ada tiga orang lainnya yang kini masih berada di penginapan Hua Bing," jawab Qing Ruo.
" Saudara, jangan melebih-lebihkan sesuatu yang tidak ada. Apalagi saudara terkesan bengitu membenci kami."
Qing Ruo mengarahkan pandangannya pada sang hakim, tanpa menghiraukan kedua pemuda tersebut.
" Yang Mulia, aku sudah menjelaskan masalah ini. Silakan yang mulia memutuskan."
" Yang mulia, karena dari awal kami juga tidak ingin membuat masalah di kota ini. Mohon untuk memutuskan masalah ini dengan adil," ucap pemuda tersebut yang juga ikut berbicara.
Sang hakim terdiam. Menatap Qing Ruo dan kedua pemuda itu secara bergantian.
" Masalah ini terlalu bias. Untuk memberikan keadilan. Aku akan melepaskan kalian, namun dendanya aku naikan satu kali lipat. Jadi denda perorang menjadi seratus juta kristal jiwa abadi," ucapnya tegas.
Qing Ruo menganggukkan kepalanya.
" Baik, tapi setelah ini aku tidak bisa menjamin dapat menahan diri. Sebelumnya aku terus menahan diri karena aku menghormati Penguasa agung Utara." Sambil menyerahkan cicin Penyimpanan yang berisi dua ratus juta kristal jiwa, membuat sang hakim dan semua orang yang ada di dalam ruangan itu terdiam.
" Saudara, dia dengan begitu mudah menyerahkan uang yang sangat banyak itu. Benar-benar kaya," ucap prajurit yang berada di dalam ruangan itu dengan takjub.
" Dia ternyata sangat kaya. Tujuanku memberikan hukuman itu dengan harapan mereka tidak mampu membayar denda tersebut, agar aku bisa memasukkan mereka ke dalam penjara." Sang hakim membantin, sambil menatap kedua pemuda yang tampak begitu kelabakan.
" Yang Mulia, apakah masalah ini sudah selesai?"
" Tentu saja," jawab sang hakim dengan ramah.
__ADS_1
" Baik Yang mulia, kami pergi," ucap Qing Ruo sambil menangkupkan tangannya dengan hormat, lalu membawa Qing Ling meninggalkankan ruangan tersebut.