Sang Penguasa

Sang Penguasa
257. Klan Shi.


__ADS_3

Di atas langit yang gelap dengan hawa dingin yang sangat luar biasa, Ying Yin  terus bergerak dengan kecepatan puncaknya.


" Penguasa, masih ada lima hari perjalanan lagi," ucap Ying Yin sambil terus bergerak dengan tenang.


" Baik," jawab Qing Ruo sambil berbincang-bincang santai dengan Hu Yan Lan yang tampak begitu waspada.


" Swhus..." sosok Qing Yong Jun muncul di tempat itu.


" Ayah, apakah kita sudah berada di luar gunung Ping Xie?" Menatap kawasan gelap itu dengan heran.


" Benar, saat ini kita sedang bergerak menuju Gunung langit Yin," jawab Qing Ruo.


" Ayah, apakah kawasan gerbang es hitam  memang seperti ini?"


" Benar," jawab Qing Ruo yang ingin Qing Yong Jun mengetahui sisi lain dari daratan ilah, sambil menjelaskan perbedaan kawasan itu dengan kawasan tengah yang penuh dengan aura emas dan pemandangan yang begitu luar biasa.


" Kawasan ini benar-benar ekstrem. Ayah, aku heran mengapa masih ada orang yang tinggal di tempat ini," ucapnya sambil mengitari pandangannya.


" Jun er, tempat ini memang tidak cocok bagi mereka yang menyukai keindahan dan kenyamanan, tetapi merupakan kawasan yang sangat ideal bagi mereka yang ingin menguji diri dan membangun kekuatan. Selain itu,  mencari tempat tinggal yang baru bukanlah hal yang mudah, karena setiap wilayah pasti telah memiliki tuan."


" Aku mengerti, ayah. Mengenai tempat tinggal,  bukankah kita dapat melakukannya dengan cara yang elegan tanpa harus dengan peperangan?"


" Jun er, tidak semudah itu. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan. Wilayah yang akan dijadikan sebagai tempat tinggal,  tidak sekedar tempat untuk membagun kediaman begitu saja. Ada hal penting yang harus kita perhatikan, mulai dari keamanan, kenyaman dan ketersediaan sumber daya di wilayah tersebut."


" Ayah benar," ucapnya pelan dengan tatapan menerawang.


" Jika demikian, apa yang kamu pahami?" tanya Qing Ruo dengan lembut.


" Setiap tempat yang telah dikuasai, pasti memiliki sumber daya. Menyerahkan wilayah yang dikuasai, sama halnya dengan menyerahkan sumber daya yang  dimiliki," ucapnya pelan.


" Karena kehilangan sumber daya akan  mempengaruhi  klan dalam meningkatkan kekuatan," ucap Qing Ruo sambil mengusap ubun kepalanya dengan lembut.


Di sisi mereka. Hu Yan Lan hanya bisa terdiam, menyimak perbincangan Qing Ruo  dengan putranya tersebut dengan kagum.


Tanpa terasa malam pun tiba, membuat kawasan yang gelap dan dingin itu semakin menjadi gelap gulita. 


" Jun er, kembali dan beristirahatlah," ucap Qing Ruo sambil membuka gerbang dimensi dunia jiwa.


" Baik ayah. Paman Hu Yan Lan, aku  pergi dulu," ucapnya dengan hormat,  lalu kembali ke dalam dunia jiwa. 


Setelah Qing Yong Jun kembali ke dalam dunia jiwa, tempat itu menjadi hening dengan rasa dingin yang semakin menusuk, membuat Qing Ruo segera mengedarkan hawa panas dari tubuhnya


" Hu Yan Lan, sepertinya ini cocok untuk menghangatkan tubuh," ucap Qing Ruo sambil mengeluarkan beberapa guci berisi arak rumput kristal yang dia racik dengan  buah-buahan abadi."


" Terima kasih, penguasa."

__ADS_1


Qing Ruo yang awalnya ingin beristirahat mengurungkan niatnya, lalu berbincang-buncang santai.


Tanpa terasa, tiga hari berlalu. Saat hari menjelang sore, Qing Ruo meminta Ying Yin berhenti untuk beristirahat.


" Ying Yin, kita akan melanjutkan perjalanan esok pagi," ucapnya dengan ramah.


" Tapi penguasa...."


" Kita akan melanjutkan perjalanan esok pagi," ucapnya sekali lagi.


" Baik penguasa." Lalu bergerak mencari tempat untuk beristirahat.


" Swhuss....swhus ..." sosoknya lalu bergerak menuju tebing gunung hitam raksasa.


" Di sana," ucap Qing Ruo menunjuk tebing gunung yang ditumbuhi pohon hitam raksasa meranggas.


" Baik penguasa."


Tidak lama kemudian, Ying Yin lalu tiba di tebing tersebut dan  berhenti di bawah pohon hitam itu.


" Kalian berdua, kembali ke dalam dunia jiwa," ucapnya sambil membuka gerbang dimensi dunia jiwa.


" Tapi penguasa," ucap Hu Yan Lan dan Ying Yin bersamaan.


" Tenanglah, ada Mayi Gui dan Mao Bing yang akan menemaniku," ucap Qing Ruo yang mengerti kekhawatiran mereka.


" Baik penguasa."


" Penguasa," ucapnya dengan hormat.


" Apakah kalian tahu tempat ini?" tanya Qing Ruo sambil memeriksa tempat itu.


" Gunung hitam batu besar, penguasa," jawab Mayi Gui.


" Apakah tempat ini aman?"


" Sepertinya demikian, penguasa," jawab Mayi Gui sekali lagi, sedangkan Mao Bing mengitari pandangannya memeriksa tempat itu dengan seksama.


" Kita akan beristirahat di tempat ini," ucap Qing Ruo dengan tenang, sambil menghamparkan tikar di bawah pohon raksasa itu, lalu duduk dengan tenang.


" Baik penguasa," jawab Mayi Gui dan Mao Bing bersamaan mengambil sikap siaga.


" Duduklah, ucap Qing Ruo sambil mengeluarkan minuman dari dalam cincin penyimpanannya, lalu berbincang-bincang santai.


" Penguasa," ucap Mayi Gui dan Mao Bing bersamaan, tiba-tiba merasakan kehadiran puluhan aura bergerak mendekati tempat itu.

__ADS_1


" Tenanglah," ucap Qing Ruo yang terlihat begitu santai.


Baru saja Qing Ruo selesai berkata-kata, dua puluh lima sosok pendekar semi abadi  tingkat lima tahap puncak yang dipimpin oleh dua sosok pendekar semi abadi tingkat tujuh tahap menengah, tiba di tempat itu.


" Penguasa, orang-orang dari klan Shi," ucap Mao Bing berbicara pada Qing Ruo melalui telepati.


" Baik," jawab Qing Ruo dengan tenang.


" Apa yang sedang kalian lakukan di tempat ini?" tanya pemimpin kelompok dengan tatapan tajam.


" Tuan-tuan, kami hanya singgah untuk beristirahat," jawab Mayi Gui dengan ramah.


" Ini kawasan terlarang, tinggalkan tempat ini sekarang juga!" ucapnya dengan tegas.


" Tapi tuan, kami -"


" Kalian pasti penyusup!" ucap pemimpin kelompok memotong pembicaraan Mayi Gui.


" Penyusup? Apakah gunung batu hitam besar ini wilayah kalian?" tanya Mayi Gui dengan wajah kesal.


" Jangan tidak tahu diri kalian. Klan Sha yang merupakan pemilik wilayah ini sekarang sudah  berada di bawah kekuasaan kami, jadi kami berhak mengusir kalian dari tempat ini!" Dengan kemarahan menyala.


" Klan Shi, berhati-hati lah. Kalian sudah memancing di air yang keruh," ucap Mao Bing sambil tersenyum santai, membuat pasukan kecil itu semakin murka.


Qing Ruo yang berdiri santai di belakang Mao Bing dan Mayi Gui, menyimak perdebatan itu tanpa bergeming sedikitpun.


" Tidak buruk," batinnya.


Di hadapan Qing Ruo dan rombongan. Pasukan pengawas dari klan Shi itu masih terdiam, namun dari wajah mereka, bermuculan urat syaraf berwarna biru, yang menandakan mereka begitu marah.


" Kalian selain lancang, ternyata benar menjengkelkan!" Bersiap menyerang.


" Jangan merasa hebat, kalian bukanlah lawan kami," ucap Mao Bing dengan tatap dingin.


" Saudara, mereka tidak takut pada kita. Bahkan berani mengancam...."


" Benar, apa yang harus kita lakukan?"


" Tidak ada jalan lain, kita harus membunuhnya."


" Tapi, saudara...."


" Apalagi?"


" Apakah kita akan membunuh sembarang orang? Lalu bagaimana jika Dia berasal dari klan kuno?"

__ADS_1


" Untuk itu,  kita akan memaksa mereka berbicara. Tapi aku sudah tidak sabar ingin meremukan wajah tua yang sombong itu!" Menatap Qing Ruo dan rombongannya dengan tajam.


__ADS_2