
" Swhuss..." sosok Qing Ruo muncul di hadapan Huo Zhaodau dan Mao Lei.
" Penguasa, kebetulan sekali," ucap Huo Zhaodau.
" Zhoudao, ada apa?"
" Penguasa, sebelumnya ada tiga sosok mendekati kamar ini. Namun pergi lagi."
Qing Ruo menganggukkan kepalanya.
" Biarkan saja," ucapnya sambil meminta kedua kedua hewan buas itu kembali ke dalam dunia jiwa.
Setelah Huo Zhaodau dan Mao Lei kembali ke dalam dunia jiwa, Qing Ruo lalu membuka segel yang telah dia pasang di dalam ruangan itu.
" Mereka benar-benar..." ucap Qing Ruo menjeda kata-katanya sambil meninggalkan ruangan.
Dengan tenang, Qing Ruo terus melangkahkan kakinya hingga tiba di restoran penginapan. Di tempat itu, tiba-tiba berdiri tiga pemuda dengan kemarahan menyala, melepaskan aura pembunuhan, menatap Qing Ruo dengan penuh kebencian.
Tindakan ketiga pemuda yang melepaskan aura pembunuhan itu, membuat para pengunjung lainnya segera bergegas pergi.
" Benar-benar tidak tahu adab. Di kota orang masih masih berani membuat kekacauan," ucap mereka menggerutu, karena merasa terganggu.
Satu per satu mereka pergi, hingga menyisakan lima pemuda yang sepertinya bekerjasama dengan tiga pemuda yang menatap Qing Ruo dengan penuh kebencian.
Setelah para pengunjung yang lainnya pergi. Kelima pemuda yang tidak beranjak pergi itu lalu menyegel seluruh ruangan.
" Saudara, silakan," ucapnya pada ketiga pemuda yang tampak sudah tidak sabar ingin menghajar Qing Ruo itu.
Mendapat izin, membuat ketiga pemuda itu langsung bergerak menerjang kearah Qing Ruo.
" Swhuss... swhus...." sosok mereka melesat ke arah Qing Ruo dengan cepat.
" Dhuar...dhuar...." Ledakan keras bergema, menggetarkan ruangan dan menghancurkan semua barang yang anda di dalam ruangan itu.
" Ba-bagaimana bisa?" ucap ketiga pemuda yang merupakan pendekar semi abadi tingkat tiga itu ternganga saat melihat sosok Qing Ruo yang tidak terluka, bahkan dapat menghindari serangan mereka.
" Swhuss....." Qing Ruo bergerak menampar mereka satu-persatu dan merontokkan giginya.
" Kalian juga," ucap Qing Ruo lalu menampar kelima pemuda yang menyegel ruangan itu.
" Plak...plak..." tamparan keras itu juga merontokkan gigi mereka.
Pada saat Qing Ruo ingin menghajar mereka. Tiba-tiba ratusan prajurit berjubah emas muncul di. tempat itu..
" Swhus..... swhus...." ratusan prajurit itu mengelilingi Qing Ruo dengan tombak emas teracung.
" Tidak tahu diri! Datang di kota orang dan membuat keributan. Benar-benar tidak memiliki sopan santun!" ucap komandan pasukan yang merupakan semi abadi tingkat empat tahap akhir itu dengan gusar.
Kelima pemuda yang menyegel ruangan itu sebelumnya yang masih menahan rasa sakit di wajahnya tampak gelagapan, bahkan ketiga pemuda itu juga tidak kalah terkejutnya.
" Ba-bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya terjadi?" menatap ke arah Qing Ruo yang tampak santai itu.
" Tangkap mereka semua!" ucap komandan pasukan dengan tegas, yang langsung ditanggapi oleh ratusan prajurit yang langsung bergerak menangkap kedelapan pemuda tersebut. tidak hanya itu prajurit tersebut juga hendak menangkap Qing Ruo.
" Tuan, mereka yang memaksaku...." ucap Qing Ruo pada saat prajurit itu hendak menangkapnya.
__ADS_1
" Tuan, di aula kehakiman anda akan diberikan hak untuk berbicara," ucap prajurit tersebut dengan hormat.
Qing Ruo yang tidak ingin berdebat mengenai hal itu, lalu menganggukan kepalanya.
" Baik, tuan."
Setelah menangkap semua orang yang ada di dalam ruangan itu, prajurit tersebut lalu membawa semua tawanan ke aula kehakiman yang berada di pusat kota untuk diadili.
Di sepanjang jalan. Kelima sosok yang menyegel ruangan lantai dasar penginapan sebelumnya masih tampak keheranan.
" Saudara, bagaimana bisa segel kita di rusak begitu saja...." Berbicara melalui telepati pada rombongannya.
" Dan sepertinya kita juga telah ditipu." Sambil menahan rasa sakit di wajahnya.
" Sudahlah, jangan dibahas lagi. Yang perlu kita lakukan saat ini adalah mencari alasan untuk menghadapi tuntutan dan tuduhan hakim."
" Saudara benar."
Di sisi lainnya.
Ketiga pemuda itu terus melangkahkan kakinya mengikuti prajurit yang menggiring mereka dengan wajah masam.
" Baj***n. Bagaimana bisa prajurit kota ini tiba-tiba muncul."
" Apakah mereka telah bekerjasama dengan pihak keamanan kota atau dengan badj****n Kepa***t itu," ucap pimpinan kelompok menatap kelima pemuda dan Qing Ruo yang ada di hadapannya dengan kesal.
" Sepertinya kita telah menyinggung orang yang salah." Pemuda lainnya berbicara dengan wajah khawatir.
" Sepertinya saudara benar. Jika dia benar-benar pendekar tingkat rendah, tidak mungkin dia bisa menyentuh kita."
Di hadapan mereka. Qing Ruo dengan tenang melangkahkan kakinya, terus bergerak mengikuti prajurit yang membawanya.
Iring-iringan prajurit yang membawa Qing Ruo dan para pemuda itu menjadi pusat perhatian semua orang.
" Mereka pasti telah melanggar aturan," ucap mereka mulai berbisik-bisik, dan mulai membicarakan hal buruk pada mereka, bahkan banyak diantara mereka mulai meneriakan hukuman mati pada Qing Ruo dan tawanan lainnya.
Qing Ruo yang dapat mendengar perbincangan mereka hanya tersenyum santai.
" Diam! jangan mudah menilai orang lain. Biarkan hakim yang memutuskan hukuman yang tepat untuk mereka!" ucap komandan pasukan dengan tegas, sambil membubarkan semua orang yang mulai memenuhi jalanan kota tersebut.
Karena tidak ingin berurusan dengan pihak keamanan kota. Mereka lalu membubarkan diri dan melanjutkan pekerjaannya masing-masing.
Tidak lama kemudian, mereka akhirnya tiba di aula kehakiman kota, yang langsung diarahkan oleh prajurit tersebut ke dalam ruang sidang.
" Tunggu sebentar. Yang mulia hakim sedang ada urusan," ucap komandan pasukan yang berjaga di tempat itu.
" Baik," jawab Qing Ruo dengan santai.
Di dalam ruangan itu. Kehadiran Qing Ruo, menarik perhatian prajurit yang sedang berjaga.
" Tuan, bukankah sebelumnya...." ucap prajurit itu ragu.
" Benar, itu aku," ucap Qing Ruo dengan santai.
Pada saat prajurit tersebut akak melanjutkan percakapannya, tiba-tiba sang hakim memasuki ruangan, menatap kehadiran Qing Ruo dan para pemuda tersebut dengan heran.
__ADS_1
" Yang mulia, ini adalah kedua kalianya dalam satu hari aku dibawa ke aula kehakiman ini," ucap Qing Ruo santai.
Sang hakim yang mengingat wajah Qing Ruo itu menganggukan kepalanya.
" Tuan, silakan penjelasan anda," ucapnya tanpa berbasa-basi memulai pemeriksaan itu.
" Yang mulia, apakah Anda masih ingat dengan kata-kataku sebelumnya?"
Sang hakim menganggukan kepalanya.
" Yang mulia, mereka adalah tiga pemuda lainnya yang pernah aku sebutkan sebelumnya. Dan mereka dengan berani menyerangku di restoran penginapan. Karena ulah kedua pemuda sebelumnya aku telah kehilangan dua ratus juta kristal jiwa abadi, apakah kali ini aku juga akan kehilangan dua ratus juta lagi?" tanya Qing Ruo mengarahkan pandangannya pada ketiga pemuda yang ternganga, dan membuat sang hakim terdiam.
Tiba-tiba sang hakim mengarahkan pandangannya pada ketiga pemuda tersebut.
" Apa penjelasan kalian mengenai pernyataan tuan muda ini?"
" Yang Mulia, kami juga ingin keadilan. Sebelumnya di kedai sederhana dan restoran penginapan Hua Bing. Dia telah memperdaya kami," ucap sang pemimpin menjelaskan situasi yang mereka hadapi dengan rinci, membuat sang hakim yang kini ternganga.
" Tuan muda, apakah benar demikian?" tanya sang hakim pada Qing Ruo.
Qing Ruo menganggukkan kepalanya.
" Mengapa bisa demikian?"
" Aku memang memperdaya mereka dengan cara seperti itu. Mengajari mereka untuk bersikap baik, dan menyadarkan mereka agar tidak bertindak lebih jauh padaku. Tapi tindakanku justru membuat mereka semakin tidak tahu diri. Yang mulia jika Anda yang berada di posisiku, apa yang akan anda lakukan?"
Sang hakim terdiam sesaat, menatap Qing Ruo dengan lekat.
" Karena kesabaranku ada batasnya, tentu aku akan memberikan mereka pelajaran."
Qing Ruo menganggukkan kepalanya.
" Aku memang akan melakukannya. Sebelumnya aku telah menampar mereka, tapi karena prajurit tiba-tiba datang, aku mengurungkan niatku. Selain aku yakin yang mulia akan memberikan keadilan, aku juga masih menghormati Penguasa agung utara. Yang mulia, mohon keputusannya."
Kata-kata Qing Ruo membuat ketiga pemuda itu tampak tersenyum geli. Sedangkan Qing Ruo yang terlihat tenang dan sabar itu sudah tidak sabar ingin menghajar ketiga pemuda tersebut.
Sang hakim terdiam, lalu menatap kelima pemuda lainnya.
" Jelaskan hubungan kalian dengan masalah ini."
" Yang mulia. Kami berlima murni di bayar oleh ketiga tuan muda ini." Sambil menunjukan cincin penyimpanan yang berisi dua puluh lima juta kristal jiwa abadi.
" Apakah ada sanggahan lain?" tanya sang hakim.
" Tidak ada yang mulia," jawab pemimpin kelompok tersebut.
Sang hakim terdiam sesaat, lalu mengarahkan pandangannya pada ketiga pemuda yang tampak ingin membunuh Qing Ruo itu.
" Dari laporan kalian, aku dapat menyimpulkan bahwa kalian bertiga memang memiliki niat yang tidak baik. Maka aku memutuskan, masing-masing dari kalian membayar denda dua ratus juta kristal jiwa abadi serta hukum bekerja di tambang perak milik penguasa selama tiga bulan. Termasuk kalian karena ikut membantu mereka melakukan kejahatan," ucap sang hakim dengan tegas membuat para pemuda itu ingin menangis.
" Yang mulia, bagaimana bisa hukuman kami sama, karena kami hanya membantu menyegel-"
" Jika kalian bicara lagi, aku akan menambah hukuman kalian!" ucap sang hakim dengan tegas, membuat kelima pemuda itu terdiam.
" Yang mulia, bagaimana dengannya?" tanya pemimpin kelompok menatap Qing Ruo dengan penuh kebencian.
__ADS_1
🙏 Satu bab ya kak. 🙏