Sang Penguasa

Sang Penguasa
82. Menangkap Yin Gan.


__ADS_3

" Shwus..." kedua telapak tangan Yin Gan berubah menjadi hitam, melepaskan ledakan aura gelap dan kekuatan bracun yang begitu kentara.


" Shwus... Swhus..." Qing Ruo bergerak zig-zag, menghindari setiap  pukulan yang di arahkan padanya.


" Baj****n. Apakah kamu hanya bisa menghindar seperti kodok..." Teriak Yin Gan murka, dan terus memprovokasi Qing Ruo karena serangannya selalu mengenai kekosongan.


Qing Ruo yang mendengar provokasi Yin Gan, terus bergerak dengan tersenyum santai.


" Apakah kamu keong? Gerakanmu  sangat lambat bahkan menyentuh bajuku saja kamu tidak bisa ," jawab Qing Ruo membalas memprovokasi tersebut.


Yin Gan yang dari awal dalam kondisi tidak stabil akibat pengaruh teknik terlarang, kini benar-benar menjadi semakin kacau setelah terkena pukulan Qing Ruo. Selain itu, perbedaan tingkat kultivasi di antara mereka berdua, kini benar-benar menguntungkan Qing Ruo.


" Terlalu banyak bicara. Kamu hanyalah pengecut yang berani menyerang dengan diam-diam. Jika tidak karena caraku yang licik itu, kamu-"


" Lemah!" ucap Qing Ruo memotong kata-katanya.


" Argh kamu...."


" Yin Gan, jika kamu tidak lemah, lalu mengapa kamu menggunakan teknik terlarang? Bahkan kamu tidak menyadari keberadaanku," ucap Qing Ruo santai, sambil terus bergerak menghindari pukulan yang dilepaskan padanya.


Terus-menerus menggunakan kekuatan puncaknya dalam kondisi tidak  stabil itu, membuat Yin Gan mulai kelelahan.


" Yin Gan,  jika kamu  menyerah, aku akan membiarkan kamu  tetap hidup," ucap Qing Ruo santai.


" Kamu telah membuat  keadaanku seperti ini, lalu meminta aku untuk menyerah, bukankah itu konyol!" Sambil terus berusaha untuk menyerang Qing Ruo.


" Konyol itu, jika kamu terbunuh sia-sia di tempat ini," ucap Qing Ruo santai.


" Jika kamu memang ingin melakukannya, maka silakan," ucap sengit, agar Qing Ruo mendekat padanya.


" Baiklah," jawab Qing Ruo sambil mengedarkan kekuatan semi Abadi tingkat tiga dari tubuhnya.


" Swhuss... swhus...." Qing Ruo bergerak dengan cepat mendekati sosok Yin Gan, sambil melepaskan pukulan tapak emas naga ilahi.


" Dhuar...." Tinjauan keras itu beradu dengan tapak hitam beracun, mendorong Yin Gan hingga puluhan meter.


" Akh..." Rintihnya kesakitan, mencoba berdiri sambil menatap Qing Ruo yang ternyata tidak terpengaruh oleh serangan racun tingkat tingginya tersebut.


" Ba-bagaimana mungkin..." ucapnya panik.


" Swhuss...." Qing Ruo muncul di hadapannya sambil melepaskan tinjuannya sekali lagi, yang dengan telak menghantam dadanya.


" Dhuar..." pukulan keras itu melempar tubuhnya hingga menghantam batuan raksasa dan menghancurkannya.


" Baj***n. Ka-kamu ternyata seorang ahli racun, tetapi kamu menyerang kami," ucapnya terbata-bata, menahan rasa sakit di dadanya.


" Swhuss..." rantai hitam keemasan muncul, dan melilit tubuh itu.

__ADS_1


" Argh..." teriaknya keras,  sambil berusaha melepaskan lilitan rantai hitam kemasan tersebut, saat menyadari Qing Ruo bukankah pelatih kekuatan gelap.


" Yin Gan, apakah kamu yakin masih ingin melawan?" Sambil menunjukkan kepalan tangannya, yang langsung  membuat Yin Gan tertawa terbahak-bahak. 


" Yin Gan, sepertinya kamu tidak takut padaku." ucap Qing Ruo sambil tersenyum santai.


" Bahkan jika kamu membunuhku, aku  tidak akan takut!" ucapnya sengit.


" Aku yakin kamu akan menarik kata-katamu itu!" Sambil menghampiri sosok Yin Gan yang tidak bisa berdiri karena lilitan rantai hitam keemasan tersebut.


" Trark..." Petir emas kehitaman muncul, menyelimuti tangan kanannya, membuat Yin Gan menegang.


" Terlambat," ucap Qing Ruo sambil meninju wajah Yin Gan yang masih tertutup topeng perak itu dengan  bertubi-tubi.


" Dhuar... dhuar...." Tinjuan itu menghancurkan topeng perak yang ada di wajahnya.


" Apa..." Qing Ruo terkejut, melihat tampilan wajah asli Yin Gan, yang ternyata merupakan salah satu jendral yang bertugas di benteng perbatasan Utara.  Yin Gan yang tidak mengenal sosok Qing Ruo begitu heran sambil menaha rasa sakit di wajahnya yang begitu luar biasa.


" Swhus... swhus...." Rantai jiwa muncul dan mulai melilit tubuhnya.


" Argh... Apa yang sedang kamu lakukan!"  sambil berusaha melawan serangan rantai jiwa.


" Jika bicara lagi, aku akan menguliti wajahmu itu!" ucap Qing Ruo sambil  meninju  wajah itu, yang kini mulai tidak beraturan, membuyarkan  kekuatan jiwa Yin Gan yang sedang berusaha menahan serangan rantai jiwa.


Pada saat Qing Ruo sedang menghajar Yin Gan, tiba-tiba dirinya merasakan kekuatan lain bergerak mendekati tempat tidur.


Dua menit kemudian setelah Qing Ruo pergi, empat  sosok bertopeng perak lainnya, tiba di tempat itu, memeriksa sisa  pertempuran yang terjadi antara Qing Ruo dan Yin Gan dengan seksama.


" Kita terlambat. Dengan aura gelap ini,  aku yakin pasti  yang bertempur di tempat ini sebelumnya adalah saudara Yin Gan."


" Benar, tapi dengan siapa Dia bertarung?"


Pada saat keempat  sosok  itu sedang memeriksa kawasan itu, tiba-tiba mereka merasakan kekuatan yang lebih besar, bergerak mendekati tempat itu.


" Saudara, aura pasukan jubah emas!"


" Arg... Baj***n. Mereka selalu saja muncul dan mengganggu. Jika saja kita menemukan gulungan itu. Aku akan pemimpin Shen Guoshi Yin  menyerang kekaisaran emas, dan membuat perang ini berlangsung selama seribu tahun!" ucap sosok bertopeng perak itu dengan kesal sambil bergegas meninggalkan tempat itu.


***


Di tempat lain.


Qing Ruo yang telah mendapatkan buruannya, dengan tenang terus bergerak meninggalkan tempat itu, kembali menuju rombongannya yang sedang menunggu.


" Swhus..." Qing Ruo muncul di hadapan mereka.


" Saudara Ruo..." ucap Heian Bai, menatap  Qing Ruo dengan penuh selidik, bahkan Dalu Rong dan yang lainnya juga melakukan hal yang sama.

__ADS_1


" Saudara Bai, aku baik-baik saja," jawab Qing Ruo dengan santai. 


Setelah memastikan keadaan Qing Ruo, Hua Zun lalu memimpin rombongan itu, bergerak menuju kota Hua.


***


Di dalam dunia jiwa.


Yin Gan yang muncul di puncak gunung Selatan dunia di jiwa, begitu terkejut melihat pemandangan yang begitu luar biasa di hadapannya.


Dengan keadaan tubuh yang  masih terlilit rantai hitam, Yin Gan berusaha berdiri untuk memeriksa  tempat itu.


" Oh tidak. Ini pasti dunia jiwa.  Ternyata sosok itu adalah orang yang memiliki tubuh tipe Kaisar langit. Itu artinya ada sosok lain yang tinggal di dalam dunia jiwa ini," ucap Yin Gan panik.


Baru saja Yin Gan  menyadari hal itu,  tiba-tiba dua  kilatan cahaya bergerak mendekatinya.


" Swhus.. swhus..."  Yuan Bai dan Yuan Hei muncul sambil mengayunkan tongkat emas yang ada di tangannya.


" Dhuar... Dhuar..." ledakan keras bergema, saat kedua tongkat emas itu menghantam tubuh Yin Gan dan melempar nya hingga ratusan meter ke arah barat.


" Argh...." Teriak Yin Gan murka, karena rantai jiwa yang mengikat kekuatan jiwanya,  menekan kekuatannya untuk melakukan perlawanan, sehingga tubuh yang terlilit rantai hitam kemasan itu terus menerus mendapat pukulan dari kedua kera  raksasa tersebut,  hingga akhirnya tiba  di penjara barat.


" Kera baji**n. Bunuh aku jika kalian berani!" Teriak Yin Gan dengan keras , memprovokasi Yuan Bai dan Yuan Hei.


" Baik kami akan melakukannya, tetapi dengan perlahan,"  ucap Yuan Bai, sambil mulai menyiksa Yin Gan.


***


Di luar dunia jiwa.


Qing Ruo dan rombongannya terus bergerak meninggalkan hutan es perbatasan Utara, bergerak menuju kota Hua.


Di sepanjang jalan, mereka bergerak dengan tenang sambil berbincang-bincang santai.


Tanpa terasa, menjelang pagi, mereka akhirnya tiba di perbatasan hutan teratai raksasa.


" Saudara Zhen, tetua. Sebaiknya kita memisahkan diri. Silakan saudara Hua Zhen dan tetua mendahului, aku, Jianyu, saudara  Bai dan saudara Dalu Rong akan menyusul," ucap Qing Ruo.


" Baik," Jawab Hua Zhen sambil berlalu meninggalkan mereka. 


" Saudara Bai, Saudara Rong, untuk menjeda waktu antara kita  dan saudara Zhen, sebaiknya kita menunggu dan beristirahat di sini."


" Baik," jawab Heian Bai dan Dalu Rong, lalu mencari tempat duduk yang nyaman.


" Silakan Penguasa," ucap  Murong Jianyu, yang berada  di belakang Qing Ruo menghamparkan  tikar, yang dia ambil dari cincin penyimpanannya.


" Jianyu, terima kasih," ucap Qing Ruo, sambil membawa rombongan itu duduk di atas tikar tersebut.

__ADS_1


__ADS_2