Sang Penguasa

Sang Penguasa
143. Di Kota Tongzhe.


__ADS_3

Sebuah kota berbenteng perisai transparan yang sangat luas, tehampar di puncak gunung mengambang, yang diterangi ribuan pilar kristal cahaya yang berdiri di setiap sudut kota.


Sambil bergerak mendekati gerbang selatan kota. Tidak lupa Qing Ruo mengingatkan Long Chen untuk menyamarkan tingkat kultivasinya.


Pada saat mereka berdua tiba di depan gerbang selatan kota, dua prajurit berjubah perak menghampirinya, lalu melakukan pemeriksaan.


" Tuan- tuan, mohon identitasnya," ucap itu prajurit dengan ramah.


Dengan segera Long Chen menunjukkan lencana Klan Na, serta menjelaskan tujuan kedatangan mereka di kota itu.


Setelah memeriksa identitas dan tujuan kedatangan Qing Ruo dan Long Chen di kota itu, prajurit tersebut lalu meminta mereka membayar biaya masuk sebesar lima puluh kristal jiwa abadi.


" Terima kasih, tuan." Sambil mempersilakan Qing Ruo dan Long Chen memasuki dengan ramah.


" Terima kasih tuan," ucap Long Chen sambil membawa Qing Ruo memasuki kota itu.


Di dalam kota Tongzhe.


" Pemandangan dan suasana kota ini begitu nyaman, bahkan aura spiritualnya begitu menenangkan," ucap Long Chen sambil melangkahkan kakinya dengan santai.


" Benar, setidaknya kota ini lebih tertib dari kota Bei Shan, dimana setiap orang dengan bebas membawa hewan buas tunggangannya." ucap Qing Ruo sambil menatap para pendekar yang datang di kota itu, satu pun tidak ada yang membawa hewan buas di kota itu.


Sambil menuju pusat kota, Qing Ruo dan Long Chen berbincang-bincang santai sambil menikmati suasana dan pemandangan kota tersebut.


" Penguasa, apakah kita akan langsung melanjutkan perjalanan?" tanya Long Chen.


" Sebaiknya kita beristirahat dulu, aku ingin mempelajari teknik terlarang klan Xun yang masih belum tuntas ku pelajari."


" Baik penguasa."


Setelah terus berjalan, di pusat kota mereka akhirnya menemukan sebuah penginapan sederhana.


" Penguasa, penginapan Mawar Es. Apakah kita akan....?"


Qing Ruo menganggukkan kepalanya.


Dengan segera Long Chen menemui pelayan, dan mengurus biaya penginapan mereka.


Setelah membayar biaya penginapan, Pelayan tersebut lalu mebawa Qing Ruo dan Long Chen menuju ruangannya yang berada di lantai dua penginapan.


Di sepanjang lorong menuju ruangannya. Qing Ruo dan Long Chen dapat merasakan beberapa pasang mata mengawasi pergerakan mereka.


" Penguasa," ucap Long Chen berbicara melalui telepati pada Qing Ruo, sambil mengikuti pelayan yang mengarahkan mereka.


" Tenanglah. Mereka hanya para penjaga," ucap Qing Ruo.


" Tapi penguasa, aura ini..."


" Benar, ini adalah aura pembunuh yang mengintimidasi supaya kita tidak membuat masalah di tempat ini. Tenanglah," ucap Qing Ruo dengan santai.


Setelah bergerak beberapa waktu, mereka akhirnya tiba di dalam ruangannya.


" Silakan tuan," ucap pelayan tersebut mempersilahkan Qing Ruo dengan ramah.


" Terima kasih nona." Lalu memasuki ruangannya.


Setelah mengantar Qing Ruo, pelayan itu lalu mengantar Long Chen menuju ruangannya, yang berjarak dua buah kamar dari tempat Qing Ruo.


Di dalam ruangannya.

__ADS_1


Setelah menyegel ruangan itu dengan mantra formasi perlindungan tingkat tinggi, Qing Ruo lalu merebahkan dirinya di atas tempat tidur sambil membiarkan aura spritual yang ada di dalam ruangan memasuki tubuhnya.


" Setelah gagal beristirahat di kota Bei Shan, akhirnya kesampaian juga," ucapnya.


Setelah beristirahat selama dua jam, Qing Ruo lalu melanjutkan kegiatannya mempelajari teknik terlarang klan Xun.


****


Di dalam ruangan lain.


Long Chen yang telah selesai memulihkan diri, lalu keluar dari dalam ruangannya, mencari informasi di restoran penginapan yang berada di lantai dasar.


Setelah beberapa waktu di tempat itu, Long Chen lalu meninggalkan penginapan tersebut, mencari informasi mengenai keberadaan gerbang teleportasi yang berada di kota Tongzhe.


****


Di dalam ruangannya.


Dua jam kemudian, Qing Ruo yang sedang mempelajari teknik rahasia klan Xun menghentikan pekerjaannya, menatap gulung teknik rahasia yang ada di hadapannya dengan kecewa.


" Ini tidak lengkap," ucapnya pelan, lalu menyimpan gulungan kitab itu. " Jika ada waktu, aku akan menemui mereka kembali," batinnya.


Setelah berpikir cukup lama, Qing Ruo lalu memanggil Mao Lei dari dalam dunia jiwa.


" Penguasa," ucapnya dengan hormat.


" Mao Lei, apakah kamu menemukan bagiannya dari kitab terlarang klan Xun di dalam cincin penyimpanan yang lain?"


" Penguasa, hamba tidak tahu, karena kami pun belum melihat isi cincin Penyimpanan itu." Sambil menunjukan cincin penyimpanan pada Qing Ruo.


" Mengapa bisa demikian?" tanya Qing Ruo heran.


Qing Ruo menggelengkan kepalanya.


" Itu sudah milik kalian, maka aku juga tidak berhak untuk melihatnya. Begini saja, jika nanti kalian memeriksa isi cincin tersebut, aku hanya ingin kalian mencari bagian dari kitab teknik klan Xun yang tidak lengkap ini." Sambil menyerahkan gulungan teknik pada Mao Lei.


" Tapi penguasa, cincin penyimpanan ini adalah milik Anda..." ucap Mao Lei dengan serius.


Qing Ruo menggelengkan kepalanya.


" Aku akan menunggu," ucapnya pelan, membuat Mao Lei terdiam.


" Baik penguasa."


Alasannya Qing Ruo yang begitu ingin menguasai kitab tersebut adalah, supaya dapat menaklukkan hewan buas tanpa harus menggunakan rantai jiwa dan memberikan kekuatan darahnya, karena setiap kali dirnya melepaskan segel rantai jiwa maka hal itu terus menerus mengganggu pondasi kekuatannya.


Setelah berbincang-bincang cukup lama, Qing Ruo lalu meminta Mao Lei berjaga di tempat itu.


" Baik penguasa...."


" Swhus..." sosok Huo Zhaodau muncul di dalam ruangan.


" Mao Lei, Zhoudau, jika ada sesuatu yang mencurigakan, segera kabari aku."


" Baik Penguasa." dnegan hormat.


Setelah berkata-kata, Qing Ruo lalu meninggalkan kedua hewan buas tersebut, lalu memasuki dunia jiwa.


" Swhuss..." Sosoknya lenyap dihadapan kedua hewan buas itu, dengan meninggalkan bola biru sebesar kepalan tangan manusia dewasa yang mengambang dan bergetar dengan lembut.

__ADS_1


****


Di dalam dunia jiwa.


Qing Ruo lalu muncul di istana emas, menemui Qing Lian An dan Qing Ling yang sedang beristirahat.


" Gege," ucap Qing Ling menyambut kedatangan Qing Ruo dengan senyumnya yang hangat.


" Ling er, bagaimana kabar An er?" sambil menghampiri Qing Ling, memeluk dan mencium keningnya dengan lembut.


" Dia baik-baik saja. Lihatlah..." Sambil menunjuk Qing Lian An yang tertidur pulas.


" Putri ayah," ucap Qing Ruo pelan, mengecup keningnya dengan lembut, sambil memperhatikan wajah Qing Lian An yang sedang tertidur pulas.


Setelah puas menatap wajah kecil itu, Qing Ruo lalu menghampiri Qing Ling dan duduk di sisinya.


" Ling er, saat ini kita berada di kota Tongzhe," ucap Qing Ruo sambil memulai perbintangannya, menjelaskan rangkaian peristiwa yang terjadi sejak mereka meninggalkan lembah utara gunung Bei Tian.


Qing Ling yang mendengar penjelasan Qing Ruo menganggukan kepalanya, dan menatap lembut wajah sosok yang terus mengoceh di hadapannya.


" Semoga urusan ke utara ini berjalan dengan lancar," ucapnya pelan.


" Ling er, aku telah mengetahui informasi penting mengenai keberadaan klan Qing yang ada di Benua Teratai Biru, ternyata memiliki hubungan dengan Shen Guoshi Qing yang ada di daratan ilahi."


" Benarkah?" Dengan penuh semangat.


" Benar," jawab Qing Ruo sambil menjelaskan keberadaan leluhur Qing Fengbao, yang merupakan putra dari leluhur Shen Guoshi Qing Kongque.


" Ling er, hingga saat ini aku masih begitu penasaran dengan identitas dirimu yang sebenarnya." Menatap Qing Ling dengan lembut.


" Maksud gege?"


" Ling er, aku tahu bahwa Klan Duan dan Klan Yin bukanlah asalmu, tapi ada klan...."


" Shen Lan," ucap Qing Ling pelan.


Qing Ruo menganggukkan kepalanya.


" Benar dugaanku. Itu berarti Shen Lan yang ada di benua teratai biru berasal dari daratan ilahi?"


" Benar, tapi Gege, kita sama-sama lahir di Benua Teratai Biru, jadi aku jadi ga tidak tahu dengan jelas daratan ilahi."


" Apakah Ling er tahu sejarah leluhur Shen Lan?"


Qing Ling menggelengkan kepalanya.


" Yang aku ketahui bahwa leluhur kami Shen Lan Tian adalah dewa besar yang meninggalkan daratan ilahi. Mengenai alasannya, kami bahkan tidak tahu sama sekali."


Qing Ruo menganggukkan kepalanya.


"Dewa-dewa besar yang meninggalkan daratan ilahi, selalu merahasiakan identitas mereka, termasuk leluhur Qing Fengbao, bahkan Leluhur Xin Fangye. Ling er, jika diberi kesempatan oleh waktu, Aku juga ingin menemui Klan utama leluhur di daratan ilahi ini."


" Tapi Gege?"


" Ling er, mereka juga adalah keluarga kita. Aku yakin para leluhur pergi karena masalah. Bukankah lebih baik jika kita memperbaiki sebuah kesalahan dari pada semakin merusaknya?"


Qing Ling menganggukkan kepalanya, menatap Qing Ruo dengan lembut.


" Gege benar."

__ADS_1


Sambil berbincang-bincang santai, mereka berdua akhirnya terlelap.


__ADS_2