Sang Penguasa

Sang Penguasa
193. Kota Heian.


__ADS_3

Di dalam lorong dimensi ruang dan waktu. Qing Ruo dengan tenang membiarkan dirinya terbawa oleh arus waktu yang memindahkan sosoknya dari kota Bao menuju kota Heian.


Tidak lama kemudian,  tiba-tiba dirinya merasakan lima aura  muncul di belakangnya.


" Para pemuda itu, apa yang mereka inginkan?" Membatin, sambil berpura-pura tidak menyadari kedatangan mereka..


" Swhuss... swhus...." Para pemuda itu bergerak mendekati Qing Ruo  dengan cepat, dan muncul di sisinya tanpa berkata sepatah katapun.


" Saudara-"


" Diam," ucap salah satu pemuda dengan tatapan tajam.


Tindakan para pemuda itu  membuat Qing Ruo merasa heran.


" Benar-benar tidak bersahabat. Apakah mereka menganggap aku ini tawanan?" Bantinnya.


" Saudara-"


" Diam. Tunggu saat keluar dari lorong ini, kita akan bicara." Dengan tatapan tajam.


" Mengapa harus keluar dari tempat ini, bukankah di sini juga bisa."


" Diam, atau kami akan menghajarmu!" ucap salah satu pemuda dengan kesal.


" Akhirnya aku mengerti. Alasan saudara Bao Teng tidak ingin berteman dengan kalian, itu pasti karena sifat busuk kalian yang seperti ini," ucap Qing Ruo dengan berani.


" Kamu hanyalah semut kecil tapi mulutmu liar seperti raungan singa. Lagi pula kami yakin kamu pasti memegang rahasia penting tuan muda Bao Teng."


" Jangan membayangkan hal seperti itu, karena bisa saja semut itu adalah singa yang menyamar," ucap Qing Ruo santai, membuat para pemuda itu tertawa.


" Benar-benar tidak-"


" Pergi!" ucap Qing Ruo dengan keras, membuat para pemuda itu terkejut.


" Semut tidak tahu diri. Kamu-"


" Pergi!" ucap Qing Ruo mengibas tangannya, melepaskan tembakan angin, melempar para pemuda tersebut dengan ekstrem. Serangan Qing Ruo yang tiba-tiba itu membuat para pemuda tersebut begitu murka.


" Kepa**t. Ternyata kamu berani dengan serangan kejutan." Menatap Qing Ruo dengan kemarahan menyala.


" Jika berani datanglah!" Tantang Qing Ruo, membuat kelima pemuda yang merupakan pendekar semi abadi  tingkat dua tersebut semakin murka.


" Baj***n kamu benar-benar mencari mati!" ucap salah satu pemuda dengan kemarahan menyala, ingin bergerak menyerang Qing Ruo. 

__ADS_1


" Saudara, jangan gegabah. Pertempuran hanya akan merusak lorong dimensi, dan kitalah yang akan rugi. Tunggu saja saat tiba di kota Heian." Sambil menatap sosok Qing Ruo yang kini berada seratus meter dari mereka.


Di depan para pemuda tersebut.


Qing Ruo yang juga menyadari kesalahannya itu terdiam, merenungi tindakanya.


" Ini adalah kali keduanya emosiku yang tidak terkendali. Pertama menyiksa para tetua dari klan Ji dan rombongannya, kini menyerang para pemuda yang kurang kerjaan itu." Membatin dengan tatapan menerawang.


Sepanjang waktu di dalam lorong dimensi ruang dan waktu itu, Qing Ruo terdiam memeriksa dirinya, menghubungkan semua rentetan peristiwa yang dilewati dengan gejala emosinya yang begitu mudah terpancing itu.


" Apakah ini karena mutiara air tak berbentuk? Sepertinya aku harus menanyakan hal ini pada Long Yu Wei," batinnya.


Dua belas  jam kemudian, Qing Ruo akhirnya melihat cahaya putih di ujung lorong dimensi yang menariknya dengan ekstrem.


" Swhuss.... " Sosoknya keluar dari lorong dimensi itu, muncul di gerbang teleportasi kota Heian.


" Swhuss...." Aura emas yang sangat kuat, sama seperti aura emas yang dia rasakan saat tiba pertama kali di daratan ilahi memasuki tubuhnya dengan ekstrem, membuatnya segera menahan kekuatan tersebut.


" Sungguh kota yang luar biasa," batinnya lalu meninggalkan tempat itu, menghiraukan kemunculan kelima pemuda yang menatapnya dengan kemarahan yang menyala.


" Selamat datang di kota Heian, kediaman penguasa agung utara. Apakah ini pertama kalinnya  Anda datang di tempat ini, tuan?" tanya prajurit yang berjaga dengan ramah.


" Benar tuan," Jawab Qing Ruo dengan jujur.


" Baik," ucap prajurit tersebut lalu menyerahkan gulungan yang berisi informasi dasar mengenai aturan yang ada di kota itu.


" Terima kasih, tuan," ucap Qing Ruo dengan hormat.


Setelah menerima gulungan informasi dari prajurit tersebut, Qing Ruo lalu  meninggalkan tempat itu, bergerak mencari penginapan di pusat kota.


Setelah Qing Ruo pergi. Ke lima pemuda yang mengikutinya juga bergerak meninggalkan tempat itu.


Sepanjang jalan menyusuri kota , Qing Ruo disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa. Bangunan mengah nan indah menghiasi setiap sudut kota. Selain itu aura emas yang sangat kuat dan tenang terus mengedar dengan pekat.


"Aura spiritual kota ini, sama seperti ibukota kekaisaran  langit yang dipenuhi dengan berbagai aura spiritual. Kota ini benar-benar nyaman untuk ditinggali." Batinnya.


Sepanjang perjalanan mencari penginapan. Ke lima pemuda itu terus mengikutinya, membuat Qing Ruo yang hendak mencari penginapan itu, lalu singgah di kedai sederhana yang berada di tepi jalan.


" Kebetulan sekali," ucapnya yang tidak menyangka di kota megah seperti ini ternyata masih ada kedai sederhana, lalu memasuki tempat itu dengan santai.


" Tuan," ucap pelayan menghampirinya dengan ramah.


" Nona, aku ingin minum saja," ucap Qing Ruo dengan ramah.

__ADS_1


" Baik tuan." Lalu mengarahkan Qing Ruo duduk pada meja yang kosong. 


" Terima kasih," ucap Qing Ruo sambil menempati kursi yang tersedia. Sambil menunggu minumannya datang, Qing Ruo lalu membuka gulungan informasi yang  diberikan oleh prajurit sebelumnya,  lalu mulai mempelajarinya.


Dari informasi dasar mengenai aturan kota itu, Qing Ruo akhirnya mengetahui  bahwa kawasan yang  dimasukinya itu adalah kota yang berada di bawah kota lainnya.


" Ternyata ada tiga bagian yang terpisah. Kota umum, kota utama dan kota suci. Kota umum adalah wilayah  bebas yang dapat dimasuki oleh siapapun. Sedangkan kota utama, hanya dapat dimasuki oleh mereka yang memiliki kepentingan dan tujuan yang jelas, dan kota suci adalah kota terlarang," ucapnya sambil terus  membaca  gulungan informasi yang ada di tangannya.


Dari informasi dasar tersebut,  tertulis bahwa di kota tersebut dilarang untuk melakukan pertarungan dengan alasan apapun, dan berbagai jenis kejahatan lainnya.


Pada  saat dirinya sedang mempelajari informasi dasar mengenai aturan yang ada di kota itu, tiba-tiba lima pemuda yang terus mengikutinya sebelumnya,   memasuki ruangan.


Dengan tatapan tajam,  mereka memasuki  kedai dan menghampiri Qing Ruo.


" Nak, saatnya balas dendam," ucap salah satu pemuda berbicara melalui telepati, mengejutkan Qing Ruo yang ternyata berpura-pura tidak menyadari kedatangan mereka.


Qing Ruo tidak yang memang menunggu kedatangan kelompok tersebut, mengangkat kepalanya,  menatap para pemuda  tersebut dengan santai.


" Silakan," ucap Qing Ruo santai.


Tidak lama kemudian, minumannya datang.


" Terima kasih, nona. Oh sekalian juga untuk kelima saudaraku ini," ucap Qing Ruo memesan minuman dalam jumlah yang cukup banyak.


" Baik tuan," ucap gadis pelayan tersebut dengan penuh semangat, lalu bergegas meninggalkan tempat itu.


" Apakah kamu ini meminta maaf dengan memberikan kami minuman?"


Qing Ruo menggelengkan kepalanya.


" Aku takut ini adalah minuman terakhir kalian. Jadi minumlah sepuasnya."


" Badj***n! Kamu...." sambil menahan diri.


" Saudara, jangan gegabah. Dia  sengaja melakukan hal ini untuk memancing kemarahan kita, agar kita melakukan kesalahan di tempat ini."


" Terima kasih saudara sudah mengingatkan." Sambil duduk pada kursi yang ada di hadapannya.


Tiba-tiba Qing Ruo berdiri.


" Saudara-saudara, pesan semua makanan dan minuman yang kalian suka. Karena hari ini, saudaraku sedang gembira,"  ucap Qing Ruo dengan penuh semangat, menunjuk kelima pemuda yang ada di hadapannya, membuat suasana di tempat itu menjadi riuh.


Tindakan Qing Ruo yang tiba-tiba itu membuat kelima pemuda itu ternganga.

__ADS_1


" Badj***n! ternyata kamu ingin memperdaya kami!" ucap pemimpin kelompok tersebut berbicara melalui telepati pada Qing Ruo dengan tatapan menyala.


🙏 Satu bab 🙏


__ADS_2