Sang Penguasa

Sang Penguasa
123. Gunung Bei Tian I.


__ADS_3

" Tuan," ucap Qing Ruo ragu, menatap pemuda yang menghalanginya tersebut,  dengan datar.


" Di mana sopan santun mu!" Dengan seringai dingin.


" Maksud tuan?" tanya Qing Ruo santai.


"  Apakah kamu akan  pergi begitu saja?"


" Bukankah tuan-tuan sendiri yang  tidak  ingin berbagi tempat ini?"


" Benar, kami tidak ingin berbagi. Tetapi  kamu telah memasuki tempat ini. Itu artinya kamu harus membayar..."


" Tuan, tempat Ini adalah kawasan bebas, jadi siapapun boleh memasukinya," ucap Qing Ruo menolak.


" Saudara, jangan berbasa-basi lagi. Ambil saja Guaiyi itu, lalu tendang dia keluar dari tempat ini," salah satu dari mereka menyela. Menatap Qing Ruo dengan rendah.


Qing Ruo terdiam, menatap ketiga pemuda itu dengan lekat.


"Jika tuan-tuan melakukannya, maka aku akan berteriak," ucap Qing Ruo menguji tekat ketiga pemuda tersebut sebelum dia benar-benar menghajarnya. Sontak saja kata- kata Qing Ruo membuat ketiga pemuda itu tertawa terbahak-bahak.


" Saudara, aku baru tahu, ternyata ada cara membela diri seperti itu...." menatap Qing Ruo yang terdiam, dengan tertawa lepas.


" Apakah pantas pendekar tingkat tinggi seperti kalian menindas yang lemah?"


" Menindas? Nak itu salahmu sendiri. Sudah tahu lemah tetapi namsih ingin melawan. Sudahlah, jika kamu menganggap nyawa lebih penting, maka tinggalkanlah Guaiyi itu, lalu pergi dari tempat ini!"


" Sungguh tidak tahu malu," ucap Qing Ruo mulai memprovokasi, membuat ketiga pemuda tersebut langsung terdiam.


" Jangan tidak tahu diri. Tidak membunuhmu saja seharusnya kamu bersyukur. Jadi jangan memaksa kami melakukan tindakan lebih..."


" Justru kalianlah yang berlebihan. Merasa diri lebih kuat,  lalu  menindas orang lain  sesuka hati. Oh, aku baru ingat. Bukankah  kalian  juga lemah,  buktinya kalian juga bersembunyi di tempat ini," ucap Qing Ruo kembali memprovokasi.


" Baj**"n. Sepertinya kamu harus dilenyapkan!" ucap salah satu dari mereka  dengan gusar, bergerak, hendak menampar Qing Ruo.


" Plak...plak..." Suara tamparan keras mengisi ceruk sempit itu.


" Akh..." sang pemuda merintih dan tersungkur di hadapan Qing Ruo, membuat kedua pemuda lainnya begitu terkejut.


" Apa! Bagaimana bisa pendekar tingkat raja dewa menghajar...." menjeda kata-katanya, menatap Qing Ruo dengan heran, sambil menjaga jarak.


Di hadapan ketiga pemuda tersebut, Qing Ruo yang masih memunculkan kekuatan pendekar raja dewa tingkat dasar, tersenyum santai.


" Apakah wajahku ini menakutkan..." melihat kedua pemuda lainnya yang kini bersikap waspada.


" Berdiri!" ucap Qing Ruo pada Pemuda yang tersungkur tersebut dengan tegas.


" Ba-baik tuan..." sambil  memegang wajahnya yang telah lebam terkena tamparan keras Qing Ruo.  


" Turunkan tanganmu!" Ucap Qing Ruo sekali lagi.


Baru saja Pemuda tersebut melepaskan tangan dari wajahnya, tamparan keras Qing Ruo kembali menghantam wajahnya.


" Plak...plak..." suara tamparan mengisi ceruk itu, berhenti pada saat sang pemuda roboh.


" Jika berani bersuara lagi, maka aku akan mematah tangan dan kakimu," ucap Qing Ruo dengan dingin.


Di sudut Dinding ceruk.  Dua pemuda lainnya yang masih belum mengerti bagaimana saudaranya itu membiarkan dirinya di tampar di hadapan mereka, menatap Qing Ruo yang kini duduk di sisi Thou Thou dengan heran.

__ADS_1


Lima  menit kemudian sang pemuda itu kembali berdiri.


" Tu-tuan," dengan terbata-bata, berlutut di hadapan Qing Ruo dengan hormat.


" Aku ingin beristirahat. Sekarang giliranmu.  Tampar mereka sebanyak dua kali lipat dari tamparan yang kamu Terima. Jika mereka tidak mau, maka hancurkan Kultivasinya," ucap Qing Ruo dengan tegas, menatap kedua pemuda yang masih berdiri di sudut ruangan.


" Ba-baik tuan." dengan terbata-bata, lalu berdiri, mendekati kedua saudaranya perlahan.


" Saudara..."  ucap salah satu dari mereka, sambil bergerak mundur.


" Pilihannya hanya ada dua. Membiarkan diri ditampar atau kehilangan kultivasi," ucapnya pelan.


" Saudara apakah kamu sudah tidak waras?"


" Saudara menurutlah. Jika tidak, kita semua akan kehilangan kultivasi.  Mungkin seluruh klan kita juga akan terlibat." Berbicara melalui telepati.


" Apa! Saudara, Siapa dia sebenarnya?"


" Saudara, dia adalah pendekar tingkat tinggi yang menyamar. Sudahlah, lakukan saja...." Membuat kedua pemuda itu begitu terkejut.


"  Tapi bagaimana saudara bisa tahu?"


" Dari lingkaran kekuatannya, yang tiba-tiba muncul saat menerima seranganku."


Tiba-tiba dari kawasan dalam gunung,  terdengar raungan hewan buas yang sangat keras, hingga menggetarkan tempat itu, membuat ketiga pemuda itu terdiam.


Qing Ruo yang sedangkan duduk beristirahat,  membuka matanya, menatap ketiga pemuda itu dengan mengerutkan keningnya.


" Tunggu apa lagi? Apakah kamu menganggap aku bercanda dengan kata-kataku!"


" Ta-tapi tuan, bukankah ini akan menarik perhatian hewan buas..."


" Swhus..." angin kekacauan muncul dari ujung jari Qing Ruo, melesat seperti bilah pedang, menghantam tubuh pemuda tersebut, dan merobohkannya.


" Akh.." rintih sang pemuda dengan tubuh bergetar menahan rasa sakit yang meremukkan tulang-tulangnya.


" Masih bisa hidup saja, seharusnya kamu bersyukur." mengembalikan kata-kata yang pernah diucapkan oleh pemuda itu sebelumnya.


Qing Ruo yang tidak menyangka jika dirinya bisa menggunakan kekuatan di tempat itu begitu terkejut.


" Ternyata ceruk ini terbebas dari aturan ruang dan waktu."  membatin, menatap dua pemuda lainnya yang hampir menjatuhkan rahangnya.


" Kalian berdua, tampar dia sebanyak seratus kali!"


" Apa! Tapi tuan..."


" Lakukan, atau kalian juga akan bernasip seperti dia..." dengan tatapan tajam.


" Ba-baik tuan."  Lalu menghampiri sosok yang masih begitu kesakitan tersebut. Satu Pemuda memegang dan menopang  tubuh tersebut, dan satu pemuda lagi menampar wajahnya.


" Plak... plak..." suara tamparan kembali terdengar.


Seiring dengan suara tamparan, suara raungan hewan buas dari kawasan dalam gunung juga semakin intens."


" Sepertinya telah terjadi pertempuran." Qing Ruo membatin.


Tidak lama kemudian,  suara tamparan itu berakhir bersamaan dengan ambruknya tubuh sang pemuda.

__ADS_1


" Sekarang giliran kalian. Seratus kali!" ucap Qing Ruo meminta kedua pemuda yang tersisa untuk menampar dirinya sendiri.


" Baik tuan.." dengan berat hati kedua pemuda tersebut mulai menampar dirinya sendiri.


" Thou Thou, awasi mereka. Jika berpura-pura. Patahkan kedua tangan dan kakinya..." Ucap Qing Ruo sambil memejamkan mata.


Di sudut ruangan,  pemuda yang sebelumnya telah roboh kini mulai memulihkan diri,  sambil menatap kedua saudaranya yang saling menampar wajahnya.


Di dalam hatinya, para pemuda itu  kini hanya bisa merutuk diri, menyesali perbuatannya karena telah berani mengganggu seseorang yang tidak seharusnya mereka singgung. 


" Roargh...." raungan keras itu semakin dekat, dengan suara ledakan pukulan yang terus bergema dan saling bersahutan.


" Thou Thou, awasi pertempuran tersebut," ucap Qing Ruo sambil membuka matanya, karena tidak bisa berkonsentrasi menyerap kekuatan spiritual  di tempat itu dengan tenang.


" Baik penguasa,"  berbicara melalui telepati, lalu bergerak meninggalkan tempat itu.


Tidak lama  setelah Thou Thou pergi, kedua pemuda tersebut akhirnya selesai menampar dirinya sendiri, berdiri dengan kaki bergetar menahan rasa sakit yang amat sangat di wajah mereka. 


" Duduklah," ucap Qing Ruo santai, sambil menatap wajah  yang sudah tidak bisa dikenali tersebut.


" Terima kasih tuan..." dengan bibir bergetar, lalu duduk di sisi saudaranya yang kini sedang memulihkan diri.


" Jelaskan padaku, berasal dari kelompok mana kalian, lalu  apa tujuan kalian datang ke tempat ini..." Dengan tatapan tajam.


" Tu-tuan, aku Dugu Leng.  Mereka suadaraku, Dugu Wan dan Dugu Cai. Kami berasal dari kota Bei Shi. Tujuan kami ke tempat ini adalah untuk mengambil rumput emas penguat jiwa..." Dugu Leng memperkenalkan diri, serta menjelaskan tujuanya.


" Apakah hanya itu saja?" Dengan tatapan penuh selidik, karena Qing Ruo merasa aura dari ketiga sosok itu hampir sama dengan pemuda yang sebelumnya ingin menindasnya.


Ke tiga pemuda itu terdiam, lalu salah satu dari mereka berbicara.


" Tuan, sebenarnya kami juga mencari sosok yang telah melukai tuan muda klan kami, Dugu Dan. Tidak hanya melukai, pendekar tersebut bahkan menghancurkan Dantiannya, berserta ke empat temannya."


"  Itu pasti kelima berandalan yang ingin menggangguku  sebelumnya," Qing Ruo membantin, menatap ketiga pemuda yang ada di hadapannya dengan tajam.


" Lalu Informasi apa yang kalian dapatkan dari tuan muda kalian tersebut?"


" Tidak ada tuan. Mereka justru meminta kami untuk tidak mencari orang yang melukai mereka tersebut,  tetapi kami tidak bisa tinggal diam, tuan." Dengan mata berapi-api. 


" Aneh, bagaimana cara kalian mengetahui pelaku tersebut, sedangkan  kalian tidak memiliki bukti apapun. Apakah kalian ingin menindas orang lain dengan  sembarangan seperti yang  mereka lakukan sebelumnya?" tanya Qing Ruo membuat ketiga pemuda  itu tampak begitu terkejut.


" Oh tidak," ucap mereka bersamaan, menatap Qing Ruo dengan wajah pucat pasi.


" Saudara, ternyata orang yang kita cari itu ada di hadapan kita." berbicara melalui telepati.


" Saudara, Dia adalah orang yang kejam. Apa yang harus kita lakukan...."


" Tidak heran jika sebelumnya kalian ingin menindasku. Mereka yang hanya pendekar tingkat kaisar dewa tetapi sudah begitu berani menindas orang lain, apalagi kalian yang sudah merasa berada  di tingkat yang paling tinggi...." ucap Qing Ruo sambil menggelengkan kepalanya, menatap ketiga pemuda itu dengan kesal.


" Ampuni kami tuan....." memohon sambil berlutut, yang justru membuat Qing Ruo semakin kesal.


" Swhuss... Swhus...." Rantai jiwa muncul, melesat memasuki tubuh ketiga pemuda tersebut.


" Tu-tuan..." Ucap Dugu Leng dengan ragu.


" Pergi dan awasi keadaan di luar. Jika kalian berani melawan, kalian juga akan bernasip sama dengan tuan muda kalian itu!"


" Ba-baik tuan..." Lalu bergegas meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Setelah Dugu Leng, Dugu Wan,  dan Dugu Cai pergi, Qing Ruo lalu mempelajari kekuatan yang ada di dalam ceruk yang ternyata bisa melepaskan diri aturan ruang dan waktu yang menyegel kawasan gunung Bei Tian tersebut.


__ADS_2