Sang Penguasa

Sang Penguasa
183. Qing Yan 1.


__ADS_3

Restoran Penginapan Hua Cun.


Di sudut ruangan, Qing Ruo duduk dengan tenang sambil menyesap minumannya dengan santai.


Di dalam pikirannya berkecamuk berbagai pertanyaan. Terutama mengenai keberadaan klan Qing, aturan, serta  statusnya yang begitu dihormati oleh sosok Qing Yan sebelumnya.


Sambil mengamati para tamu yang ada, Qing Ruo berusaha menenangkan pikirannya.


Tidak lama kemudian, sosok Qing Yan yang ditunggu akhirnya muncul di dalam restoran tersebut, yang langsung menghampiri Qing Ruo.


" Tuan muda," ucapnya dengan hormat.


" Baik, ikut aku," ucap Qing Ruo sambil membawanya menuju kamarnya.


" Baik tuan muda." sambil terus bergerak mengikuti Qing Ruo.


" Tinggal di penginapan sederhana, bahkan lingkaran kekuatan  sejatinya tidak terbaca sama sekali. Benar-benar penyamaran yang begitu luar biasa." Qing Yan membatin, sambil mengikuti Qing Ruo dengan tenang.


Tidak lama kemudian mereka akhirnya tiba di ruangan yang di maksud.


" Tuan muda," ucap Qing Yan dengan cepat, sambil membuka pintu kamar, dan mempersilakan Qing Ruo dengan hormat.


" Terima kasih," ucap Qing Ruo dengan ramah, lalu memasuki ruangan itu.


Di ruangan. Qing Ruo lalu duduk pada kursi sambil  mempersilakan Qing Yan yang masih berdiri.


" Duduklah," ucap Qing Ruo dengan ramah.


" Tapi tuan muda...." Dengan wajah ragu.


" Bagaimana kita akan berbicara dengan cara seperti ini. Aku duduk dan kamu berdiri. Bukankah akan terlihat sangat aneh?"


" Tapi tuan muda..."


" Duduklah, aku sangat membenci aturan seperti itu." ucap Qing Ruo dengan tegas, membuat Qing Yan akhirnya duduk pada kursi.


" Nah, seperti ini kan lebih nyaman," ucapnya sambil mengeluarkan arak rumput kristal dari dalam cincin penyimpananya, lalu menuangkan minumannya pada gelas yang telah tersedia.


" Minumanlah," ucap Qing Ruo sambil memberikan gelas kecil tersebut, lalu menyesap minumannya dengan santai.


" Te-terima kasih tuan muda," jawabnya terbata sambil meraih minuman itu dan menyesapnya dengan perlahan.


" Benar-benar minuman yang nikmat," batinnya sambil menatap Qing Ruo yang begitu tenang.


Tidak lama kemudian, Qing Ruo lalu mengeluarkan kotak giok yang berisi lima buah persik abadi, lima apel emas dan puluhan butir anggur bumi abadi, lalu meletakannya  di atas meja.


" Saudara Yan, silakan dinikmati," ucapnya sambil menikmati buah apel emas yang telah berevolusi tersebut dengan santai, sambil mengubah panggilannya.


" Terima kasih tuan muda." sambil meraih buah apel emas tersebut, lalu menggigitnya sedikit demi sedikit  dengan perlahan.

__ADS_1


Sesekali dari wajahnya tampak perubahan kecil yang menandakan bahwa buah itu sangat berpengaruh padanya.


" Saudara Qing Yan, aku adalah orang bebas. Dan aku juga tidak  suka dengan aturan yang kaku. Namun bukan berarti aku membenci aturan itu, karena pada dasarnya aturan itu di buat agar segala sesuatu tertata dengan baik," ucap Qing Ruo memulai percakapan santainya.


Di hadapa Qing Ruo, Qing Yan menganggukkan kepalanya, meyimak setiap kata yang di ucapkan dengan seksama.


" Saudara Qing Yan, apa yang membawa  saudara ada  di kawasan utara ini?"


" Misi tuan." 


" Misi?"


" Benar, hamba sudah hampir lima tahun berada di kawasan ini dengan misi mencari keberadaan patahan tongkat emas Shen Guoshi Yisheng yang pernah di patahkan oleh leluhur agung."


" Lalu bagaimana perkembangannya?" tanya Qing Ruo berpura-pura. 


" Nihil," jawabnya pelan.


" Sepertinya saudara harus bekerja lebih keras lagi," ucap Qing Ruo santai, sambil menikmati minuman.


" Sepertinya memang demikian. Lalu tuan muda sendiri?" tanya Qing Yan yang masih tidak berani mengubah panggilannya.


" Aku juga sedang dalam misi, tapi rahasia," jawab Qing Ruo.


" Tuan muda,"ucapnya ragu.


" Saudara Yan, bicaralah," ucap Qing Ruo dengan santai.


" Bicaralah," ucap Qing Ruo dengan santai.


" Tuan muda, maaf sebelumnya, apakah Anda benar-benar keturunan leluhur Qing Fengbao?" Tanya Qing Yan dengan penasaran.


Qing Ruo menganggukkan kepalanya, sambil mengeluarkan lencana giok putih dengan lambang petir angin. Selain itu, dia juga menunjukkan mantra formasi petir angin.


" Trark...." kilatan petir muncul  secara teratur, membetuk pusaran tombak  angin lalu membentuk bola petir yang siap menyerang.


" Tuan muda, tidak perlu sampai melakukan itu. Dengan melihat lencana itu, aku sudah percaya, apalagi dengan teknik yang tuan muda tunjukan. Tuan muda,  teknik petir angin adalah teknik serangan badai petir  yang sangat di kagumi, dan momok yang menakutkan bagi para musuh. Karena jarak serangannya yang luas. Tuan muda, maaf meragukan anda sebelumnya."


" Mengapa bisa demikian?" Tanya Qing Ruo.


" Itu karena selama ribuan tahun ini, kami mengira leluhur Fengbao telah tiada," ucapnya menatap Qing Ruo dengan lekat.


" Tiada?"


" Tuan muda, ini sudah belasan ribu tahun yang lalu, sejak leluhur Fengbao meninggalkan Klan. Dan Leluhur Agung  Kongque  mengira   leluhur Fengbao telah tiada. Karena selain sosoknya yang tidak pernah kembali, lencana giok jiwanya yang berada di altar suci juga telah hancur."


Qing Ruo tersenyum ramah menganggukkan kepalanya.


" Saudara Yan, bukankah lencana Giok jiwa bisa di manipulasi. Perlu saudara Yan ketahui. Kami keturunan Leluhur Fengbao terdiri dari dua belas ribu jiwa  di keluarga utama, dan tiga keluarga cabang yang berjumlah tiga puluh dua ribu jiwa," ucap Qing Ruo dengan santai, membuat Qing Yan ternganga.

__ADS_1


" Bagaimana mungkin. Selama ribuan tahun ini, kami bahkan tidak pernah bertemu...."


" Lalu kita sekarang disebut apa?" tanya Qing Ruo.


" Tuan muda benar," ucapnya tertawa malu.


" Lalu jika hamba boleh tahu, mengapa tuan muda dan yang lainnya tidak kembali ke klan?"


" Justru itulah yang ingin aku tanyakan pada saudara," ucap Qing Ruo dengan serius.


" Maksud tuan muda?"


" Saudara, kami telah terpisah hingga ribuan tahun. Apakah mungkin kami kembali lagi? Selain itu, kami juga sangat tidak suka dengan aturan yang ketat dan keras itu," ucap Qing Ruo menjelaskan, membuat Qing Yang terdiam.


" Tuan muda benar. Walaupun demikian, aturan itu dibuat untuk melindungi seluruh anggota klan  serta menjadi pengingat, agar setiap orang mengerti batasannya. Yang muda menghormati yang tua. Yang berasal dari keluarga utama mendapat hak dan kedudukannya, begitu juga dengan klan keluarga cabang, hendaknya jangan ingin bersikap seperti tuan utama."


Qing Ruo menganggukan kepalanya.


" Saudara Yan benar. Jika demikian, Apakah saudara tahu bagaimana cara kami kembali ke klan?"


" Tuan muda, aku juga tidak tahu."jawabnya dengan serius.


" Saudara Yan, jujur saja aku juga ingin menemui  para tetua di klan utama, tapi aku tidak tahu kemana aku harus mencari."


" Tuan muda bisa pergi ke selatan, pergilah ke kota Ye. Di kota itu tuan muda  bisa pergi ke klan Liang , yang merupakan nama samaran dari klan Qing. Selain itu, tuan muda juga  bisa pergi ke kota Han, dan mencari klan Di Er, yang juga nama samaran dari klan Qing. Dari kedua tempat itu, tuan muda bisa menggunakan gerbang teleportasi untuk pergi ke daratan es selatan. Di kawasan terdalam daratan es selatan, tuan muda akan menemukan gerbang petir hitam, yang merupakan gerbang untuk pergi ke klan utama. Dari gerbang petir selatan, tuan muda bisa pergi ke kediaman suci," ucap Qing Yang menjelaskan dengan rinci.


" Baik saudara. Terima kasih," ucap Qing Ruo dengan tenang. Di dalam hatinya, dirinya begitu bahagia karena akhirnya mengetahui tempat rahasia tersebut.


" Tapi tuan muda perlu berhati-hati. Daratan es selatan adalah tempat terlarang yang sangat berbahaya."


Qing Ruo menganggukkan kepalanya.


" Saudara Yan, tenanglah," ucap Qing Ruo dengan hormat.


" Semi abadi tingkat delapan, aku saja yang terlalu bodoh." batinnya tersebut kecut.


" Tuan muda tidak perlu sungkan. Ini adalah kewajiban dan kehormatan bagiku," ucapnya.


" Saudara Yan, ada satu hal yang mengganggu pikiranku hingga saat ini," ucap Qing Ruo dengan tatapan menerawang.


" Tuan muda, apa itu?"


" Alasan Leluhur Fengbao meninggalkan Klan," Jawab Qing.


" Tuan Muda, akupun juga tidak tahu. Satu-satu cara untuk mengetahui hal itu adalah dengan menemui leluhur agung Kongque di kediaman suci. Selain itu, aku yakin kedatangan tuan muda akan menjadi kabar baik bagi leluhur agung."


Qing Ruo menganggukkan kepalanya.


" Semoga saja demikian. Saudara Yan, aku ingin saudara tetap merahasiakan hal ini."

__ADS_1


" Baik tuan muda," jawabnya dengan hormat.


__ADS_2