Sang Penguasa

Sang Penguasa
91. Permohonan Hua Zuigao dan Hua Zhanglao.


__ADS_3

Qing Ruo dan rombongannya meninggalkan aula istana kota dengan santai, tanpa menghiraukan tatapan Hua Zuigao dan semua orang yang ada di dalam ruangan itu yang masih mematung.  Hingga mereka keluar dari dalam ruangan, Hua Zuigao masih tidak bergeming dari tempatnya.


Di Halaman Istana kota.


Heian Bai dan rombongannya menatap Qing Ruo dengan heran.


" Saudara Jianyu, sejak kapan saudara Ruo naik tingkat menjadi Semi abadi tingkat delapan?" tanya Heian Bai melalui telepati.


Murong Jianyu yang benar-benar tidak mengetahui rahasia itu, menggelengkan kepalanya.


" Saudara Ruo, apakah saudara yakin rencana ini akan berhasil?" tanya Dalu Rong, berbicara pada Qing Ruo melalui telepati.


" Tentu saja aku yakin." jawab Qing Ruo dengan santai.


" Tapi penguasa, bagaimana jika mereka..." ucap Murong Jianyu ragu.


" Aku sudah membuat mereka berhutang. Lagipula bagaimana mungkin mereka menolak pemberianku itu." Qing Ruo menjelaskan.


" Semoga saja," ucap Murong Jianyu pelan, sambil memikirkan sumber daya yang menurutnya begitu banyak tersebut.


" Penguasa Muda ternyata sangat kaya, berani dan begitu ahli dalam  mempengaruhi orang lain, tapi sayang, sumber daya seperti itu tidak terlalu berguna untuknya," Membatin, menatap Qing Ruo dengan hormat, sambil terus melangkahkan kakinya mengikuti Qing Ruo yang bergerak meninggalkan istana kota.


***


Aula istana.


" Patriark," ucap Hua Zhanglao mengejutkan Hua Zuigao yang masih terdiam.


" Tetua, apa pendapat Anda?" Sambil menatap tiga buah peti yang berisi sumber daya tingkat tinggi  tersebut.


" Ini adalah sumber daya yang sangat banyak. Kita tidak bisa menolak, karena kita sangat membutuhkannya, tetapi jika kita mengambil sumberdaya ini, itu berarti kita telah berhutang padanya."


" Para tetua, apa solusi kalian?" tanya Hua Zuigao.


" Patriark, apakah Anda ingat dengan kata-kata yang pernah pebguasa muda Qing Ruo lontarkan sebelumnya?"


" Maksud tetua?"


" Kerjasama," jawab sang tetua.


" Akh... tetua benar, tetapi ..." ucap Hua Zuigao ragu.


" Patriark, satu-satunya cara adalah dengan bekerja sama dengannya. Lagipula kesempatan tidak datang dua kali, dan memohon juga bukanlah sebuah sesuatu yang hina," ucap Hua Zhanglao, dengan tatapan serius.


" Tetua agung benar. Masalah utama kita untuk berdamai dengan Shen Shandian Luo telah selesai. Itu artinya kita bisa memulai hubungan baru bersama mereka, dengan menjadi klan sekutu mereka," ucap tetua yang lain berpendapat.


" Tetapi jika kita memohon, bukankah hal itu adalah sesuatu yang sangat memalukan? terlebih lagi bagaimana sikap kita sebelumnya, yang bahkan tidak menunjukkan rasa hormat sedikitpun," ucap Hua Zuigao, membuat ruangan itu kembali hening.


Beberapa tertua yang sebelumnya menghina tingkat kekuatan Qing Ruo, terdiam. Ledakan aura semi abadi tingkat delapan, yang di lepaskan oleh Qing Ruo sebelumnya, membuat tubuh mereka bergidik.

__ADS_1


" Patriark, semakin lama anda membuat keputusan, maka semakin jauh pengusaha muda Qing Ruo meninggalkan tempat ini," ucap Hua Diu dengan suaranya yang lantang.


" Diu er," ucap Hua Zhen menarik lengan bajunya.


Hua Zuigao menatap Hua Diu, dan menganggukkan kepalanya.


" Jangan ada yang meninggalkan istana. Selain itu, aku juga tidak ingin melihat ada kursi perak itu lagi..." sambil menangkupkan tangannya,  menatap Hua Zhen dan rombongannya yang masih terdiam dengan hormat.


" Tetua Agung, mari," ucap Hua Zuigao membawa  Hua Zhanglao, bergerak   meninggalkan tempat itu.


****


Di tempat lain.


Qing Ruo membawa Heian Bai, Dalu Rong dan Murong Jianyu ke sebuah kedai sederhana, dan berbincang-bincang santai dengan mereka, sambil mengirim pesan pada Hu Shan dan rombongannya untuk meninggalkan kota itu melalui benteng Timur.


" Saudara Bai, Saudara Rong, hingga masanya tiba, kita akan berjumpa kembali," ucap Qing Ruo dengan hormat.


" Saudara Ruo, kami akan salalu menantikan masa itu." Ucap Heian Bai dengan penuh semangat.


Qing Ruo menganggukan kepalanya, menatap kedua sosok itu dengan hormat.


" Jaga diri kalian. Berhati-hatilah dalam bertindak. Ingat untuk selalu melindungi Luo Xing, dan jadilah semakin kuat." Sambil menyerahkan cincin penyimpanan pada mereka bertiga, yang berisi lima puluh buah persik abadi yang telah berevolusi.


" Saudara Ruo, ini..." ucap Heian Bai dan rombongannya dengan ragu.


" Terimalah. Aku ingin kalian menjadi kuat," ucapnya dengan senyumnya yang ramah.


Qing Ruo menggelengkan kepalanya.


" Jika orang lain mendapatkan bagiannya, lalu bagaimana mungkin kalian yang merupakan saudaraku tidak mendapatkan apa-apa. Terimalah. Aku akan sangat kecewa jika kalian menolak pemberianku ini..." Dengan wajah serius.


Heian Bai dan rombongannya hanya bisa menganggukan kepalanya.


" Terima kasih," ucap mereka dengan tulus, lalu melanjutkan perbincangan santai mereka.


" Saudara Ruo, sering-seringlah mengabari kami," ucap Heian Bai.


" Baik. Kalian juga," jawabnya, sambil membicarakan banyak hal.


Menjelang Sore, Hean Bai, Dalu Rong dan Murong Jianyu meninggalkan kota Hua melalui gerbang barat, kembali menuju benteng pasukan pertahanan perbatasan Utara, untuk kembali ke Istana kekaisaran langit.


Setelah Heian Bai dan rombongannya pergi, Qing Ruo yang masih berada di tempatnya, senyum-senyum sendiri,  merasakan dua sosok semi abadi tingkat lima yang terus mengawasi pergerakannya.


Dengan santai, Qing Ruo lalu keluar dari kedai sederhana tersebut,  melanjutkan perjalanannya menuju gerbang timur kota Hua.


Lima kilo meter kemudian,  setelah berada di tempat yang sedikit sepi, tiba-tiba Qing Ruo merasakan aura yang mengawasinya  tersebut semakin dekat padanya.


" Keluarlah," ucap Qing Ruo santai, berdiri menunggu kedua  sosok tersebut muncul dihadapannya.

__ADS_1


" Swhus... swhus..." Dua tetua tingkat tinggi klan Hua muncul di hadapannya.


" Penguasa Muda Qing Ruo," ucap kedua tetua tersebut, memperkenalkan diri sebagai Hua Liung dan Hua Huan.


" Tetua Hua Liung, tetua Hua Huan, bicaralah," ucap Qing Ruo dengan ramah.


" Penguasa Muda, kami berdua secara khusus mewakili patriark Hua Zuigao, ingin mengundang Anda ke istana kota," ucap Hua Huan dengan hormat.


Qing Ruo mendesah panjang, lalu  menggelengkan kepalanya.


" Tetua, Aku benar-benar memiliki urusan mendesak di tempat lain yang harus segera aku selesaikan,"ucap Qing Ruo dengan serius, membuat kedua tetua tersebut menegang.


" Penguasa muda, kami mohon. Datanglah walaupun hanya sebentar saja. Dengan demikian, kami dapat menjelaskan pada patriark dan tetua Agung bahwa kami benar-benar telah bekerja dan mencari anda." Hua Liung memohon.


" Seberapa pentingkah urusan itu?"


" Sangat penting penguasa muda," jawab Hua Huan dengan cepat.


" Jika memang penting, lalu mengapa kalian yang  harus melakukannya?"


" Penguasa muda, sebenarnya patriark dan tetua Agung dari siang sebelumnya sudah melakukan pencarian, namun mereka gagal menemukan anda." Hua  Huan menjelaskan.


" Sungguh lemah. Bagaimana mungkin seorang pemimpin kota  bahkan tidak mengetahui keberadaan orang lain yang berada di dalam kotanya sendiri," ucap Qing Ruo, membuat Hua Liung dan Hua Huan langsung terdiam di hadapannya.


Tidak lama kemudian, Hua Zuigao dan Hua Zhanglao tiba di tempat itu.


" Penguasa muda," ucap mereka menyapa Qing Ruo dengan hormat.


" Patriark, tetua agung," ucap Hua Liung, menatap Hua Zuigao dan Zhanglao dengan penuh arti.


" Tetua Huan, tetua Liung, terima kasih. Kalian berdua kembalilah terlebih dahulu, kami akan menyusul,"  ucap Hua Zuigao memberi perintah.


" Baik," jawab Hua Liung dan Hua Huan,  lalu bergerak meninggalkan tempat itu.


Setelah kedua tetua tersebut benar-benar pergi, Hua Zuigao lalu menyegel tempat itu.


" Penguasa muda, aku Hua Zuigao secara pribadi serta seluruh klan Hua, meminta maaf atas tindakan kami yang benar-benar tidak terpuji sebelumnya. Jika pengusaha muda berkenan, izinkan aku mengundang dan menjamu penguasa muda sekali lagi." Dengan Sikap bersungguh-sungguh.


Melihat gelagat Qing Ruo  yang sepertinya tidak tertarik dengan undangan Hua Zuigao, Hua Zhanglao langsung mencoba mempengaruhi Qing Ruo.


" Penguasa muda, Ada banyak hal penting yang perlu diklarifikasi, terutama mengenai hubungan kami dengan Shen Shandian Luo, serta kediaman utama keluarga emas Hua dengan kediaman perak Hua Zhen. Penguasa muda, kami ingin Anda kembali ke istana dan membicarakan masalah itu serta menjadi saksi perdamaian antara kediaman utama dengan kediaman Hua Zhen," ucap Hua Zhanglao dengan wajah serius.


Hua Zuigao begitu senang saat melihat reaksi Qing Ruo yang  mulai tertarik dengan pernyataan Hua Zhanglao.


" Penguasa muda, jujur saja, kami klan Hua tidak ingin lagi bermusuhan dengan Shen Luo, sehingga hal seperti ini perlu untuk di bicarakan dengan serius," ucap Hua Zuigao, dengan serius.


" Pembicaraan serius seperti apa yang patriark inginkan. Jika hanya sekedar  membicarakan hal seperti itu? Bukankah semuanya sudah jelas. Tidak ada lagi permusuhan diantara kita.  Lagi pula, aku juga sudah memberikan kompensasi yang seharusnya tidak aku berikan." dengan tatapan dingin, membuat Hua Zuigao dan Hua Zhanglao yang sebelumnya pernah merasakan ledakan aura Semi abadi tingkat delapan dari tubuh Qing Ruo terdiam, dengan keringat dingin.


Hua Zuigao yang merasa salah bicara tersebut terdiam. Menatap Hua Zhanglao dengan penuh arti.

__ADS_1


" Penguasa muda, sebenarnya kami ingin bekerjasama dengan anda," ucap Hua Zhanglao, membuat tempat itu tiba-tiba menjadi hening.


__ADS_2