Sang Penguasa

Sang Penguasa
214. Hutan Gelap 6.


__ADS_3

" Dhuar....dhuar ...." Ledakan dahsyat bergema, menggetarkan tempat itu dengan ekstrem, mengubah pohon-pohon raksasa menjadi debu.


" Tuan muda, apa yang harus kita lakukan?" tanya Yanshi Gong dengan wajah pucat pasi.


" Tetua, tenanglah...." ucap Qing Ruo sambil membuat segel tangan.


" Tuan muda, jika aku mati hari ini, aku-"


" Tetua, masuklah," ucap Qing Ruo sambil membuka gerbang dimensi cincin penyimpanannya, dan meminta Lang Chen ikut serta.


" Tapi tuan muda...."


" Tetua, kita tidak memiliki waktu lagi. Lindungi diri kalian di dalam cincin. "


" Ba-baik, tuan muda." Lalu masuk ke dalam cincin penyimpanan Qing Ruo.


" Penguasa, ini...." ucap Long Chen dengan wajah khawatir.


" Long Chen, aku ada ide. Lakukan sekarang atau kita benar-benar tidak bisa pergi dari tempat ini." Dengan wajah serius.


" Baik penguasa." Dengan raut  wajah tidak rela.


" Temani  Yanshi Gong, dan lindungi diri kalian di dalam," ucapnya sekali lagi.


" Baik, penguasa." Lalu lenyap di dalam cincin penyimpanan Qing Ruo.


" Leluhur Shen Guoshi Qing, Leluhur Shen Guoshi Ling, beri aku kekuatan." sambil membuat segel tangan, mengurung diri di dalam bola cakram emas lalu bertransformasi menjadi Phoenix biru.


****


Di dunia luar.


Ke dua kucing hitam bermata gelap itu terus bergerak, melepaskan tembakan angin,  menghancurkan pohon-pohon raksasa yang ada di hadapannya.


" Dhaur.... dhuar...."  Ledakan dahsyat bergema dengan keras bersamaan dengan robohnya pohon-pohon raksasa tersebut dan melemparnya hingga berbagai arah.


" Dhuar....." Tembakan keras itu akhirnya mengenai pohon yang ditempati oleh Qing Ruo, menghancurkannya dan memisahkan bagian pohon itu berbagai arah.


" Swhuss...." bagian pohon yang Qing Ruo tempati terlempar hingga ratusan meter, menghantam pohon-pohon raksasa lainnya, yang tersamar seperti debu hingga ratusan meter.


" Akh..." Qing Ruo merintih tertahan, karena ledakan dahsyat itu hampir menghancurkan bola emas Langit Ling.


" Swhus... swhus...." bola emas itu terlempar dan terus terpental hingga menghantam pohon raksasa lalu berhenti.


Ratusan meter dari tempat Qing Ruo berada, kedua jenderal hewan gelap itu terus menyerang setiap tempat dan menghancurkannya.


" Swhuss...swhus...." Tapak cakar hitam raksasa muncul dari langit, menghantam hamparan pohon-pohon raksasa, mengubahnya menjadi debu.


" Dhuar... dhuar...." ledakan dahsyat itu terus bergema mengetarkan tempat itu.


****


Di dalam cicin penyimpanan Qing Ruo.


Yanshi Gong terdiam dengan pikirannya, menatap Long Chen yang tampak tenang

__ADS_1


" Tuan Long Chen, apakah tuan Muda Qing Ruo menjelaskan rencannya?"


" Tuan Gong, aku juga tidak tahu. Tapi aku percaya pada tuanku." Dengan perasaan yang tidak menentu.


Jawaban Long Chen membuat Yanshi Gong terdiam.


" semoga keajaiban datang, karena sangat mustahil  bisa selamat dari Semi abadi tingkat sembilan tahap puncak." batinnya menangis.


****


Di dalam bola Cakram Emas Langit Ling.


Qing Ruo yang terluka parah dengan tubuh transformasinya yang bersimbah darah, berharap kekacauan aura dalam tubuhnya tidak dirasakan oleh Mao Cheng dan Mao Teng yang terus bergerak  menghancurkan setiap tempat yang dicurigai untuk mencari keberadaanya.


" Swhus," tranformasinya lenyap dengan punggung dan sebagian tangannya yang terkoyak. Dengan gigi gemeretak, Qing Ruo memulihkan lukanya dengan perlahan.


Lima menit kemudian, seluruh kawasan yang dicurigai oleh kedua kucing hitam itu, akhirnya selesai dihancurkan.


" Saudara Teng, sepertinya tempat ini benar-benar kosong atau mereka memang sudah meninggalkan tempat ini..." Ucap Mao Cheng dengan heran.


" Saudara Cheng, aku benar-benar hampir tidak percaya jika mereka ternyata telah pergi dari tempat ini." ucap Mao Teng dengan kesal.


" Jenderal, terus bergerak dan perluas wilayah penyisiran," ucap Mao Cheng memberi perintah pada para jenderal bawahannya.


" Baik jenderal." lalu bergerak meninggalkan tempat itu.


Setelah para jenderal dan beberapa pasukannya pergi. Mao Teng dan Mao Cheng masih berada di tempat itu, memeriksa tempat itu dengan kesadarannya.


" Saudara Teng, tempat ini benar-benar kosong. Atau kita benar-benar telah membunuh mereka?"


" Jika demikian, kita akan memperluas wilayah penyisiran."


" Baik."


Sebelum pergi,  Mao Teng dan Mao Cheng menyegel seluruh kawasan, dan meminta beberapa kadal hitam raksasa berjaga, mengawasi segel mantra formasi tersebut.


" Bergerak!" ucap Mao Teng lalu meninggalkan tempat itu.


*****


Di tempat persembunyiannya, Qing Ruo yang telah terkubur hingga belasan meter bersama potongan kayu dan batu raksasa, akhirnya dapat bernafas dengan lega, setelah merasakan aura kedua kucing hitam bermata gelap itu telah pergi.


" Sepertinya masih belum bisa bergerak," batinnya saat merasakan kehadiran beberapa aura  yang masih berjaga di tempat itu, walaupun demikian Qing Ruo kini mulai berani meyerap pil pemyembuh Fuyuan dan mutiara jiwa abadi.


****


Di dalam cincin penyimpanan Qing Ruo.


Yanshi Gong masih tampak begitu gelisah, karena masih belum ada kabar dari Qing Ruo.


" Tuan, sebaiknya kita memulihkan diri, agar kita siap menghadapi situasi yang tidak terduga," ucap Long Chen.


" Baik tuan..." dengan wajah ragu.


Tidak lama kemudian, Long Chen mendapat kabar dari Qing Ruo.

__ADS_1


" Tuan Long Chen, apakah kita selamat?"


" Sepertinya demikian, tapi aku juga belum bisa memastikannya, namun tuan muda meminta kita untuk tetap tenang," jawab Long Chen.


" Baik," ucap Yanshi Gong sambil berusaha menenangkan pikirannya.


****


Di dunia luar.


Tiga jam kemudian, malam pun tiba. Tetapi hewan gelap yang berjaga di kawasan yang tersegel itu masih belum juga pergi, bahkan beberapa sosok dengan aura semi abadi tingkat delapan berdatangan di tempat itu dan ikut berjaga.


Qing Ruo yang berada di dalam bola Emas cakram Langit Ling yang terkubur, hanya bisa bersabar dan menunggu, sambil sesekali melepaskan kesadaran dewanya, memeriksa tempat itu.


Tanpa terasa, malam pun berlalu. Di dalam bola Emas,  Qing Ruo yang telah selesai b memulihkan lukanya, sedang bersiap-siap, menunggu hari benar-benar terang untuk melakukan rencananya.


Satu jam kemudian.


Kadal hitam raksasa dan pasukannya mulai mencari tempat untuk berlindung, karena cenderung menyukai tempat gelap. Namun pada saat mereka mulai menjauh dari kawasan telah menjadi padang pasir itu, tiba-tiba kawasan itu bergetar.


" Dhuar..... dhuar...." Ledakan dahsyat bergema dengan keras, bersamaan dengan munculnya tiga semut hitam raksasa yang langsung menggila di tempat itu.


" Apa yang terjadi bagaimana bisa mereka ada di dalam....."


" Mereka pasti para dewa kep***t yang sedang menyamar. Tangkap dan bunuh mereka!" Teriak Komandan pasukan memberi perintah pada prajuritnya untuk segera menangkap ketika semut hitam yang sedang menggila tersebut.


" Swhus...swshus..." Mereka bergerak memasuki segel, dan mulai bertarung dengan ketiga semut hitam raksasa tersebut.


" Dhuar... dhuar...." Ledakan dahsyat bergema, mengguncang kawasan itu. Memanfaat kekacauan tersebut, Qing Ruo langsung keluar dari dalam persembunyiannya, melepaskan tembakan racun hati monyet dan herbal kayu bayangan.


" Dhuar... dhuar...." Suara ledakan pertempuran itu berbaur dengan ledakan herbal kayu bayangan dan racun hati monyet yang langsung menyebar di tempat yang telah tersegel tersebut.


" Swhuss..." Qing Ruo bergerak ke arah timur, menembus perisai segel kabut hitam yang dibuat oleh Mao Cheng dan Mao Teng sebelumnya, dan terus bergerak ke arah timur, lalu mengubah haluannya bergerak ke arah utara.


****


Di dalam perisai kabut gelap.


Pertempuran hebat itu terus bergulir, bahkan menjadi semakin ekstrem, dengan puluhan hewan gelap yang terdiri dari kadal hitam raksasa, ular hitam dan tiga sosok kucing hitam bermata gelap yang merupakan jenderal tingkat rendah pasukan hewan gelap, melawan  ketiga semut hitam raksasa yang bertempur dengan membabi-buta.


Pertempuran dahsyat itu  terus menggetarkan seluruh kawasan, hingga menarik perhatian hewan gelap lainnya yang sedang menyisir wilayah hutan tersebut.


Di tempat lain.


Mao Teng dan Mao Cheng yang terus bergerak menyisir kawasan hutan itu, tiba-tiba dikejutkan dengan ledakan pertempuran tersebut.


" Saudara, darah emas telah melewati segel kabut gelap."


" Benar. Itu berarti...."


Tidak lama kemudian datang seorang jenderal tingkat rendah.


" Jenderal, ada apa?"


" Jenderal besar, telah terjadi pertempuran di dalam segel kabut gelap. Tiga komadan semut  hitam yang hilang sebelumnya,  tiba-tiba muncul dan mengamuk di tempat itu," ucap sang jenderal tingkat rendah melapor, membuat Mao Teng dan Mao Cheng saling berpandangan.

__ADS_1


" Ini pasti ulah dewa kepa**t itu," ucap Mao Teng murka, lalu meninggalkan tempat itu, bergerak menuju pusat pertempuran.


__ADS_2