
Ruangan utama Klan Yanshi.
Yanshi Gong yang ditemani oleh lima tetua lainnya, serta beberapa murid, duduk di dalam ruangan itu dengan tenang.
" Jika aku tidak kembali, maka tugas-tugasku di klan, aku serahkan sepenuhnya kepada saudara Choi," ucap Yanshi Gong sambil menyesap minumannya dengan santai.
" Tapi saudara, bagaimana jika pemimpin kota meminta saudara yang lain?"
" Maka lakukan saja." ucap Yanshi Gong.
Pada saat mereka sedang berbincang-bincang, tidak lama kemudian, Qing Ruo dan Long Chen memasuki ruangan.
" Tetua," ucap Qing Ruo menyapa semua orang yang ada di dalam ruangan itu dengan hormat.
" Tuan muda, tuan Long Chen," ucap Yanshi Gong dan rombongannya, berdiri menyambut kedatangan Qing Ruo dengan hormat, sambil mempersilakan Qing Ruo dan Long Chen duduk pada kursi kehormatan.
" Terima kasih," ucap Qing Ruo dengan hormat.
" Tuan muda, mereka adalah para tetua klan Yanshi. Adapun patriak sedang lakukan perjalanan jauh dan belum kembali," ucap Yanshi Gong memperkenalkan satu per satu sosok tersebut dengan ramah. Selain itu, Yanshi Gong juga memperkenalkan lima jenius klan mereka.
" Yangshi Shengyin, adalah murid utama klan kami dan saudarinya Yanshi Wuyin," ucapnya perkenalkan gadis yang menjadi penjaga pintu kamar sebelumnya.
" Para tetua, saudara Shenyin, saudari Wuyin dan saudara sekalian, aku Qing Ruo. Senang berjumpa dengan tetua sekalian," ucap Qing Ruo memperkenalkan diri dengan hormat, lalu di ikuti oleh Long Chen yang memperkenalkan dirinya sebagai pelayan Qing Ruo.
" Tuan muda, terima kasih sudah singgah di klan kecil kami ini," ucap Yanshi Choi dengan hormat.
" Tetua, ini ini adalah kehormatan bagiku, karena diperkenalkan oleh para tetua sekalian untuk beristirahat di tempat ini." ucap Qing Ruo dengan sikapnya yang ramah.
" Tuan muda, mengenai murid klan kami. Apakah ada sesuatu yang ingin tuan muda sampaikan..." ucap Yanshi Gong.
Qing Ruo terdiam sesaat, mengamati kelima murid Klan yang sudah berada di tingkat dasar hingga tingkat dua semi abadi tersebut dengan santai.
" Tetua Gong, aku pun masih muda dan sama seperti mereka. Apakah aku pantas melakukannya?"
Kata-kata Qing Ruo membuat Yanshi Gong dan rombongannya saling berpandangan.
" Tuan muda terlalu merendahkan diri. Walaupun Anda masih sangat muda, tetapi ada jarak yang begitu besar memisahkan mereka dengan Anda," ucap Yanshi Gong dengan serius.
Qing Ruo menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Tetua, mereka adalah generasi Klan Yanshi yang sangat luar biasa. Mereka sudah bisa berada di titik ini, itu adalah hal yang sangat menakjubkan. Lagi pula Anda juga tidak boleh membandingkan percapaian orang lain dengan apa yang telah mereka peroleh. Tetua, mereka yang memiliki bakat dan kemampuan harus didukung secara penuh," ucapnya sedikit tidak senang karena bandingkan seperti itu.
" Baik tuan."
" Saudara Shenyin, aku hanya ingin mengatakan bahwa, mereka yang bekerja akan menikmati hasil. Selain itu jangan biarkan kemudahan membuat kita lupa untuk berusaha. Satu lagi, latihan yang sesungguhnya adalah ketika kita berada di luar Klan," ucap Qing Ruo dengan ramah, sambil memberikan masing-masing murid itu cincin penyimpanan yang berisi tiga buah apel emas.
" Tuan muda, ini...." Ucap Yanshi Shengyin ragu, dengan sikap menolak.
" Mohon saudara untuk tidak menolak," ucap Qing Ruo dengan ramah.
" Terima kasih tuan muda," ucap Kelima murid itu dengan hormat.
" Tetua Gong, seperti kita sudah bisa pergi," ucap Qing Ruo.
" Baik tuan muda." Lalu berbicara pada rombongannya.
" Saudara, ingat pesanku sebelumnya," ucap Yanshi Gong dengan serius.
" Baik," jawab para tetua itu menanggapi.
" Para tetua, maaf tidak bisa berlama-lama, karena kami akan segera pergi. Terima kasih telah memberikan tumpangan kepada kami untuk tinggal dan beristirahat di tempat ini," ucap Qing Ruo sambil menyerahkan cincin penyimpanan pada Yanshi Choi, namun dengan segera di tolaknya.
" Tuan muda, kehadiran anda di tempat ini adalah kehormatan bagi klan kecil seperti kami. Maaf kami benar-benar tidak bisa menerima pemberian tuan ini," ucapnya dengan hormat.
" Tapi tuan muda, sebelumnya Anda sudah memberikan para murid klan kami....."
" Tuan, mohon diterima," ucap Long Chen dengan serius berbicara melalui telepati pada sosok tetua tersebut.
" Ba-baik tuan muda. Terima kasih," ucapnya dengan hormat, lalu menerima cincin penyimpanan tersebut.
" Baik, para tetua, dan saudara sekalian, kami pergi dulu," ucap Qing Ruo sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.
" Tuan muda, mari...." ucap Yanshi Gong memimpin jalan, meninggalkan ruangan itu.
Ke lima tetua dan kelima murid klan Yanshi itu lalu mengantar kepergian Qing Ruo dan rombongannya hingga keluar dari ruangan utama tersebut.
" Tuan muda, saudara Gong, berhati-hatilah," ucap mereka dengan hormat.
" Baik, terima kasih," ucap Qing Ruo menanggapi dengan hormat.
__ADS_1
Setelah Qing Ruo dan rombongannya benar-benar meninggalkan tempat itu, kelima tetua dan murid klan tersebut lalu kembali dalam aula dan memeriksa cincin penyimpanan yang diberikan oleh Qing Ruo sebelumnya.
" Ini.....' ucap Yanshi Choi dengan mata terbelalak, sambil menyerahkan cincin penyimpanan tersebut pada tetua lain.
" Lima buah bodi dan lima buah apel emas yang telah berevolusi," ucap tetua tersebut dengan takjub.
" Ini adalah sumber daya tinggi yang begitu luar biasa," ucap tetua lainnya dengan gembira.
" Jika saja saudara menolak dengan gigih sebelum, pasti kita tidak akan mendapatkan sumber daya yang sangat berharga ini." Membuat Yanshi Choi yang menerima cincin penyimpanan sebelumnya tersenyum kecut.
" Sebenarnya aku memang ingin menolak, tetapi tuan Long Chen memaksa," ucap Yanshi Choi, sambil mengarahkan pandangannya padan Yanshi Shengyin dan rombonganya yang tampak begitu kegirangan.
****
Di tempat lain.
Qing Ruo, Long Chen dan Yanshi Gong yang telah keluar dari kota Da Men, terus bergerak ke arah utara.
" Swhus... Swhus....." sosok mereka melesat dengan santai, tanpa terburu-buru.
Tiga jam kemudian, mereka akhirnya melihat hamparan hutan hijau berkabut yang tak bertepi.
" Tuan muda, kita telah sampai di perbatasan hutan hitam. Walaupun terlihat begitu indah, tetapi tempat ini sangat berbahaya dan menakutkan. Mulai dari tempat ini, kita akan melanjutkan perjalan tanpa bisa terbang bebas," ucap Yanshi Gong memberi penjelasan bahwa langit hutan itu tidak bisa dilintasi dengan bebas.
Qing Ruo dan Long Chen yang mengetahui sedikit hal mengenai kawasan itu, menganggukkan kepalanya, menyimak penjelasan tersebut dengan serius.
" Tuan muda, kita akan bergerak menuju gua perak terlarang, yang berada di bagian dalam hutan ini," ucapnya sambil memimpin jalan.
" Baik," jawab Qing Ruo, sambil bergerak mengikutinya.
" Sepertinya Yanshi Gong benar-benar mengetahui seluk- beluk hutan hitam ini," ucap Long Chen, berbicara pada Qing Ruo melalui telepati.
" Benar, bahkan gua perak yang tidak tercantum pada peta rahasia, juga diketahuinya." Qing Ruo menimpali, sambil terus bergerak memasuki huta tersebut.
" Swhus... swhus..." mereka bergerak, memasuki hutan dengan pohon-pohon raksasa tersebut dengan berhati-hati.
Dua kilo meter kemudian, Qing Ruo dan Long Chen masih belum merasakan kehadiran sosok hewan buas. Namun di atas langit hutan itu, mereka mulai mendengar desingan pisau angin yang melarang siapa pun untuk terbang bebas di atasnya.
" Penguasa, racun daun," ucap Long Chen yang mulai merasakan kehadiran racun yang menyebar di tempat itu.
__ADS_1
" Benar," ucap Qing Ruo sambil terus bergerak.
" Swhuss... swhuss...." sosok mereka yang terlihat seperti lebah kecil di antara pohon-pohon raksasa tersebut, bergerak dari pohon ke pohon dengan kecepatan tinggi.