
Tiga kilometer kemudian, Qing Ruo dan rombongannya mulai merasa kelelahan, karena tekanan yang menindas mereka agar tidak bergerak di atas pohon-pohon itu semakin kuat.
" Tuan muda, jika kita terus bergerak di atas pohon-pohon ini, kita akan benar-benar kelelahan," ucap Long Chen, mengubah panggilannya pada Qing Ruo.
" Tetua Gong, sebaiknya kita bergerak dari bawah saja," ucap Qing Ruo sambil bergerak turun.
" Baik," ucap Yanshi Gong.
Sepuluh kilometer kemudian, mereka mulai merasakan kehadiran jejak aura hewan buas di tempat itu.
" Kita mulai memasuki perbatasan wilayah terluar utara. Tekanan di dalam hutan akan semakin kuat, itu terjadi karena adanya perbedaan arus ruang dan waktu di dalam kawasan daratan ilahi dengan wilayah kuno," ucap Yanshi Gong menjelaskan.
" Long Chen, apakah setiap perbatasan wilayah terluar selalu seperti ini?" tanya Qing Ruo melalui telepati.
" Tidak semua tempat seperti ini. Misalnya di wilayah timur, kita akan memasuki ruang hampa yang sangat luas, lalu tiba di wilayah terluar daratan Ilahi yang sebut dengan wilayah kuno," jawab Long Chen menjelaskan.
" Jadi wilayah terluar daratan ilahi itu disebut dengan wilayah kuno?"
" Benar," jawab Long Chen.
" Tuan muda, kita akan memasuki tempat yang sangat berbahaya. Jadi bersiaplah." dengan wajah serius.
" Baik," jawab Qing Ruo, lalu bergerak memasuki hutan tersebut.
" Swhus... swhus...." sosok mereka melesat, memasuki hutan tersebut dengan cepat.
" Kawasan ini benar-benar aneh, karena jejak aura hewan buas begitu kentara, berbeda di daerah luar sebelumnya," ucap Qing Ruo.
" Tuan muda, itu karena wilayah yang kita lewati sebelumnya merupakan kawasan terlarang bagi mereka."
" Apakah itu berarti mereka tidak bisa meninggalkan hutan ini?"
" Benar. Jika mereka bisa melakukannya, mungkin kota Da Men sudah lama lenyap," jawab Yanshi Gong.
Pada saat mereka terus bergerak, tiba-tiba Yanshi Gong menghentikan pergerakan mereka.
" Tuan muda, arah timur," ucapnya pelan dengan sikap siaga.
" Sepertinya sosok itu memang menargetkan kita," ucap Qing Ruo.
" Semi abadi tingkat delapan," ucap Long Chen dengan wajah serius.
" Ini baru dua kilo meter, tetapi sudah ada makhluk yang sangat kuat, bahkan dengan sengaja menargetkan kita," ucap Qing Ruo sambil bergerak menghindari sosok asing tersebut.
Dari jarak lima ratus meter, mereka mulai melihat kilatan cahaya kehitaman, bergerak zig-zag mendekati mereka dengan ekstrem.
" Tuan muda, terus bergerak!" ucap Yanshi Gong dengan serius.
" Tetua, hadang pergerakannya dengan perisai perak, aku dan Long Chen akan menyerangnya dari dua sisi yang berlawanan," ucap Qing Ruo sambil bergerak menyebar, membuat Yanshi Gong dengan ternganga.
Yangshi Gong yang sebelumnya mengira Qing Ruo akan menghindari keberadaan sosok yang mengajar mereka itu, begitu gelagapan.
__ADS_1
" Benar-benar pemberani." Batinnya, sambil bersiaga.
Di sisi yang lain.
Qing Ruo dan Long Chen yang telah berada di posisi mereka bersiap untuk segera menyerang.
" Swhus..." Sosok Kadal hitam raksasa dengan mata hitam pekat muncul, menerjang ke arah Yanshi Gong dengan ekstrem.
" Dhuar...." Ledakan dahsyat menggetarkan tempat itu, saat sosok raksasa tersebut menghantam perisai perak yang dibuat oleh Yanshi Gong.
" Swhus..." Yanshi Gong terlempar dengan ektrem hingga ratusan meter, menghantam pohon raksasa, sedangkan kadal hitam tersebut terpental hingga belasan meter.
" Swhus.... swhus...." Qing Ruo dan Long Chen yang telah berada di posisinya, bergerak sambil melepaskan serangan puncak mereka, menyerang titik vital hewan buas tersebut.
" Dhuar... dhuar...." Ledakan dahsyat bergema saat dua dari tujuh pedang Xue Luo yang dilepaskan Qing Ruo menghantam mata makhluk tersebut.
" Terus Serang!" ucap Qing Ruo pada Long Chen yang terus menyerang bagian dada hewan buas tersebut.
" Tetua, Kurung dia," ucap Qing Ruo sambil menciptakan gelombang petir raksasa.
" Baik," jawab Yanshi Gong dengan segera mendekati kadal hitam raksasa yang sedang mengamuk kesakitan tersebut.
" Trark......" Tanah bergerak, lalu memunculkan kurungan perak raksasa dan mulai mengurang hewan buas tersebut.
" Slash...." gelombang petir bergerak, memasuki kurungan perak tersebut dan menghantam tubuh kadal raksasa itu.
" Roargh...." Teriakan kesakitan terdengar sayup, berganti dengan suara ledakan yang terus bergerak.
" Dhuar...." kubah perak itu hancur, melempar sosok Yanshi Gong dan Long Chen.
" Dhaur....dhuar....." tembakan tombak petir menghancurkan kedua kaki kadal tersebut, yang justru membuatnya semakin murka."
" Tetua, kurung lagi!" ucap Qing Ruo.
" Baik," jawab Yanshi Gong yang tampak begitu kesakitan setelah menahan serangan balik dari amukan kadal raksasa tersebut, begerak sambil membuat segel tangan.
" Swhus...." Kubah perak muncul kembali, mengurung kadal hitam yang sedang mengamuk tersebut.
" Swhus ..." Long Chen muncul di belakang Yanshi Gong, menyalurkan kekuatannya untuk menjaga kubah perisai perak tersebut.
" Orang-orang dari klan Qing benar-benar nekat. Walaupun cara ini efektif, tapi strategi ini tidak bisa digunakan jika hewan buas ini lebih dari satu," Membatin, menatap Qing Ruo yang terus membuat segel tangan di hadapannya.
Dalam waktu singkat, kadal hitam raksasa yang berada di dalam kurungan kubah perak tersebut akhirnya berhasil dirobohkan. Bersamaan dengan lenyapnya suara ledakan petir dari dalam kubah tersebut.
" Tetua," ucap Qing Ruo meminta Yangshi Gong membuka kubah perak tersebut.
" Swhuss..." Kubah Perak itu terbuka, menampilkan sosok kadal hitam raksasa yang telah terkapar.
" Long Chen," ucap Qing Ruo, sambil menarik pedang Xue Luo yang masih menancap pada mata dan tubuh kadal tersebut.
" Baik penguasa," ucap Long Chen yang langsung bergerak mengambil mutiara jiwa hewan buas tersebut.
__ADS_1
Setelah Long Chen mengambil mutiara jiwa kadal hitam raksasa tersebut, Yanshi Gong, lalu membawa mereka bergerak meninggalkan tempat itu.
" Ini terlalu mudah," ucap Long Chen.
" Itu karena Kadal hitam tersebut hanya mengandalkan kecepatan dan serangan fisik. Akan berbeda kasusnya jika kadal itu memiliki serangan teknik," ucap Qing Ruo.
" Tuan muda, kadal hitam raksasa itu baru permulaan. Semoga saja kita tidak bertemu dengan hewan gelap abadi," ucap Yanshi Gong dengan serius, sambil terus bergerak.
" Semoga saja," ucap Qing Ruo yang terus bergerak sambil memulilhkan kekuatannya.
****
Di tempat lain.
Tiga ratus meter dari tempat Qing Ruo dan rombongannya mengalahkan kadal hitam raksasa. Di dalam perisai ilusi, bersembuyi lima tetua dengan kultivasi pendekar semi abadi tingkat tiga dan tingkat lima yang sedang berburu di tempat itu, berdiri dengan tubuh bergidik.
" Saudara, apakah sudah aman?"
" Sepertinya demikian, mari kita periksa sisa pertempuran sebelumnya. Semoga saja mereka tidak menghancurkan tubuh kadal raksasa tersebut."
" Baik." Lalu bergerak memeriksa sisa-sisa pertempuran yang terjadi sebelumnya.
" Saudara lihat. Mereka benar-benar telah membunuh kadal hitam ini."
" Benar-benar kelompok yang kuat." Sambil memeriksa tubuh hewan buas tersebut.
" Saudara, bagaimana ini. Organ dalam hewan buas ini telah hancurkan. Sangat di sayangkan sekali." Dengan wajah sedih.
" Tidak ada pilihan lain. Kita akan tetap berburu, hingga kita mendapatkan empedu hewan buas ini."
" Tapi saudara, bagaimana jika yang datang lebih dari satu dan sudah berada di tingkat delapan lagi?"
Kelima sosok itu terdiam.
" Aku ada ide, tapi aku tidak yakin," ucap salah satu tetua tersebut dengan wajah serius.
" Saudara, apa itu?"
" Bagaimana jika bergabung dengan kelompok sebelumnya?"
" Tapi saudara, bagaimana jika mereka tahu bahwa kita telah memperdaya mereka dengan menjadikannya sebagai umpan kadal hitam raksasa tersebut."
" Kita tidak memiliki pilihan."
" Tapi saudara, aku tidak yakin mereka akan mau menerima kita."
" Kita belum mecoba, bagaimana bisa kita tahu. Tenanglah, aku yang akan menjelaskan hal ini."
" Jika demikian, baiklah." Lalu bergerak meninggalkan tempat itu.
" Swhuss... swhus...." Kelima sosok itu lalu bergerak menyusul Qing Ruo dan rombongannya.
__ADS_1