Sang Penguasa

Sang Penguasa
87. Menemui Patriark Klan Hua.


__ADS_3

Qing Ruo yang menyadari kekhawatiran dari wajah para tetua tersebut, dengan senyumnya yang ramah menenangkan mereka.


" Para tetua tenanglah, ini juga masih terlalu pagi."


" Benar, lagi pula kita tidak harus terburu-buru ," ucap Heian Bai menimpali.


" Terima kasih penguasa muda..." ucap Hua Zun, yang merasa tidak nyaman, karena harus membuat Qing Ruo dan para Jenderal tersebut menunggu.


Lima belas menit kemudian,  akhirnya Hua Zhen dan Hua Diu memasuki ruangan.


" Putri, tuan muda," ucap para tetua, menyambut kedatangan Hua Zhen dan Hua Diu dengan hormat.


" Saudara Ruo," ucap Hua Zhen, sambil  memperkenalkan Hua Diu.


" Penguasa muda Qing Ruo, Hua Diu," menangkupkan tangannya dengan hormat.


"  Putri," ucap Qing Ruo dengan ramah sambil menangkupkan tangannya.


Setelah Hua Zhen dan Hua Diu duduk pada kursi yang tersedia, kembali mereka melanjutkan perbincangan santai sambil menunggu Hua Kai yang  masih belum saja tiba.


Di dalam ruangan itu, Hua Diu hanya  diam sambil menyimak perbincangan hangat para tetua dengan Qing Ruo.


Dalam perbincangan itu, sesekali Qing Ruo memperhatikan perubahan raut wajah Hua Diu yang gelisah dan tidak nyaman tersebut.


" Putri, apakah anda takut?" tanya Qing Ruo mengejutkannya.


" Tidak penguasa muda, aku hanya sedikit gelisah," ucap pelan, membuat Qing Ruo tertawa kecil.


" Putri, kegelisahan adalah respons alami tubuh yang normal dan wajar dari ketakutan itu sendiri. Aku senang Anda masih bisa merasakannya, karena perasaan ini juga bisa bermanfaat, seperti meningkatkan kesadaran dan mempertajam pemikiran. Jika digunakan dengan benar, ini dapat membantu mengatasi hambatan yang anda hadapi. Karena akupun juga demikian," ucap Qing Ruo Membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu terdiam.


" Maksud penguasa muda?" tanya Hua Diu yang merasa mulai tertarik dalam percakapan itu.


" Putri, pada dasarnya kita sama. Sama-sama memiliki rasa takut terhadap sesuatu, hanya saja  ada orang yang mampu melawan rasa takut tersebut dan ada yang justru semakin terpuruk oleh ketakutan itu."


" Tapi penguasa muda, bagaimana caranya?"


Mendengar pertanyaan itu membuat Qing Ruo  tersenyum.


" Satu-satunya cara adalah dengan menghadapi ketakutan itu sendiri."


" Tapi penguasa muda..."


"  Menghindari pemicu  hanya akan membuat  semakin ketakutan. Oleh karena itu, cobalah hadapi pemicu tersebut agar perasaan yang tidak diinginkan memudar. Jika tidak berani mencoba, kapan Lagi. Pertanyaan sederhana. Apakah putri ingin menguasai ketakutan itu atau  membiarkan ketakutan yang  menguasai putri?" 


Hua Diu terdiam cukup lama, lalu menganggukan kepalanya.


" Penguasa muda, mohon bantuannya." Menatap Qing Ruo dengan serius.


Qing Ruo menganggukan kepalanya.


" Putri, tenangkan dirimu. Percayalah semuanya akan baik-baik saja."

__ADS_1


" Baik penguasa."


Lima belas menit kemudian, Hua Kai masih belum juga tiba, membuat Heian Bai dan rombonganya mulai tidak sabar.  


" Saudara Ruo,  apakah kita harus menunggu tetua Hua Kai?" tanya Dalu Rong.


" Saudara Zhen, bagaimana?" tanya  Qing Ruo, membuat ruangan itu tiba-tiba  menjadi hening.


" Menurut saudara Ruo sendiri bagaimana?  Apakah kita harus menunggu, atau kita pergi sekarang juga? Karena aku pun tidak tahu keberadaan tetua Kai saat ini" jawab Hua Zhen menyerahkan semua keputusan pada Qing Ruo.


" Tetua Zun, apakah Anda sudah menghubungi tetua  Kai?" Tanya Qing Ruo.


" Sudah, tetapi masih belum ada balasan," Jawab Hua Zun.


" Jika demikian sebaiknya kita berangkat saja, dan kabari tetua Kai untuk menyusul."


" Baik penguasa muda," ucap Hua Zun dengan hormat.


" Baik, mari kita berangkat," ucap Hua Zhen membawa rombongan  itu menuju halaman kediamannya.


***


Halaman istana Kediaman Hua Zhen.


Lima kereta kuda, telah di siapkan  beserta kusirnya. Walaupun tempat itu begitu tenang, tetapi tampak ketegangan diwajah para kusir kereta tersebut.


" Sudah ratusan tahun, akhirnya kediaman Hua Wen kembali memasuki Istana utama. Aku takut ini akan menjadi akhir dari kediaman ini..." Para kusir  itu berbicara melalui telepati, dengan wajah tegang.


" Benar, ini benar-benar di luar dugaan. Semoga pertemuan ini membawa hasil yang baik."


Pada saat mereka sedang berbincang-bincang, Hua Zhen beserta rombongan  keluar dari kediaman utama dan menghampiri mereka.


" Putri, Tuan.muda," ucap para kusir itu membuka pintu kereta, mempersilakan Hua Zhen dan rombongannya memasuki kereta.


" Saudara Ruo," ucap Hua Zhen membawa Qing Ruo ikut serta dalam keretanya bersama Hua Diu dan Murong Jianyu, sedangkan Heian Bai dan Dalu Rong bergabung bersama para tetua.


Setelah memastikan semua orang belum masuk ke kereta kuda, Hua Zhen lalu memerintahkan kusir untuk bergerak menuju istana kota.


****


Di tempat lain.


Yu Jieru yang berada ada di kawasan gerbang benteng utama kota masih berjaga, dan mengawasi pergerakan di tempat itu dengan penuh siaga.


Tidak lama kemudian, Hu Shan dan rombongannya tiba, menyambar dan ikut bergabung di tempat itu.


" Saudara Lianghao, bagaimana?" tanya Hu Shan dengan penasaran.


" Hingga saat ini, tetua Hua Kai masih belum juga keluar. Aku curiga telah terjadi sesuatu padanya. Saudara, apa yang harus kita lakukan?" tanya Yu Jieru.


Hu Shan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


" Tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini, karena penguasa muda dan rombongannya telah bergerak. Yang perlu kita lakukan saat ini adalah berjaga, untuk menghadapi situasi yang tidak memungkinkankan." dengan wajah serius.


" Baik. Lalu  apakah tidak ada rencana lain?" Tanya Yu Jieru.


" Sejauh ini kita masih belum mendapatkan perintah langsung dari penguasa muda," jawab Liong Hei.


" Benar, walaupun tidak ada perintah, setidaknya kita perlu membuat mempersiapkan, terutama untuk menghadapi kemungkinan yang akan terjadi..."  Yu Jieru berpendapat.


" Baik, jika demikian. Apa rencana saudara Lianghao?" tanya Hu Shan.


" Sebaiknya kita membagi tugas untuk membuat rute penyelamatan, serta tempat untuk  mengalihkan perhatian."


" Saudara benar.  Jika memang demikian, baik," ucap Hu Shan lalu membagi tugasnada rombongannya.


****


Aula istana kota.


Hua Kai duduk di kursi perak dengan wajah masam. Di sisi kiri dan kanannya, berdiri dua  prajurit dengan senjata lengkap mengawasi pergerakannya. 


Di dalam ruangan itu, selain Hua Kai,  juga telah berdatangan beberapa tetua  tingkat tinggi dari kediaman utama serta kediaman keluarga cabang lainnya yang duduk di kursi emas,  berseberangan dengan kursi perak yang diduduki oleh Hua Kai.


" Tch, Keturuan Hua Wen. Benar-benar tidak tahu diri. Berani-beraninya  mengadakan pertemuan ini..." para tetua itu mencibir. Menatapnya dengan pandangan tidak suka.


" Benar, jika bukan karena panggilan tetua agung, aku tidak pernah sudi melihatnya..."  sambil menatap Hua Kai dengan tatapan sinis.


Hua Kai yang duduk di kursi peraknya, hanya bisa terdiam, mencoba menahan diri dari hinaan para tetua tingkat tinggi tersebut.


Semakin siang, semakin banyak para tetua yang berdatangan, akhirnya tujuh ratus  kursi emas yang ada di dalam ruangan itu kini telah ditempati, dan hanya menyisakan   delapan kursi perak yang  masih  belum ditempati.


Tidak lama kemudian seorang pria paruh baya dengan aura kultivasi semi abadi tingkat tujuh tingkat akhir, ditemani seorang yang lebih  muda darinya  dengan aura kultivasi semi abadi tingkat tujuh tingkat dasar memasuki ruangan, menatap semua orang dengan aura yang sangat mendominasi.


" Hormat pada patriark  Shen Guoshi Hua Zuigao, dan tetua agung Shen Guoshi Hua Zhanglao," ucap semua orang berlutut dengan hormat.


" Hormat kalian aku terima. Shen Guoshi Hua, berdirilah!" Ucap Hua Zuigao, yang terlihat seperti seorang pemuda itu dengan ramah.


" Terima kasih patriark," ucap para tetua tersebut lalu berdiri, dan duduk pada kursinya.


Hua Zuigao dan Hua Zhanglao lalu menatap Hua Kai yang duduk di kursi perak dengan tajam.


" Tetua Kai, aku telah menerima laporan dari tetua yang lain bahwa kamu dengan sengaja membunyikan tanda darurat di dalam istana, untuk mengumpulkan semua orang di tempat ini. Apakah benar demikian?"


" Benar Patriark, ini adalah pertemuan yang sangat penting, dan sebentar lagi rombongan dari kediaman Hua Wen akan tiba," ucapnya dengan yakin.


" Baik," ucap Hua Zuigao sambil menganggukan kepalanya. 


Tidak lama berselang, tiba-tiba seorang Prajurit memasuki ruangan dan melaporkan bahwa, rombongan yang dimaksud oleh Hua Kai telah tiba.


" Baik, bawa mereka masuk," ucap Hua Zhanglao, sang tetua agung mempersilakan.


🙏🙏🙏

__ADS_1


1 Chapter.


terima kasih.🙏🙏


__ADS_2