Sang Penguasa

Sang Penguasa
306. Rencana Qing Ruo di Puncak Zhu Yin.


__ADS_3

Di tempat lain.


" Swhus.. swhus...." sosok Qing Ruo terus bergerak menuju istana emas.


Tidak lama kemudian, " Swhus .." Sosoknya muncul di dalam kamar.


" Gege," ucap Qing Ling  dengan bahagia.


" Ling er, ada apa?" tanya Qing Ruo dengan penasaran, sambil memeluk wanitanya itu dengan penuh kehangatan.


" Gege," ucapnya sambil membawa Qing Ruo duduk di tepi tempat tidur. " Ini mengenai Huli Hei yang sepertinya akan segera melahirkan..." ucapnya dengan serius.


" Turut senang mendengarnya," ucap Qing Ruo dengan gembira


" Aku sudah meminta Huli Hei mengabari Tu Hai, dan katanya ingin gege yang memberikan nama pada anaknya."


" Aku...." sambil menunjuk dirinya.


" Benar, harap Gege memberi nama yang bagus," ucap Qing Ling dengan serius.


" Tapi Tu Hai tidak mengabari hal itu," ucap Qing Ruo ragu.


" Benarkah! Tapi apakah gege sudah memeriksa lencana pesan jiwanya?" tanya Qing Ling dengan serius.


Baru saja Qing Ling selesai berkata-kata, tiba-tiba Cincin penyimpanannya bergetar.


" Ada pesan Jiwa," ucap Qing Ruo lalu memeriksa lencana giok tersebut.


" Gege," ucap Qing Ling penasaran.


" Dari Tu Hai," ucapnya pelan.


" Lalu?"


" Tu Hai ingin aku memberi nama pada anaknya," ucap Qing Ruo sambil berdiri.


" Apakah gege mau pergi lagi?" menatap Qing Ruo dengan heran.


" Aku ingin beristirahat, tapi aku ingin mengganti pakaian terlebih dahulu," ucap Qing Ruo dengan lembut.


" Aku kira gege sudah mau pergi lagi..." tersenyum, sambil membantu Qing Ruo melepaskan pakaiannya.


Setelah selesai mengganti pakaiannya, Qing Ruo kembali merebahkan diri. 


" Ling er, ada yang ingin aku bicarakan," ucapnya sambil mengelus lembut  rambut Qing Ling yang merebahkan diri sisinya.


" Bicaralah," ucap Qing Ling sambil memeluknya dengan lembut.


" Ini mengenai rencana di gunung langit Yin. Yin Xie  leluhur ketiga klan Yin kini telah menjadi orang kita, dan saudarinya Yin Gan, Yin Rongyou," ucap Qing Ruo menjelaskan kedua sosok itu, sambil menjelaskan rencana pada Yin Xie dan situasi yang sedang terjadi di gunung langit Yin dengan rinci.


" Semoga rencana ini berjalan dengan baik, Karena jika Yin Xie menjadi Patriark klan Yin, perjuangan Gege dalam memabtu ayah Feng akan semakin mudah. Lalu apa rencana gege selanjutnya?"


" Sebelum menuju kubu selatan dan membangun kerjasama dengan Yun Bei, aku akan melakukan penyelidikan di  puncak Zhu Yin ini, terutama keberadaan Trisula Kegelapan, sedapat mungkin, aku akan memindahkannya ke dalam dunia jiwa," jawab Qing Ruo.


" Tapi gege, apakah ini tidak berbahaya? Karena itu akan memantik kekacauan lebih awal, dan bisa saja  hal ini akan menggagalkan rencana yang sudah disiapkan."


" Aku juga sedang memikirkan hal itu, tapi tujuanku melakukan hal ini adalah untuk mengantisipasi tindakan dari kedua sosok abadi yang ada," ucap Qing Ruo.


" Gege benar, satu-satunya alasan mereka tidak saling menyerang itu karena pusaka tersebut. Jika salah satu dari mereka dapat menguasai trisula tersebut maka..." ucap Qing Ling menjeda kata-katanya.

__ADS_1


" Itulah yang sedang aku pikirkan," ucap Qing Ruo sambil berbincang-bincang dengan tenang, hingga akhirnya tertidur dengan pulas.


****


Di tempat lain.


Puncak Dong Yin. Yin Jue duduk di istana kediamanannya dengan pikiran  kusut. Penyelidikan ulang yang dia lakukan untuk  mencari penyusup yang membuat kekacauan di puncak Dong Yin menemukan titik buntu.


" Satu-satunya cara adalah mengorek informasi dari sosok Yin Gan itu, tapi ini terlalu berisiko. Tapi apakah aku harus membicarakan hal ini dengan saudara Lao Weida lagi." Batinnya bimbang.


Pada saat sedang berpikir, tiba-tiba dua pemuda memasuki ruangan.


" Tetua," ucap kedua pemuda itu dengan hormat.


" Bicaralah!" ucapnya dengan datar.


" Kami baru saja menerima laporan dari prajurit pengintai bahwa telah terjadi pertarungan di kawasan Klan Xia dan saudara Gu Hin telah tertangkap...."


" Apa! siapa yang melakukannya?" Dengan tatapan menyala.


" Klan Shi, tetua..."


" Baik, aku akan memikirkannya. kalian kembalilah."


" Baik tetua, terima kasih," ucap kedua pemuda itu dengan hormat, lalu meninggalkan ruangan tersebut.


" Belum tuntas satu masalah, kini muncul masalah lainnya," ucapnya dengan kesal.


Setelah berdiam diri dan berpikir cukup lama, Yin Jue lalu meninggalkan ruangannya, begerak menuju puncak Zhu Yin.


***


Menjelang tengah malam. Qing Ruo yang sedang tertidur pulas, tiba-tiba terbangun dari tidurnya, mendapati Qing Ling sedang menyusui Qing Lian An.


" Ling er," ucapnya dengan lembut sambil menghampiri Qing Ling yang duduk di tepi tempat tidur.


" Gege, beristirahatlah. An er sedang kehausan," ucapnya meminta Qing Ruo agar tidak bersuara dengan lembut.


" Baik, tapi Liing er, ada yang sedang mencari ku," ucapnya dengan lembut.


Qing Ling menganggukkan kepalanya.


" Berhati-hatilah," ucapnya dengan lembut.


Qing Ruo menganggukkan kepalanya, lalu mengecup kening Qing Ling dan Qing Lian An dengan lembut.


Setelah berpamitan, Qing Ruo lalu keluar dari dunia jiwa.


" Swhus...." sosoknya muncul di dalam kamar Yin Lao Weida.


" Penguasa, seseorang memaksa ingin bertemu," ucap Huo Mingzhi melapor dengan serius.


" Baik, kalian kembalilah," ucap Qing Ruo sambil membuka gerbang dimensi dunia jiwa.


" Baik penguasa..."


Setelah Huo Mingzhi dan Huo Zhaodau kembali ke dalam dunia jiwa, Qing Ruo lalu mengubah tampilan wajahnya menjadi sosok Yin Lao Weida.


Baru saja Qing Ruo selesai mengubah tampilan wajahnya, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk oleh prajurit yang berjaga.

__ADS_1


" Keterlaluan, apakah kalian tidak mendengar perintahku sebelumnya!" ucap Qing Ruo dengan kesal.


" Tapi tetua agung, tetua Jue ingin bertemu," ucap prajurit tersebut dengan ketakutan.


" Apakah tidak bisa di tunda? Minta dia untuk kembali besok pagi!" ucap Qing Ruo dengan keras.


" Ba-baik Tetua Agung," ucap prajut tersebut lalu meninggalkan tempat itu.


" Ada-ada saja!" ucap Qing Ruo meninggikan suaranya dengan kesal, membuat prajurit yang berjaga di luar pintu begitu ketakutan.


Setelah prajurit penjaga itu pergi, Qing Ruo lalu duduk di dalam ruangan itu dan mulai berkultivasi dengan tenang.


****


Di dalam aula Istana tetua agung.


Yin Jue duduk gelisah dengan matanya yang terus mengawasi pintu masuk istana dengan lekat.


Tidak lama kemudian, dua prajurit memasuki ruangan, membuat wajahnya yang tampak masam itu kini bertambah semakin kesal.


" Tetua Jue, tetua agung benar-benar tidak ingin diganggu, dan meminta tetua  untuk kembali besok pagi," ucap prajurit itu dengan hormat.


Tanpa menjawab, Yin Jue lalu meninggalkan ruangan itu, membuat kedua prajurit itu saling berpandangan.


" Saudara, sepertinya tetua Jue sangat marah," ucap prajurit itu berbicara melalui telepati.


" Sepertinya demikian, namun tetua Agung juga tidak kalah kesalnya."


" Benar, tapi ini sangat aneh, karena tidak biasanya hal ini terjadi.Selama ini  tetua agung selalu menerima tetua Jue kapanpun. Apakah telah terjadi sesuatu dengan mereka?"


" Saudara, aku juga tidak tahu. Namun yang pasti, puncak Dong Yin sepertinya dalam masalah," ucap prajurit lain menanggapi, sambil bergerak menuju pintu gerbang istana dan berjaga di tempat itu.


****


Di tempat lain.


Yin Jue meninggalkan kawasan istana tetua agung dengan perasaan dongkol.


" Di saat ada masalah seperti ini, Lao Weida bahkan terkesan tidak peduli. Baik, tunggu saja jika ada masalah di puncak Zhu Yin ini, jangan harap aku juga akan peduli," ucapnya dengan sangat kesal sambil bergegas pergi.


***


Di tempat lain.


Di dalam kamar pribadi Yin Lao Weida.


Satu jam kemudian Qing Ruo membuka matanya, lalu mengabari Long Chen yang berada di dalam dunia jiwa  untuk mengambil kekuatan darah Yin Lao Weida dengan teknik perubahan bintang.


Sepuluh menit kemudian.


" Swhus..." sosok Long Chen muncul di dalam ruangan itu.


" Penguasa," ucapnya dengan hormat.


" Long Chen, aku akan menyelidiki keberadaan Trisula Kegelapan. Jika aku terlambat kembali, gantikan aku untuk menemui Yin Jue besok pagi," ucapnya menjelaskan.


" Baik Penguasa..."


Setelah berkata-kata, Qing Ruo lalu meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2