
Hua Zuigao dan Hua Zhanglao tampak begitu terkejut, bahkan aura kebencian dan pembunuhan dari tubuh para tetua yang duduk di kursi emas, tiba-tiba lenyap dari ruangan itu.
Di satu sisi mereka begitu takut dengan nama Qing, disisi lain mereka begitu marah pada Hua Diu yang begitu berani mengatai mereka dengan kata-kata kasar. Namun beberapa tetua yang masih belum yakin dengan keberadaan dan status Qing Ruo, serta para Jenderal pasukan emas itu, mencoba menyimpulkan bahwa sosok yang ada di hadapannya kemungkinan besar adalah orang biasa, yang mencoba untuk menipu mereka.
" Bagaimana mungkin seorang Qing memiliki seorang penguasa muda..."
" Benar, penguasa muda adalah sebutan putra penguasa, tapi Shen Guoshi Qing tidak pernah menyebut putra patriark mereka dengan nama itu."
" Saudara benar. Kumpulan anak kecil ini benar-benar mencari mati..." ucap tetua tersebut terus berdiskusi dengan rombongan melalui telepati. Bahkan mereka kini dengan berani menunjukkan ketidaksenangannya, dan menganggap tindakan yang dilakukan Hua Diu hanyalah skenario yang sengaja dibuat untuk menggertak mereka.
Tiba-tiba seorang tetua berdiri dari kursinya, menatap Hua Diu dengan sangat murka.
" Anak kecil tidak tahu diri. Jaga sikapmu! Jika tidak -"
" Duduklah, aku tidak meminta Anda untuk berbicara!" ucap Hua Diu semakin berani, membuat Qing Ruo dan rombongannya semakin yakin, bahwa gadis itu telah sembuh dari traumanya.
Di sisi saudarinya, Hua Zhen tampak begitu senang. Menatap Qing Ruo yang mampu membangkitkan suasana yang begitu menegangkan, hingga membuat Hua Diu keluar dari krisis traumanya.
" Saudara Ruo, terima kasih," ucapnya dengan hormat. Bahkan Hua Kai dan rombongannya juga melakukan hal yang sama, memberi hormat pada Qing Ruo dengan tulus.
Melihat Hua Diu dan rombongannya yang mengabaikan dirinya, tetua tersebut benar-benar murka.
" Benar-benar mencari mati!" Teriak tetua tersebut, hendak bergerak menyerang Hua Diu, namun dengan segala tindakannya dihentikan oleh Qing Ruo.
" Tetua," ucap Qing Ruo, dengan santai, membalas tatapan tajamnya, membuat tetua tersebut terdiam.
" Pendekar kaisar dewa tingkat dasar, tapi begitu tenang di hadapan semi Abadi tingkat empat, apakah ini lelucon? Tidak, mana mungkin ada orang yang ingin mati begitu saja." Membantin menatap Qing Ruo yang tidak gentar sedikitpun padanya.
" Tuan muda Qing Ruo, apakah benar itu namamu?" Seorang tetua bertanya dengan tatapan penuh selidik
__ADS_1
Dengan tenang Qing Ruo menganggukkan kepalanya.
" Tetua, apakah ada yang salah dengan namaku?" Tanya Qing Ruo dengan santai.
" Anak muda, jaga sikap Anda!" Salah satu dari mereka menatap Qing Ruo dengan tajam.
" Tetua, sikap seperti apa yang anda maksud?" tanya Qing Ruo yang merasa bingung dengan cara tetua tersebut.
" Kamu harus sadar diri ketika berbicara dengan tetua tingkat tinggi."
Tiba-tiba Qing Ruo tertawa menatap tetua tersebut dengan mengelengkan kepalanya.
" Tetua aku adalah orang lain yang tidak mengetahui standar bagaimana berperilaku di hadapan tetua tingkat tinggi di dalam ruangan ini, tetapi bukankah seharusnya anda mengajariku hal itu? lagi pula aku tidak tahu di bagian mana sikapku yang tidak tahu diri itu! Jadi dapat disimpulkan, yang tidak tahu diri itu apakah aku orang baru itu, atau anda sendiri!" Menatap kedua tersebut dengan santai.
Wajah pria paruh baya itu memerah, sambil mengedarkan aura pembunuhan yang begitu tajam yang diarahkan pada Qing Ruo.
" Tetua Cai jangan tidak tahu malu. Jika Anda berani menyentuhnya, maka-"
" Tidak heran jika Shen Guoshi Hua terjatuh, karena kualitas orang-orang yang ada di dalamnya penuh dengan kebencian, bahkan aku begitu heran bagaimana mereka bisa membenci saudaranya sendiri, dan mengucapkan kata kematian dengan begitu mudahnya," ucap Qing Ruo dengan santai, membuat Hua Cai terdiam di tempatnya.
" Ini adalah urusan keluarga kami. Lagi pula wajar jika kami melakukannya, karena leluhur Wen lah, klan kami seperti ini!" jawab Hua Cai dengan suara meninggi.
Tiba-tiba Qing Ruo tertawa, membuat Hua Cai semakin gusar, sedangkan Hua Kai dan rombongannya semakin ketakutan, karena aura di dalam ruangan itu menjadi lebih panas setelah Qing Ruo melontarkan kata-kata yang menghina para tetua tersebut.
" Benar-benar sikap seorang pengecut!" Ucap Qing Ruo dengan sengit, sambil menatap Hua Zuigao yang terlihat sedang menyelidiki kekuatannya.
" Kamu-"
" Pengecut!" Ucap Qing Ruo dengan santai memotong kata-kata Hua Cai, membuat suasana semakin tidak terkendali, bahkan ledakan aura pembunuhan yang keluar dari tubuh setiap tetua, mulai mengisi seluruh ruangan, bahkan para tetua itu tanpa ragu melepaskan aura kultivasi tingkat tinggi dari tubuhnya.
__ADS_1
" Sikap pengecut adalah menyalahkan orang lain. Kalian bahkan membuat mereka yang tidak bersalah menanggung kesalahan leluhurnya. Apakah itu adil? Seharusnya kalian belajar dari kesalahan itu. Dengan sikap pengecut seperti ini, apakah kalian masih yakin dapat membangun kekuatan Shen Guoshi Hua kembali? Aku rasa tidak. Kebencian yang kalian ciptakan justru akan semakin melemahkan kekuatan kalian. Karena kebencian yang kalian tabur, maka bersiaplah dengan kehancuran itu sendiri." ucap Qing Ruo dengan sengit.
" Sungguh tidak tahu malu. Bocah ingusan seperti dirimu masih ingin menggurui kami. Kami bahkan tidak pernah mengangkat kamu menjadi hakim. Lalu apa hakmu berbicara di dalam ruangan ini..." menatap Qing Ruo dengan sinis.
Di kursi utama dan kursi kehormatan, Hua Zuigao dan Hua Zhanglao terus mengamati Qing Ruo dengan seksama.
" Patriark, dia bengitu tenang. Bahkan tidak ada ketakutan sedikit pun dari mata dan tubuhnya, dan itu bukan sikap yang sengaja dan dibuat- buat," ucap Hua Zhanglao berbicara melalui telepati.
" Tetua benar, lagipula dia terlihat bukan seperti orang bodoh yang menggunakan identitas orang lain untuk menipu kita," jawab Hua Zuigao.
" Mari kita lihat, sejauh mana pemuda ini akan bertindak," ucap Hua Zhanglao.
" Baik, tapi bagaimana jika dia benar-benar memiliki latar belakang yang kuat. Bukankah ini akan menjadi masalah bagi kita," jawab Hua Zuigao.
" Patriark benar," ucap Hua Zhanglao mencoba berpikir, sambil menatap Qing Ruo yang sedang berseteru dengan para tetua yang duduk di kursi emas.
" Penguasa muda," ucap Hua Kai mencoba untuk berbicara pada Qing Ruo, yang begitu sengit menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh para tetua yang ada di ruangan itu.
" Tetua, bicaralah." ucap Qing Ruo dengan hormat, memalingkan wajahnya menatap Hua Kai, dengan tidak menghiraukan para tetua yang duduk di kursi emas yang kini begitu murka.
" Penguasa Muda, apakah sebaiknya kita pergi saja. Lagipula aku tidak yakin mereka akan memandang kami yang lemah ini." Sambil menjelaskan situasi yang dia hadapi sebelumnya, yang meninggalkan klan tanpa sepengetahuan tetua yang lain untuk memberitahu kedatangan mereka ke istana kota.
Qing Ruo yang akhirnya memahami hilangnya Hua Kai dari kediaman Hua Zhen menganggukkan kepalanya.
" Tetua Kai, terima kasih. Jika tetua menginginkan kita untuk pergi, itu tidak masalah. Aku aku akan dengan senang hati melakukannya, tetapi urusanku di tempat ini belum selesai!" Sambil mengarahkan pandangannya pada Hua Zuigao dan Hua Zhanglao.
" Maksud penguasa muda?" tanya Hua Kai dengan heran.
" Aku hanya ingin mengingatkan semua orang yang ada di dalam ruangan ini, bahwa kediaman Hua Zhen sekarang berada di bawah perlindunganku. Jika aku mendengar sesuatu terjadi pada mereka, maka kalian semua adalah orang yang bertanggung jawab." Dengan wajah serius, membuat beberapa tetua yang masih meragukan Qing Ruo tertawa.
__ADS_1
" Mereka juga akan berada di bawah perlindunganku," ucap Heian Bai sambil menunjukan lencana emas pasukan elit kekaisaran, yang juga dilakukan oleh Dalu Rong dan Murong Jianyu, membuat para tetua itu langsung terdiam.