Sang Penguasa

Sang Penguasa
72. Meninggalkan Makam.


__ADS_3

Di dalam ruangan utama makam.


Ke empat kelabang perak beracun  kini benar-benar menurunkan tingkat kewaspadaannya, bahkan aura pembunuhan dari tubuh mereka juga telah hilang, menatap Qing Ruo dengan ramah.


" Tuan Qing Ruo benar. Ternyata  kami benar-benar bodoh. Tapi tuan, musuh kami adalah orang  kami sendiri." Sambil menunjukan peti mati emas, tongkat hitam pengendali roh, rantai api, dan cakram kabut yang merupakan senjata semi abadi tingkat empat yang mereka lindungi.


" Aku mengerti. Ternyata kalian bersembunyi dari  orang kalian sendiri. Selain itu, alasan kalian tidak keluar dari tempat ini karena, keterbatasan kalian membawa artefak tingkat tinggi ini."


" Tuan Qing Ruo benar, karena keberadaan pusaka ini dapat mengundang keberadaan anggota klan Yin."


" Baik, aku mengerti. Apakah kalian percaya padaku?" Tanya Qing Ruo mengejutkan mereka.


" Maksud tuan...?"


" Jika kalian percaya padaku, maka segera  tinggalkan tempat ini."


" Tapi tuan, bagaimana cara kita melakukannya? Menatap keempat benda yang ada di hadapan mereka, lalu menatap seluruh ruangan yang masih digenangi oleh air.


" Serahkan padaku," ucap Qing Ruo dengan serius.


" Baik tuan, tapi...." dengan ragu.


" Bicaralah," ucap Qing Ruo santai.


" Kami masih ragu, bagaimana cara kami pergi dari tempat ini, lalu bagaimana dengan mereka...". sang pemimpin menjeda kata-katanya.


" Sudah aku katakan sebelumnya. Apakah kalian percaya padaku?" tanya Qing Ruo sekali lagi, membuat keempat kelabang perak yang tidak memiliki pilihan itu mempercayai Qing Ruo.


Baru saja mereka memikirkan cara Qing Ruo membawa mereka pergi dari tempat itu, tiba-tiba pusaran angin biru keemasan muncul di hadapan mereka.


" Apakah kalian percaya padaku?" tanya Qing Ruo sekali lagi.


" Baik, kami percaya pada tuan." Sambil bergerak memasuki  pusaran  cahaya biru keemasan yang berdengung lembut.


" Gunakan waktu kalian untuk beristirahat," ucap Qing Ruo, sambil mengirim pesan pada Yuan Bai dan Yuan Hei yang berada di dalam dunia jiwa, untuk mengurus serangga  raksasa tersebut.


Setelah keempat kelabang perak  itu memasuki dunia jiwa, Qing Ruo lalu meraih ke tiga senjata tingkat tinggi tersebut dan meraih peti mati emas, lalu menyimpannya ke dalam cincin penyimpanan.


Setelah memastikan tidak ada hal yang tertinggal, Qing Ruo lalu bergerak meninggalkan tempat itu, mengambil trisula Naga utara yang ada di lorong makam.


" Waktunya pergi," ucapnya dengan gembira.


***


Di dalam dunia jiwa.


" Swhus... swhus...." Keempat kelabang Perak   muncul di puncak gunung selatan dunia jiwa, menatap pemandangan di dalam dunia tersebut dengan takjub.

__ADS_1


" Swhuss... Swhus...." dua sosok kera raksasa dari dunia neraka kuno muncul di hadapan mereka.


" Ke-kera emas," ucap salah kelabang Perak itu terkejut, dengan sikap waspada.


" Tuan-tuan, kami pelayan penguasa muda Qing Ruo," ucap Yuan Bai dan Yuan Hei  memperkenalkan diri dengan ramah, membuat kelabang perak itu menurunan tingkat kewaspadaan mereka.


" Tuan Yuan Bai dan Tuan Yuan Hei,  Aku Jine Xun, dan saudaraku Jine Fan, Mu dan Jine Mi." Memperkenalkan diri.


" Baik," ucap Yuan Bai dengan ramah,  membawa rombongan kelabang perak  itu menuju istana Naga emas.


" Baik tuan..." Sambil bergerak mengikuti Yuan Bai dan Yuan Hei dengan penasaran.


***


Di dunia luar.


" Swhus..." Qing Ruo, keluar dari lorong makam,  melihat Heian Bai, Hua Zun dan Hua Thong sedang bertempur melawan harimau hitam bersayap dan  Ular hitam ekor api.


" Penguasa muda, kebetulan sekali," ucap Murong Jianyu yang hendak memasuki lorong makam, menatap Qing Ruo dengan khawatir.


" Jianyu ada apa?  Lalu dimana Jenderal Dalu Rong dan saudara Hua Zhen?"


"  Penguasa, ada dua kekuatan sedang bergerak menuju tempat ini. Saudara Dalu Rong dan Tuan muda Hua Zhen sedang membuat gerbang teleportasi untuk melarikan diri. Apakah Penguasa tidak merasakannya?"


Qing Ruo terdiam sesaat, lalu mengangguk kepalanya.


" Saudara Heian Bai, tetua, biarkan saja.  Kita harus pergi sekarang juga," ucap Qing Ruo sambil melepaskan pukulan pada Harimau hitam bersayap tersebut, lalu bergerak meninggalkan tempat itu.   


" Baik," Jawab Heian Bai, Hua Zun dan Hua Thong, bergerak  mengikuti Qing Ruo meninggalkan tempat itu.


Melihat Qing Ruo dan rombongannya pergi, Harimau hitam bersayap yang telah terluka parah itu,  lalu  menggunakan kesempatan tersebut untuk melarikan diri, sedangkan ular hitam ekor api yang juga telah terluka parah itu bergerak kembali menuju lubang makam yang telah kering tersebut dan menyegelnya.


Dua menit kemudian, setelah Qing Ruo dan rombongannya pergi, dua kekuatan besar yang bergerak menuju tempat itu akhirnya tiba.


" Swhuss.... Swhuss..." dua kelompok besar itu muncul dan saling bertatapan.


Dari jauh.


Satu kilometer dari tempat itu. Di dalam perisai ilusi, Qing Ruo dan rombongannya dapat melihat dua kekuatan baru tersebut dengan jelas.


" Shen Lieren dan Shen Yin," ucap Hua Zun.


" Benar," ucap Heian Bai sambil mengeluarkan lencana giok hijau, melaporkan kemunculan Klan Yin pada pasukan Jubah emas.


" Saudara Dalu Rong, Hua Zhen, hentikan saja. Kita tidak bisa menggunakan gerbang teleportasi, karena getarannya akan menarik perhatian mereka," ucap Qing Ruo meminta mereka menyudahi pekerjaannya.


" Saudara Ruo benar," ucap Heian Bai.

__ADS_1


" Saudara Ruo, lalu apa rencana kita?" tanya Dalu Rong.


" Kita akan bergerak, saat kekacauan terjadi."


" Baik," jawab Dalu Rong sambil mengamati dua kelompok yang sedang bersitegang.


"Bagaimana bisa Shen Lieren tiba-tiba muncul. Apakah mereka juga mencari benda yang di cari oleh klan Yin," ucap Qing Ruo heran.


" Penguasa muda, sebelumnya saat kalian semua berada di dalam lorong makam, kami telah membunuh  kelompok kecil orang-orang dari Shen Lieren yang datang ke tempat ini," ucap Hua Zun menjelaskan.


" Tapi ini sangat aneh,  karena kami bahkan telah menempatkan dua  mayat yang kami bunuh di tempat yang berbeda sebagai pengalihan, tetapi bagaimana bisa mereka datang ke tempat ini..." Hua Thong menimpali.


" Tidak ada yang aneh, karena pertempuran sebelumnya pasti menarik perhatian mereka," ucap Qing Ruo.


" Tapi bukankah kita telah menyegel kawasan ini ." ucap Hua Zhen.


" Shen Lieren pasti menggunakan tikus emas, dan Shen Yin, mereka memiliki hubungan dengan benda yang di jaga oleh kelompok hewan buas dan monster serangga tersebut." Hua Zun menjelaskan.


" Tetua Hua Zun benar," ucap Qing Ruo.


" Saudara Ruo, bagaimana dengan..." Dalu Rong menjeda kata-katanya menatap Qing Ruo dengan heran.


Qing Ruo yang mengerti maksudku Dalu Rong menganggukan kepalanya.


" Aku berhasil mendapatkan benda yang ada di dalam makam, tapi kita perlu tempat khusus untuk memeriksanya, karena benda ini sangat sensitif dengan orang-orang dari klan Yin."


" Baik," jawab mereka semua penuh dengan semangat.


Namun pada saat mereka sedang berbincang-bincang, Qing Ruo dan rombongannya dikejutkan oleh suara ledakan.


" Akhirnya mereka berperang juga. Mari kita segera pergi..." ucap Dalu Rong saat melihat dua kelompok yang ada di depan mereka kini saling menyerang.


" Saudara Rong, tunggu. Aku ada ide. Bagaimana jika kita menyegel kawasan pertempuran," ucap Qing Ruo dengan serius.


" Baik," jawab Heian Bai dan Dalu Rong bersamaan.


" Tetua, bagaimana?" tanya Qing Ruo.


" Baik, mari kita lakukan," jawab Hua Zun.


" Baik, ingat untuk menjaga jarak. Setelah segel terpasang, semuanya bergerak menuju utara," ucap Qing Ruo, lalu bergerak sambil membuat segel tangan, mengunci kawasan pertempuran yang sangat mengerikan tersebut.


Dari arah yang berbeda, Heian Bai,  Dalu Rong dan yang lainnya juga melakukan hal yang sama, yaitu menyegel seluruh kawasan pertempuran dengan tujuan untuk menahan kedua kelompok yang sedang bertempur tersebut, serta mempermudah pasukan jubah emas menangkap mereka.


Lima menit kemudian, Qing Ruo dan rombongannya lalu meninggalkan tempat itu.


" Swhuss.... Swhus..." Mereka bergerak  menuju utara, meninggalkan tempat itu tanpa disadari oleh orang-orang dari Shen Lieren dan Shen Guoshi b Yin yang sedang bertempur,

__ADS_1


__ADS_2