
"Dhuar...." Ledakan keras mengguncang ruangan itu bersamaan dengan terlemparnya dengan sosok pria paruh baya tersebut dan hingga menghancurkan tempat tidur dan perabotan yang ada.
" Ukh...." Rintihnya kesakitan dengan darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
" Saudara," ucap salah tetua menghampiri sosok yang terlempar itu untuk menolongnya, namun dengan segera di hentikan olehnya.
" Saudara jangan mendekat. Berlutut sekarang juga!" ucap dengan segera bangkit berdiri, menghiraukan rasa sakit yang meremukan dadanya, lalu menghampiri Qing Ruo.
" Tu-tuan, Aku Nan Du mohon pengampunannya," ucap sosok itu berlutut di hadapan Qing Ruo dengan wajah pucat pasi.
" Bukankah aku sudah memberikan kesempatan itu," ucap Qing Ruo dengan dingin, membuat sosok yang sedang memohon pengampunan itu terdiam.
" Saudara, apa yang terjadi?" tanya tetua yang berlutut di belakang Nan Du berbicara melalui telepati.
" Saudara, kita telah menyinggung orang yang salah."
" Maksud saudara?"
" Pemuda itu adalah semi abadi tingkat delapan," jawab Nan Du.
" Apa!" ucap tetua tersebut terkejut, dengan wajah panik.
" Saudara, ayo berpikir," ucap Nan Du sambil mengusap keringat dingin dari wajahnya.
" Hancurkan kultivasi kalian sekarang juga. Atau aku mendatangi klan kalian!" ucap Qing Ruo dengan tatapan dingin.
" Tuan-" ucap Nan Du, terkejut saat Qing Ruo tiba-tiba melepaskan tembakan petir.
" Dhuar...." Tembakan petir itu melempar sosoknya hingga menghantam dinding kamar.
" Ukh..." darah segar kembali keluar dari mulutnya, dengan rasa sakit yang lebih luar biasa di dadanya.
" Lakukan sekarang!" ucap Qing Ruo dengan dingin.
Kemunculan kekuatan petir membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu terdiam.
" Apakah kalian ingin membawa masalah ini bersama klan kalian?"
" Tu-tuan, apakah ini tidak bisa dibicarakan lagi..." ucap Nan Du terbata.
" Mengulur waktu. Apakah kalian pikir aku tidak tahu hal itu? Apakah kalian pikir suara keributan di tempat ini didengar oleh pihak keamanan penginapan? Kalian benar-benar membuang waktuku," ucap Qing Ruo dengan tatapan dingin, membuat tempat itu menjadi hening.
Menyadari rencananya yang telah diketahui, Nan Du lalu menghancurkan kultivasinya.
" Dhuar...." Ledakan kecil bergema, bersamaan dengan kekuatannya yang secara perlahan lenyap dari tubuhnya.
" Tuan muda, mohon untuk tidak melibatkan klan Nan," ucapnya sambil berdiri tegak, menahan rasa sakit yang meremukan tubuhnya.
__ADS_1
" Selama mereka tidak datang mencariku, maka mereka akan baik-baik saja," ucap Qing Ruo dengan tenang lalu mempersilakan sosok itu pergi.
Setelah Nan Du pergi. Ke empat sosok yang masih belum bergeming itu menatap Qing Ruo dengan ragu.
" Tetua, menghancurkan kultivasi seperti tetua Nan Du benar-benar tindakan konyol. Setidaknya kita harus melakukan perlawanan," ucap salah satu tuan muda tersebut, berbicara pada rombongannya melalui telepati.
" Tuan muda, jangan bermimpi. Sosok yang ada di hadapan kita ini adalah semi abadi tingkat delapan," jawab tetua tersebut membuat rombongannya itu ternganga.
" Tapi tetua, aku tidak ingin kehilangan kultivasiku. Karena dia juga belum mengetahui identitas kita, lebih baik kita pergi saja," ucap pemuda tersebut menjelaskan rencananya.
Tidak lama kemudian. Tiba-tiba keempat sosok itu mengeluarkan senjata mereka dan mengedarkan kekuatannya.
" Apakah kalian ingin bertarung?" tanya Qing Ruo dengan santai.
" Lebih baik mati bersama," ucap salah satu tuan muda itu dengan sengit, membuat Qing Ruo tertawa santai.
" Jika demikian, lakukanlah."
" Swhuss.... Swhus...." Ledakan aura dari tubuh mereka mengisi ruangan itu. Menghancurkan perabotan yang ada dan mengguncang ruangan dengan keras.
" Serang!" ucap salah satu tuan muda memberi perintah.
" Swhus...swhus...." Senjata yang ada di tangan mereka melesaat, menyerang kearah Qing Ruo dengan cepat. Sedangkan keempat sosok itu bergerak menuju pintu ruangan, untuk melarikan diri.
" Dhuar... Dhuar...." Ledak dahsyat bergema, mengguncang ruangan sempit itu bersamaan tubuh yang terpental ke berbagai arah.
" Ukh... Ukh..." Darah segar mengalir dari mulut keempat sosok itu, menahan rasa sakit sambil menatap Qing Ruo dengan wajah pucat pasi.
" Matilah kita. Saudara, segel pintu itu," ucapnya dengan wajah serius, berbicara melalui telepati.
" Itu adalah segel klan Dewa kuno yang telah menghilang. Selain itu, dia juga memiliki kekuatan petir abadi. Tapi kapan dia menempatkan segel mantra formasi itu. Bukankah saat kita masuk sebelumnya pintu itu baik-baik saja. Saudara apa yang harus kita lakukan?"
Di hadapan mereka. Qing Ruo yang sebelumnya masih duduk pada kursinya, lalu berdiri menghampiri pemuda yang terus melawan sebelumnya.
" Swhus...." Tanganya meraih leher pemuda tersebut dan mencengkeramnya dengan erat.
" Jelaskan satu persatu, siapa kalian!" ucapnya sambil melepaskan kekuatan petir dari tubuhnya, menyelimuti tubuh pemuda itu.
" Argh...." Teriak pemuda tersebut, berusaha menahan rasa sakit yang meremukan seluruh tulangnya.
" Tu-tuan," ucapnya dengan tercekat karena tidak bisa bernafas.
" Bhuk..." Tubuh pemuda itu terlepas dari cengkeraman Qing Ruo, terjatuh lunglai dengan kondisi telah kehilangan kultivasinya.
" Akh..." Rintihnya kesakit. Namun belum hilang rasa sakit yang seperti meloloskan tulang-tulangnya, tiba-tiba Qing Ruo mematahkan kedua kaki dan tangan pemuda tersebut.
" Krak...krak..." suara retakan tulang itu, membuat sosok yang lainnya terdiam dengan tubuh bergidik.
__ADS_1
" Akh..." teriak pemuda itu menangis keras.
" Aku tidak menyukai suara tangisan. Jika kamu masih melakukannya, maka aku akan menarik lidahmu dan memotongnya," ucap Qing Ruo dengan dingin, membuat pemuda yang sudah membasahi dirinya itu menahan tangisannya.
Tindakan Qing Ruo yang tanpa ampun itu, membuat ketiga sosok lainnya mematung. Bahkan membuat pemuda lainnya kini mulai membasahi dirinya.
" Apakah kalian tidak mendengar perintahku sebelumnya!" Dengan tatapan tajam.
" Tu-tuan, aku Ji Jiu, tuan muda klan Ji-"
" Hancurkan kultivasimu!" ucap Qing Ruo dengan dingin, membuat Ji Jiu yang merupakan sosok pemuda yang berada di kamar nomor lima di rumah lelang Giok Es itu terdiam.
" Tu-tuan..."
" Kalian. Lakukan dan patahkan kedua tangan dan kakinya!" Menatap kedua tetua yang ada di belakangnya.
" Baik tuan," Jawab kedua tetua tersebut lalu menghajar Ji Jiu, melumpuhkan kultivasi dan mematahkan kedua tangan dan kakinya.
Ji Jiu yang sudah tidak berdaya itu hanya bisa terbaring lunglai, meneteskan air mata, menahan rasa sakit yang bergelayut di seluruh tubuhnya.
" Lalu siapa kalian?" Tanya Qing Ruo dengan dingin.
" Tuan, aku Ji Dao, tetua dari klan Ji."
" Tuan, aku Xian Ba, tetua yang melayani tuan muda Xian Guo." Sambil menunjuk pemuda yang telah Qing Ruo siksa sebelumnya.
" Klan Ji dan klan Xian. Jika kalian tidak ingin aku mendatangi tempat kalian itu, panggil patriark kalian sekarang juga." ucapnya dengan dingin, membuat kedua tetua itu lalu mengeluarkan lencana giok jiwa dan memanggil masing-masing patriark klan nya.
Setelah memanggil masing-masing patriark klan mereka, Ji Dao dan Xian Ba, terdiam di tempatnya, dengan keadaan berlutut tanpa berani bergerak sedikitpun.
" Hancurkan tingkat kultivasi kalian hingga di tingkat dewa biasa," ucap Qing Ruo tiba-tiba.
Tanpa membantah kedua sosok itu lalu menghancurkan tingkat kultivasinya. Tidak lama kemudian setelah kedua sosok itu menghancurkan tingkat kultivasinya, Qing Ruo lalu melepaskan rantai jiwa dan menyegel kekuatan mereka.
Ji Dao dan Xian Ba merasa bersyukur karena mereka masih memiliki kultivasi.
Sambil menunggu patriark klan Ji dan klan Xian datang. Qing Ruo menginterogasi kedua sosok yang ada di hadapannya.
" Aku ingin penjelasan kalian mengenai keberadaan Nan Du, Wu Ding dan Wu Ming. Siapa mereka sebenarnya, lalu apa hubungannya dengan tindakan kalian ini?"
" Tuan, sebenarnya tetua Nan Du hanyalah orang suruhan yang diperintahkan oleh tuan mudanya Nan Ma, sosok yang berada di kamar nomor lima belas. Sedangkan Wu Ming dan Wu Dong adalah pendekar bayaran yang tidak tahu persis masalah ini. Mereka hanya tahu kami memerlukan tenaganya," Ji Dao menjelaskan.
" Jika demikian, di mana Nan Ma sekarang?"
" Ada di penginapan Utara kota Xi, tuan."
" Jika demikian, pergi dan bawa Nan Ma kemari."
__ADS_1
" Baik tuan," ucap Ji Dao dan Xian Ba dengan hormat, lalu meninggalkan ruangan itu.
Setelah kedua tetua itu pergi. Qing Ruo lalu duduk kembali, menuangkan minumannya, dan menyesapnya dengan santai.