
Huo Zhoudau terus bergerak memasuki gua itu dengan berhati-hati. Sedangkan Qing Ruo yang berada di atas punggungnya, melepaskan segel mantra formasi ilusi, menyamarkan keberadaan tempat itu dan menyegelnya.
" Penguasa, gua ini benar-benar tidak tersentuh."
" Benar, itu karena tempatnya yang tersembunyi dan berbahaya," ucap Qing Ruo dengan tenang.
Dua puluh lima meter kemudian, mereka akhirnya tiba di dasar gua tersebut.
" Benar-benar Gua kosong," ucap Huo Zhaodau, saat mereka tiba di dasar gua yang ternyata cukup luas tersebut.
Di atas punggungnya, Qing Ruo melepaskan beberapa butir kristal cahaya untuk menerangi ruangan yang gelap tersebut.
Setelah menyiapkan tempat itu, dengan perlahan, Qing Ruo lalu membawa gadis itu turun dari punggung Huo Zhoudau dan menempatkannya dibatas lempengan batu yang berbentuk meja lebar.
" Penguasa, Sepertinya dia benar-benar terluka parah," ucap Huo Zhaodau, setelah mengamati sang gadis dengan seksama.
Qing Ruo menganggukan kepalanya, sambil menempatkan kristal jiwa abadi di sekitar tubuh gadis itu.
" Penguasa, apakah kita akan membiarkannya begitu saja?"
" Tentu saja tidak. Tunggu dia sadar, aku akan memberi pil penyembuh."
" Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"
" Beristirahat," ucap Qing Ruo santai, sambil mencari tempat duduk, lalu berkultivasi dengan tenang, lalu di ikuti oleh Huo Zhaodau yang juga menjaga jarak dengan sosok gadis yang masih belum sadarkan diri tersebut.
****
Di tempat lain.
Delapan menit kemudian. Di Hutan gelap, perbatasan danau hitam raksasa. Tiga Sosok pria paruh baya tiba di tempat itu.
" Saudara, kita memasuki kawasan terlarang danau hitam raksasa. Apakah kita akan melanjutkan perjalanan?" Dengan wajah serius.
" Menurutku, sebaiknya kita beristirahat sejenak. Lagipula jika pencuri itu melewati tempat ini, dia juga akan beristirahat di kawasan ini."
" Saudara benar, karena kawasan terlarang ini akan semakin berbahaya pada malam hari. Sebaiknya kita mencari tempat untuk beristirahat."
" Baik, tapi apakah kita akan beristirahat di hutan gelap ini?"
" Sebaiknya di dalam pulau saja."
" Tapi apakah tidak terlalu berbahaya?"
" Lebih berbahaya lagi di tempat ini, karena dilewati oleh banyak orang."
" Jika demikian, baik." Lalu bergerak menuju pulau yang terletak di tengah danau raksasa tersebut.
****
Di tempat lain.
Di dalam gua. Qing Ruo dan Huo Zhaodau yang tidak mengetahui kedatangan ketiga tetua dari klan Naga itu, berkultivasi dengan tenang. Sedangkan di tengah ruangan, gadis berbaju merah yang telah diselamatkan juga masih belum sadarkan diri.
Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan dengan suara ledakan keras di atas langit pulau.
__ADS_1
" Penguasa," ucap Huo Zhaodau, menatap Qing Ruo yang juga terbangun.
" Biarkan saja," ucap Qing Ruo santai, sambil mengeluarkan Thou Thou dari dalam dunia jiwa.
" Penguasa," ucapnya dengan hormat.
" Aku ingin kamu memeriksa pertempuran yang terjadi di luar."
" Baik Penguasa..." Lalu keluar dari dalam gua itu.
Tidak lama berselang, gadis di dalam ruangan itu terbangun, menatap Huo Zhaodau dan Qing Ruo dengan terkejut. Lalu bergerak di sudut ruangan dengan sikap siaga.
" Tuan-tuan, kalian...." Menatap Qing Ruo dengan lekat, sambil memeriksa keadaan dirinya.
" Nona, tenanglah," ucap Huo Zhaodau dengan ramah, sambil meminta gadis tersebut untuk memulihkan dirinya.
Sang gadis yang tampak begitu terkejut tersebut, terdiam, menatap Qing Ruo yang tampak begitu ramah padanya.
" Tapi tuan suara itu."
" Nona tenanglah. Tempat ini aman," ucap Huo Zhaodau sekali lagi.
Tidak lama kemudian, Thou Thou kembali.
" Tuan," ucap sang gadis terkejut, menantap anjing bersisik yang mendekati mereka dengan waspada.
" Nona," ucapnya menyapa gadis itu dengan ramah.
" Tu-tuan," ucap gadis itu terbata, menatap Qing Ruo yang tampak santai.
" Tenanglah," ucap Qing Ruo sambil menayakan keadaan yang sedang terjadi di luar gua.
" Naga Air?"
" Benar penguasa," Jawab Thou Thou dengan serius.
" Baik. Jika demikian, terus awasi."
" Baik Penguasa." Lalu kembali bergegas meninggalkan ruangan itu.
" Penguasa, itu berarti mereka telah menemukan kita..." ucap Huo Zhaodau sambil menatap Qing Ruo dengan serius.
" Aku rasa tidak. Ini hanya kebetulan saja, karena perjalanan kita yang satu arah saja," jawab Qing Ruo dengan tenang.
Di sudut ruangan, sang gadis menatap Qing Ruo dan Huo Zhaodau yang sepertinya sedang berdiskusi, tampak terdiam mematung.
" Dari kelompok mana pemuda ini.Aku bahkan tidak mengetahui lingkaran kekuatannya..." menatap Qing Ruo dengan lekat.
Tidak lama kemudian, Qing Ruo mengarahkan pandangannya pada gadis tersebut.
" Nona, pulihkan diri Anda. Kami akan. berjaga," ucap Qing Ruo dengan tenang.
" Tu-tuan, apakah Anda yang menolongku sebelumnya?" Menatap Qing Ruo dengan lekat.
" Benar," jawab Qing Ruo sambil mengangggukan kepalanya santai.
__ADS_1
" Tuan," ucap sang gadis dengan ragu.
" Pulihkan dirimu. Kita akan bicara nanti. Tapi yang pasti, tempat ini aman," ucap Qing Ruo menenangkan, sambil memberi dua butir pil pemyembuh Fuyuan, membuat gadis itu terbelalak.
" Tu-tuan. Pil emas ini..."
" Terimalah," ucap Qing Ruo dengan ramah.
" Ba-baik tuan. Terima kasih." Lalu mengambil sikap duduk. Ketulusan dan keramahan Qing Ruo membuat sang gadis membuang keraguannya.
" Jika mereka orang jahat, dengan kondisiku saat ini, mungkin aku sudah kehilangan cincin penyimpananku," batinnya, lalu mulai menyerap pil pemyembuh tersebut
" Zhoudau, awasi gadis ini. Jika dia telah selesai memulihkan diri, kabari aku." Lalu meninggalkan ruangan.
" Baik penguasa," ucap Huo Zhaodau sambil menatap punggung Qing Ruo yang bergerak meninggalkan tempat itu.
" Swhus...." Sosok Qing Ruo keluar dalam gua, menemui Thou Thou yang baru saja tiba di depan mulut gua.
" Thou Thou, bagaimana?"
" Satu dari mereka telah terbunuh, dan dua naga lainnya masih bertarung melawan puluhan hewan buas lainnya."
" Apakah ada kekuatan lain yang mengawasi pertempuran itu?"
" Sepertinya tidak ada, karena kekuatan kecil lainnya menjauh setelah mendengar pertempuran itu."
" Baik. Awasi tempat ini," ucap Qing Ruo lalu bergerak memeriksa pertempuran teraebut.
" Baik penguasa." Dengan hormat.
Di dalam kegelapan malam.
" Swhus... Swhus...." Sosok Qing Ruo melesat, bergerak menuju pusat pertempuran yang berada sembilan kilometer dari gua yang ditempatinya.
Dalam waktu singkat, Qing Ruo akhirnya tiba di kawasan puncak gunung yang ada di tengah pulau kecil itu, menyaksikan pertempuran hebat dua naga air yang sedang bertarung melawan para penguasa pulau kecil itu.
Di hadapan Qing Ruo, tampak tiga sosok gagak hitam paruh emas, dan dua sosok elang emas yang merupakan hewan buas semi abadi tingkat tujuh, terus menyerang dua sosok naga air yang kini menjadi bulan-bulanan mereka. Selain itu, di sekitar gunung juga ada puluhan hewan buas semi abadi tingkat dua hingga tingkat empat yang tidak bertarung, menyegel tempat itu.
" Ular emas sisik api. Ini sangat sesuai dengan tubuh tetua She Pian." Qing Ruo membatin, menatap salah satu hewan buas semi abdi tingkat dasar yang ikut menyaksikan pertempuran itu. Selama ini dirinya terus berusaha mencari tubuh yang tepat untuk pecahan jiwa tetua Klan She dari neraka kuno yang mengorbankan nyawanya melindungi pecahan tubuh bunga emas Yin Meili.
" Tapi bagaimana caranya." Qing Ruo membatin, karena sangat tidak mungkin dirinya menganggu hewan buas itu.
Di atas puncak gunung. Raungan naga air dan lengkingan suara gagak dan elang emas, terus memecah keheningan malam dengan suara ledakan dahsyat yang terus bergema.
" Dhuar.... dhuar ..." Ledakan keras terus bersahutan, saat serangan hewan buas itu beradu.
" Benar-benar naas." Qing Ruo membatin menatap seekor sosok naga air yang telah terbunuh, tergeletak di atas gunung itu dengan tubuh tercabik-cabik.
Tidak lama kemudian, salah satu naga air terlempar terkena cakaran telak elang emas, dan merobek perutnya.
" Swhus...." Darah segear menyebur dari luka itu, membasahi kawasan yang di lewatinya.
" Roargh...." Raungan kesakitan bergema, hingga tubuhnya yang besar itu, terjatuh menghantam puncak gunung.
" Roargh..." Raungannya sekali lagi bergema, bersamaan dengan kematiannya.
__ADS_1
" Hewan-hewan udara itu sangat kuat. Naga air yang merupakan hewan buas semi abadi tingkat enam ini, tidak ubahnya seperti cacing di hadapan ayam," Qing Ruo membatin, sambil mengamati pertempuran tersebut.
Dalam waktu singkat, naga yang tersisa akhirnya terbunuh dengan tubuh tercabik-cabik, membuat tempat yang sebelumnya begitu gaduh, kini menjadi tenang kembali.