Sang Penguasa

Sang Penguasa
242. Di Gunung Ping Xie.


__ADS_3

Suasana di tempat itu menjadi hening, terlebih lagi saat mereka melihat kelima tetua dari klan Bing Yi yang meninggalkan tempat itu dengan kehilangan tingkat kultivasinya.


Tiba-tiba lima tetua yang mengolok-olok  Qing Ruo dan Hu Yan Lan sebelumnya, bergerak dari tempatnya, menghampiri Qing Ruo dan berlutut di hadapan Qing Ruo.


" Tuan muda....," ucap pemimpinan kelompok tersebut dengan gugup.


" Hancurkan tingkat kultivasi kalian hingga ke tingkat pendekar raja,"  ucap Hu Yan Lan dengan tatapan dingin.


" Ba-baik tuan...." ucap para pria paruh baya tersebut, sambil menyeka keringat dingin yang membasahi wajahnya.


" Dhuar....dhaur ...." ledakan kecil terus bergema dari tubuh kelima sosok itu.


" Buah dari kesombongan adalah kerugian. Sungguh disayangkan," ucap beberapa pemuda yang berada di sekitar tempat itu, menatap kelima tetua tersebut  dengan tubuh bergidik.


Tidak lama kemudian setelah kelima tetua tersebut selesai menghacurkan tingkat kultivasinya, tiba-tiba Qing Ruo  melepaskan segel rantai emas dan menyegel  jiwa mereka.


" Jika kalian mencoba untuk naik tingkat, maka itu adalah hari kematian kalian," ucap Qing Ruo sambil meminta kelima pria paruh baya tersebut pergi dari tempat itu.


" Ba-baik, tuan. Terima kasih....." lalu bergegaslah meninggalkan tempat itu.


Setelah kelima pria paruh baya itu pergi, kembali tempat itu menjadi hening.


"  Saudara sekalian, maaf atas ketidaknyamanan ini," ucap Qing Ruo sambil menangkupkan tangannya dengan hormat, lalu mencari tempat untuk beristirahat.


" Penguasa, mari...." ucap Hu Yan Lan membawa Qing Ruo meninggalkan tempat itu, menunju kursi batu yang memang tidak ditempati oleh siapapun.


" Penguasa," ucap Hu Yan Lan sambil mempersilakan Qing Ruo, lalu berjaga.


Tidak lama kemudian, secara perlahan tempat yang begitu tegang sebelumnya, kini mulai tenang,  dimana para pemuda yang berada di tempat itu , melanjutkan aktivitas mereka.


****


Di tempat lain.


Lima sosok pria paruh baya, terus bergerak meninggalkan gunung Ping Xie dengan perasaan kacau balau.


" Saudara, apakah kita hanya akan berdiam diri, atau  melapor masalah ini pada patriark?" sambil terus bergerak terbang.


" Saudara, jangan gegabah, karena bagaimanapun juga, kita berada di pihak yang  salah karena telah memprovokasi seseorang yang bahkan tidak mengganggu kita." Dengan wajah serius.


" Apakah itu berarti kita hanya diam saja, dan menerima perlakuan mereka yang benar-benar rendahkan diri kita ini...."


" Saudara, jangan jangan membuat masalah. Atau kita-" dengan kata tercekat saat merasakan lima aura berada di depan mereka.


" Saudara, bukankah mereka para tetua dari klan Bing Yi sebelumnya?"


" Benar, itu mereka..." Sambil terus bergerak, menghampiri kelompok yang berhenti tersebut.

__ADS_1


" Swhus... swhus ..." kelima pria paruh baya itu berhenti di hadapan para tetua dari klan Bing Yi itu.


" Saudara, apa yang kalian lakukan di tempat ini?" Menatap para tetua dari klan Bing Yi itu dengan heran.


"Saudara, dengan tingkat kultivasi kami yang sangat lemah ini,  kami tidak bisa bergerak dengan bebas, sehingga kami harus singgah untuk memulihkan kekuatan. Selain itu,  kawasan ini juga sangat berbahaya," jawab pemimpin kelompok menjelaskan.


Tiba-tiba salah satu tetua dari klan Bing Yi  menyadari keanehan dari kelompok yang baru tiba tersebut.


" Saudara, apakah kalian...." ucapnya  dengan ragu, menatap kelompok baru tersebut ternyata memiliki tingkat kultivasi yang sama dengan mereka.


" Saudara aku Ye Tianchi, dan mereka adalah saudaraku. Kami juga berurusan dengan tuan muda yang menyamar sebelumnya," ucap Ye Tianchi, sambil memperkenalkan rombongannya dengan hormat.


" Saudara Ye Tianchi, aku Bing Yi Qiang," ucapnya memperkenalkan diri dan rombongannya dengan hormat.


" Saudara Bing Yi Qiang, Apa rencana saudara selanjutnya?"


" Maksud saudara Ye Tianchi?"


" Jujur saja kami masih tidak terima diperlakukan seperti ini, dan kami berencana-"


" Sebaiknya urungkan niat saudara mengenai hal itu," ucap Bing Yi Qiang memotong kalimat Ye Tianchi.


" Tapi saudara...."


" Seharusnya saudara merasa bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk menikmati kehidupan walaupun itu tanpa peningkatan kultivasi. Perlu saudara ketahui pemuda itu adalah orang yang tidak boleh kita singgung," ucap Bing Yi Qiang dengan serius. 


Bing Yi Qiang menganggukkan kepalanya.


" Dia adalah cucu kesayangan dari yang abadi, Shen Guoshi Xiong Mao Tian."


" Tapi bukankah klan Dewa kuno itu sangat jarang keluar...."


" Benar, aku bahkan tidak menyangka akan berhadapan dengan mereka," ucap Bing Yi Qiang.


Kata-kata Bing Yi Qiang membuat tempat itu menjadi hening, bahkan suara nafas para tetua itu terdengar, yang di selingi oleh raungan hewan buas yang berada di sekitar hutan tersebut.


" Berurusan dengan penguasa sejati hutan gelap bukanlah perkara yang mudah. Kehebatan mereka bahkan ditakuti oleh para dewa baru. Jika kita berani menyinggung orang kesayangannya,  maka tidak ubahnya kita membawa kehancuran untuk seluruh  klan kita," ucap Bing Yi Qiang pelan, menasehati Ye Tianchi dan rombongannya yang bersikeras akan membalas dendam tersebut.


" Ini benar-benar menyedihkan," ucap Ye Tianchi dengan sedih.


" Ini adalah pengalaman buruk bagi  kita, dan sebuah pelajaran bagi yang lain agar bertindak lebih hati-hati lagi," ucap Bing Yi Qiang dengan pelan.


" Lalu apa rencana saudara selanjutnya?" tanya Ye Tianchi.


" Yang pastinya kami ingin segera kembali ke Klan dan melaporkan masalah ini secepatnya, agar murid klan kami lebih berhati-hati." 


" Saudara benar," ucap Ye Tianchi, sambil  melanjutkan percakapan mereka. 

__ADS_1


****


Kaki gunung Ping Xie.


Qing Ruo dan Hu Yan Lan duduk dengan tenang, beristirahat di tempat itu menunggu pagi untuk melanjutkan perjalanan mereka memasuki gunung Ping Xie sambil berbincang-bincang santai.


" Penguasa," ucap Hu Yan Lan dengan ragu.


" Bicaralah," ucap Qing Ruo dengan ramah.


" Mengapa Penguasa melepaskan para tetua tersebut?"


" mengenai mereka, aku ada rencana," jawab Qing Ruo dengan tenang.


" Baik, penguasa....."


" Hu Yan Lan, lalu apa yang kamu ketahui dari gunung Ping Xie, ini?" tanya Qing Ruo berbicara melalui telepati.


" Penguasa, gunung Ping Xie memiliki aturan ruang dan waktu yang sangat kuat, di mana mereka yang ingin memasuki kawasan ini harus menekan tingkat kekuatannya hingga di tingkat pendekar spiritual."


" Lalu bagaimana dengan hewan buas yang ada di dalamnya?"


Hu Yan Lan terdiam, menatap Qing Ruo dengan lekat.


" Keberadaan mereka lah yang membuat tempat ini ditakuti."


" Mengapa bisa demikian?"


" Karena  mereka tidak terikat oleh aturan ruang dan waktu," jawab Hu Yan Lan dengan tubuh bergidik.


" Ternyata untuk dapat mempelajari tanda suci bukanlah hal yang mudah,"  ucap Qing Ruo pelan, sambil menggelengkan kepalanya.


****


Tidak jauh dari tempat itu, beberapa kelompok  pemuda yang jelas ga menunggu pagi, duduk dengan tenang sambil menjaga jarak dari Qing Ruo dan Hu Yan Lan.


" Aku tidak menyangka jika tuan muda itu memiliki latar belakang yang sangat kuat, bahkan bisa memaksa para tetua dari klan Bing Yi itu pergi  dengan gigit jari...."  Berbicara pada rombongannya melalui telepati.


" Saudara, inilah kehidupan. Penuh dengan misteri. Kita tidak bisa menilai seseorang dari penampilan. Dan kita juga tidak bisa menilai seseorang dari kata-katanya. Sebagai contoh, sebelumnya mereka terlihat begitu lemah, tetapi sebenarnya sangat kuat. Lalu para tetua dari Klan Ye  yang mengaku-ngaku  terlihat kuat, justru sebenarnya sangat lembah. Pelajaran yang dapat kita petik adalah, jangan pernah  mengusik orang lain, apalagi bersikap sombong, karena hal itu akan  mendatangkan celaka bagi kita sendiri," ucap pemuda tersebut,  membuat para pemuda lainnya terdiam.


***


Tanpa terasa, waktu pun berlalu. Kawasan gunung Ping Xie yang sebelumnya gelap, secara perlahan kini mulai terang, membuat semua orang yang ada di tempat itu mulai bersiap-siap untuk bergerak memasuki gunung tersebut.


" Penguasa, sebentar lagi gerbang suci   gunung Ping Xie akan muncul. Mohon penguasa untuk bersiap-siap," ucap Hu Yan Lan.


" Baik," jawab Qing Ruo dengan tenang.

__ADS_1


🙏🙏 Satu bab ya kak.🙏🙏


__ADS_2