Sang Penguasa

Sang Penguasa
157. Luo Jiao Lie.


__ADS_3

Di dalam lorong gua pulau hitam.


Qing Ruo terus melangkahkan kakinya, memasuki gua itu dengan tenang, menemui Huo Zhoudau yang sedang mengawasi sang gadis yang masih memulihkan diri.


" Penguasa, bagaimana keadaan di luar?" tanya Huo Zhaodau berbicara melalui telepati dengan penasaran


" Semuanya aman-aman saja. Beristirahatlah, aku akan berjaga," jawabnya dengan tenang.


" Tapi penguasa...." Dengan wajah khawatir.


" Tenanglah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucapnya sekali lagi.


" Baik penguasa..."


Lima belas menit kemudian, sang gadis selesai memulihkan dirinya, menatap Qing Ruo yang duduk tidak jauh dari tempatnya dan hormat.


" Terima kasih tuan." Menangkupkan tangannya dengan hormat.


" Nona, bagaimana keadaanmu?" tanya Qing Ruo dengan ramah.


" Sepertinya kekuatanku telah pulih tuan."


" Senang mendengarnya," ucap Qing Ruo dengan ramah.


" Tuan..." ucap gadis itu dengan ragu.


" Bicaralah," ucap Qing Ruo dengan ramah.


" Mengapa tuan menolongku?" Menatap Qing Ruo dengan lekat.


" Lalu menurut nona, mengapa aku melakukannya?"


" Tuan aku tidak mengerti."


Qing Ruo menggelengkan kepalanya. Menatap gadis itu dengan lekat.


" Lalu apakah salah jika aku menolong nona?"


" Tidak ada yang salah, tuan. Hanya saja sangat aneh jika aku di tolong oleh orang yang tidak dikenal."


" Aku rasa tidak ada yang aneh. Apakah untuk menolong seseorang kita harus mengenalnya terlebih dahulu?"


Gadis itu terdiam sesaat, lalu menatap Qing yang tersenyum ramah padanya.


" Tuan benar, tapi aku tidak yakin akan hal itu. Dan yang pasti tuan pasti memiliki alasan."


Qing Ruo menganggukkan kepalanya..


" Karena tahu siapa nona," ucap Qing Ruo tersenyum ramah.


" Benarkah?" Menatap Qing Ruo dengan lekat.


" Aku tahu nona berasal dari selatan. Apakah benar demikian?"


" Maaf, aku tidak mengerti maksud tuan." Menghindari tatapan Qing Ruo.


" Sampai kapan nona merahasiakannya?" Tersenyum santai.


" Maaf tuan, ini memang rahasia." Dengan wajah serius, membuat Qing Ruo tertawa kecil.


" Lalu bagaimana jika aku sudah mengetahuinya?"


Gadis itu terdiam, menatap Qing Ruo dengan waspada.


" Shen Luo, sampai kapan nona merahasiakan hal itu dariku?"


" Tu-tuan, siapa Anda sebenarnya?" Menatap Qing Ruo sambil meningkatkan kewaspadaannya.

__ADS_1


" Tidak perlu takut. Jika aku benar-benar ingin berbuat jahat, dari awal sudah aku lakukan? Jika aku boleh tahu, dengan siapa aku berbicara..." ucap Qing Ruo ramah, membuat gadis itu menurunkan kewaspadaannya.


" Dia benar. Jika dia ingin berbuat jahat, lalu mengapa dia menolongku." Sang gadis membatin, menatap Qing Ruo yang tampak hangat dan ramah.


" Luo Jiao Lie , tuan."


Qing Ruo menganggukkan kepalanya.


" Jiao Lie, apa kesulitanmu, sehingga nekat melakukan tindakan yang tidak terpuji itu?"


" Tuan, aku tahu Anda telah menyelamatkan nyawanyaku, tapi aku tidak ingin tuan mencampuri urusanku." Dengan wajah tidak senang.


" Jika demikian, apakah kamu tidak menyadari tindakanmu itu membahayakan seluruh kota?" Dengan tatapan kecewa.


" Tuan, aku..." menundukkan kepalanya.


" Aku tahu nona sangat membutuhkan hal itu, tetapi tidak perlu sampai membahayakan diri, bahkan membahayakan nyawa banyak orang. Apakah kematian adalah hal yang sepadan?"


Luo Jiao Lie tediam, dia tidak menyangka jika sosok asing yang ada dihadapannya itu akan menceramahinya.


" Apa alasan nona tidak berani menggunakan kekuatan petir sebelumnya?"


" A-aku takut dan malu, tuan." menunduk pelan.


" Jika sudah takut dan malu, lalu mengapa harus nekat melakukan hal itu. Apakah nona benar-benar ingin mati?" dengan wajah kesal, membuat Luo Jiao Lie semakin terdiam, dan tidak mengerti.


Tiba-tiba Luo Jiao Lie mengangkat kepalanya.


" Siapa tuan sebenarnya? Lalu mengapa begitu peduli dengan urusanku." Menatap Qing Ruo dengan kesal.


" Aku akan menjawab jika nona menunjukan kekuatan petir yang nona kuasai," ucap Qing Ruo dengan serius.


" Tapi tuan, mengapa harus..."


" Lakukan saja."


" Slash .. Slash..." Petir berwarna biru menyala dari telapak tangannya, membuat Qing Ruo terkesiap.


" Tuan, apakah ada yang salah?"


Qing Ruo tediam, sambil menggelengkan kepalanya.


" Petir tngkat tiga. Sangat lemah, dan aneh," ucapnya pelan.


" Maksud tuan?"


" Kekuatan petir ini tidak sesuai dengan tingkat kualitivasi yang nona miliki. Apakah itu alasan nona tidak menggunakan kekuatan petir sebelumnya?"


Luo Jiao Lie menganggukkan kepalanya, menatap Qing Ruo dengan semakin penasaran.


" Apakah tuan tahu tujuh tingkatan kekuatan petir itu?"


" Petir putih adalah yang paling dasar, selanjutnya petir merah, petir biru, petir hitam, hitam kebiruan, hitam keemasan dan tanpa warna. Apakah nona juga sudah mempelajari teknik perubahan petir?" Tanya Qing Ruo pelan.


" Ba-bagaimana tuan bisa tahu hal itu?" menatap Qing Ruo dengan lekat.


Qing Ruo tersenyum ramah, lalu menunjukkan petirnya berwarna hitam keemasan, yang sesekali membentuk pedang, pisau dan tombak, membuat Luo Jiao Lie hampir menjatuhkan rahangnya.


" Tu-tuan..." ucap terharu dan hampir menangis.


" Panggil aku saudara Ruo..." Dengan senyumnya yang hangat dan ramah.


" Baik, saudara..." Sambil menyeka air matanya, menatap Qing Ruo dengan mata berkaca-kaca.


" Bicaralah," ucap Qing Ruo dengan tenang.


" Saudara Ruo, tapi aku tidak pernah mendengar nama saudara di klan Luo, bahkan di keluarga cabang lainnya." Menatap Qing Ruo dengan serius.

__ADS_1


Qing Ruo menganggukan kepalanya.


" Tentu saja, karena aku memang tidak pernah datang ke klan Luo," jawab Qing Ruo dengan ramah.


" Saudara Ruo, mengapa bisa demikian?"


" Karena aku-"


" Penguasa," ucap Huo Zhaodau yang sedang berkultivasi, tiba-tiba terbangun dan terlihat sedang berbicara dengan Qing Ruo, mengejutkan Luo Jiao Lie.


" Aku tahu," ucap Qing Ruo, berbicara melalui telepati, sambil berdiri dari tempat duduknya, menuju mulut gua.


" Suadara Ruo, ada apa?"


" Beberapa sosok mendekati tempat ini."


" Saudara, apakah ini tidak berbahaya?" dengan wajah khawatir.


" Tenanglah," ucap Qing Ruo dengan tenang, sambil membuat segel tangan.


" Swhuss... swhuss..." kabut tipis yang merupakan susunan mantra formasi ilusi muncul di dalam ruangan itu, bergerak menutup lorong gua.


" Sekarang kita aman," ucapnya lalu duduk kembali, membuat Jiao Lie terdiam.


" Saudara Ruo, kembali ke pertanyaanku sebelumnya. Apa alasan saudara Ruo tidak pernah datang ke klan Luo?"


" Ceritanya panjang. Selain itu, aku juga tidak lahir di klan. Saudari Jiao Lie sendiri, sudah berapa lama meninggalkan wilayah selatan?" tanya Qing Ruo mengalihkan pembicaraan.


" Sudah cukup lama. Tiga ratus tahun yang lalu," jawabnya dengan tatapan menerawang.


Qing Ruo menganggukan kepalanya.


" Lalu apa yang saudari lakukan di utara ini?"


" Bertualang mencari sumber daya, serta menghindari trah pertama," ucapnya dengan wajah sedih.


" Jika demikian, bagaimana dengan saudara yang lain?"


" Saudara Ruo, mereka selalu berpindah-pindah, menyamar dan membaur bersama klan pelayan yang masih setia. Namun yang pasti, mereka selalu berada di wilayah selatan."


" Lalu apakah saudari tahu jenderal Luo Xing?"


" Tetu saja, dia adalah adik ketiga ayah," jawabnya santai.


" Lalu apakah saudari tahu bahwa kawasan utara ini adalah wilayah perlindungannya?"


" Benar. Alasanku tidak ingin menggunakan kekuatan petir yang tidak seberapa itu, karena aku tidak ingin menyusahkan paman Xing." Sambil menundukkan kepalanya.


" Ternyata dia berasal dari keluarga cabang." Qing Ruo membantin, menatap Luo Jiao Lie yang masih terdiam.


" Berbicara mengenai kota Tongzhe. Bagaimana saudari bisa tahu bahwa istana kota memiliki mutiara air tak berbentuk? "


" Organisasi rahasia yang ada di kota Tongzhe. Mereka mengatakan bahwa pelindung kota itu adalah seekor naga es, dan aku yakin bahwa naga es itu adalah buronan yang sedang di cari klan Naga Air. Tapi aku benar-benar tidak tahu bahwa naga es itu adalah hewan buas semi abadi tingkat tujuh tahap akhir." Menggelengkan kepalanya.


" Tapi bagaimana saudari melakukannya?"


" Aku menipu naga es itu dengan cermin perak," ucap sambil menunjuk cermin yang melepaskan kekuatan ilusi.


Qing Ruo menganggukkan kepalanya.


" Lalu apakah saudari memiliki mutiara tersebut?"


Luo Jiao Lie menganggukkan kepalanya.


" Tentu saja."


" Lalu apakah boleh aku melihatnya?" Tanya Qing Ruo, membuat gadis itu terdiam, menatap Qing Ruo dengan ragu.

__ADS_1


👉 masih satu bab ya kak. 🙏


__ADS_2