Sang Penguasa

Sang Penguasa
178. Menghajar Ji Huan dan rombongannya.


__ADS_3

Tindakan Qing Ruo yang tidak gentar dengan kehadiran banyak orang membuat ruangan itu semakin tegang.


Di hadapan Qing Ruo. Sang manager tiba-tiba mengubah sikapnya.


Tuan, mohon penjelasannya," ucap sang manager mencoba bersikap hati-hati.


" Aku terlalu lelah untuk menjelaskan. Jika kalian tidak mau menangkap mereka, maka silakan pergi."


" Tuan muda, anda telah merusak tempat ini, jadi-"


" Ini adalah tempat yang aku gunakan untuk beristirahat, tetapi bagaimana bisa kalian membenarkan orang-orang ini  memasuki ruangan ini dengan bebas. Jika dalam hitungan ketiga kalian tidak mengambil sikap. Aku tidak akan segan menghancurkan tempat ini." dengan wajah kesal.


Ancaman yang dilontarkan Qing Ruo membuat sang manager kesal, namun dengan segera penjaga keamanan mengingatkannya melalui telepati, agar tidak menyinggung Qing Ruo.


" Manager, ada banyak tetua yang merupakan pendekar semi abadi tingkat tiga hingga tingkat lima masuk ke ruangan ini, namun satu pun tidak ada yang keluar. Adapun dapat pergi, tetapi kehilangan kultivasinya."


" Jika demikian silakan tuan urus  masalah ini. Mengenai kerusakan,  serahkan semua padaku." Sang manajer mencari aman, lalu membawa pasukan keamanan  meninggalkan ruangan.


" Tu-tuan," ucap Ji Huan, mencoba menghentikan rombongan tersebut namun tidak digubris oleh sang manager.


Setelah sang manajer bersama pasukan keamanan itu pergi, Qing Ruo lalu membuat segel tangan, mengaktifkan segel yang sudah pasang sebelumnya.


" Swhung....." dinding ruangan bergetar menampilkan gerakan semu cakram emas.


" Oh tidak..." para tetua itu terkejut ketakutan saat melihat kemunculan ribuan cakram emas tersebut.


Belum hilang keterkejutan  mereka, tiba-tiba petir berwarna hitam keemasan  muncul dari tubuh Qing Ruo.


" Trark.... trark... " ledakan petir yang menggelegar mengisi ruangan itu.


" Oh tidak...." ucap para tetua itu  semakin ketakutan.


" Tetua, jangan-" 


Belum sempat Ji Huan menuntaskan kata-katanya.


" Dhuar...." Tembakan tombak petir, melesat kearahnya,  mengguncang ruangan itu bersamaan dengan sosok Ji Huan yang merupakan pendekar semi abadi tingkat lima itu,  terlempar hingga menghantam dinding ruangan,  roboh dengan bersimbah darah. 

__ADS_1


Tidak ingin mati tanpa melakukan perlawanan. Ji Huan segera bangkit, menghiraukan rasa sakit lalu bergerak menyerang Qing Ruo.


" Tetua dia hanya seorang diri. Jika kita membunuhnya, tidak ada yang tahu." berbicara melalui telepati. Sambil melepaskan serangan tapak emas ke arah Qing Ruo.


" Dhuar...dhuar...." Serangan mereka beradu. Melempar sosok Ji Huan kembali, namun kali ini dengan keadaan yang lebih parah.


" Akh...." Rintihnya kesakitan. Menatap Qing Ruo yang menghampiri dengan dengan tatapan dingin.


" Ba-bagaimana mungkin dia baik-baik saja setelah beradu serangan dengan pendekar semi abadi tingkat empat..." para tetua yang masih terdiam di tempatnya itu menatap Qing Ruo yang hanya menampilkan kekuatan semi abadi tingkat dasar.


" Tetua, tunggu apalagi...." Teriak Ji Huan, bergerak ke arah Qing Ruo sambil melepaskan tusukan pedang emas yang tiba muncul di tangannya.


" Dhuar.... " pedang emas itu beradu dengan tombak petir yang juga tiba-tiba muncul di tangan Qing Ruo, dan menghancurkannya.


" Akh...." Ji Huan sekali lagi terlempar dengan tangan kanannya yang robek terkena sambaran petir.


" Bermain-main dengan kesempatan. Keberuntungan tidak selalu datang dua kali!"  ucap Qing Ruo dengan tatapan dingin sambil menghampiri Ji Huan yang meringis kesakitan tersebut.


Pada saat dirinya akan menghajar Ji Huan, tiba-tiba Xian Tang dan para tetua yang sedang membaca situasi sebelumnya menyerang Qing Ruo.


" Swhus..swhus..." mereka bergerak ke berbagai arah, mengunci pergerakan Qing Ruo sambil melepaskan tebasan pedang.


" Sangat kuat," ucap Xian Tang dengan wajah tegang, karena serangan mereka tidak membuat Qing Ruo bergeming dari tempatnya.


" Swhus..." ledakan aura semi abadi tingkat delapan tiba-tiba mengedar dari tubuh Qing Ruo bersamaan dengan ledakan dahysat petir hitam keemasan yang menyelimuti pedang Xue yang semakin ektrem.


" Oh tidak...." Ucap Xian Tang dan rombongannya begerak mundur dengan wajah pucat pasi. Bahkan membuat Xuan Tang dan keempat tetua tersebut menjatuhkan diri.


Di hadapan Qing Ruo, Ji Huan kini bahkan mematung tanpa berani bergerak sedikitpun.


" Swhus...." tamparan keras Qing Ruo menghantam wajah Ji Huan, membuat rahangnya hampir terlepas. Belum puas dirinya menampar sosok itu.  Qing Ruo juga menghancurkan kultivasinya.


Ji Huan yang  sudah tidak dapat bicara, karena rahangnya  yang hampir terlepas  itu, kini seperti seonggok daging yang dipukul tanpa suara. Walaupun demikian, dari reaksi tubuhnya, tampak dia begitu kesakitan. Membuat Xian Tang dan tetua lainnnya kini mulai membasahi dirinya.


" Brark.... " Qing Ruo mematahkan kedua tangan dan kakinya. Membuat tubuh yang  telah kehilangan kultivasinya  itu kelojotan.


Sikap santai Qing Ruo menyiksa Ji Huan itu membuat Xian Tang dan rombongannya mulai menangis ketakutan.

__ADS_1


" Aku paling benci dengan suara tangisan!" Memalingkan wajahnya, menatap Xuan Tang dengan wajah  kesal.


" Slash...." Tembakan bola petir menghantam tubuh Xian Tang yang dalam keadaan tidak siap itu, melemparnya dengan  keras  menghantam dinding ruangan dan roboh.


Setelah membuat Xian Tang terdiam, Qing Ruo kini mengeluarkan semut api, lalu melepaskannya pada tubuh Ji Huan.


Membayangkan keadaan Ji Huan yang telah kehilangan kultivasi, mendapat siksaan seperti itu,  membuat Xian Tang dan rombongannya mulai mengutuk diri.


" Aku paling benci dengan pekerjaanku seperti ini. Tetapi kalian memaksaku untuk melakukannya. Ketika kalian bermain dengan kata-kata dan keseriusanku, makan nyawa kalian adalah mainanku!" ucapnya dengan dingin, melesat ke arah Xian Tang.


" Dhuar....dhuar...." Tinjuan kerasnya menghajar  wajah Xian Tang, yang kini bahkan tidak berani menghindar. Berharap Qing Ruo tidak menghacurkan kultivasinya. Harapan itu sirna saat Qing Ruo  yang sedang menghajarnya , tiba-tiba menghantamkan pukulan keras pada Dantiannya.


" Akh...." Teriaknya kesakitan. Tidak hanya itu, Qing Ruo juga melakukan hal yang dia lakukan pada Ji Huan.


Xian Tang yang kini berharap Qing Ruo  segera membunuhnya, kini meraung kesakitan saat semut api itu mulai memasuki kulitnya.


Tindakan Qing Ruo yang tanpa ampun membuat keempat tetua itu kini benar-benar pasrah. Menyesali diri adalah hal yang tidak berguna. Melawan pun adalah hal yang sia-sia.


" Tuan, kami akan menghancurkan kultivasi kami, tapi lepaskan klan kami," salah satu tetua memohon pengampunan pada Qing Ruo dengan terbata-bata.


" Bukankah aku sudah meminta kalian untuk melakukannya dari awal? Sebelumnya aku meminta kalian untuk menghancurkan kultivasi hingga tingkat pendekar Dewa, supaya  kalian  menjadi pelayanku, tetapi kalian  malah mempermainkanku." Dengan tatapan dingin.


Kata-kata Qing Ruo membuat para tetua itu semua ketakutan. Terutama dengan siksaan yang akan mereka terima, membuat mereka hendak bunuh diri. Namun belum sempat mereka melakukannya, Qing Ruo sekali lagi mengeluarkan ancaman.


" Berani bunuh diri, maka klan kalian akan ikut merasakannya," ucap Qing Ruo dengan dingin.


Kata-kata Qing Ruo membuat para tetua itu terdiam, meraung dan menyesali kebodohan mereka. 


" Berani membuang waktuku. Lakukan sekarang!"


Dengan penuh  penyesalan,  keempat tetua  itu mulai menghancurkan kultivasinya.


" Dhuar... dhuar...." Ledakan kecil keluar dari tubuh mereka bersamaan dengan erangan kesakitan.


" Patahkan tangan dan kaki kalian!" Ucap Qing Ruo dengan dingin.


Tanpa membantah keempat tetua itu secara bergantian mematahkan kedua tangan dan kakinya.

__ADS_1


Setelah memastikan para tetua tersebut kehilangan kultivasinya. Qing Ruo lalu melepaskan semut api pada tubuh para tetua tersebut lalu meninggalkan tempat itu. Tanpa sepatah kata pun.


" Tu-tuan..." ucap para tetua tersebut memanggil Qing Ruo sambil menahan rasa sakit ekstrem yang luar biasa. Setelah yakin Qing Ruo benar-benar telah pergi. Para tetua itu benar sudah tidak mampu menahan diri. Mereka meraung bersama Xian Tang menangis menyesali diri. Tidak jauh dari mereka, Ji Huan yang  tidak bisa bersuara itu hanya bisa terdiam, dengan air mata yang terus mengalir  dari sudut matanya.


__ADS_2