Sang Penguasa

Sang Penguasa
174. Kemunculan Rombongan Lainnya.


__ADS_3

" Plak....plak...." Suara tamparan terus bergema mengisi ruangan.


" Aku akan minta kalian berhenti untuk melakukannya setelah pasukan yang kalian panggil itu datang," ucap Qing Ruo dengan dingin, membuat tetua itu kini benar-benar meraung.


" Tuan ampuni kami, tuan." Memohon saat menatap wajah saudaranya yang kini telah lebam, bahkan hampir tidak bisa di kenali lagi.


" Jika aku lemah, apakah kalian juga akan mengampuniku. Selain itu, niat kalian  yang ingin merampas  sumber daya orang lain,  benar-benar tidak bisa dimaafkan."


" Tapi tuan-"


" Jika  berani bicara lagi, akan ku potong lidah kalian!" Dengan tatapan dingin.


Kedua sosok itu terdiam,  menangis dalam hati karena tidak menyangka akan mendapat kesialan seperti itu.


Waktu terus berlalu,  namun pasukan bantuan yang dipanggil oleh kedua sosok itu masih belum juga tiba.


" Sekarang gantian," ucap Qing Ruo meminta mereka bergiliran. Tanpa berani membantah, sosok yang sebelumnya menerima tamparan, kini menampar balik.


****


Di dalam dunia jiwa.


Ketiga belas tetua yang mengejar Long Fu dan Long Qe kini juga telah menjadi bulan-bulanan Yuan Bai dan Yuan Hei berserta rombongannya. Awalnya mereka mengira dapat menaklukan Long Fu dan Long Qe dengan kedua kera raksasa itu, namun tiba-tiba Long Yu Wei dan Long Chen muncul, lalu menghajar mereka semua dengan brutal.


" Dhuar.... dhuar...." Ledakan keras mengguncang tempat itu, dengan sosok para tetua yang terlempar ke berbagai arah.


Beberapa tetua yang dapat menghindar dari serangan Long Yu Wei dan rombongannya, berusaha untuk melarikan diri, namun tiba-tiba mereka menabrak perisai es transparan mendorong tubuh mereka kembali menuju pusat pertempuran.


" Melarikan diri dari dalam dunia jiwa, kalian benar-benar naif!" ucap Long Yu Wei sambil melepaskan aura penindasan.


Para tetua yang akhirnya menyadari tempat yang mereka masuki itu kini menjadi semakin panik. Membuat berapa sosok segera berlutut untuk memohon pengampunan, tindakan itu tidak digubris Yuan Bai dan Yuan Hei yang langsung mengayunkan tongkat emasnya memukul sosok itu dan melemparkannya.


" Tidak ada pengampunan. Jika ingin tetap bertahan hidup, maka terimalah siksaan dari kami!" ucap Yuan Hei, membuat para tetua itu begitu ketakutan.


" Dhuar...dhuar...." ledak keras terus bergema, dengan sosok para tetua tersebut yang kini mulai berjatuhan dan terluka parah.


****


Di dalam kamar penginapan.


Dua tetua itu masih saling menampar, berharap pasukan bantuan yang mereka panggil sebelumnya segera tiba.


Di hadapan mereka, Qing Ruo masih duduk dengan tenang, sambil menikmati minumannya dengan santai.


Sepuluh menit kemudian, Qing Ruo merasa lima aura  tiba di depan pintu kamarnya.

__ADS_1


" Cukup! Panggil mereka masuk," ucap Qing Ruo meminta tetua itu berhenti.


" Ba-baik tuan." Dengan lutut bergetar, kedua tetua itu lalu bangkit berdiri berusaha untuk membukakan pintu. Namun tiba-tiba sosok yang baru datang itu mendobrak pintu kamar.


" Brak...." pintu kamar terbuka dengan keras, bersamaan dengan masuknya dua pemuda bersama tiga pria paruh baya, menatap sosok dua tetua yang kini berlumuran darah dengan bibir  dan wajah yang telah rusak terkena tamparan.


" Tetua, apa yang terjadi?" Tanya salah satu pemuda dengan heran, menantap tetua yang tersebut yang kini bahkan tidak berkata sepatah kata tersebut.


Melihat kedua tetua itu tidak menjawab, kelima sosok yang baru tiba itu,  lalu mengarahkan pandangannya pada Qing Ruo  yang duduk santai menikmati minumannya.


" Tuan apa yang terjadi?" Tanya salah satu pemuda, mengira Qing Ruo adalah rombongannya.


" Hm..." Qing Ruo menghembuskan nafas panjang, menatap  pemuda yang bertanya itu dengan santai.


" Itu adalah akibat ingin mencari masalah denganku," jawab Qing Ruo, membuat kelima sosok itu langsung menjaga jarak dengan sikap siaga.


" Kamu!" ucap pemuda itu dengan tatapan tajam.


" Apakah kalian benar-benar tidak tahu? Atau berpura-pura lupa? Oh aku ingat, kamu pasti tuan muda yang berada di akamr nomor dua belas, dan kamu pasti tuan muda di kamar nomor lima," ucap Qing Ruo, membuat kedua pemuda itu terdiam.


" Apakah kamu tuan muda di kamar nomor sembilan itu?" Menatap Qing Ruo dengan lekat.


" Menurut kalian?" tanya Qing Ruo membuat kelima sosok yang baru datang itu segera mengeluarkan senjatanya masing-masing, yang langsung dihentikan oleh dua tetua dengan wajah lebam itu.


" Jangan menatapku seperti itu," ucap Qing Ruo dengan dingin, sambil meminta salah satu tetua dengan wajah yang telah lebam itu menampar pemuda tersebut.


Sambil menganggukkan kepalanya, tetua tersebut lalu menghampiri pemuda tersebut dan menampar pemuda tersebut keras.


" Plak....plak..." tamparan keras itu merobohkan sang pemuda.


" Tetua, apa yang kamu lakukan!" Dengan wajah kesal, berusaha berdiri, namun dengan segera di tampar oleh tetua tersebut dengan keras.


" Berlutut!" ucapnya dingin, memaksa tuan mudanya itu berlutut di tempatnya.


Sang pemuda yang merupakan pendekar semi abadi tingkat dua itu, dibuat tak berkutik oleh sang tetua yang merupakan semi abadi tingkat lima.


Tindakan sang  tetua yang begitu patuh pada Qing Ruo membuat tempat itu menjadi begitu tegang.


" Beri aku alasan supaya aku dapat mengampuni nyawa kalian," ucap Qing Ruo dengan tatapan tajam.


Dengan segera kedua tetua yang dengan dengan wajah lebam itu berlutut.


" Tuan, aku Wu Dong, dan saudaraku Wu Ming, atas nama klan Wu, kami berdua memohon pengampunan tuan." Sambil menyerahkan cicin penyimpanannya. Tidak hanya itu, kedua tetua itu juga memotong tangan kanannya.


Qing Ruo mengerutkan keningnya, menatap kedua tetua tersebut dengan tajam.

__ADS_1


" Satu tangan, itu membuat kalian tidak berguna bagiku. Sembuhkan tangan kalian!" ucapnya dengan tegas.


" Ba-baik tuan." Sambil menyembuhkan tangannya.


Di belakang Wu Dong dan Wu Ming, tiga empat sosok lainnya, tampak begitu kebingungan, terutama pada tindakan Wu Ming dan Wu Dong yang begitu patuh pada Qing Ruo tersebut.


Tidak lama kemudian, Wu Dong dan Wu Ming berhasil menyembuhkan tangannya, namun mereka harus kehilangan satu tingkat kultivasinya.


" Apakah kalian benar-benar ingin mendapatkan pengampunanku?" tanya Qing Ruo dengan tajam.


" Benar tuan muda." Dengan wajah serius.


" Jika demikian, hancurkan tingkat kultivasi kalian hingga di tingkat pendekar dewa." Dengan tatapan dingin.


" Ba-baik tuan...."


Sekali lagi Wu Dong dan Wu Ming melakukan perintah Qing Ruo tanpa membantah sedikitpun.


Setelah kedua sosok itu berada di tingkat pendekar dewa biasa, Qing Ruo lalu melepaskan rantai jiwa dan menyegel kekuatan mereka.


" Jika kalian berusaha naik tingkat, maka itu adalah hari terakhir kalian. Pergi...." ucap Qing Ruo, sambil membuka gerbang dimensi dunia jiwa.


Dengan patuh, Wu Dong dan Wu Ming lalu memasuki gerbang dimensi dunia jiwa dan lenyap di dalamnya.


Setelah kedua Wu Dong dan Wu Ming pergi. Qing Ruo mengarahkan pandangannya pada kelima sosok yang masih tidak bergeming dari tempatnya.


" Wu Dong dan Wu Ming telah menunjukan keseriusannya, lalu bagaimana dengan kalian?" tanya Qing Ruo sambil tersenyum santai.


" Kami tidak tahu apa yang kamu lakukan pada tetua Wu Dong dan Wu Ming, tapi kami tidak akan pernah menjadi budakmu!" Jawab  pemuda yang masih berdiri bersama para tetua tersebut dengan sengit.


" Oh, apakah kamu serius dengan ucapanmu?" Tanya Qing Ruo dengan seringai dinginnya.


" Kamu hanya seorang diri," jawab pemuda yang sebelumnya di tampar oleh Wu Dong berdiri sambil menggerutu dengan kesal.


" Karena kamu adalah tuan muda dari klan Wu maka-"


" Maaf, aku bukan tuan muda dari klan Wu. Wu Dong kepa**t itu. Berani sekali dia menamparku," ucap pemuda itu dengan kesal.


" Jika demikian,, hancur kultivasimu," ucap Qing Ruo dengan tatapan dingin, membuat pemuda itu tertawa terbahak-bahak.


Qing Ruo tersenyum santai, mengarahkan pandangannya pada keempat sosok yang kini menatap Qing Ruo dengan dingin. 


" Apakah kalian juga ingin tertawa, jika demikian silakan, karena setelah ini kalian tidak akan tahu bagaimana tertawa lagi."


" Sungguh sombong!" ucap salah satu  tetua yang merupakan pendekar semi abadi tingkat lima bergerak menyerang Qing Ruo.

__ADS_1


__ADS_2