Sang Penguasa

Sang Penguasa
281. Klan Hong.


__ADS_3

Dengan tenang Qing Ruo terus  bergerak melangkahkan kakinya menuju gerbang timur kota  Gu Lu. 


Tidak lama kemudian, Qing Ruo bertemu lima murid klan Yin yang juga bergerak menuju gerbang timur.  Dengan tenang, Qing Ruo lalu membuntuti mereka sambil mendengar perbincangannya.


" Saudara Nu Ming, sudah dua hari ini saudara Lin dan rombongannya menghilang tanpa kabar," ucap salah satu dari mereka, sambil melangkahkan kakinya dengan santai.


" Benar, senior Gu Hin bahkan  meminta beberapa saudara lain untuk mencari mereka," ucap murid yang lain menanggapi.


"Saudara, apakah ini mungkin ada hubungannya dengan pihak tuan kota?"


" Mengapa bisa demikian?" tanya Yin Nu Ming dengan heran.


" Karena dua hari yang lalu mereka bertugas mengawasi kawasan istana terlarang," jawab pemuda itu menjelaskan.


" Itu tidak mungkin, karena selama ini Yuan Shui dan putrinya tidak pernah menentang hal itu. Yang patut kita curigai adalah kubu lain," ucap Yin Nu Ming menyanggah.


Qing Ruo yang terus berjalan  mengikuti mereka,  menyimak percakapan itu dengan seksama. 


" Apakah yang mereka maksud itu kelima murid yang aku tawan di dalam dunia jiwa sebelumnya?" Membantin.


Sepanjang jalan,  dari percakapan itu, Qing Ruo akhirnya menyimpulkan bahwa para murid klan Yin yang ada di kota Gu Lu memang mereka yang berasal dari kubu timur.


Tiba-tiba kelima murid Klan Yin itu menghentikan perbincangan mereka, dan menyadari keberadaan Qing Ruo yang mengikutinya. Qing Ruo yang menyadari tindakannya yang telah di curigai  memperlambat langkahnya.


Untuk menghilangkan kecurigaan murid klan Yin itu, Qing Ruo  lalu memasuki kedai sederhana yang ada di kawasan itu, membuatnya  semakin menjauh dari kelompok tersebut.


Di kedai sederhana.


Qing Ruo lalu memesan minuman dan menikmati suasana malam kota Gu Lilu di tempat itu dengan tenang.


Di ujung meja yang ditempatinya. Beberapa pemuda tampak sedang berbincang dengan serius.


" Saudara, menurut informasi yang aku dapatkan, putra pertama  patriark Hong Di, Hong Yi telah tewas. Apakah benar demikian?"


" Benar, aku bahkan baru saja kembali memeriksa kawasan Klan Hong, dan sepertinya kabar itu ada benarnya," jawab pemuda itu dengan serius.


" Maksud saudara?"


" Saat ini klan Hong sedang mengadakan acara perkabungan," jawab  pemuda itu dengan serius.


" Ini anehnya, bukankah selama ini Hong Yi dikabarkan sebagai sosok yang tidak pernah keluar dari kota Gu Lu."


" Saudara benar, itulah yang menjadi pertanyaan, karena bukan hanya Hong Yi yang tewas, tetapi empat pemuda yang juga merupakan tuan muda klan Hong juga ikut tewas."


Tidak jauh dari tempat duduknya, Qing Ruo mendengar percakapan para pemuda itu tersenyum kecut.


" Ternyata bocah tengil itu adalah putra dari seorang patriark." Batinnya sambil menikmati minumanmya dengan tenang.


Setelah berada di tempat itu cukup lama,  Qing Ruo  lalu melanjutkan perjalanan.


Di jalanan kota, Qing Ruo lalu melangkahkan kakinya menuju klan Hong yang kebetulan satu arah dengan gerbang timur kota.


Setelah berada di tempat sepi, Qing Ruo lalu bergerak dengan menggunakan perisai ilusi, dan terus bergerak hingga akhirnya tiba di klan Hong.


" Swhus...." sosok melewati segel perlindungan  dan muncul di atas benteng klan.


Matanya yang tajam lalu  mengawasi tempat itu dengan seksama..


" Ternyata yang di bicarakan para pemuda itu benar," ucapnya  sambil mengeluarkan cincin penyimpanan yang berisi mayat Hong Yi dan rombongannya yang bunuh diri dalam restoran kota Gu Lu sebelumnya.

__ADS_1


" Swhuss...." cincin penyimpanan itu melesat kearah murid klan yang sedang berjaga.


" Saudara, seseorang melempar cincin ini," ucap murid itu terkejut.


" Benar," ucapkan murid  lainnya, lalu meraih cincin  tersebut dan memeriksa isinya.


" Apa!" Dengan wajah pucat pasi, mengejutkan semua murid yang berjaga di tempat itu.


" Suadara, ada apa?"


" Ini... Ini..." Dengan tangan bergetar, menyerahkan cincin penyimpanan itu pada murid lainnya.


" I-ini tu-tuan muda," ucap murid yang menerima cincin itu dengan lutut bergetar.


Kegaduhan di tempat itu membuat beberapa tertua tingkat tinggi yang sedang berjaga muncul.


" Apa yang kalian lakukan!" ucap tetua tersebut dengan kesal, karena para murid  tersebut membuat keributan di dalam suasana perkabungan.


" Tetua, ini...." ucap murid itu sambil menyerahkan cincin penyimpanan pada tetua tersebut, yang juga langsung membuatnya mematung.


" Saudara ada apa?" tanya  tetua lainnya dengan penasaran.


" Mari temui patriark," jawabnya  sambil bergegas  meninggalkan tempat itu.


Sambil bergerak, para tetua lainnya  mencoba menghentikan tetua tersebut.


" Saudara, jangan konyol. Patriark sedang berkabung  dan tidak ingin diganggu. Apakah saudara ingin membuatnya marah?"


Tanpa menjawab, tetua terus bergerak hingga mencoba menerobos para murid yang berjaga di depan pintu kediaman Hong Di, sehingga membuat kegaduhan di tempat itu.


" Lancang!" Teriak suara dari dalam kediaman itu dengan murka, sambil melepaskan tembakan tapak api hitam.


" Swhuss...." Sosok pria paruh baya muncul, menatap tetua tersebut dengan kemarahan menyala.


" Zhan Ye, apakah kamu ingin mati!" Dengan tatapan tajam.


Tanpa menjawab, Zhan Ye yang terluka itu lalu melempar cincin penyimpanan yang ada di tangannya.


Di tempatnya, Hong Di yang mendapat cincin penyimpanan itu tiba-tiba mematung.


" Argh...." Teriaknya murka, mengejutkan semua orang yang berada  di kawasan itu.


" Zhan Ye!" ucapnya meminta penjelasan.


" Patriark, aku juga mendapatkannya dari murid yang berjaga, mereka yang lebih tahu," ucapnya pelan, lalu undur diri meninggalkan tempat itu dengan tertatih.


Hong Di yang merasa bersalah karena telah melukainya, lalu  meminta beberapa tetua untuk menolongnya, namun Hong Zhan Ye menolak.


" Tidak perlu, karena aku masih bisa berjalan," ucapnya dengan kesal.


Tidak lama kemudian,  beberapa murid   yang menemukan cincin penyimpanan sebelumnya tiba di tempat itu.


" Apakah kalian yang menemukan cincin penyimpanan ini?" tanya Hong Di dengan tatapan penuh selidik.


" Benar patriark," jawab murid tersebut, sambil menjelaskan kronologisnya dengan rinci.


Hong Di dan semua orang yang ada di tempat itu terdiam.


" Patriark,  mungkin petunjuk lainnya  ada di dalam cincin penyimpanan  tersebut," ucap seorang tetua.

__ADS_1


" Tetua benar," ucapnya sambil memeriksa cincin penyimpanan yang ada di tangannya.


" Swhus.... swhus...." Satu persatu mayat yang telah tersegel itu keluar dari dalam cincin penyimpananya tersebut, hingga Hong Di menemukan lencana giok yang berisi pesan jiwa.


" Patriark, bagaimana?" tanya seorang tetua.


" Sosok yang  mengantar mayat Ye er,  ingin aku menemuinya di restoran timur kota," jawab Hong Di pelan.


" Jika demikian, apa yang harus kita lakukan?" tanya seorang tetua.


" Aku akan segera menemuinya. Karena tubuh ini telah disegel, semayamkan di dalam kediamanku," ucapnya memberi perintah.


" Baik patriark," ucap para tetua tersebut dengan hormat.


Setelah Hong Di pergi, para tetua itu lalu bergerak, mengurus kelima mayat tersebut.


****


Di atas benteng klan.


Qing Ruo yang  melihat Hong Di pergi dari tempat itu, lalu bergerak meninggalkan tempat persembunyiannya.


" Swhus .. swhus...." sosok bergerak,  menjauh dari  kawasan Klan Hong untuk mendahului Hong Di.


Dengan menggunakan mantra formasi ilusi, dan didukung oleh gelapnya malam, Qing Ruo terus bergerak melintasi sertiap tempat dengan tenang, hingga akhirnya dapat melihat restoran yang dimaksud.


" Swhus...." sosoknya mucul seratus meter dari restoran tersebut, lalu melangkahkan kakinya menuju restoran tersebut dengan santai.


Tidak lama kemudian, Qing akhirnya tiba.


" Tuan muda," ucap para pelayan menyambut kedatangannya dengan ramah.


" Ruangan khusus," ucap Qing Ruo dengan santai.


"  Baik tuan muda."


" Satu lagi, jika Hong Di tiba di tempat ini arahkan untuk menemuiku."


" Baik tuan muda."


Setelah melakukan pembayaran,  seorang pelayan lalu mengarahkan Qing Ruo menuju ruangan yang dimaksud.


****


Di tempat lain.


Hong Di terus bergerak meninggalkan kawasan Klan Hong, lalu bergerak menuju satu-satunya  restoran mewah yang berada di kawasan gerbang Timur Kota.


" Siapa orang ini..." Batinnya dengan rasa penasaran yang membuncah.


****


Di tempat lain.


Qing Ruo akhirnya tiba di dalam ruangan khusus restoran.


" Silakan tuan muda," ucap pelayan tersebut dengan hormat.


" Terima kasih," ucap Qing Ruo dengan ramah, lalu memasuki ruangan itu dengan santai.

__ADS_1


Setelah pelayan itu pergi, Qing Ruo lalu menyegel ruangan itu dengan mantra formasi tingkat tinggi.


__ADS_2