Sang Penguasa

Sang Penguasa
148. Kota Tongzhe 5.


__ADS_3

Mendengar Qing Ruo yang mulai menghitung, sang naga telah mengedarkan kekuatan puncaknya itu juga bersiap melepaskan serangannya,  membuat perisai emas  transparan mulai hancur.


" Brark...." perisai emas transparan itu hancur seperti kaca, berderai ke berbagai arah.


" Mundur, pertempuran pasti akan terkadi...!" ucap Ye Fang dengan panik, sambil bergerak menjauh dan membuat perisai segel perlindungan, yang di ikuti oleh Ao Fei dan semua orang yang ada di tempat itu.


" Dua...." Suara lantang Qing Ruo kembali bergema. Bersamaan dengan munculnya gelombang petir yang kini mulai memenuhi ruangan itu.


" Swhuss... Swhus...." Ye Fang dan semua orang yang ada di dalam ruangan, bergerak meninggalkan tempat itu.


Di hadapan Qing Ruo. Naga Es itu juga tidak mau kalah dengan mengedarkan kekuatan es abadi dari tubuhnya yang kini mulai membentuk cakram es  dengan kekuatan petir kecil  yang sesekali muncul di permukaannya.


" Apakah kamu berpikir akan pergi? Naif!" ucap Qing Ruo berusaha menunjukkan dominasinya walaupun sudah hampir terlempar terkena aura penindasan sang naga dengan melepaskan cakram emas.


" Swhuss...." Cakram emas sebesar telapak tangan orang dewasa itu  berdesing, memecah diri menjadi jutaan cakram emas lainnya dan mulai membentuk bola raksasa, mengurung mereka berdua.


" Ka-kamu!" Menatap Qing Ruo dengan mata terbelalak.


" Bersiaplah. Kultivasi jutaan tahun mu akan berakhir hari ini!" ucap Qing Ruo, membuat sang naga semakin ragu.


" Dua darah dewa kuno dengan kekuatan semi abadi tingkat delapan. Ini benar-benar mengerikan. Aku mungkin mampu menahan beberapa kali serangannya, tapi aku tidak akan mampu menembus pertahanannya." Sang naga membatin, menatap Qing Ruo yang bersiap melepaskan serangannya.


" Ti...-"


" Tuan, aku menyerah, aku menyerah." ucapnya tiba-tiba sambil menarik kekuatannya."


" Semudah itu!" Dengan tatapan tajam.


" Tuan, aku Long Yu Wei. Aku bersungguh-sungguh.


" Apakah kamu ingin menipuku?"


" Tuan, Aku Long Yu Wei berjanji dengan darah Naga, bahwa aku tidak akan menipu Anda." ucapnya dengan serius saat melihat Qing Ruo yang mulai mempersempit ruang gerak mereka dengan mengecilkan ukuran perisai cakram emas Ling.


" Jika kamu berani menipuku. Aku Qing Ruo akan memburumu bahkan ke neraka, dan mendatangi Gerbang Sembilan Naga," ucapnya dingin.


" Tuan Qing Ruo, aku Long Yu Wei berjanji dengan nyawaku."


" Jika demikian, masuk!" ucap Qing Ruo sambil memunculkan gerbang dimensi dunia jiwa.


" Tuan Qing Ruo, ini?"


" Aku tahu kamu adalah seorang pelarian yang mengandalkan Mutiara air ak berbentuk. Anggap sekarang aku menolongmu."


" Tuan, Apakah Anda ingin membunuhku?" dengan tatapan tajam, menatap pusaran angin biru keemasan yang muncul di hadapannya.


" Jika aku mau membunuhmu, pasti  sudah aku lakukan dari awal. Apakah kamu pikir Naga lain akan diam saja, setelah mereka mengetahui bahwa mutiara air tak berbentuk ada di kota ini. Masuklah kita akan bicara nanti, biarkan aku mengurus masalah ini dulu.


Melihat kesungguhan Qing Ruo, Long Yu Wei lalu menganggukan kepalanya.


" Sebelum masuk, sebarkan jejak aura kekacauan dari tubuhmu," ucap Qing Ruo sambil membuka segel perisai cakram emas yang mengurung mereka.


" Ba-baik tuan..."


Setelah melepaskan aura kekacauan dari tubuhnya, Long Yu Wei lalu mendekati gerbang dimensi dunia jiwa.


" Tuan, apakah ada lagi?"


" Meraunglah dengan keras, seolah-olah kita sedang melakukan pertempuran."


Long Bing yang langsung mengerti maksud Qing Ruo, lalu segera meraung dengan keras.

__ADS_1


" Roargh....roargh...." Raungan keras bergema, menggetarkan tempat itu, bersamaan dengan ledakan tombak petir yang ikut meledak.


" Slash... slash...." kilatan petir mengisi seluruh ruangan, dengan  ledakan dahsyat yang terus-menerus mengguncang ruangan bawah tanah itu. Membuat retakan besar dan mengguncang istana kota yang ada di atasnya.


" Sekarang!" ucap Qing Ruo.


" Swhus..." sosok naga Es itu lenyap ke dalam dunia jiwa, namun Qing Ruo masih melepaskan serang petir, sambil melepaskan serangan raungan naga, yang dia pelajari dari kitab gerbang sembilan Naga, membuat seolah-olah terjadi pertempuran besar di dalam ruangan bawah tanah tersebut.


****


Halaman istana kota.


Ao Fei, Ye Fang, para jenderal dan tetua yang ada di tempat itu, yang sedang bersama-sama menyegel pintu masuk lorong  bawah tanah, meredam suara ledakan dan raungan keras naga, satu- persatu roboh.


" Oh tidak, ini adalah serangan jiwa," ucap Ye Fang yang merasa kekuatan jiwanya seperti di robek oleh raungan naga tersebut, bahkan beberapa Komandan pasukan yang merupakan pendekar tingkat Kaisar dewa, memuntahkan darah segar dari mulutnya.


" Pergi, ini terlalu mengerikan," ucap Ao Fei, meminta para pendekar tingkat rendah itu menjauh.


" Trark....." pintu masuk ruangan bawah tanah yang ada di permukaan halaman istana itu retak, membuat raungan naga itu semakin lantang.


" Semoga tuan Na Ruo  dapat mengalahkan naga es itu...." ucap Ye Fang sambil bangkit berdiri, menyegel pintu perak tersebut, lalu di ikuti tetua dan jenderal lainnya.


" Tapi bagaimana jika dia membunuh naga itu..."


" Biarkan saja. Kita tidak perlu hewan pelindung yang tidak patuh dan tidak tahu diri itu.  Jika aku  bisa membunuhnya,  sudah lama aku melakukannya!" ucap Lu Zhun yang baru saja kembali mengganti pakaiannya, muncul di tempat itu.


" Tapi bagaimana jika yang terbunuh itu adalah  pendekar muda tersebut...."


Kata-kata Jenderal Lao membuat semua orang terdiam.


Namun baru saja mereka selesai memulihkan pintu perak itu, raungan naga kembali bergema, menyerang kekuatan jiwa mereka, membuat mereka roboh kembali.


" Dhuar....dhuar...." suara ledakan yang lebih dahsyat bergema, mengguncang tempat itu, bersamaan dengan berhentinya suara pertempuran.


" Yang Mulia," ucap Ao Fei, menatap Lu Zhun dan semua orang yang tampak kebingungan.


" Apakah telah selesai?" tanya Lu Zhun dengan heran..


" Saudara Ao Fei, apakah kita akan memeriksa...." ucap Ye ragu.


Pada saat mereka sedang berunding, tiba-tiba ledakan keras sekali lagi bergema  dengan sambaran petir yang merambat muncul di halaman istana, menghacurkan pintu segel, membuat Lu Zhun dan semua orang menjauh dan menjaga jarak.


" Swhus ..." sosok Qing Ruo muncul  dengan sisa ledakan petir yang masih menjalar di tubuhnya, menatap semua orang dengan tajam.


" Tuan," ucap Ao Fei dan Ye Fang dengan hormat, sambil menghampiri Qing Ruo yang turun di halaman istana dengan santai.


" Jenderal Ao Fei, Jenderal Ye Fang, maaf aku membunuhnya." Sambil menatap Lu Zhun yang terdiam mematung, bahkan tidak berani berkata sepatah katapun.


" Tuan, kami senang mendengarnya. karena  selama ini sudah tidak bisa menjinakkannya. Terima kasih tuan," ucap Ao Fei dengan hormat, di ikuti Ye Fang dan semua orang yang ada di tempat itu.


" Baik, karena urusan sudah selesai, maka aku akan pergi, mengenai hal ini aku ingin kalian merahasiakannya." Dengan tegas sambil menatap Lu Zhun yang masih terdiam.


" Baik tuan kami akan merahasiakannya. Tapi, apakah Anda tidak ingin beristirahat beberapa waktu di kota ini," ucap Ye Fang dengan hormat.


Pada saat Qing Ruo akan berbicara, tiba-tiba lima tetua memasuki tempat itu, mengejutkan Qing Ruo dan semua orang yang ada di tempat itu.


" Tuan muda Qing Ruo," ucap pemimpin rombongan, menghampiri Qing Ruo   dengan hormat, menatap Ye Fang, Ao Fei, Lu Zhun dan semua orang dengan gembira.


" Apa! Apakah dia..." Ye Fang dan semua orang yang ada di tempat itu terpaku. Bahkan Lu Zhun kini kembali berkeringat dingin.


" Tetua Yan Wuzhou  kita berjumpa lagi," ucap Qing Ruo pada tetua yang pernah dia jumpai di gunung Bei Tian itu dengan ramah.

__ADS_1


" Tuan muda Qing Ruo, senang berjumpa dengan anda di kota ini," ucap Yan Wuzhou sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.


Setelah merasa yakin dengan apa yang mereka dengar, tiba-tiba Lu Zhun dan semua orang yang ada di tempat itu   berlutut di hadapan Qing Ruo dengan lutut bergetar.


" Saudara Lu Zhun, ada apa ini?" tanya Yan Wuzhou dengan heran.


" Para jenderal, mohon untuk tidak melakukan hal seperti ini," ucap Qing Ruo, sambil meraih bahu Ao Fei dan Ye Fang untuk berdiri.


" Tuan muda Qing Ruo, mohon pengampunan anda atas kelancangan kami sebelumnya," ucap Ye Fang yang merasa pernah berbicara  tidak sopan dengan Qing Ruo pada saat di gerbang benteng  istana kota sebelumnya.


" Apakah jenderal melakukan kesalahan?" Tanya Qing Ruo dengan heran, membuat para jenderal itu terdiam, namun tidak dengan Lu Zhun yang bahkan tidak berani mengangkat kepalanya. Sedangkan Yan Wuzhou dan keempat saudaranya masih begitu heran dengan hal itu.


" Ao Fei, Apa yang sebenarnya terjadi? Lalu bagaimana dengan Naga Es itu?" Tanya Yan Wuzhou pada sang jenderal yang kebetulan ada di sisinya.


Secara bersamaan, para jenderal dan tetua yang ada di tempat  itu mengarahkan pandangannya pada Qing Ruo, membuat Yan Wuzhou dan rombongannya yang masih mematung itu ternganga.


" Tuan Muda, Anda...." ucap Yan Wuzhou.


" Aku terpaksa melakukannya, karena  Naga itu tidak mau patuh. Lalu hal apa yang membawa tetua Wuzhou, ke kota ini?"


" Aku dan rombongan secara langsung di panggil oleh saudara  Lu Zhun, untuk membantunya mengamankan Naga Es tersebut." sambil menjelaskan kedatangan mereka yang menggunakan gerbang teleportasi dari kota Bei Shi.


" Saudara?" tanya Qing Ruo heran.


" Benar tuan muda, apakah ada yang salah?" tanya  Yan Wuzhou dengan heran


Qing Ruo mengelengkan kepalanya.


"Aku mengerti," ucapnya yang tidak ingin membahas hal itu lebih lanjut.


" Tuan muda, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Yan Wuzhou sekali lagi, menatap Lu Zhun yang masih berlutut di hadapan Qing Ruo.


" Tetua Yan Wuzhou, sebelumnya di dalam lorong bawah istana kota, Yang Mulia telah menyinggung tuan Muda Qing Ruo. Tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan menyerangnya," ucap Ye Fang menjelaskan, membuat Yan Wuzhou dan keempat saudara mematung.


" Oh tidak," ucap Yan Wuzhou pelan, di ikuti rombongannya, saat ingatan mereka pada sikap Qing Ruo yang memperlakukan tuan muda klan Dugu, terbayang dalam pikiran mereka, membuat tubuh mereka bergidik.


" Saudara, apakah kamu hanya bisa diam dan mematung. Kami semua sudah pernah melihat tindakan. Jika seperti ini, hal yang lebih buruk dari kemarahan naga itu akan menghampiri kota ini," ucap Yan Wuzhou berbicara pada Lu Zhun melalui telepati.


" Tuan muda Qing Ruo, aku Lu Zhun memohon pengampunan Anda..." sambil berlutut di hadapan Qing Ruo.


" Lu Zhun, apakah kamu serius?" dengan tatapan tajam.


" Saudara, lakukan sesuatu..." ucap Yan Wuzhou berbicara melalui telepati, dengan wajah khawatir.


" Tapi saudara, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan."


" Ingat dengan apa yang akan saudara lakukan pada tuan Qing Ruo sebelumnya."


" Plak...plak..." suara tamparan keras bergema. Di hadapan semua orang, Lu Zhun terus menampar dirinya, membuat mereka semua terdiam.


" Lu Zhun, jika aku mengabaikan tindakanmu yang ingin membunuhku sebelumnya, itu sama saja aku menciptakan masalah di masa depan," membuat Lu Zhun menampar dirinya semakin keras.


" Tuan muda Qing Ruo, apakah ini tidak bisa di maafkan. Aku Yan Wuzhou akan menjamin bahwa hal ini tidak akan menjadi masalah di masa depan." berlutut di hadapan Qing Ruo dengan hormat.


" Tetua," ucap Qing Ruo sambil meraih bahu Yan Wuzhoud dan memintanya untuk segera berdiri.


" Tuan muda....." dengan tatapan memohon.


" Baiklah," ucap Qing Ruo,. membuat Lu Zhun yang telah membasahi diri, menghentikan tamparannya.


" Terima kasih tuan muda," ucap Yan Wuzhou berlutut, lalu di ikuti oleh semua orang dengan hormat.

__ADS_1


__ADS_2