Sang Penguasa

Sang Penguasa
62. Kediaman Hua Zhen 1.


__ADS_3

Hua Zhen tersenyum ramah, menatap Qing Ruo yang juga terlihat begitu santai.


" Tuan Qing Ruo, mereka yang tuan cari ada di dalam. Tuan tenang saja. Mereka saat ini sedang beristirahat. Aku Hua Zhen meminta maaf atas kesalahan pahaman ini..." menangkupkan  tangannya dengan hormat.


" Kesalahan pahaman?" Tanya Qing Ruo dengan heran.


" Benar tuan. Ini adalah ulah adiku, Hua  Diu. Kejahilannya bahkan sudah membuatku pusing tujuh keliling." ucap Hua Zhen menggelengkan kepalanya.


" Lalu apa yang dilakukan putri Diu pada orang-orangku?"


" Dia hanya meminta mereka untuk menjadi prajurit pribadi selama satu hari setelah itu dia akan melepaskannya."


" Mengapa bisa demikian?" Tanya Qing Ruo heran. 


" Karena dia merasa aman, terutama pada orang baru."


" Sangat aneh, bukankah kita harus waspada pada orang baru. Apalagi orang yang tidak kita kenal," ucap Qing Ruo dengan heran.


Hua Zhen mendesah panjang.


"  Tuan Qing Ruo benar. Trauma masa kecil, dan ini adalah aib keluarga. Walaupun peristiwa itu telah lama berlalu tetapi tetap saja sikapnya tidak berubah. Aku bahkan melakukan berbagai cara untuk membantu melewati traumanya tersebut tetapi tetap saja gagal."


Qing Ruo terdiam, terlebih lagi saat menatap kesedihan dari sorot mata Hua Zhen.


" Kepercayaan," ucap Qing Ruo tiba-tiba.


" Maksud tuan Qing Ruo?"


" Tuan muda,  aku tidak tahu peristiwa apa yang menjadikan Putri Hua Diu seperti itu, tetapi aku dapat menyimpulkan, bahwa dia  tidak mempercayai orang-orangnya sendiri."


Hua Zhen tidak menyangka jika Qing Ruo ternyata dapat menyimpulkan masalah tersebut walaupun dengan penjelasannya yang tidak lengkap.


" Tuan Qing Ruo, mohon bantuanya.." menatap Qing Ruo dengan lekat.


" Tuan muda, aku tidak mengerti maksud Anda..." ucap Qing Ruo heran.


" Bantu aku menyembuhkan trauma adiku..." menatap Qing Ruo dengan penuh harap.


Qing Ruo menggelengkan kepalanya.


" Tuan muda, aku bukanlah tabib. Lagipula membangun kepercayaan seseorang yang telah hilang itu bukanlah perkara mudah. Sekuat apapun kita meyakinkannya, mereka tidak akan pernah percaya lagi, justru hal itu akan membuatnya semakin yakin bahwa kita adalah orang yang tidak mudah dipercaya."


" Tuan Qing Ruo, mengapa bisa demikian?"


" Karena mereka akan menganggap tindakan itu tidak lebih dari pencitraan dengan tujuan untuk mengambil keuntungan yang lebih banyak lagi."


" Tuan Qing Ruo benar. Mereka akan berpikir,  seseorang  yang melakukan banyak hal untuk orang lain pasti menginginkan sesuatu yang lebih banyak lagi untuknya. Lalu tindakan tuan Qing Ruo sendiri?" Menatap Qing Ruo dengan tajam.


" Membangun persahabatan membawa kedamaian, membangun permusuhan akan membawa kematian, lagipula tuan muda menahan orang-orangku. Menurut tuan muda, cara mana yang lebih baik aku gunakan? dengan cara baik seperti ini atau dengan kekerasan?" tanya Qing Ruo santai, membua Hua Zhen tertawa lepas.

__ADS_1


" Tuan Qing Ruo, Anda terlihat sangat berpengalaman. Jika demikian apa yang harus aku lakukan?" Dengan wajah serius.


Qing Ruo terdiam beberapa saat, lalu menatap Hua Zhen dengan serius.


" Buat dia menjadi dirinya sendiri. Beri dia kebebasan untuk membangun jati dirinya. Dan yang utama, kejujuran."


" Tuan Qing Ruo, aku sudah melakukannya." dengan wajah serius.


Qing Ruo tersenyum santai menggelengkan kepalanya.


" Aku rasa belum. Tuan muda, membangun jati diri itu perlu pendampingan, dan kebebasan bukan berarti memanjakannya. Tuan muda harus berani berkata jujur, katakan salah jika itu salah, jangan membenarkan sesuatu yang salah hanya untuk menyenangkan hatinya,  karena jika dia mengetahui kebenarannya, itu akan semakin menyakiti hatinya."


" Lalu bagaimana dengan kenyataan yang menyakitkan?"


" Itu lebih baik, karena tidak ada orang yang ingin mengalami rasa sakit yang sama. Jika dia bijaksana, maka dia akan belajar dari rasa sakit itu. Dampingi dia melewati rasa sakit itu, dan dukung dia yang sedang mencari cara untuk menyembuhkan rasa sakitnya,  sama  seperti yang putri Hua Diu lakukan, tetapi itu adalah cara yang salah, karena mempercayai  orang baru lebih berbahya daripada orang lama. Orang lama, kita dengan jelas sudah mengetahui karakter dan kejahatannya, sehingga kita lebih bisa berhati-hati. Berbeda dengan orang baru, penuh dengan rahasia, yang  bisa saja lebih buruk dari orang lama."


Hua Zhen terdiam cukup lama, hingga akhirnya dia menganggukkan kepalanya.


" Tuan Qing Ruo benar. Terima kasih tuan." Menangkupkan tangannya dengan hormat.


" Tuan muda, tidak perlu seperti itu.  Aku harap saudari anda segera sembuh." Menangkupkan tangannya dengan hormat.


" Tuan Qing Ruo, apakah tuan bisa bertemu dengan saudariku? Sebentar saja." ucap Hua Zhen ragu.


" Maksud Tuan muda?"


" Aku ingin tuan yang melakukannya..."


" Tuan muda, biarkan orang-orangku yang melakukannya."


" Maksud tuan Qing Ruo?"


" Tuan muda Hua Zhen, aku percaya pada orang-orangku dapat melakukannya, dan aku akan meminta mereka untuk tetap berada di tempat ini untuk beberapa waktu. Bagaimana?"


Hua Zhen terdiam cukup lama, lalu mengangguk kepalanya.


" Baik, jika demikian bawa aku menemui mereka," ucap Qing Ruo, yang ingin memastikan keadaan Yu Jieru dan rombongannya.


" Mari tuan," ucap Hua Zhen dengan ramah, membawa Qing Ruo meninggalkan ruangan itu menuju tempat Yu Jieru dan rombongannya.


****


Di tempat lain.


Jinse dan rombongannya tidak menyangka, jika penjara yang di maksud oleh Hua Diu adalah penginapan  yang  mewah.


Di tempat itu, mereka dilayani para pelayan dengan baik, dengan  berbagai jenis  makanan dan minuman.


" Tuan, jangan dilihat saja. Silakan dinikmati," ucap komandan Song yang dengan santai menikmati makanan yang ada di hadapannya, membuat Hu Shan dan rombongan semakin berhati-hati.

__ADS_1


" Benar," ucap Qing Ruo yang tiba-tiba muncul bersama Hua Zhen di tempat itu.


" Penguasa," ucap Yu Jieru dan rombongannya, berlutut di hadapan Qing Ruo dengan hormat, membuat Hua Zhen dan komandan Song serta beberapa prajurit yang berada di tempat itu terkejut.


" Bangunlah," ucap Qing Ruo ramah, berusaha memaklumi hal itu.


" Terima kasih penguasa," jawab mereka bingung dan gugup, menyadari kesalahannya.


" Silakan dinikmati," ucap Hua Zhen dengan ramah, sambil menahan rasa penasarannya pada  Qing Ruo.


Sambil menikmati makanan.


Qing Ruo lalu menjelaskan masalah yang dihadapi oleh Hua Zhen, membuat Yu Jieru dan rombongannya terdiam dan akhirnya mengerti.


" Aku ingin kalian membantu putri Hua Diu. Jadi  untuk beberapa hari kedepan, kalian akan tinggal di tempat ini," ucap Qing Ruo.


" Baik penguasa..."


" Tuan-tuan, terima kasih atas kesediaan kalian. Mohon maaf atas kesalahan pahaman sebelumnya," ucap Hua Zhen dengan  hormat, sambil berbincang-bincang santai.


Setelah selesai menikmati makanan. Hua Zhen lalu membawa Qing Ruo meninggalkan tempat itu menuju ruangannya, membuat Yu Jieru dan rombongannya menatap kepergian Qing Ruo dengan perasaan bersalah, karena telah gagal menjaga rahasia identitas sang tuan.


" Semoga penguasa muda  tidak marah..." ucap Jinse. 


****


Di tempat lain.


" Silakan tuan," ucap Hua Zhen mempersilahkan Qing Ruo duduk pada kursi dengan ramah.


" Terima kasih tuan muda."


Cukup lama mereka berdua terdiam hingga akhirnya Hua Zhen membuka percakapan.


" Tuan Qing Ruo," ucap Hua Zhen ragu menatap Qing Ruo yang sepertinya mengetahui jalan pikirannya. 


" Silakan tuan muda," ucap Qing Ruo mempersilakannya untuk bertanya.


" Siapa Anda sebenarnya? Mengapa mereka memanggil Anda dengan sebutan penguasa..." Menatap Qing Ruo dengan lekat.


" Tuan muda, aku juga bingung menjelaskannya,  karena mereka tiba-tiba memanggilku seperti itu.  Walaupun aku meminta mereka untuk tidak melakukannya, tetapi mereka tetap bersikukuh."


Hua Zhen terdiam, mencoba menerima alasan itu namun dirinya masih tidak yakin dengan jawaban tersebut. Terlebih lagi dengan sikap yang di  tunjukkan oleh Yu Jieru dan rombongannya, yang menurutnya bukanlah sesuatu yang dibuat-buat.


" Tuan Qing Ruo, aku yakin Anda masih belum berani jujur padaku, dan aku memaklumi hal itu."


Qing Ruo tersenyum santai, dan menganggukkan kepalanya.


" Kejujuran dan keterbukaan itu hanya terjadi antara dua sabahat  yang saling mengenal, tetapi bukan berarti  aku menganggap tuan muda adalah musuhku. Itu semua karena aku masih belum mengenal tuan muda, demikian juga sebaliknya," jawab Qing Ruo dengan tenang.

__ADS_1


" Aku mengerti. Tuan Qing Ruo pasti memiliki alasan."


" Benar, karena aku memilik musuh di kota ini," jawab Qing Ruo jujur, membuat Hua Zhen tersentak dari tempat duduknya.


__ADS_2