
“….” Max terdiam.
Tiba-tiba saja ia tak bisa melihat apapun.
Semuanya gelap dan terasa hampa.
‘Apa aku sudah mati?’
Pertanyaan pas di momen seperti ini.
Ia masih ingat hal terakhir yang dilakukannya.
Mengalahkan musuhnya sekali untuk selamanya.
Tak bisa dipungkiri ia agak kagok melakukannya.
Faktor utamanya tentu sudah jelas.
Penampilan makhluk gelap itu terus mengingatkannya pada rekannya sendiri.
Entah kenapa itu membuatnya susah serius.
Kalau bukan karena dorongan dari makhluk pelindung dunia, ia ingin basa-basi dulu.
Ia mungkin bisa mengulik info tentang sang penguasa gelap tadi.
Namun sudah pasti tak semudah dugaannya ini.
Kemungkinan besar makhluk gelap itu tak mau membocorkan apapun.
Dia berdedikasi tinggi untuk mengakhiri hidupnya.
Semuanya itu pasti ada alasannya.
Apa ini akibat teknik perempuan gelap itu?
Ledakan energi tadi bukan berasal darinya sih.
Max tak menyangka ia malah terpancing dengan jebakan lawan.
Tapi tak bisa dipungkiri tadi adalah kesempatan besar untuk melumpuhkan lawan.
Membiarkan makhluk gelap berkekuatan besar sepertinya bukanlah ide bagus.
Namun pada akhirnya aksinya malah berujung seperti ini.
Yah mau gimana lagi ya.
Max terdiam, ia suka tempat tenang, namun bukan yang seperti ini.
Atmosfer dan suasana yang dibangun tempat ini benar-benar beda dari semua tempat yang pernah dikunjunginya.
Penuh kemisteriusan dan kehampaan.
Max tak yakin ada orang yang suka tempat seperti ini.
KALAU SUDAH BEGINI GIMANA YA.
Dibalik wajahnya yang tenang, tersimpanlah perasaan khawatir dan penuh pertanyaan.
Ini tak sesuai dengan apa yang diharapkannya.
Hal misterius tiba-tiba saja menimpanya.
Dugaan sudah menumpuk dipikirannya soal kenapa ia bisa ada di sini.
Namun pada akhirnya itu tak jadi jawaban yang seratus persen pasti.
Jawabannya tetap harus dicari tahu.
Max melangkahkan kakinya di ruang hampa gelap ini.
Entah kenapa perasaannya tak nyaman.
Berbanding terbalik sewaktu ia ada di alam langit.
Max menguatkan dirinya.
Sejauh ini belum ada apa-apa.
Berjalan kemana langkah kaki membawanya bukan ide bagus.
‘TEMPAT APAAN SIH INI?’ Dibalik wajahnya yang tenang, ada ke-fruit kefrutasian.
Max memang tipe yang suka menghabiskan waktu.
Tapi bukan di tempat aneh begini.
Kenapa masih belum ada kejelasan?
__ADS_1
Tak ada siapa dan apapun juga di sini.
‘Oke max, tenang.’ Max berusaha lebih menenangkan dirinya lagi.
Tak bisa dipungkiri ia tergoda untuk menduga-duga lagi.
Namun itu takkan banyak membantu.
Max menutup matanya, fokus.
Terkadang menjadi tenang memang tak mudah.
Namun tak ada pilihan lain lagi.
Shh….
Perlahan namun pasti Max merasa lebih baik dari sebelumnya.
Kini perasaannya lebih terkontrol dan dugaan yang memberatkan pikirannya mulai sirna.
Mengosongkan pikiran, menjadi tenang.
Max mengundang energi positif ke dalam dirinya.
Dan bersamaan dengan itu tubuhnya mulai memancarkan sinar.
Pemuda itu perlahan membuka matanya.
Dan seketika itu juga terdiam, raut wajahnya terlihat serius sekarang.
‘Jadi begitu.’
Akhirnya terjawab sudah kenapa tempat apa ini.
Ternyata ia masih belum mati.
“Max.”
Terdengarlah suara tak asing dari kejauhan.
Max tetap diam, ia terlihat tenang dan serius.
Akhirnya setelah sekian lama….
Shh….
Sorot mata pemuda ini menajam, ia mulai bisa melihat dengan jelas siapa yang berjalan dari kejauhan,
Terlihatlah sesosok makhluk yang datang.
“Sudah lama, huh?” Sosok berjubah hitam itu tak kelihatan wajahnya.
“….” Nggak selama itu sih.
Max pikir akan makan lebih makan banyak waktu lagi untuk bertemu dengannya.
Namun ternyata tidak begitu.
Kini dihadapannya sudah berdiri sosok yang dicarinya selama ini.
Tak perlu susah payah mencari kemana-mana.
Sang sosok itu datang sendiri menghadapnya.
Atau lebih tepatnya … menjemputnya?
Tak disangka sang penguasa gelap sendiri yang membawanya ke tempatnya sendiri.
“Selamat datang.”
Bahkan sang penguasa gelap menyambut kedatangannya.
Max terdiam.
“Kau adalah lawanku.”
Terdengarlah suara ambisi dari sang pimpinan makhluk gelap ini.
Max tak menyangka akan terjadi seperti ini.
Terkadang kehidupan penuh dengan kejutan dan misteri.
Siapa sangka ia malah langsung ketemu musuh utamanya?
Konflik memuncak lebih cepat dari perkirannya.
Namun pada akhirnya ia tak bisa membandingkan ceritanya dengan cerita novel yang beratus bahkan beribu bab, penuh konflik, intrik, dan drama.
Yah pengalamannya sekarang nggak perlu dibandingkan juga sih.
__ADS_1
Masing-masing cerita unik dengan caranya masing-masing.
Kalau memang ceritanya akan segera berakhir, ya apa boleh buat juga kan?
Pada akhirnya pandangannya tentang dunia ini tak lagi sama dengan sebelumnya.
Rasa-rasanya ia tak perlu buru-buru mengalahkan musuh utamanya ini.
Bukan tanpa alasan juga.
Ia masih merasa perlu berlatih dan mengasah diri.
Berkaca dari apa yang sudah terjadi.
Melawan bawahannya saja sudah kewalahan, apalagi melawan pemimpinnya langsung?
Max sadar diri, namun lagi-lagi ia tak bisa mengubah fakta bahwa mereka bertemu lagi untuk kedua kalinya.
Kenapa sang penguasa gelap itu membawanya ke sini?
Padahal dia bisa langsung nyerang ya.
Namun itu urusannya, suka-sukanya saja mau berbuat seperti apa sih.
Pada akhirnya ada alasan kuat kenapa sang penguasa gelap ini membawa pemuda ini ke dimensinya.
Tak lain tak bukan karena urusannya memang hanya dengan pemuda ini saja.
Jadilah ia membawanya ke tempat khususnya.
Max terdiam, sejauh ini belum ada pergerakan dari sang penguasa gelap ini.
“Kau menyelamatkannya.” Pada akhirnya Max membuka mulutnya.
“….” Sang penguasa gelap terdiam.
Max tak menyangka musuh utamanya ini peduli dengan bawahannya.
Yah Max pikir sebagai pimpinan makhluk gelap dia tak peduli apapun selain dirinya.
Namun lagi-lagi ia tak punya hak untuk mengomentari lebih jauh tindakannya ini.
“….” Sang penguasa gelap terdiam, tak bisa dipungkiri apa yang dikatakan pemuda itu memang benar.
Ia muncul di saat terakhir bawahannya itu.
Selain membawa lawannya ke tempat khususnya, ia sekalian juga mengamankan bawahannya.
“Masalah buat lo?” Sang penguasa gelap tak terpengaruh aksinya dikomentari begini.
Pada akhirnya rumor tentang kejahatan sang penguasa gelap sudah terlalu jauh tersebar, dan itulah sebabnya pemuda itu tak menyangka.
Kebanyakan berita angin yang tersebar memang adalah kebenaran.
Ia memang tak begitu peduli dengan bawahannya.
Apalagi yang memberontak dan berlaku seenaknya.
Bukan hal yang sulit bagi sang penguasa gelap untuk menduduki dunia tempatnya berada.
Para bawahan kuat-nya siap mewujudkan apa yang ia inginkan.
Ia tak meragukan kemampuan para bawahannya, namun mereka tak selalu bisa mewujudkan keinginannya.
Termasuk sekarang ini.
Satu bawahannya yang tak mempedulikan peringatannya ini sangat pantas untuk mati.
Namun aksinya ini bertentangan dengan peraturan yang sudah dibuatnya.
Dan ia punya alasannya sendiri.
Ia tertarik dengan bawahannya itu.
Satu-satunya yang berani melanggar apa yang diperintahkannya.
Itulah kenapa ia tak membiarkannya mati begitu saja.
Max terdiam, jadi inilah sisi lain dari sang penguasa gelap.
Pada akhirnya terlalu percaya rumor bukan hal yang bijak.
Max terdiam, ia masih memerhatikan gerak-gerik lawan utamanya ini.
Namun setelah berselang waktu pun masih belum ada yang meninggalkan tempat dimana mereka sedang berdiri.
Belum ada aksi bombastis di antara kedua makhluk kuat ini.
Padahal mereka sudah saling bertemu dan sudah siap pula dengan kekuatan masing-masing.
__ADS_1
Apa lagi yang mereka tunggu?