
" Bangunlah," ucap Qing Ruo meminta semua orang untuk berdiri.
" Terima kasih tuan muda," ucap Yan Wuzhou dengan hormat.
Keramahan dan cara Qing Ruo bersikap di hadapan Yan Wuzhou menjadi tontonan semua orang yang ada di tempat itu. Terlebih lagi terlebih lagi Ao Fei dan Ye Fang.
" Saudara Fang, cara tuan muda Qing Ruo memperlakukan tetua Yan Wuzhou begitu luar biasa," ucap Ao Fei, berbicara melalui telepati.
" Saudara Fei benar. Tetua Yan Wuzhou benar-benar mendapat rasa hormatnya. Adabnya memperlakukan seorang yang lebih tua, benar-benar mengagumkan," jawab Ye Fang.
" Dengan kekuatan dan latar belakangnya yang begitu luar biasa tidak membuatnya menjadi sombong bahkan dia adalah sosok yang rendah hati. Tidak heran sebelumnya dia begitu berani. Ternyata dia adalah seorang pendekar tingkat tinggi yang menyamar menjadi pendekar tingkat rendah," ucap Ao Fei, menggelengkan kepalanya.
" Saudara Fei benar. Pada saat orang lain bergegas meninggalkan kota ini, tuan muda Qing Ruo justru dengan rendah hati menawarkan diri untuk memberi bantuan dan menyelamatkan orang banyak, tetapi caranya...." ucap Ye Fang menjeda kata-katanya.
" Saudara Fang, aku yakin itu adalah caranya untuk melihat dan menguji ketulusan seseorang." Sambil menatap Qing Ruo yang masih berbincang dengan Yan Wuzhou dan keempat saudaranya.
" Para tetua, jenderal Ao Fei, Jenderal Ye Fang, karena urusanku telah selesai maka aku mundur diri. Mengenai mutiara air tak berbentuk, urusan itu aku serahkan pada kalian. ucap Qing Ruo menangkupkan tangannya dengan hormat.
" Swhuss...." tubuhnya lenyap dari tempat itu tanpa meninggalkan jejak aura sedikit, membuat Ye Fang, Ao Fei, dan semua yang ada di tempat itu terdiam.
" Tetua," ucap Ye Fang menatap Yan Wuzhou dan rombongannya yang tampak biasa saja.
" Pendekar tingkat tinggi selalu seperti itu, jadi jangan heran. Maaf kami datang terlambat tetapi, syukur tuan muda Qing Ruo ada di kota ini. Saudara Zhun, lain kali jaga sikapmu. Jika dia orang lain, mungkin kota ini sudah rata," ucap Yan Wuzhou, sambil menatap Lu Zhun yang masih terdiam dengan wajah yang masih memerah lebam.
" Saudara Wuzhou, terima kasih. Jika bukan karena suadara, mungkin aku akan mendapatkan sesuatu yang lebih buruk. Aku juga bersyukur karena tuan muda Qing Ruo tidak murka padaku," ucap Lu Zhun dengan suara pelan, menatap semua orang yang masih terdiam.
" Jenderal Ye Fang, terima kasih," ucapnya dengan tulus sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.
" Yang Mulia, tidak perlu berterima kasih padaku, karena akupun tidak melakukan sesuatu yang berarti, tetapi ini semua karena saudara Ao Fei yang begitu berani mempercaya seorang yang datang dari antah-berantah yang ternyata sosok yang sangat kuat untuk menolong kita, dan dan tetua Yan Wuzhou." ucap Ye Fang menangkupkan tangannya dengan hormat.
Ao Fei menggelengkan kepalanya.
" Ini semua karena langit masih melihat kita, dan aku pun tidak melakukan sesuatu yang berarti. Yang Mulia, kita masih memiliki pekerjaan yang harus segera diselesaikan," ucapnya dengan serius.
Lu Zhun menganggukkan kepalanya.
" Jenderal Ao Fei, Ye Fang, tugas ini sepenuhnya aku serahkan pada kalian berdua. Saudara Yan Wuzhou, mohon bantuannya." Menatap Yan Wuzhou dengan hormat.
" Baiklah, kami akan bergerak. Saudara beristirahalah. Tenangkan diri terlebih dahulu," ucap Yan Wuzhou, lalu membawa rombongannya bergerak meninggalkan tempat itu.
Setelah Yan Wuzhou dan rombongannya pergi. Ye Fang dan Ao Fei lalu membagi tugas dan memberikan pengarahan pada para jenderal yang ada di tempat itu.
__ADS_1
" Sebagian amankan situasi kota, sebagian lagi lakukan penyelidikan, dan tutup kota untuk beberapa waktu," ucap Ao Fei.
Setelah para jenderal yang ditugaskan meninggalkan tempat itu, Ao Fei dan Ye Fang lalu membawa Lu Zhun kembali ke istana, namun segera ditolaknya.
" Jenderal, aku ingin memeriksa kita memeriksa lorong bawah istana terlebih dahulu," ucap Lu Zhun pada kedua tetua penjaga pintu segel ruangan bawah tanah tersebut.
" Baik yang mulia." sambil membuat segel tangan, membuka pintu perak yang telah rusak itu.
" Srark..." Lempengan pintu besi itu terbuka, melepaskan aura pembunuhan dan aura kekacauan yang merupakan sisa ledakan petir dan kekuatan es, menyapu kawasan halaman istana, membuat mereka segera menjauh dari tempat itu.
" Tetua," ucap Lu Zhun dengan tubuh bergidik, meminta tetua penjaga menutup pintu perak itu kembali, yang langsung ditanggapi oleh kedua tersebut.
" Benar-benar mengerikan," ucap Ye Fang, sambil menatap Ao Fei yang tampak begitu terkejut.
" Aku tidak bisa membayangkan jika kita sebelumnya tidak keluar pada saat pertempuran itu terjadi, mungkin kita sudah menjadi kabut darah," ucap Ao Fei pelan.
" Saudara benar. Yang Mulia, apa yang harus kita lakukan?" tanya Ye Fang dengan serius.
" Aku rasa tempat itu sudah tidak bisa ditempati, lagi pula juga tidak meninggalkan apapun. Jadi kita tidak perlu memastikan suasana yang terjadi di dalamnya. Tetapi jika ada yang ingin menggunakannya sebagai tempat latihan maka, di persilakan," ucap Lu Zhun.
" Baik Yang Mulia. Tapi yang perlu kita perhatikan, ada cara kita menutup jejak aura ini, agar tidak mengganggu kenyamanan dan ketenangan istana," ucap Ao Fei.
" Jenderal benar. Jika demikian tugas ini aku serahkan pada tetua." Sambil menatap kedua sosok tetua penjaga.
" Baik yang mulia."
" Baik, aku akan beristirahat." Sambil meminta Ye Fang dan Ao Fei melanjutkan pekerjaannya.
" Baik Yang Mulia. Terima kasih..." lalu bergerak meninggalkan tempat itu.
Setelah Ao Fei dan Ye Fang pergi, Lu Zhun lalu meminta para tetua itu memanggil para ahli mantra formasi memperbaiki kerusakan segel gerbang dan menyegel sejak aura pertempuran yang sesekali keluar dari keretakan halaman, lalu kembali kde dalam istana kota.
****
Di tempat lain.
Hilangnya suara pertempuran dan raungan keras naga dari pusat istana, membuat kota Tongzhe mulai sedikit tenang, terlebih lagi dengan kemunculan para Jenderal yang mengumumkan secara langsung bahwa kota kini benar-benar telah aman, membuat aktivitas di kota itu berjalan kembali.
Di sudut utara jalanan kota, sosok Qing Ruo yang menggunakan tampilan Youlin Sha, berjalan santai memasuki penginapan sederhana yang ada di tempat itu dengan tenang.
Beberapa pelayan yang berjaga segera menyambut kedatangannya.
__ADS_1
" Tuan," ucap pelayan tersebut dengan hormat.
" Nona," ucap Qing Ruo dengan hormat, lalu menjelaskan tujuannya yang ingin memesan kamar penginapan untuk beristirahat beberapa waktu di tempat itu. Setelah melakukan pembayaran, pelayan tersebut lalu membawa Qing Ruo menuju ruangannya.
Pada saat melewati restoran penginapan, Qing Ruo mengerutkan keningnya.
" Tempat ini benar-benar kosong. Di mana semua orang?" Qing Ruo membatin, sambil melangkahkan kakinya, mengikuti sang pelayan yang mendahuluinya.
" Tuan, kekacauan beberapa waktu yang lalu telah membuat para pelanggan kami pergi," ucap sang pelayan menjelaskan.
" Tapi bukankah sekarang sudah aman?"
" Benar tuan, tapi orang-orang tidak akan percaya begitu saja."
Qing Ruo menganggukan kepalanya.
" Lalu bagaimana dengan nona sendiri?"
" Tuan, kami adalah penduduk kota ini. Jadi kami percaya, karena sangat tidak mungkin para jenderal itu membohongi rakyatnya sendiri."
Qing Ruo menganggukkan kepalanya, sambil berbincang-bincang santai dengan nona pelayan yang ramah tersebut.
Tidak lama kemudian mereka akhirnya tiba di depan sebuah kamar sederhana.
" Silakan, tuan." Sambil membuka pintu kamar dan mempersilakan Qing Ruo.
" Baik Nona, terima kasih..." sambil memasuki kamar tersebut.
Setelah pelayan itu pergi, Qing Ruo lalu menyegel ruangan itu dengan mantra formasi perlindungan.
" Swhuss... swhus..." Long Qe dan Long Fu keluar dari dunia jiwa.
" Penguasa...." ucapnya dengan hormat.
" Long Qe, Long Fu, aku ingin memasuki dunia jiwa. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, segera kabari aku," ucap Qing Ruo dengan ramah.
" Baik penguas."
Setelah berkata-kata, Qing Ruo lalu memasuki dunia jiwa, meninggalkan kedua sosok manusia naga yang langsung berjaga di tempat itu.
🙏 Masih satu bab ya kak. Akhir bulan author memang agak rada sibuk. Harap maklum, kerja serabutan. semoga tetap suka. terima kasih😁.
__ADS_1